Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Drama Taxi Online


__ADS_3

Setelah mereka berdua sampai di rumah, Annisa turun dari mobil dan langsung bergegas ke kamarnya. Sedangkan Zain hanya menatap Annisa yang terburu-buru naik tangga.


“Sabar, nanti pasti aku akan melihat lagi wajah cantikmu,” ucap Zain.


Keesokan harinya…


Annisa sudah bersiap untuk pergi ke kampus, dia sudah menyiapkan dagangannya yaitu cupcake, seperti biasa dia akan berjualan lagi di kampus.


“Mau ke kampus barengan?,” tanya Zain.


“Tidak, kita beda jadwal,” jawab Annisa.


“Ya sudah, hati-hati ya,” Zain tersenyum pada istrinya itu.


Annisa membalas senyumannya, walaupun terhalang oleh cadar namun Zain tahu bahwa Annisa melontarkan senyuman padanya.


“Oh ya, Mas, cupcakenya aku simpan di atas meja, kamu tinggal ambil buat bekal,” ucap Annisa dan langsung pergi keluar.


“Mas? Akhirnya dia memanggilku Mas lagi,” Zain tersenyum senang.


Sesampainya di kampus, Annisa mengelilingi kampus dan menghampiri para mahasiswa yang sedang bersantai untuk menawarkan cupcake miliknya.


Seperti biasa cupcake Annisa di serbu langsung oleh mahasiswa, hingga mengundang perhatian para dosen untuk membelinya. Ibu Putri datang untuk membeli cupcake Annisa.


“Ibu pesan dua ya,” ucap Ibu Putri.


“Iya Bu, ini silakan,” Annisa memberikan pesanan Ibu Putri.


“Terimakasih ya, sepertinya ini enak, kalau boleh saya mau pesan 5 untuk besok di bawa pulang, anak saya pasti suka,” ucap Ibu Putri.


“Baik Bu, nanti saya bawakan untuk anak Ibu,” Annisa tersenyum.


Ibu Putri pergi meninggalkan Annisa, dia masuk ke ruang dosen dan bersiap untuk memakan cupcake Annisa.


Di sana sudah ada Zain dan rekan dosen yang lain. Ibu Putri menghampiri meja Zain


“Wah, Pak Zain juga beli cupcakenya ya? Kok pake misting, bawa misting dari rumah?,” tanya Ibu Putri.


“Iya Bu,” jawab Zain tersenyum.


“Kata mahasiswa lain cupcake ini enak banget, makannya aku penasaran untuk membelinya,” ucap Ibu Putri sembari duduk di mejanya yang bersebelahan dengan Zain.


“Iya, aku sudah mencoba dua kali, emang enak ini cupcake buatan Annisa,” ucap salah satu dosen perempuan yang juga sedang menikmati cupcake Annisa.


Ibu Putri membuka cupcakenya, dia memakan suap demi suap, cupcakenya meluncur di mulut yang terhalang oleh cadar hitam.


Setelah habis, Ibu Putri merasa kenyang namun ada rasa sakit di perutnya.


Tanpa basa basi Ibu putri pergi ke kamar mandi. Setelah selesai dia segera kembali masuk ke ruang dosen.


“Ibu habis dari mana?,” tanya salah seorang teman Ibu Putri yaitu dosen perempuan.


“Kamar mandi, kok aku sakit perut ya setelah makan cupcake Annisa,” jawab Ibu Putri sambil mengelus perutnya.


Zain langsung melihat ke arah Ibu Putri.


“Oh ya? Apa penyajiannya tidak higienis ya?,” ucap temannya.


“Ah saya tidak tahu, tapi ini sangat enak.”


“Sepertinya aku harus membuang sisa cupcake ini, takutnya aku sakit perut juga,” ucap teman Ibu Putri.


“Tidak Ibu, pembuatan cupcake ini sangat higienis, saya tahu sendiri, tidak mungkin Annisa membuatnya dengan kotor, saya selalu memakannya dan tidak pernah sakit perut,” ucap Zain membela dagangan istrinya.

