
“Itu koper Kak Zain, dia belum membereskan pakaiannya ke dalam lemari Kak,” ucap Annisa tiba-tiba sudah berada di belakang Kak Ahsan.
“Tapi kalian tidur satu kamar kan?,” Kak Ahsan mulai curiga.
Zain hanya mengangguk.
“Baguslah kalau begitu, sebentar lagi adzan magrib, ayo kita bersiap untuk shalat magrib berjamaah,” Kak Ahsan keluar kamar.
Zain mengikutinya begitu juga Annisa.
Setelah selesai melaksanakan shalat berjamaah, Annisa dan Kak Aisyah mempersiapkan makanan untuk makan malam, Kak Aisyah membawa 2 box Pizza yang cukup besar. Mereka semua menyantap makan malam bersama, begitu juga dengan Laila, Lisa dan Adam. Mereka sangat lahap.
Setelah hampir pukul tujuh malam, keluarga Kak Ahsan berpamitan untuk pulang. Dan kini rumah sepi kembali.
Annisa dan Zain masuk ke kamar masing-masing. Mereka kembali tidak bertegur sapa.
***
Pagi hari Annisa sudah sibuk menyiapkan sarapan, sedangkan Zain belum keluar kamar.
Tok … tok … tok …
“Assalamu’alaikum,” seorang perempuan berdiri dengan membawa koper di depan pintu rumah Annisa.
“Wa’alaikumsalam,” Annisa terkejut melihat sosok perempuan itu.
Perempuan itu memakai pakaian gamis lengkap dengan jilbab, parasnya cantik dan amat begitu tinggi melebihi Annisa. Kulitnya putih dengan titik titik coklat, wajahnya sudah sangat jelas bukan seorang warga negara Indonesia.
“Apakah ini rumahnya Zain?,” tanya seorang perempuan itu, dia menggunakan bahasa Indonesia dengan pengucapan yang belum sempurna, layaknya bule yang masih belajar.
“Iya, saya istrinya,” jawab Annisa, dia sepertinya mengetahui siapa perempuan ini.
Perempuan itu lalu melihat dari bawah kaki Annisa hingga kepala.
“Kenalkan saya Nafrini, kekasihnya Zain,” perempuan itu menjabatkan tangannya.
Annisa hanya tersenyum.
“Silakan tunggu di dalam rumah,” Annisa membiarkan Nafrini masuk.
Lalu Nafrini masuk dan duduk di sofa ruang tamu.
“Saya panggilkan dulu suami saya,” ucap Annisa tanpa melihat pada Nafrini.
Tok … tok … tok …
Annisa mengetuk pintu kamar Zain.
“Ada tamu spesial untuk Tuan Zain,” Annisa berteriak dari luar kamar.
Zain langsung membuka pintu kamarnya.
“Siapa?,” tanya nya.
Annisa tidak menjawab, dia langsung pergi ke kamar miliknya.
Zain menghampiri tamu tersebut.
Betapa terkejutnya Zain melihat Nafrini sedang duduk di ruang tamu.
“Nafrini,” Zain melotot tidak percaya.
“Zain,” Nafrini berdiri dari duduknya.
Lalu dia memeluk Zain.
Tiba-tiba Annisa datang.
“Tidak baik bersentuhan dengan orang yang bukan muhrimnya,” Annisa dengan santai melihat ke arah Zain dan Nafrini.
Zain melepaskan pelukan Nafrini.
Wajah Nafrini sangat kesal.
“Saya istri sahnya, maka saya akan menemani kalian di sini,” ucap Annisa lalu duduk di sofa berjauhan dengan Zain.
__ADS_1
“Annisa, ini bukan urusan kamu, lebih baik kamu pergi ke kamar!,” ucap Zain.
“Tidak, jelas ini urusan saya, karena anda sekarang adalah suami saya,” Annisa masih tetap duduk santai.
“Annisa! Pergi ke kamar, ini perintah suamimu!,” Zain menaikkan nada bicaranya.
