Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Kedatangan Tamu


__ADS_3

“Oh begitu ya? ucap si lelaki buaya darat seperti kamu?,” Kak Ahsan lagi-lagi terlihat marah mendengar perkataan dari Raihan.


Kali ini Raihan tidak bisa berkutik lagi. Dia hanya bisa menunduk.


Tok … tok … tok …


“Assalamu’alaikum Annisa,” Yunita sudah berada di depan rumah.


Semua orang terkejut mendengar ada seseorang yang datang lagi.


“Itu teman Annisa, Yunita, sore ini kami akan mengerjakan tugas,” jelas Annisa.


“Ya sudah bawa temanmu langsung ke halaman belakang ya,” ucap Kak Ahsan.


“Biar Kakak saja yang urus ini,” lanjut Kak Ahsan sambil menunjuk Raihan.


Annisa mengangguk.


Dia membukakan pintu untuk Yunita.


“Wa’alaikumsalam, ayo kita langsung ke belakang saja ya, lewat sini,” Annisa mengarahkan temannya itu ke arah samping rumahnya.


Yunita yang tidak tahu apa-apa langsung saja mengangguk dan mengikuti Annisa.


Kini Kak Ahsan dan Kak Aisyah terdiam melihat kelakuan Raihan.


“Sudah, jika tidak ada yang ingin di sampaikan lagi, kamu boleh pergi dari sini, jangan harap pintu rumah ini akan kembali terbuka untukmu,” Kak Ahsan menunjuk pintu yang sudah terbuka lebar.


Raihan pergi dengan tatapan sinis kepada Kak Ahsan.


***


Di halaman belakang Yunita takjub melihat taman yang begitu luas nan indah. Pohon-pohon rindang, rumput hijau, suara gemercik air dari air mancur terdengar jelas. Membuat suasana belajar mereka semakin nyaman.


Annisa juga baru mengetahui jika halaman belakangnya ternyata seluas ini, dia hanya melihat dari arah jendela tanpa pernah pergi keluar.


Annisa melihat sebuah gazebo kecil di khususkan untuk bersantai, dia menyarankan untuk mengerjakan tugas bersama temannya di sini.


“Masya Allah, ternyata tempatnya sungguh nyaman, aku bisa sangat betah belajar seharian di sini,” ucap Yunita tersenyum.


Annisa membalas senyumannya.


“Nanti kapan-kapan kita bisa belajar bareng lagi,” ucap Annisa.


Yunita mengangguk.


Setelah hampir satu setengah jam mereka asik belajar bersama, kini saatnya Yunita untuk pulang karena sebentar lagi adzan magrib berkumandang.


Yunita di jemput oleh Ayahnya yang baru saja pulang dari kantor. Annisa mengantarnya sampai depan dan mereka saling melambaikan tangan.


Kini Annisa merasa lega karena permasalahan dia sudah selesai. Raihan sudah bukan yang terbaik untuknya, hanya tinggal menunggu Zain. Dia harus benar-benar siap menikah dengan Zain yang entah kapan akan mencintainya dengan tulus.

__ADS_1


Annisa kembali ke kamar untuk bersiap-siap melaksanakan shalat magrib berjamaah.


Dia membersihkan diri terlebih dahulu lalu mengambil wudhu dan bergegas pergi ke mushola.


Semuanya sudah berkumpul, hanya menunggu waktu adzan berkumandang.


Setelah selesai shalat mereka berdzikir terlebih dulu sebelum melaksanakan makan malam.


***


Tok … tok … tok …


“Biar Mbak aja ya yang buka,” Mbak Ayu sudah cekatan untuk meminta izin membukakan pintu.


Kak Aisyah mengangguk pelan.


Lama sekali Mbak Ayu kembali ke mushola, membuat Kak Aisyah penasaran dengan tamu yang tak di undang itu.


Kak Aisyah izin kepada suami untuk menyusul Mbak Ayu ke depan. Kak Ahsan mengangguk tersenyum.


Ternyata tak di sangka-sangka yang mengetuk pintu adalah keluarga Kak Ahza beserta anak dan istrinya. Mbak Ayu sedang sibuk mengangkat koper milik mereka.


“Assalamu’alaikum, Kak Aisyah,” ucap Citra yang langsung memeluk membuat Kak Aisyah terkejut dengan kedatangannya.


Tak lama kemudian Kak Ahsan keluar untuk mengecek siapa yang datang.


Ternyata Kak Ahsan sudah paham mengapa adiknya itu datang ke sini.


Kak Ahza memeluk Kak Ahsan dengan erat di ikuti dengan tetesan air mata yang tumpah pada baju koko yang di kenakan Kak Ahsan.


Annisa menghampiri mereka dan betapa terkejutnya melihat Kakak keduanya kini ada di hadapannya.


