Aku, Cadarku & Jodohku

Aku, Cadarku & Jodohku
Menarik Hati


__ADS_3

Annisa merasakan pusing, matanya buram, hingga dia terjatuh.


Zain dengan sigap menahan Annisa agar tidak terjatuh di lantai.


Annisa pingsan, Zain membawa Annisa ke rumah sakit milik kampus.


Raihan terkejut, karena tidak menyangka pukulannya bisa membuat Annisa pingsan.


Di dalam kamar, sudah ada Zain dan dokter yang sedang memeriksa Annisa. Tentu saja dokternya seorang perempuan.


“Bagaimana dok?,” tanya Zain sedikit cemas.


“Tidak apa-apa Pak dosen, Annisa hanya sedikit syok, tidak ada luka parah di kepalanya, semuanya aman,” jawab dokter tersenyum.


“Saya pergi dulu, permisi,” dokter itu pergi meninggalkan Annisa dan Zain.


Zain melirik ke arah Annisa, dia masih terbaring lemas dan belum sadarkan diri.


Gadis mungil ini sangat cantik jika tertidur, untuk pertama kalinya Zain melihat Annisa dengan mata tertutup, wajahnya sangat imut, tentu saja karena sebenarnya Annisa masih kecil.


“Maafkan aku Annisa, gadis tidak berdosa sepertimu harus memiliki suami jahat sepertiku, itu sangat tidak adil,” gumam Zain pelan.


Annisa tersadar dari pingsannya.


“Annisa,” Zain memberikan air putih kepada Annisa.


Annisa meminum dan memegangi kepalanya yang masih terasa pusing.


“Pukul berapa ini?,” tanya Annisa.


“Pukul setengah sebelas,” jawab Zain.


“Astagfirullah, aku telat Mas,” Annisa bangun dari tidurnya, namun tiba-tiba kepalanya pusing.


“Nahkan, sudah, biar aku yang akan menemui dosenmu, aku akan memberitahukan bahwa kamu sedang sakit, tunggu di sini sampai aku menjemputmu kembali, istirahatlah,” ucap Zain.


Dia bergegas pergi ke kelas Annisa.


Tok … tok … tok …


“Assalamu’alaikum, Ibu mohon maaf mengganggu waktunya,” Zain berbicara dengan dosen Annisa.


Zain sempat terkejut dengan dosen itu.


“Wa’alaikumsalam, kenapa ya?,” tanya dosen wanita itu.


“Saya hanya memberitahu, kalau Annisa Nurhaliza tidak bisa mengikuti pelajaran Ibu hari ini, karena sedang sakit, sekarang terbaring di rumah sakit kampus ini,” jawab Zain dengan terus memandangi Ibu dosen yang sangat cantik.


Walaupun Zain tidak melihat wajahnya, tapi tatapan mata dosen wanita itu sangat tajam, matanya bagus, bulu matanya lentik, dia memakai cadar, bajunya sangat tertutup rapat.


“Oh iya, tadi saya sudah di beritahu oleh temannya, maaf, anda ini Kakaknya?,” tanya dosen itu lagi, sebut saja Ibu Putri.


“Oh bukan, saya um … tidak penting, terimakasih Bu, saya pamit dulu,” jawab Zain lalu berpamitan.


Sebelumnya Zain tidak pernah melihat Dosen wanita itu, dia terus terbayang-bayang dengan dosen itu.

__ADS_1


“Astagfirullah,” Zain tersadar dari lamunannya.


“Sebetulnya, saya ingin sekali memiliki istri bercadar, tapi apa boleh buat, Annisa belum mau memakainya, pasti dia akan terlihat cantik seperti Ibu dosen tadi,” gumam Zain dalam hati.


Setelah kembali lagi pada Annisa, Zain mengajaknya pulang, beristirahat di rumah.


“Tapi, aku bawa mobil Mas,” ucap Annisa.


“Iya, kita bawa saja mobilmu, aku akan kembali lagi ke kampus nanti dengan taxi online lalu membawa mobilku,” ucap Zain.


Annisa mengangguk, Zain membantu memboyong Annisa. Karena badannya masih lemas.


Di perjalanan menuju pulang, Zain hanya melamun, tidak bertanya apapun kepada Annisa. Begitu juga dengan Annisa, yang hanya memikirkan bahan-bahan untuk dagangannya besok. Dia sangat bahagia karena orderannya sangat banyak.


“Mas, tadi orderan cupcake ku banyak,” ucap Annisa membuka percakapan.


“Ah, iya bagus,” respon Zain sangat dingin.


“Kalau begitu terus, aku bisa membayar uang kuliah sendiri,” Annisa memasang raut wajah senang.


“Syukurlah,” Zain hanya merespon sedikit.


Annisa melihat ke arah Zain, dia merasa bersalah karena telah mengganggu konsentrasi menyetirnya.


