Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Jatuh Cinta


__ADS_3

“Annisa, ini suamimu sudah meminta maaf, tidak baik marah lebih dari tiga hari,” ucap Kak Ahsan.


“Aku tidak marah kepadanya Kakak, hanya saja sekarang simpatiku sudah hilang,” Annisa membuat semuanya terkejut.


“Astagfirullah, tidak boleh berbicara seperti itu,” Kak Ahsan melihat ke arah Zain, dia menjadi salah tingkah.


“Astagfirullah,” Annisa mengucap istigfar.


“Besok saja kalau mau menjemput,” lanjut Annisa.


Terpancar raut bahagia di wajah Zain setelah mendengar perkataan Annisa.


“Oke, nanti Kakak kasih tau Zain ya,” ucap Kak Ahsan.


Kak Ahsan mengakhiri teleponnya dengan Annisa. Dia kembali duduk dan menatap Zain.


“Lihat? Adikku sangat baik dan penyabar, kalau sampai kamu menyakiti dia, tidak ada maaf lagi untukmu,” ucap Kak Ahsan memperingati Zain.


“Iya Kak, terimakasih banyak karena telah membantu, saya tidak akan menyakiti dia lagi,” Zain tersenyum.


Setelah selesai berbicang-bincang lama dengan Kak Ahsan, Zain memutuskan untuk pulang ke pesantren dan mempersiapkan keberangkatannya besok untuk menjemput Annisa.


***


“Jadi suamimu akan menjemput besok?,” tanya Ambu.


Annisa hanya mengangguk.


Ambu tersenyum.


“Kalau Kak Ahsan sudah mengizinkan, berarti Zain memang bersungguh-sungguh meminta maaf kepadamu, Ambu percaya kepada Kak Ahsan, dia sangat menyayangimu,” ucap Ambu sambil membelai lembut Annisa.


“Iya Ambu, tapi Annisa takut,” Annisa merenung.


“Tidak usah takut, ada Allah yang selalu menjagamu,” Ambu menguatkan Annisa.


Akhirnya Annisa menuruti untuk pulang besok bersama suaminya, meskipun sekarang rasa simpati Annisa pada Zain sudah berkurang tetap saja Annisa masih berstatus sebagai istri Zain.


Annisa mengemas kembali barang-barangnya ke dalam tas, membungkus semua bekal dari Ambu untuk di bawa ke kota.


Malam ini Annisa tidur tidak nyenyak karena memikirkan akan pulang ke kota, sebenarnya dia masih ingin tinggal lebih lama di sini, namun atas pertimbangan banyak hal, akhirnya Annisa memutuskan untuk bersedia di jemput oleh suaminya.


Keesokan harinya …


Sekitar pukul delapan pagi Zain sudah tiba di kampung halaman istrinya. Dia menyetir sendiri tanpa menggunakan supir.


Terlebih dahulu Ambu keluar untuk menyambut kedatangan mertuanya. Sedangkan Annisa masih bersiap di dalam kamarnya.

__ADS_1


“Silakan masuk dulu Zain, Annisa masih bersiap di kamarnya,” ucap Ambu.


Zain tersenyum.


“Terimakasih Ambu,” Zain duduk di ruang tamu, Ambu bergegas ke dapur untuk membawa air putih yang akan di suguhkan kepada Zain.


“Ambu tidak usah repot-repot,” Zain membantu mengambil air putih.


“Tidak apa-apa,” Ambu tersenyum.


“Ambu, Zain meminta maaf atas perlakuan Zain selama ini kepada Annisa, sejujurnya Zain sekarang menyesal telah melakukan itu,” ucap Zain menunduk.


“Iya, Ambu paham, memang tidak mudah menikah dengan seseorang yang tidak kita cintai, apalagi kalian ini di jodohkan,” Ambu masih tersenyum.


“Iya Ambu, InsyaAllah kedepannya Zain akan lebih bertanggung jawab sebagai suami,” ucap Zain.


Ambu mengangguk dan tersenyum.


Zain menunggu Annisa lumayan lama, jantung Zain berdetak tidak karuan, dia salah tingkah karena akan bertemu dengan Annisa, rasa yang awalnya biasa saja, sekarang menjadi terasa aneh, mengapa Zain bisa menjadi salah tingkah padahal hanya akan bertemu Annisa.


Tak lama kemudian Annisa keluar kamar, betapa terkejutnya Zain melihat Annisa, jantungnya semakin berdetak tidak karuan, keringatnya bercucuran, matanya tidak mengedip sedikitpun ketika melihat Annisa keluar dengan menggunakan cadar, sangat cantik, meskipun badannya mungil, itu membuat Annisa semakin imut dan cantik.