Annisa langsung memeluk erat Kak Ahza, mereka saling merindukan satu sama lain.


“Alhamdulillah Annisa masih bisa bertemu dengan Kak Ahza, Annisa sangat merindukan Kak Ahza,” Annisa masih memeluk erat Kakaknya itu sambil berderai air mata.


“Maafkan Kakak ya, tidak sempat mengabarimu, akhir-akhir ini Kakak sangat sibuk dengan pekerjaan, tapi Kakak selalu mendoakan kalian supaya dalam keadaan sehat dan berada dalam lindungan Allah,” Kak Ahza melepas pelukan Adiknya dan mengusap air mata yang jauh di pipi Annisa.


Annisa juga memeluk Kak Citra Kakak ipar keduanya, mereka saling membalas pelukan.


Annisa juga memeluk Adam anak pertama Kak Ahza yang baru berumur 8 tahun.


Malam itu suasana sangat ramai, makan malam hangat keluarga membuat Annisa semakin betah tinggal di sini.


Setelah makan malam selesai, Kak Ahza berpamitan untuk pulang kembali lagi ke Jakarta.


Ternyata dia hanya menitipkan Kak Citra dan Adam saja, di karenakan ada urusan pekerjaan yang harus dia selesaikan.


“Kak aku merepotkan sekali lagi, titip Citra dan Adam ya Kak, jaga mereka sampai aku kembali lagi,” Kak Ahza kembali meneteskan air mata di pelukan Kak Ahsan.


Dan itu membuat Annisa bertanya-tanya sebenarnya apa yang terjadi.

__ADS_1


Kini Kak Ahza telah pergi meninggalkan rumah Kak Ahsan. Hanya tinggal Kak Citra dan Adam.


“Ayo, kalian tidur di kamar atas saja ya, masih ada satu kamar kosong di sana, meskipun tempatnya kecil tapi itu akan membuat kalian tetap nyaman,” ucap Kak Aisyah mengantar Kak Citra dan Adam pergi ke atas.


Sedangkan Annisa masuk kembali ke kamar.


***


Pagi hari, terlihat ada Kak Citra sedang berolahraga di ruang fitness milik Kak Ahsan.


Annisa berpamitan kepada Kak Ahsan dan Kak Aisyah untuk pergi ke kampus.


Tak lupa dia juga berpamitan kepada Kak Citra.


“Annisa, kamu kuliah gak di antar sama Kakakmu?,” Kak Citra tiba-tiba menghentikan aktivitas olahraganya.


“Tidak Kak, Annisa bawa kendaraan sendiri,” Annisa menjawab dengan sangat sopan.


“Oh ya? Sepeda motor?,” tanya Kak Citra lagi.


Annisa tersenyum.


“Bukan Kak, Kak Ahsan membelikan Annisa mobil untuk keperluan Annisa,” Annisa kali ini memperlihatkan kunci mobil yang dia pegang.


“Wah, beruntung sekali, coba Kakak lihat mobilnya,” Kak Citra menuntun Annisa pergi ke garasi.


Citra melihat mobil kecil dua pintu berwarna putih milik Annisa.


“Kapan-kapan kita jalan bareng ya, Kalau terus di rumah Kakak bisa stres nih Nisa,” ucap Kak Citra.


Annisa hanya tersenyum dan mengangguk.


“Ya sudah, hati-hati di jalan ya,” Kak Citra kembali masuk ke ruang fitness.


Annisa segera pergi ke kampusnya.


Kak Citra pergi menghampiri Kak Aisyah di ruang makan.


“Kak, kalau hari ini aku mau jalan-jalan boleh tidak?,” tanya Kak Citra duduk di samping Kak Aisyah.


Kak Ahsan sedang bersiap pergi ke kantor.


“Iya tentu saja, lagi pula diam di rumah hanya akan membuat kamu bosan,” ucap Kak Aisyah melanjutkan sarapannya.


“Aku boleh pinjam mobilnya? Buat ke Mall?,” tanya Kak Citra kali ini membuat Kak Aisyah tersedak.


Uhuk … uhuk …


Kak Aisyah meminum air putih yang ada di hadapannya.


“Kamu belum tahu Kota ini, jadi lebih baik di temani supir pribadi saya saja ya, kebetulan dia perempuan, jadi InsyaAllah tidak akan ada fitnah,” Kak Aisyah tersenyum dan dengan santai menjawab pertanyaan Kak Citra.

__ADS_1


“Kenapa? Kakak tidak percaya ya sama saya? Annisa saja boleh bawa mobil ke kampus.”


Mata Kak Aisyah terbelalak mendengar ucapan yang keluar dari mulut Kak Citra.


__ADS_2