
Annisa menghapus air mata dan mengambil tissu untuk mengelap tumpahan minumannya.
Annisa pergi dari kamar Zain dengan berpura-pura tersenyum.
“Minumannya sudah habis?,” tanya Kak Aisyah.
Annisa mengangguk kecil. Lalu pergi menghampiri Ambunya.
“Ambu, Annisa betah di sini mau seminggu saja di sini boleh?,” Annisa merengek seperti anak kecil.
“Loh, tergantung suamimu sayang, jika dia ingin pulang besok, ikutlah dengannya,” ucap Ambu.
Annisa cemberut, dia tidak mau ikut dengan Zain.
“Tapi Ambu, Annisa kan kuliah, kalau harus ikut dengan dia bagaimana kuliah Annisa? Jarak dari rumahnya sangat jauh,” ucap Annisa.
Ambu berpikir sejenak.
“Ya sudah, Nisa bisa tinggal dulu di rumah Kakak, begitu juga dengan Zain,” ucap Kak Ahsan tiba-tiba datang dari arah dapur.
Annisa terkejut.
“Memangnya harus dengan Zain?,” tanya Annisa.
“Loh hahaha, iya Nisa, sekarang kamu sudah suami istri,” jawab Kak Ahsan lalu duduk di sampingnya.
“Ambu, sepertinya Ahsan akan pulang sekarang bersama Aisyah,” ucap Kak Ahsan menatap Ambunya.
“Iya, Ambu tidak apa-apa kok, lagi pula Abahmu sudah membaik sekarang,” ucap Ambu.
Kak Ahsan dan Kak Aisyah bersiap-siap untuk pulang ke rumahnya begitu juga Laila dan Lisa.
“Zain, titip Annisa ya,” Kak Ahsan menepuk pundak Zain.
“Iya Kak, saya pasti jaga dia,” ucap Zain.
“Ambu, Ahsan pergi dulu ya,” Kak Ahsan berpamitan, dia mencium dan memeluk erat Ambu.
Di ikuti oleh Kak Aisyah dan cucu-cucu Ambu.
“Hati-hati ya, Ambu akan sangat merindukan kalian,” Ambu meneteskan air matanya.
Kini Kak Aisyah dan Kak Ahsan sudah berlalu pergi dengan mobilnya.
***
Malam hari cuaca sangat dingin, setelah selesai shalat Isya, Annisa membereskan tempat makan dan bersiap-siap untuk menyantap makan malam.
Ambu membawakan beberapa lauk pauk dan di hidangkan di atas meja makan.
“Ayo, panggil suamimu untuk makan,” ucap Ambu.
Annisa mengangguk.
__ADS_1
Dia sebetulnya tidak berani mengetuk pintu kamar Zain, tapi ini semua perintah dari Ambu.
Tok … tok … tok …
“Kak Zain, Ambu memanggil buat makan malam bersama,” ucap Annisa.
Zain membuka pintu dan menarik Annisa masuk ke kamarnya.
Dia terkejut mendapati Zain sedang video call bersama kekasihnya yang berada di Kairo.
“Ayn? hayth tazhir zawjatuk” dalam bahasa Arab.
Artinya : Mana? Mana tunjukan istrimu itu?.
“hadhih zawjati almuzayafa,” ucap Zain mengarahkan handphonenya ke arah Annisa.
Artinya : ini istri pura-puraku.
Annisa melambaikan tangannya kepada kekasih Zain dan memberikan senyuman terbaiknya.
“Anzur , 'iinaha jamilat jdan ، 'ana muta'akid min 'anak satuhibuha,” tiba-tiba kekasih Zain mematikan teleponnya.
Artinya : lihat, dia sangat cantik! Aku yakin kamu akan menyukainya.
“Aarrggghh, lihat? Kekasihku malah memujimu cantik, kamu harus mau jika suatu saat aku ingin menikahinya,” ucap Zain kepada Annisa.
“Tidak ada yang tahu kedepannya Zain, sekarang kita hanya perlu menjalani rumah tangga ini dengan baik,” ucap Annisa.
“Iya, aku akan bersiap sekarang,” Zain merapihkan bajunya.
Annisa dan Zain kini siap untuk berpura-pura bahagia di depan Ambu.
Annisa dan Zain duduk di meja makan, Ambu tersenyum melihat anaknya kini sudah menikah dengan laki-laki shaleh.
Zain memimpin doa makan dengan khusyu, membuat Annisa terpana tidak mengedip sedetikpun.