“Tidak, saya akan tetap duduk di sini, tidak boleh suami berduaan dengan yang bukan muhrimnya,” ucap Annisa.
“Tidak apa-apa Zain, biarkan dia di sini,” ucap Nafrini.
Zain terkejut Nafrini sudah menguasai bahasa Indonesia.
Kini Zain duduk kembali di sofa begitu juga Nafrini.
“Kenapa kamu bisa nekat datang ke sini?,” tanya Zain.
Annisa memperhatikan pembicaraan mereka sambil diam-diam merekam percakapannya.
“Aku sangat merindukanmu, orang tuaku menanyakanmu, mereka sudah siap menikahkanku denganmu Zain,” ucap Nafrini.
“Sebentar, kenapa kamu bisa mengerti bahasa Indonesia?,” tanya Zain penasaran.
“Sebelum aku kesini, aku belajar bahasa Indonesia terlebih dahulu,” jawab Nafrini.
Zain mengangguk.
“Ayo pergi ke Kairo, temui orang tuaku,” lanjut Nafrini.
“Tidak bisa, aku baru saja menikah dengannya, orang tuaku tidak mengetahui kalau aku memiliki kekasih,” jelas Zain, dia menggosok-gosokkan tangan di wajahnya.
“Kalau begitu, biarkan aku menemui kedua orang tuamu,” Nafrini menatap Zain dengan sungguh-sungguh.
Annisa hanya mengerutkan kening, di balik cadar bibirnya menggeser ke kiri, seperti tidak percaya dengan perkataan Nafrini.
“Tidak bisa sayang, tolong mengertilah, setelah dua tahun pernikahan, aku akan menikahimu,” ucap Zain.
Nafrini terdiam.
“Terlalu lama untukku Zain.”
“Baiklah, aku akan bersabar, tapi setidaknya izinkan aku tinggal di sini selama seminggu,” ucap Nafrini. Melihat kearah Annisa.
“Oh iya tentu, ada tersisa satu kamar di paling pojok, tapi sepertinya itu untuk gudang, kamu bisa tidur di situ tapi sebelumnya harus di bersihkan dulu olehmu, karena banyak dus bekas perabotan rumah ini,” ucap Annisa.
Zain melotot tidak percaya Annisa berkata seperti itu.
“Tidak, biarkan itu tetap menjadi gudang, di sebelah kamarmu ada satu ruangan kosong, itu bisa di pakai untuk kamar Nafrini selama seminggu,” ucap Zain.
Annisa hanya menaikan halisnya.
Nafrini mengangguk.
“Aku tidak setuju, bagaimana aku kuliah? Kalian akan tetap berduaan di rumah?,” tanya Annisa.
Zain terdiam, dia memikirkan jawabannya.
“Tidak, jika kamu pergi, aku juga akan pergi ke Pesantren, lagi pula hari ini aku ada pekerjaan, Nafrini bisa tinggal di sini selama kamu pergi,” ucap Zain.
Annisa menyetujuinya.
“Tolong rahasiakan keberadaan Nafrini di sini,” ucap Zain memohon kepada Annisa.
Annisa mengangguk.
Zain membantu mengangkat koper Nafrini ke ruangan kosong di sebelah kamar Annisa.
Annisa melihat keadaan kamarnya sangat kosong tidak ada satu barangpun. Lalu Annisa pergi ke kamarnya mengambil kasur lipat yang ia bawa dari kampung halamannya.
“Ini pakai kasur lipatku untuk sementara,” Annisa memberikan kasur lipat itu kepada Zain.
“Nanti siang aku akan membeli kasur untuk Nafrini,” Zain menerima kasur dari Annisa.
“Pakai ini dulu untuk kamu istirahat,” Ucap Zain.
Nafrini mengangguk.
__ADS_1
Annisa pergi keluar di ikuti oleh Zain.