__ADS_1


“Betul juga kata Pak Zain,” dosen perempuan itu tidak jadi membuang cupcakenya.


Ibu Putri terheran mengapa Zain sampai tahu proses pembuatan cupcake Annisa.


“Pak Zain tunggu,” cegah Ibu Putri ketika Zain akan memasuki kelas untuk mengajar.


Zain melihat ke jam tangannya. “Maaf ya Ibu, saya telat,” ucap Zain yang kembali meneruskan langkahnya.


“Pak Zain ini sungguh dosen muda yang baik, juga bertanggung jawab akan profesinya, MasyaAllah,” puji Ibu Putri dalam hatinya.


***


Sekitar pukul empat sore Annisa masih berada di kampusnya, semua dagangannya ludes terjual, dia sangat senang karena penjualan hari ini lebih banyak dari hari sebelumnya saat dia pertama kali berjualan.


Annisa sedang duduk di area parkiran dan melihat suaminya yang sedang berjalan menghampiri mobilnya, sungguh dia memang seorang laki-laki yang tampan, sudah pasti perempuan manapun tidak akan menolak jika di jadikan istri oleh Zain, namun Annisa hanya menyesali atas sikapnya selama ini. Sebetulnya Zain adalah laki-laki baik, dia bersikap seperti itu hanya untuk mempertahankan cinta dengan kekasihnya itu.


Dari arah belakang, Ibu Putri setengah berlari menghampiri Zain.


“Assalamu’alaikum Pak Zain,” ucap Ibu Putri.


“Wa’alaikumsalam,” Zain menoleh ke arah Ibu Putri.


“Pak Zain, saya tidak bisa menemukan taxi online,” ucap Ibu Putri berharap Zain menawarkan tumpangan lagi.


Annisa terus menatap ke arah mereka berdua.


“Waduh, bagaimana ya, ponsel saya mati,” ucap Zain berbohong.


“Tidak apa-apa Pak, kalau begitu boleh saya ikut saja lagi dengan Bapak?,” tanya Ibu Putri yang kini lebih berani dari sebelumnya, sepertinya dia mulai tertarik dengan Zain.


“Ikut lagi? Bagaimana ya,” Zain merasa kebingungan.


Annisa menghampiri Zain dengan mengangkat ponselnya di telinga, dia menelepon ponsel Zain.


“Assalamu’alaikum, Pak Zain, saya cari-cari ternyata ada di sini,” ucap Annisa tersenyum.


“Wa’alaikumsalam,”Zain kembali tersenyum dengan tangannya memegang ponsel.


“Loh, katanya tadi ponselnya mati?,” tanya Ibu Putri.


Zain tersenyum malu.


“Ah masa bu? Tapi aktif loh Bu saya telepon tadi,” ucap Annisa menganggukan kepalanya pelan.


Ibu Putri melirik ke arah Annisa.


“Ada apa Annisa?,” tanya suaminya.


“Ini Pak, ada materi pelajaran Bapak yang kurang mengerti, sedangkan Bapak memberikan tugas yang tidak saya pahami, jadi saya ingin berkonsultasi dengan Bapak sekarang,” ucap Annisa.


Zain terdiam merasa heran, baru kali ini Annisa tidak mengerti pelajaran yang di ajarkan olehnya, karena dia paling cerdas ketika di kelas.


“Annisa, ini sudah sore, para dosen juga harus kembali pulang ke rumahnya, besok saja ya? Pak Zain akan mengantarkan saya pulang dulu,” ucap Ibu Putri dengan ramah.


Annisa tersenyum ramah dan melihat dengan sinis ke arah Zain.


“Oh begitu ya Pak? Bapak akan mengantar Ibu Putri pulang?,” ucap Annisa dengan nada penuh tekanan namun tetap sopan.


“Ibu Putri, Annisa ini sebenarnya ist,” ucapan Zain terpotong.


