Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Panggil Saya ‘Mas’


__ADS_3

“Sepertinya aku akan tetap berkuliah saja, aku akan sambil usaha,” ucap Annisa.


“Usaha? Emangnya kamu bisa apa?,” tanya Zain sedikit tersenyum sinis.


“Pokoknya aku tidak akan meminta uang padamu,” jawab Annisa.


“Baiklah, tapi jangan lupakan juga tugasmu sebagai seorang istri,” Zain kembali fokus menyetir.


Annisa tidak menjawabnya.


Sebenarnya Annisa sendiri masih bingung untuk jenis usaha apa yang akan dia jalani, karena dia belum cukup berpengalaman.


Sesampainya di rumah, Annisa kembali menuju kamarnya, begitu juga Zain.


Annisa membuka ponselnya dan menelusuri internet, mencari tahu usaha yang cocok dengannya.


Tak terasa Annisa sudah menghabiskan banyak waktu dengan ponselnya hingga adzan magrib, Annisa mengambil wudhu dan segera melaksanakan shalat magrib, tidak lupa Annisa melanjutkan dengan tadarus Al-Quran.


Setelah selesai, Annisa bergegas pergi ke bawah untuk menyiapkan makan malam.


“Kamu belajar ngaji dimana?,” tiba-tiba Zain bertanya pada Annisa.


Sedari tadi Zain ternyata duduk di dapur dan mendengarkan Annisa tadarus Al-Quran.


“Di kampungku, kenapa Kak Zain? Masih ada yang salah ya?,” Annisa mengambil bahan-bahan untuk memasak.


“Tidak, aku hanya bertanya, masaknya harus cepat ya, aku sangat lapar,” Zain pergi meninggalkan Annisa.


Annisa sibuk memasak untuk makan malam, kali ini dia memasak orak arik telur dan sayuran, karena Zain meminta dia memasak cepat.


Saat sedang memasak, Annisa melihat sebuah oven yang masih utuh dan bagus belum pernah dia pakai, terpikirlah untuk berjualan cupcake di kampusnya. Kalau masalah membuat cupcake Annisa memang sangat jago, karena Ambu sering mengajarkan Annisa untuk memasak.


Tak lama, makananpun sudah siap, Annisa membawa dan menyajikan makanannya di atas meja makan. Aroma makanan sangat harum, membuat Zain menjadi sangat lapar. Zain sudah mengira makanan yang di buat Annisapun pasti lezat, karena selama ini dia selalu puas dengan apa yang di masak oleh Annisa.


“Kalau dalam hal memasak, aku yakin kamu pandai, biasanya orang kampung sepertimu selalu di bekali keahlian dalam memasak oleh ibunya, agar suaminya betah di rumah,” ucap Zain mencibir.


Annisa tersenyum.


“Betul, orang kampung sepertiku sangat langka dan berharga, pandai dalam memasak, pandai juga dalam menjaga diri, belum pernah tersentuh oleh lelaki manapun, apalagi seperti mantanmu,” Annisa membalas cibiran Zain.


Zain memalingkan wajahnya.


“Aku tidak ingin membahas dia,” ucap Zain kesal.


“Baik Tuan, sekarang silakan di makan sajiannya, sudah pasti akan membuat mood anda kembali baik,” ucap Annisa sambil memberikan piring kepada Zain.


Tanpa basa basi Zain mengambil piring tersebut, menuangkan nasi dan masakan yang harum itu ke atas piring.


Zain membaca doa dan langsung melahap makanannya.


“Sudah ku duga, ini sangat lezat sekali,” ucap Zain.


“Alhamdulillah kalau Kak Zain suka,” ucap Annisa.


Setelah selesai makan Zain minum air putih yang sudah di sediakan Annisa.


“Terimakasih Annisa, ini sangat lezat,” pertama kalinya Zain mengucapkan itu kepada Annisa.


“Sama-sama Kak Zain,” ucap Annisa berdiri dari duduknya.