“MasyaAllah,” gumam Zain pelan.


“Annisa sudah siap?,” tanya Ambu.


“Jaga diri kamu ya, Ambu percayakan pada Zain,” ucap Ambu dengan matanya berkaca-kaca.


“Jaga diri Ambu juga ya, kalau ada apa-apa bilang saja pada Annisa jangan sungkan,” sekali lagi Annisa memeluk Ambu. Matanya berkaca-kaca.


Annisa menghapus air matanya begitu juga Ambu.


“Tolong jaga dia Zain, tepati janjimu,” ucap Ambu menahan tangis.


“Iya Ambu,” Zain bersalaman dengan Ambu, di ikuti Annisa.


Annisa mengepalkan sejumlah uang hasil dagangannya selama ini dan di berikan kepada Ambu.


“Apa ini?,” tanya Ambu.


“Buat bekal Ambu ya, nanti kalau habis telepon Annisa,” jawab Annisa tersenyum.


“Tidak usah, Ambu,” perkataan Ambu terpotong.


“Tidak Ambu, jangan menolak,” Annisa tersenyum.


Ambu berterimakasih dan memeluknya sekali lagi. Sungguh perpisahan Anak dan Ibu yang sangat mengharukan, meskipun Annisa sudah besar namun di mata Ambu dia hanyalah gadis kecil yang lucu dan masih butuh pertolongan Ambu.

__ADS_1


“Assalamu’alaikum,” ucap Annisa yang sudah duduk di mobil sambil melambaikan tangan kepada Ambu.


“Wa’alaikumsalam,” Ambu membalas lambaian tangan Annisa.


Akhirnya Zain dan Annisa pergi berlalu dengan mobilnya.


Di dalam mobil mereka berdua membisu, begitu juga Annisa yang sedari tadi tidak melihat ke arah Zain, berbeda dengan Zain yang terus menerus melihat ke arah Annisa, dia takjub dengan perubahan Annisa yang sekarang memakai cadar.


Dengan terpaksa Zain harus membuka percakapan lebih dahulu, karena Zain adalah pihak yang bersalah.


“Annisa, aku ingin meminta maaf kepadamu,” ucap Zain sesekali menatap Annisa.


“Aku sudah memaafkanmu, meminta maaflah kepada Allah, karena kamu telah memperlakukan istrimu sangat buruk,” ucap Annisa yang sama sekali tidak melihat ke arah Zain.


Zain menghela nafas panjang.


“Iya, aku sangat menyesal telah melakukan itu, aku tidak bersyukur, padahal aku memiliki istri yang cantik dan sangat shalehah,” ucap Zain.


Annisa terdiam, dia tidak tergoda dengan pujian dari Zain.


“Kamu tahu, jawaban atas shalat istikharahku?,” tanya Zain mulai berusaha akrab dengan Annisa.


“Tidak,” jawab Annisa singkat.


“Allah memberiku rasa rindu kepadamu, aku sangat merindukanmu dari beberapa hari kemarin,” ucap Zain yang sekarang menatap Annisa.


“MasyaAllah,” Annisa masih menatap pemandangan di kaca jendelanya.


“Apakah kamu tidak merindukanku?,” tanya Zain kembali fokus menyetir.


“Tidak,” jawab Annisa yang membuat hati Zain sakit seperti di cubit.


“Sepertinya akan butuh waktu untuk membuatmu jatuh cinta padaku,” ucap Zain.


“Mungkin.”


Zain terus sesekali menatap istrinya itu, betapa cantiknya Annisa menggunakan cadar, mengapa Zain baru menyadari bahwa istrinya secantik ini? Mungkin karena hati Zain masih penuh dengan nama Nafrini.


“Aku minta maaf, aku mengaku salah atas perbuatanku,” ucap Zain melirik pada Annisa.


“Iya, aku sudah maafkan, namun untuk membuatku jatuh cinta padamu, berikan aku waktu, tunjukan keseriusanmu dengan semua perlakuanmu padaku,” untuk sekarang Annisa berani melirik Zain.


Mata mereka akhirnya bertemu.


Ada getaran dan detak jantung yang tidak menentu yang di rasakan Zain saat menatap istrinya itu.


Zain kembali fokus menyetir, dia merasa salah tingkah, sebenarnya dia merasa bingung dengan perasaannya yang sekarang, apakah Annisa sudah membuatnya jatuh cinta?.

__ADS_1


__ADS_2