“Ibu Putri, saya mohon saya harus membahas pelajaran ini sekarang dengan Pak Zain,” Annisa memohon kepada Ibu Putri.


“Memangnya Pak Zain mau membahasnya sekarang? Dia cape loh Annisa, kamu harus sopan ya sama Pak Zain,” Ibu Putri tidak mau kalah rupanya.

__ADS_1


“Iya Bu maafkan saya sudah tidak sopan dengan Pak Zain, kalau begitu saya pamit dulu Bu, Pak,” ucap Annisa menganggukan kepalanya pelan.


“Tunggu,” Zain menahan Annisa.


“Maaf ya Ibu Putri, saya harus membuat Annisa paham akan pelajaran saya, dia adalah mahasiswa cerdas di kelasnya, takutnya kalau dia saja tidak paham bagaimana dengan teman-temannya, sekali lagi saya minta maaf tidak bisa mengantar Ibu Pulang,” ucap Zain.


“Oh begitu ya Pak,” Ibu Putri memasang wajah kecewa.


“Ibu, kalau mau saya pesankan taxi online?,” ucap Annisa.


Ibu Putri mengangguk tidak banyak bicara.


Annisa memberikan ponselnya kepada Ibu Putri untuk memasang titik pemberhentian di rumah Ibu Putri.


“Sudah saya pesankan Bu, Ibu tidak perlu membayarnya ketika sampai rumah, sudah saya bayar melalui aplikasinya,” ucap Annisa memperlihatkan ponselnya.


“Terimakasih banyak ya Annisa, kamu sangat baik, kalau begitu Ibu akan menunggu taxi onlinenya di sana, mari Pak,” Ibu Putri pergi melangkah ke ujung jalan.


Annisa menatap setiap langkah Ibu Putri, sedangkan Zain malah menatap ke arah Annisa dengan tersenyum kecil.


“Kenapa? Istriku cemburu ya?,” Zain menggoda Annisa.


“Tidak, aku hanya ingin Mas tidak berduaan dengan yang bukan muhrimnya,” ucap Annisa melihat ke arah Zain.


“Tenang saja, aku akan menolaknya,” Zain merapikan peci yang ada di kepalanya.


“Menolak tapi berbelit-belit, susah emangnya semua lelaki sama,” ucap Annisa cemberut.


“Sudah jangan marah-marah, nanti Mas belikan kamu permen kapas lagi ya?,” tawar Zain.


“Tidak, terimakasih, aku pulang dulu,” ucap Annisa pergi meninggalkan Zain.


“Mas mengikutimu dari belakang ya,” ucap Zain.


Annisa mengangguk dan mengacungkan jempolnya.


Zain tersenyum melihat tingkah lucu istrinya yang kekanak-kanakan.


Mereka pulang beriringan dan sudah sampai di rumah.


“Mas, Annisa langsung pergi ke kamar ya,” ucap Annisa.


Zain mengangguk.


Annisa membersihkan diri dan bersiap untuk kembali memasak makan malam bersama suaminya.


Namun ponsel Annisa berdering, sebuah telepon masuk dari Kak Ahsan.


“Assalamu’alaikum,” jawab Annisa.


“Wa’alaikumsalam, Nisa kamu ba’da magrib bisa ke rumah Kakak tidak? Ini sangat penting,” ucap Kak Ahsan dengan suara setengah menangis.


“Kenapa Kak? Kalau penting Annisa berangkat sekarang saja.”


“Iya nanti Kakak jelaskan, kamu berangkat dengan suamimu ya, hati-hati, Assalamu’alaikum,” Kak Ahsan menutup teleponnya.


“Wa’alaikumsalam,” Annisa menjawab salam.


Kira-kira kenapa ya Kak Ahsan menyuruh Annisa pergi ke rumahnya, dengan kondisi Kak Ahsan setengah menangis? Sepertinya ini masalah serius.


***


Temen-temen terimakasih atas dukungannya, biar Author semangat menulis jangan lupa like dan tambahkan favorit 😉🥰

__ADS_1


__ADS_2