“Mulai hari ini kamu panggil saya, Mas Zain,” ucap Zain.


Annisa terkejut, dia tertawa kecil.


“Mas Zain? Hihi,” Annisa menutup mulutnya dengan kedua tangan.


“Kenapa tertawa?,” Zain menatap Annisa.


“Tidak, hanya saya sedikit geli mendengarnya apalagi mengucapkannya,” Annisa kembali membereskan piring kotor untuk di bawa ke dapur.


“Pilih saja, kamu mau memanggilku Mas Zain, atau memanggilku sayang,” ucap Zain terus menatap Annisa.


Annisa kali ini benar-benar tertawa mendengar perkataan Zain.


“Maafkan aku, tidak seharusnya aku tertawa seperti itu,” Annisa menunduk.

__ADS_1


“Tidak apa-apa, aku suka melihatmu tertawa, lebih cantik di bandingkan terus memasang wajah kaku,” ucap Zain masih menatap istrinya itu.


Annisa melihat ke arah Zain, dia kembali menundukan pandangannya karena terkejut dari tadi suaminya terus memandangi wajahnya.


“Aku memanggil Mas Zain saja,” ucap Annisa pergi berlalu membawa piring kotor untuk di cuci.


Zain tersenyum.


“Sebenarnya dia sangat cantik dan berbakat, tapi hati ini belum sepenuhnya untuk dia,” gumam Zain dalam hati.


***


Selepas shalat subuh Annisa bersiap untuk pergi ke pasar, membeli bahan-bahan untuk berjualan cupcake.


“Mau kemana?,” tanya Zain yang baru keluar dari kamarnya.


“Oh iya, Kak Zain aku pamit mau ke pasar dulu buat beli bahan-bahan, InsyaAllah hari ini aku akan berjualan,” ucap Annisa.


“Eh, Mas Zain,” lanjut Annisa.


Zain tersenyum dan mengangguk.


Sebenarnya Zain juga merasa geli mendengar Annisa memanggilnya dengan sebutan “Mas”.


Annisa pergi menggunakan mobil mungilnya.


Di pasar dia memilih berbagai macam bahan yang di perlukannya.


Kebetulan hari ini jadwal kuliah Annisa siang, jadi dia bisa lebih leluasa untuk mempersiapkannya.


Annisa sudah kembali lagi ke rumah dengan banyak membawa kresek.


Annisa mengeluarkannya satu persatu, hingga Zain datang membantu membawakan kreseknya dari mobil.


“Tidak usah Mas, aku bisa sendiri,” ucap Annisa.


“Tidak apa-apa,” Zain terus membantu Annisa.


“Alhamdulillah beres, terimakasih Mas Zain sudah membantu,” ucap Annisa.


Zain mengangguk dan kembali ke kamarnya.


Hingga adonan kue siap untuk di masukan ke dalam oven. Annisa menunggunya hingga 15 menit.


Setelah matang, Annisa mulai menghias bagian atas kue dengan krim kue berwarna putih dan pink.


Kini kuenya sudah di masukkan ke dalam wadah dan siap untuk di jual.


“Bikin apa?,” Zain menghampiri Annisa.


“Cupcake, Mas mau coba?,” tanya Annisa.


Zain melihat cupcake buatan Annisa, dia menelan ludah.


“Sepertinya enak,” gumam Zain dalam hati.


“Tidak, pasti tidak enak,” ucap Zain.


Annisa tersenyum, karena tahu ekspresi Zain sangat menginginkan cupcake.


Zain pergi ke kamarnya.


“Aku simpan cupcakenya ya di atas piring, jangan lupa makan,” Annisa sedikit berteriak.


Annisa menyiapkan 4 buah cupcake di atas piring.


Zain tidak memperdulikannya dan masuk ke dalam kamar.


Annisa bersiap untuk berangkat ke kampus.


