
“Apa! Aku sudah cukup bersabar dengan semua ini Zain, orang tuamu harus tau!,” ucap Nafrini.
Nafrini berlari di pinggir jalan.
Zain terus mengejar Nafrini.
“Tunggu,” Zain berhasil meraih tangan Nafrini.
Mereka berdua kini berhenti berlari.
“Tunggu sampai besok, ini sudah malam Nafrini,” ucap Zain dengan nafas ngos-ngosan.
Nafrini menangis.
“Aku sudah cape terus menerus di sembunyikan dari keluargamu, aku sudah bersabar melihat orang yang aku sayangi menikah dengan wanita lain, sekarang aku harus apa? Apakah aku harus melepaskanmu?,” ucap Nafrini yang masih sesegukan menangis.
“Tidak Nafrini, aku juga menyayangimu, kamu harus bersabar sebentar lagi,” Zain memohon kepada Nafrini.
Dengan masih menangis Nafrini mengangguk dan mau kembali ke rumah.
Annisa yang sudah selesai dari kamar mandi, merasa heran mengapa Zain dan Nafrini datang dari luar.
“Kalian habis dari mana?,” tanya Annisa.
Nafrini tidak menjawab, dia memalingkan wajah dari Annisa.
“Kami dari luar sebentar,” jawab Zain.
“Silakan habiskan makanan kalian, aku sudah selesai,” ucap Annisa duduk kembali di ruang makan.
***
Keesokan harinya Annisa sudah siap untuk pergi ke kampus tanpa menggunakan cadar.
“Kenapa tidak di pakai cadarnya?,” tanya Zain.
“Lukaku sudah sembuh,” jawab Annisa singkat.
Zain memperhatikan luka di wajah Annisa.
“Kan aku sudah memberikan syarat untukmu,” Zain berbicara serius.
“Aku sudah bilang kepadamu, aku akan memakai cadar hanya karena Allah, bukan memenuhi syarat darimu,” ucap Annisa lalu pergi meninggalkan Zain.
“Dasar keras kepala,” gerutu Zain.
“Kalau bukan karena keinginan orang tua, tidak akan pernah aku menikahi dia,” lanjutnya.
Tak lama kemudian Nafrini turun dari kamarnya, sudah menggunakan pakaian rapih.
“Ayo, kita pergi ke rumah orang tuamu sekarang!,” ucap Nafrini.
“Tunggu, kita tidak bisa gegabah Nafrini,” Zain menahan Nafrini.
“Apalagi? Sekarang alasannya apa!.”
Tok … tok … tok.
Ada seseorang mengetuk pintu rumah.
Zain terkejut, dia langsung menarik tangan Nafrini untuk segera masuk ke kamarnya.
“Tunggu di sini!,” ucap Zain sambil mengunci pintu kamar Nafrini.
“Zaaaiinnnn!,” Nafrini berteriak.
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam,” Zain membukakan pintu.
__ADS_1
Dia terkejut ternyata kedatangan Ayah dan Ibunya.
“Silakan masuk Ayah, Ibu,” ucap Zain membiarkan kedua orang tuanya masuk.
“Kamu sendirian di sini?,” tanya Ibu.
“Iya Bu, kebetulan Annisa baru saja berangkat ke kampus,” jawab Zain sambil memberikan dua gelas air putih.
“Ibu hanya ingin mengecek keperluan dapur kalian, jangan sampai kalian kelaparan, Ibu takut Annisa tidak bilang kepadamu kalau bahan-bahan dapur habis,” ucap Ibu sambil memeriksa isi kulkas dan makanan yang ada di rak.
“Aman Bu, dia pasti akan bicara kepadaku,” ucap Zain, keringat dingin bercucuran karena takut Nafrini berteriak dari kamar atas.
“Assalamu’alaikum,” ucap Annisa tiba-tiba kembali lagi ke rumah.
“Wa’alaikumsalam, menantuku datang,” ucap Pak Guntoro.
Annisa terkejut dengan kedatangan mertuanya, dia bersalaman dengan kedua mertuanya.
“Kenapa sudah pulang?,” tanya Zain.
“Ah iya, tiba-tiba kelas di liburkan, semua dosen sedang mengikuti pelatihan,” jawab Annisa.
Duk … duk … duk
Suara seseorang menendang pintu berkali-kali.
Zain mulai panik, dia mengetahui asal suara tersebut.
Annisa hanya memasang wajah santai.
“Apa itu?,” tanya Ibu yang juga mendengar suara.
“Kucing,” jawab Zain asal.
“Kalian pelihara kucing?,” tanya Ibu melihat ke arah Annisa.
“Iya, kami pelihara kucing garong Bu,” jawab Annisa tersenyum kecil sambil melirik ke arah Zain.
“Ah Annisa ini ada-ada saja, kalau kamu mau belanja keperluan dapur tinggal bilang kepada Zain ya, nanti dia,” perkataan Ibu terhenti.
“Zaaaaiin, buka pintunya!,” Nafrini berteriak sampai terdengar dari bawah.
“Siapa itu!,” ucap Pak Guntoro, tanpa basa basi dia langsung menaiki anak tangga dan menghampiri keberadaan suara itu.
Zain sangat panik, tangannya dingin, dahinya panas. Annisa melihat ke arah Zain, sebenarnya Annisa ingin segera kedua orang tua Zain mengetahui keberadaan Nafrini.