***
“Mas Ahsan, kenapa uangku hilang sepuluh juta,” ucap Kak Aisyah yang sedang mengobrak-abrik brankas di lemari pakaiannya.
“Astagfirullah, kamu serius? Pak satpam bilang kondisi rumah kita aman selama di tinggal, tidak ada siapapun masuk ke rumah ini,” ucap Kak Ahsan sambil membantu mencari uang yang hilang itu.
“Kamu yakin, uangnya di simpan di sini?,” lanjut Kak Ahsan.
“Yakin mas, itu uang untuk aku beli bahan kain besok,” Kak Aisyah sangat panik.
Keduanya berhenti, melirik satu sama lain, seolah Kak Aisyah mengerti maksud dari tatapan Kak Ahsan.
“Tidak mungkin Mas, dia tidak senekad itu,” ucap Kak Aisyah duduk lemas di atas kasur.
“Tapikan kita bisa menggeledah kamarnya, selama ini dia tinggal di sini,” ucap Kak Ahsan menghampiri Kak Aisyah dan ikut duduk di atas kasur.
“Mas, susah kalaupun memang ada uang di sana, kita harus bagaimana? Kita tidak ada bukti bahwa itu adalah uang kita, semua orang punya uang yang sama,” Kak Aisyah kini memijat keningnya perlahan.
__ADS_1
Kak Ahsan meraih tangan Kak Aisyah, kini Kak Ahsan memijat kening Istrinya.
“Maafkan Mas ya, ini semua salah Mas, harusnya dari awal kita tidak mengizinkan Citra tinggal di sini.”
“Tidak apa, Mas akan secepatnya mengembalikan Citra ke Ahza,” lanjut Kak Ahsan.
Kak Aisyah mengangguk.
***
“Ambu Nisa dan Kak Zain pamit pulang dulu ya, Ambu sehat-sehat di sini, kabari jika ada apa-apa dengan Abah ya,” ucap Annisa sambil mencium tangan Ambunya di ikuti oleh Zain.
“Iya Nak, kamu berhati-hati ya, Nak Zain tolong jaga Annisa dengan baik ya,” Ambu meraih tangan Zain.
Zain hanya tersenyum dan mengangguk kecil.
“Nah, jemputananya sudah datang Ambu, kami pamit dulu ya, Assalamu’alaikum,” ucap Zain menunjuk sebuah mobil mewah berwarna putih.
Jemputan yang di kirimkan oleh Ayahnya Zain.
Annisa memeluk erat Ambu, dia menangis di pundak Ambu, seakan berat rasanya meninggalkan Ambu dan Abah juga kampung halamannya.
Ambu melambaikan tangannya pada mobil putih itu.
Lenyaplah dari hadapan Ambu. Kini Ambu tinggal berdua lagi dengan Abah.
“Aku ingin kembali ke rumah Ayah,” ucap Zain pada supir pribadinya.
“Maaf tuan, tapi Ayah menyuruh tuan untuk tinggal terlebih dahulu di rumah Kakak ipar, sembari menunggu rumah yang akan di beli oleh Ayah tuan,” ucap supir itu.
“Hah? Rumah? Dimana?,” tanya Zain
“Rumah untuk di tempati Non Annisa dan Tuan, Ayah Tuan memilih perumahan yang berdekatan dengan kampus Non Annisa, kurang lebih 10 menit jaraknya, supaya memudahkan Non Annisa menyelesaikan kuliahnya,” jelas supir Zain.
Annisa tersenyum mendengar perkataan dari supir Zain. Berbeda dengan Zain yang hanya cemberut mendengarkannya.
***
Malam telah tiba, Annisa dan Zain akhirnya sampai di rumah Kak Ahsan.
Zain di sambut baik oleh Kak Ahsan dan Kak Aisyah begitu juga Kak Citra yang ikut menyambut kedatangan Annisa dan Zain.
Zain harus berpura-pura bahagia di depan Kakak-kakak Annisa untuk menutupi kebohongannya.
Malam ini Zain terpaksa tidur satu kamar dengan Annisa di kamar milik Annisa.
Annisa sudah bersiap untuk istirahat di kasur tersayangnya, namun Zain malah memarahinya.
“Heh, kasur ini milik saya, tamu adalah raja, kamu tidur di sofa sana,” Zain menunjuk kursi yang ada di kamar Annisa.
Annisa mengerutkan keningnya, dia berjalan perlahan sambil membawa bantal dan selimbutnya, dia kini berbaring di sofa kecil miliknya di kamar.
Diam-diam meneteskan air mata, entah seperti apa kehidupan yang akan dia jalani ke depannya.
__ADS_1