Jam dinding menunjukan pukul delapan, walaupun Annisa kuliah pada pukul sepuluh, dia memutuskan untuk pergi lebih awal, karena akan berjualan.


***


Di kampus Annisa menawari setiap mahasiswa yang sedang duduk di taman, awal mulanya Annisa menghampiri satu persatu mahasiswa namun lama kelamaan Annisa yang di hampiri oleh mahasiswa lain untuk membeli cupcakenya.

__ADS_1


“Enak ya, aku mau pesan lagi ya buat besok,” ucap salah satu mahasiswa.


“Iya. Aku juga mau pesan buat besok.”


Annisa di banjiri banyak orderan, dia merasa senang sekali.


Sekitar pukul setengah sepuluh, dagangan Annisa sudah ludes.


Annisa beristirahat di kantin, dia membeli sebuah minuman.


“Alhamdulillah, hari ini semua daganganku habis,” gumam Annisa dalam hati.


Annisa bergegas pergi ke kelasnya, dia melewati ruangan dosen, tak sengaja Annisa melihat suaminya sedang duduk di kursi miliknya. Zain membuka bekal di dalam misting.


Annisa penasaran, bekal apa yang di bawa oleh suaminya itu. Dia masih tetap berdiri memperhatikan suaminya.


Terlihat Zain membawa 4 cupcake dan memakannya dengan lahap.


Annisa tersenyum kecil, dia senang Zain memakan cupcake yang di sediakannya.


“Pak Zain, ada istrimu di luar,” ucap salah satu dosen.


Annisa terkejut ternyata ada yang memperhatikannya, dia bersembunyi di balik pintu.


Zain berjalan keluar menghampiri Annisa.


“Kenapa bersembunyi?,” Zain mengejutkan Annisa.


“Tidak, hehe tadi aku,” Annisa tidak melanjutkan bicaranya.


“Terimakasih ya, cupcakenya sangat enak,” Zain tersenyum dan memegang tangan Annisa.


Annisa melotot melihat tangannya, jantungnya berdegup kencang. Entah mengapa Annisa kini tidak bisa bergerak, membeku dan membisu.


Zain seketika menghempaskan tangan Annisa.


“Maaf, aku terlalu senang dengan makanan buatanmu,” ucap Zain.


“Tidak apa-apa, aku ke kelas dulu ya,” ucap Annisa pergi ke kelasnya.


Zain terus memperhatikan Annisa berjalan.


“Annisa!,” panggil Raihan.


Annisa melihat ke arah Raihan.


“Siang ini, kamu ada acara tidak?,” tiba-tiba Raihan menanyakan itu.


“Tidak,” Annisa menunduk.


Zain dengan tergesa-gesa menghampiri Annisa.


“Ada!,” Zain menatap ke arah Raihan.


Annisa terkejut.


“Sudah saya bilang, jangan ganggu istri saya,” ucap Zain.


Mahasiswa di sekitar memperhatikan Zain dan Raihan.


“Saya tidak mengganggu, saya hanya bertanya Pak dosen,” Raihan tersenyum sinis.


“Saya tidak mengizinkan kamu bertanya pada istri saya!,” Zain benar-benar marah.


“Kenapa? Bapak harus tau, sebelum menikah dengan Bapak, Annisa itu mencintai saya,” Raihan mendekatkan tubuhnya kepada Zain.


“Tidak, Annisa tidak pernah mencintaimu!,” Zain juga mendekatkan tubuhnya pada Raihan.


Semua mahasiswa sudah membentuk lingkaran, berkerumun dan memperhatikan Zain dan Raihan. Annisa hanya terdiam dia bingung harus apa.


Zain dan Raihan saling menatap tajam.


Hingga akhirnya pukulan Raihan menuju ke dada Zain.


Annisa terkejut, dia mencoba menghalangi pertengkaran.

__ADS_1


*BRUK*


Pukulan dari Raihan mengenai kepala Annisa.


__ADS_2