
Zain sangat panik, dia membawa Ayahnya ke rumah sakit.
Kini Ayahnya terbaring lemas di kasur rumah sakit dengan jarum infus berada di tangannya.
Dokter sudah memeriksa Ayah dan mengatakan bahwa jantungnya lemah, Ayah dalam keadaan syok sehingga Ayah tajuh pingsan.
Ibu Zain menangis tersedu-sedu begitu juga Zain yang menyesali perbuatannya.
Annisa hanya bisa menenangkan Ibu mertuanya sambil sesekali mengecek keadaan Ayah mertua.
Mereka semua menunggu Ayah tersadar di kamar VIP yang sudah di sediakan oleh pihak rumah sakit.
Setelah hampir setengah jam, akhirnya Ayah tersadar dari pingsannya.
“Istriku,” begitu membuka mata, Ayah langsung memanggil istrinya.
Ibu menghampiri Ayah.
“Aku di sini,” Ibu berderai air mata.
“Maafkan aku,” ucap Ayah.
“Tidak, aku yang seharusnya meminta maaf,” Ibu menangis sejadi-jadinya.
“Aku tidak bisa menjadi Ayah yang baik,” ucapnya dengan kondisi masih lemah.
“Tidak, Ayah sudah menjadi Ayah yang baik,” ucap Zain tiba-tiba menghampiri Ayah. Di ikuti dengan Annisa. Nafrini tetap duduk.
“Ayah ingin rumah tangga kalian bahagia, tapi justru Ayah malah membuat rumah tangga kalian tidak bahagia,” ucap Ayah kepada Annisa.
“Tidak Ayah, Annisa bahagia, hanya saja Zain kurang bersyukur,” ucap Annisa memegang tangan Ayah mertuanya.
“Zain, Ayah minta jangan tinggalkan Annisa, perbaiki hubungan kalian, Ayah yakin bahwa Annisa adalah jodoh terbaikmu,” ucap Ayah kepada Zain.
Zain mengangguk sesekali melihat ke arah Nafrini.
“Kamu ajak bicara baik-baik perempuan itu, putuskan hubunganmu dengannya,” perintah Ayah.
“Iya Ayah, nanti aku akan bicara,” ucap Zain ragu.
Nafrini memasang wajah cemberut.
Adzan dhzuhur telah berkumandang, Annisa dan Ibu bergegas untuk pergi ke mushola rumah sakit, Bergiliran dengan Zain, dia menunggu Ayahnya.
“Ayo Nafrini, kita melaksanakan shalat di mushola,” ajak Annisa.
Nafrini menggelengkan kepalanya.
“Duluan.”
Ibu yang tidak suka dengan sikap Nafrini langsung mengajak Annisa pergi ke mushola.
Tiba-tiba handphone nafrini berdering.
Dia mengangkat telepon dan pergi keluar kamar.
Dalam bahasa Arab Mesir.
“Assalamu’alaikum, ada apa Ibu?,” ternyata Ibunya Nafrini menelepon.
“Wa’alaikumsalam, bagaimana kabarmu? Apakah sudah ada rencana Zain akan menikahimu?,” tanya Ibunya.
“Alhamdulillah baik, sepertinya belum Bu, Zain masih berusaha meyakinkan Ayahnya,” jawab Nafrini.
“Kalau bisa bulan ini kamu harus menikah dengan Zain.”
__ADS_1
“Bulan ini? Kenapa harus bulan ini?.”
“Kamu tau alasannya kan! Jangan sampai keluarga kita malu!.”
“Malu? Kenapa malu? Keluarga kita kenapa harus malu? Aku akan menikah Bu jadi keluarga kita tidak akan malu.”
“Iya Nafrini, Ibu menunggu kabar selanjutnya.”
Ibu Nafrini menutup teleponnya.
“Malu? Kenapa keluarga kalian?,” tanya Zain tiba-tiba yang sudah berada di belakang Nafrini.
“Sejak kapan kamu berdiri di situ?,” jawab Nafrini terkejut.
“Sejak kamu mengangkat telepon dari Ibumu,” ucap Zain.
“Jadi kapan kita akan menikah?,” tanya Nafrini mengalihkan pembicaraan.
“Nanti kalau sudah waktunya aku pasti menikahimu,” jawab Zain memalingkan wajahnya.
“Ibuku meminta bulan ini kita harus menikah.”
“Kenapa secepat itu?,” tanya Zain duduk di bangku yang tersedia di depan kamar Ayahnya.
“Tidak tau, aku harap kamu akan menikahiku secepatnya,” jawab Nafrini yang ikut duduk di sebelah Zain.
“Tunggu sampai satu tahun ya,” ucap Zain.
Nafrini merenung, dia benar-benar bingung harus berbuat apa.
Tak lama kemudian Ibu dan Annisa sudah pulang dari Mushola.
Ibu melihat ke arah Zain dan Nafrini, lalu memalingkan wajahnya dan pergi masuk ke kamar Ayah.
Annisa tidak mengikuti Ibu, dia malah duduk di samping Nafrini.
Annisa duduk sambil memainkan handphonenya.
Lalu Zain berpamitan kepada Ayah dan Ibu untuk melaksanakan shalat.
Kini hanya tinggal Nafrini berdua dengan Annisa.
“Sesama wanita, kita harusnya tau bagaimana perasaan jika kekasihnya menikah dengan wanita lain,” ucap Nafrini tiba-tiba.