“Maaf ya, aku telah mengganggumu,” ucap Annisa kembali terdiam.


“Tidak, aku sedang fokus menyetir,” ucap Zain sesekali melirik Annisa.


Annisa hanya terdiam.


“Ibu Putri, kenapa Mas?,” jawab Annisa melihat ke arah Zain.


“Tidak, aku baru melihatnya,” ucap Zain.


“Iya, dia sudah lama cuti,” jelas Annisa.


“Sudah punya anak?,” tanya Zain.


“Ku dengar sudah, namun suaminya baru saja meninggal,” jawab Annisa.


Zain mengangguk mengerti.


“Lihat, dia sangat cantik menggunakan cadar, apa kamu tidak mau terlihat cantik seperti dia?,” tiba-tiba Zain membuat Annisa menjadi tidak bersemangat.


“Tidak, memakai cadar bukan untuk kecantikan, aku tidak tertarik dengan kecantikan dunia,” Annisa kembali melihat pemandangan di kaca mobil sebelahnya.


“Iya, tapi kamu juga akan terlihat cantik di akhirat nanti jika kamu menjaga dan menutupi wajahmu dengan cadar, wajahmu hanya boleh di perlihatkan kepada suamimu saja,” jelas Zain.


Annisa tidak menjawab, dia mulai merasa tidak nyaman dengan perkataan Zain.


“Aku harap, kamu segera memakai cadar, sebelum kamu menyesal,” lanjut Zain.


Annisa hanya mengangguk.


Sesampainya di rumah, Annisa berterimakasih karena telah di antarkan pulang, Zain mengangguk dan kembali lagi ke kampus karena masih ada kelas.

__ADS_1


Zain langsung menuju ke kelas, kebetulan kelas selanjutnya Zain tepat di kelas Ibu Putri berada yaitu di kelas Annisa.


Ibu Putri terkejut melihat Zain sudah berdiri di depan pintu kelasnya.


“Astagfirullah, Bapak yang tadi kan? Kenapa masih di sini?,” tanya Ibu Putri.


“Iya Bu, kebetulan saya mengajar di kelas ini,” jawab Zain tersenyum kepada Ibu Putri.


“Sebentar, Bapak dosen di sini? Maaf ya Pak, saya tidak tahu, sepertinya Bapak dosen baru di sini?,” Ibu Putri meminta maaf.


“Iya betul Ibu, tidak apa-apa, mari saya masuk dulu,” ucap Zain.


Ibu Putri pergi berlalu meninggalkan Zain.


“MasyaAllah dia sungguh sangat menyejukkan,” gumam Zain pelan.


“Astagfirullah,” tiba-tiba Zain sadar bahwa dia sudah memiliki istri.


***


Zain selesai mengajar, dia berjalan menuju ruangan dosennya.


Dia mengambil barang-barangnya lalu bergegas pergi ke parkiran untuk pulang.


Di pinggir jalan Zain melihat Ibu Putri seperti sedang menunggu jemputan.


Zain berpikir untuk mengajak Ibu Putri pulang. Tapi lagi-lagi Zain ragu untuk mengajaknya.


Meskipun Ibu Putri sudah memiliki anak satu, namun dia tetap menarik dengan menggunakan cadarnya. Seorang janda yang masih cantik dan muda. Dia sangat menarik di mata Zain.


Hingga akhirnya Zain menepikan mobilnya tepat di samping Ibu Putri.


“Assalamu’alaikum, Ibu apakah sedang menunggu seseorang?,” tanya Zain membukakan kaca mobilnya.


“Wa’alaikumsalam, iya Pak, sedang menunggu taxi online, tapi belum datang juga,” jawab Ibu Putri melihat sekitar.


Zain melihat ke arah langit.


“Sepertinya sebentar lagi hujan bu, bagaimana kalau saya antar saja?,” tawar Zain.


Ibu Putri terkejut, dia baru saja mengenal Zain, tapi dia sudah menawarinya tumpangan.


“Tidak usah Pak, saya tidak mau merepotkan,” ucap Ibu Putri sambil merapikan cadarnya.


“Tidak, saya tidak merasa di repotkan, ayo Ibu tenang saja, sebentar lagi akan hujan,” ucap Zain.


Ibu Putri melihat ke arah langit, sepertinya memang hujan akan segera turun.


Akhirnya Ibu Putri menaiki mobil Zain.


Seseorang telah melihat Zain mengajak Ibu Putri pulang bersama.


“Aku akan memberitahukan Annisa secepatnya!,” ucap seseorang itu.


Dia sudah mengambil sebuah video untuk di tunjukan kepada Annisa.

__ADS_1


“Ini akan menjadi awal hancurnya rumah tangga mereka,” seseorang itu pergi.


__ADS_2