“Zaiinn bukakan pintunya!,” Nafrini masih saja berteriak.
“Mana kunci pintunya!,” Pak Guntoro tidak sabar ingin membuka ruangan yang terkunci.
Zain terpaksa memberikan kunci pintu kepada Ayahnya.
Pak Guntoro dengan sangat cepat membuka pintu.
Ayah dan Ibu terkejut ketika melihat seorang perempuan berada di dalam kamar itu.
Pak Guntoro melotot dan bergantian melihat ke arah Annisa dan Zain.
Annisa tertunduk begitu juga Zain.
Pak Guntoro sudah menyadari ada yang tidak beres, dia mengajak Nafrini turun ke bawah, dan menjelaskan siapa dirinya.
Semua orang sudah duduk di ruang tamu, Zain hanya bisa pasrah. Annisa tersenyum lega, karena dirinya sekarang tidak harus menyembunyikan kekasihnya Zain.
“Siapa kamu?,” tanya Ibunya Zain.
“Sedang apa kamu di sini?, sepertinya kamu bukan orang Indonesia,” lanjut Ibu.
“Perkenalkan, saya Nafrini, Om dan Tante pasti orang tua Zain,” jawab Nafrini sambil tersenyum.
__ADS_1
Kedua orang tua Zain semakin heran.
“Betul, Nafrini ini apakah tamu Annisa?,” tanya Pak Guntoro.
“Bukan, saya tamunya Zain,” jawab Nafrini
Ayah dan Ibu terkejut mendengarnya.
“Sebetulnya saya ini sudah lama berhubungan dengan Zain, saya adalah kekasihnya Zain, asal saya dari Kairo, kami bertemu saat Zain masih kuliah di sana,” jelas Nafrini.
Ibu dan Ayah terkejut mendengar penjelasan dari Nafrini.
Zain hanya bisa menundukkan pandangannya.
Ibu menatap ke arah Annisa, seperti tidak menunjukan kesedihan justru Annisa malah terlihat sangat senang.
“Saya ke sini hanya untuk menagih janji Zain, bahwa dia akan menikahi saya,” lanjut Nafrini.
“Menikah?,” tanya Pak Guntoro terkejut.
“Zain maksudnya apa?,” lanjut Pak Guntoro.
“Iya Om, jadi Zain itu berjanji akan menikahi saya, menjadikan saya istri keduanya,” Jelas Nafrini.
“Kamu? Mau jadi istri kedua Zain?,” tanya Ibu.
“Dimana harga dirimu? Masih melanjutkan hubungan yang jelas-jelas kekasihmu ini sudah mempunyai istri sah,” ucap Ibu.
“Saya yang harus bertanya, dimana harga diri Annisa? Dia yang sudah merebut kekasih saya,” Nafrini membalas perkataan Ibu dengan nada tinggi.
“Kamu tidak sopan ya, berbicara kepada orang tua dengan nada tinggi?,” Ibu memalingkan wajahnya.
“Ibu yang sabar ya, Annisa tadi sudah bilang, bahwa kita memelihara kucing garong,” Annisa kini berani membuka suara.
Ibu menatap ke arah Annisa, merasa kasihan karena selama ini anaknya berani menyakiti seorang perempuan.
Pak Guntoro memegang kepalanya, dia benar-benar pusing, terlebih lagi malu terhadap Annisa dengan kelakuan anaknya.
“Begini saja, Zain kamu memilih Ayah atau perempuan ini? Jika kamu memilih Ayah, tetap pertahankan rumah tangga kalian dan jika kamu memilih perempuan ini, silahkan nikahi dia,” ucap Ayah.
Zain termenung.
“Ayah, Zain boleh menikahi Nafrini?,” tanyanya.
“Boleh, tapi jangan harap Ayah akan menganggapmu anak, mulai detik itu juga kamu bukan anak Ayah,” ucap Ayah kecewa.
Semua orang yang mendengar perkataan Ayah sangat terkejut.
“Ayah, tapi Zain sangat mencintai Nafrini.”
“Berani-beraninya kamu bilang begitu di hadapan istrimu!?” Ayah Zain marah.
“Ayah, Zain tidak peduli, Zain selama ini menuruti keinginan Ayah, Ayah selalu mengatur kehidupan Zain, sampai istripun harus Ayah yang pilihkan! Ayah, Zain sudah besar, Zain ingin bebas memilih apapun yang Zain mau!,” kali ini Zain berani melawan Ayahnya.
“Kamu .. kamu berani melawan Ayah? Kamu sudah berani membangkang kepada Ayah?,” tanya Ayahnya sangat tidak percaya dengan kelakuan anaknya.
“Iya Ayah, kali ini Zain akan menuruti kata hati, Zain akan menikah dengan Nafrini,” ucap Zain ngotot.
“Zain, bagaimana dengan istrimu?,” tanya Ibu berlinang air mata.
“Zain akan menceraikan dia, lagi pula Zain belum pernah menyentuhnya,” jawab Zain melihat ke Annisa.
Mendengar itu Ayah Zain syok, dia menggosokan kedua tangan ke kepalanya, lalu memegangi dadanya yang terasa sesek.
“Ayah,” Zain menghampiri Ayah.
“Jangan … sentuh,” ucap Ayahnya menahan sakit.
Tiba-tiba Ayah Zain tidak sadarkan diri.
__ADS_1
“Ayaaahhh,” Ibu menangis tersedu-sedu.