“Iya aku tau, tapi yang jadi masalahnya, mengapa Zain mau menikah dengan wanita lain dan membiarkan kekasihnya, apakah itu yang di katakan cinta?,” tanya Annisa sambil menaruh handphone.
Nafrini termenung.
“Lelaki manapun akan memperjuangkan cintanya, akan berkorban untuk kekasihnya jika dia benar-benar mencintai wanitanya,” lanjut Annisa.
“Zain akan menikahiku, dia hanya ingin berbakti kepada orang tua, sehingga menikah denganmu,” jawab Nafrini.
Annisa tersenyum.
“Keputusannya ada di tanganmu Nafrini, jika kamu ingin menyerah, tinggalkan Zain dan jika kamu ingin terus berusaha, maka aku tidak akan melarangmu, tapi aku jugaakan terus berusaha menjaga rumah tangga ini, bagaimanapun Zain adalah suamiku, aku tidak akan pernah mau bercerai dengannya, perceraian itu tidak di sukai oleh Allah,” jelas Annisa.
Nafrini terdiam.
“Annisa,” Ayah memanggil Annisa.
“Iya Ayah,” Annisa pergi menghampiri Ayah.
“Annisa, Ayah meminta maaf atas kelakuan Zain, selama ini kamu terus menyembunyikan kesalahannya, Ayah berjanji tidak akan membiarkan Zain meninggalkan wanita shalehah seperti kamu,” Ayah meneteskan air mata.
Annisa menggenggam tangan mertuanya.
__ADS_1
“Annisa baik-baik saja Ayah, jangan khawatir, Ayah tidak perlu meminta maaf karena ini bukan kesalahan Ayah, Annisa juga akan mempertahankan rumah tangga ini.”
Ayah tersenyum.
***
Jam dinding menunjukan pukul delapan malam, Ayah menyuruh Annisa dan Zain pulang, karena di sini sekarang sudah ada Ibu dan saudara-saudara Ayah untuk menjaga Ayah.
Sedangkan Nafrini sudah pulang terlebih dahulu ke rumah mereka.
Zain menuruti apa kata Ayah.
Annisa kini berdua dengan Zain dalam satu mobil.
“Annisa, aku ingin kita membicarakan hubungan ini,” ucap Zain tiba-tiba.
“Apa yang harus di bicarakan?,” tanya Annisa yang sudah mulai mengantuk.
“Aku serius tentang poligami, aku ingin kamu mengikhlaskan aku berpoligami dengan Nafrini,” jawab Zain melihat ke arah Annisa.
“Aku tidak ikhlas,” ucap Annisa samar-samar karena dia mengantuk.
“Kenapa? Bukannya kamu tidak mencintaiku?,” tanya Zain yang sesekali melihat Annisa yang mulai akan tertidur.
“Aku bukan tidak mencintaimu Zain, aku bisa belajar mencintaimu, asalkan kamu juga mencintaiku, aku ingin ibadah terlamaku ini benar-benar membawaku ke surga,” jawab Annisa yang sudah sangat mengantuk.
Zain melihat ke arah Annisa, ada sedikit iba di hatinya. Dia sudah menghancurkan hati dua perempuan yang tidak bersalah.
Sekarang dia merasa bingung, apa yang harus di lakukannya.
Sesampainya di rumah, Zain membangunkan Annisa.
Mereka berdua masuk ke dalam rumah.
Annisa langsung naik ke kamarnya, begitu juga Zain yang langsung masuk ke kamarnya.
Sampai kamar Annisa membersihkan diri, dia mandi dan segera bersiap untuk tidur.
Jam dinding menunjukan pukul dua malam, Annisa biasa terbangun untuk melaksanakan shalat tahajud, dia bersiap mengambil wudhu dan melaksanakan shalat tahajud, selepas shalat Annisa mengambil Al-Quran dan melantunkan ayat suci.
Suaranya sampai terdengar ke ruang makan yang kebetulan Zain sedang mengambil air putih karena tidak bisa tidur.
“MasyaAllah,” Zain kagum mendengar suara indah milik Annisa yang sedang melantunkan ayat suci Al-Quran.
“Eh, Astagfirullah,” Zain lalu kembali ke kamarnya.
Setelah selesai, Annisa kembali menyimpan Al-Quran.
Dia mendengar Nafrini keluar dari kamarnya.
“Uo … uo,” Nafrini mencoba menahan rasa mualnya, dia menuruni anak tangga satu persatu untuk menuju kamar mandi yang berada di dapur.
Annisa keluar kamar masih keadaan memakai mukena dan segera menghampiri Nafrini.
“Kamu masuk angin?,” tanya Annisa.
“Kemarin aku juga masuk angin, pakai ini,” lanjut Annisa memberikan obat gosok untuk meringankan masuk angin.
“Aku tidak masuk angin Annisa,” jawab Nafrini sambil membersihkan wajahnya dengan tissu.
Annisa menunggu jawaban selanjutnya dari Nafrini.
“Aku sedang mengandung,” ucap Nafrini melihat tajam ke arah Annisa.
Annisa terkejut mendengar bahwa Nafrini sedang mengandung.
__ADS_1
“Apakah itu anak Zain?,” tanya Annisa bergetar, dia menutupi mulutnya dengan kedua tangan.
Nafrini termenung, dia menundukan pandangannya.