“Annisa, kita harus bicara,” ucap Zain sambil menuruni anak tangga.
Annisa mengangguk dan mengikutinya.
“Tolong, rahasiakan keberadaan Nafrini, orangtuaku tidak boleh mengetahuinya,” ucap Zain.
“Aku tidak tau,” Annisa memalingkan mukanya.
“Kenapa? Kamu akan memberitahu orang tuaku?,” tanya Zain.
“Tentu saja!,” jawab Annisa.
“Kecuali kamu mau menuruti syarat dariku,” lanjut Annisa.
“Apa?,” Zain kesal.
“Kamu tidak boleh berada di rumah ini berduaan dengan Nafrini, dia tidak boleh lebih dari satu minggu berada di sini, jika Nafrini membuat keributan aku akan memberitahu kepada orang tua kalian, jika Nafrini bersikap kasar kepadaku, aku juga akan memberitahukan keberadaanya, hargai aku sebagai istrimu selama dia berada di sini, dia tidak boleh menggunakan dapurku kecuali izin kepadaku,” jelas Annisa.
“Sebentar, yang terakhir tidak masuk akal, Kalau dia mau memasak, bagaimana? Kalau dia kehausan, bagaimana? ”tanya Zain.
“Kamu tidak mencerna perkataanku dengan baik,” jawab Annisa.
“Dia boleh mengambil air sepuasnya, asalkan tidak memasak tanpa seizinku,” lanjut Annisa.
“Baiklah, aku menuruti semua persyaratanmu,” ucap Zain menyetujuinya.
Annisa mengangguk lalu pergi ke kamarnya.
Zain kini menjadi serba salah, dia tidak ingin mengecewakan kekasihnya namun di sisi lain juga dia tidak ingin mengecewakan kedua orang tuanya.
Zain melihat ke arah meja makan, sudah tersedia sarapan untuknya dan juga Annisa. Tetapi Zain tidak berselera untuk makan, dia memutuskan untuk pergi ke Pesantren sekarang.
Tanpa berpamitan kepada kekasih dan istrinya Zain langsung pergi.
Annisa mendengar suara mobil Zain, dia sudah mengetahuinya bahwa Zain pergi.
Annisa keluar kamar dan mengetuk pintu kamar Nafrini.
“Mari kita sarapan bersama,” ucap Annisa.
Tak lama Nafrini keluar dan mengikuti langkah Annisa.
Mereka berdua duduk di meja makan dan melahap sarapannya.
“Apakah kamu bahagia menjadi istri Zain?,” tanya Nafrini yang sudah selesai makan.
Annisa tidak menjawab, dia menyimpan sendok dan meminum air putih.
“Aku bahagia, karena Zain memperlakukanku seperti seorang istri,” ucap Annisa.
Nafrini mengerutkan keningnya.
“Dia tidak mencintaimu, dia hanya mencintaiku,” ucap Nafrini kesal.
Annisa tersenyum.
“Siapa yang tahu isi hati seseorang? Kami sering bertemu, mungkin cinta di hati Zain sudah berubah,” ucap Annisa yang kembali meminum air putih.
“Tidak mungkin, dia sudah berjanji tidak akan mencintaimu,” Nafrini mengerutkan bibirnya.
“Tetapi di hadapan Allah kami adalah suami istri yang sah, sedangkan kamu?,” Annisa tersenyum sinis.
“Lihat saja, aku akan menggantikan posisimu, karena Zain sangat mencintaiku,” ucap Nafrini sangat percaya diri.
Annisa membalas dengan senyuman.
“Aku akan naik ke kamarku,” ucap Annisa lalu meninggalkan Nafrini.
Nafrini sangat kesal mendengar perkataan dari Annisa. Dia ingin segera menikah dengan Zain agar Annisa melihat betapa cintanya Zain kepada Nafrini.
Annisa bersiap-siap untuk kuliah, dia berpamitan kepada Nafrini.
Annisa pergi dengan mobilnya.
__ADS_1