
Sesampainya di rumah Annisa, Kak Citra terheran melihat rumah Annisa dan Zain yang tak kalah bagus, meskipun berada di sebuah perumahan, namun rumah yang di diaminya itu sangat modern.
“Annisa, kamu beruntung bisa tinggal di sini,” ucap Kak Citra.
“Alhamdulillah, Kakak juga beruntung sekarang bisa tinggal di sini selama tiga hari,” Annisa tersenyum.
Lalu mereka masuk ke rumah bersama-sama, Annisa dan Zain menunjukan kamar bekas mantan kekasihnya Zain yaitu Nafrini.
“Terimakasih ya, tapi ini kamarnya tidak ada barang? Seperti lemari pakaian dan lain-lain?,” tanya Kak Citra.
“Kakak kan cuma tiga hari di sini, tidak penting lemari pakaian, yang penting sudah ada kasur yang nyaman,” ucap Zain.
Kak Citra mengerutkan keningnya, dengan wajah cemberut akhirnya masuk ke dalam kamar bersama anaknya.
Lalu Annisa dan Zain pergi kembali ke kamar masing-masing.
Keesokan Harinya…
Annisa terkejut mendapati Kak Citra sedang memasak di dapur kesayangannya, sampah berserakan, alat-alat bekas memasakpun berserakan dimana-mana, rasanya ingin marah kepada Kak Citra, namun Annisa mencoba menahan amarahnya dan berusaha sabar dengan keberadaan Kakak Iparnya itu.
“Selamat pagi Annisa, Kakak buatkan sup jagung, ini sangat enak, Kakak belajar memasak resep ini dahulu waktu Kakak masih tinggal sama orang tua Kakak,” ucap Kak Citra.
Annisa menyipitkan matanya, tanda bahwa dia sedang tersenyum terhalang oleh cadarnya.
“Wah sepertinya enak, apakah Kakak juga belajar cara untuk merapikan sampah-sampahnya?,” tanya Annisa.
“Hehehe iya Annisa, kamu tenang saja, nanti Kak Citra akan membereskan semuanya, untuk sarapan pagi ini kamu tidak perlu repot memasak, karena sup jagungnya sebentar lagi siap,” jawab Kak Citra.
Annisa hanya mengangguk.
Lalu tiba-tiba Zain keluar dari kamarnya.
“Loh, kenapa Zain keluar dari kamar itu?,” tanya Kak Citra.
Annisa dan Zain melupakan tentang hal itu.
“Bukannya kamar kalian ada di atas?,” lanjut Kak Citra.
“Iya Kak, tadi aku habis shalat subuh di sini ketiduran, soalnya….” Zain sedang memikirkan apa yang akan di ucapkan selanjutnya.
“Soalnya Annisa sedang datang bulan, suamiku memang begitu, dia tidak mau mengganggu istrinya,” ucap Annisa tersenyum.
Zain merasa lega, ternyata istrinya pintar mencari alasan.
Setelah menunggu, akhirnya sup jagung sudah jadi, Annisa, Zain dan Adam sudah duduk menunggu sup jagung buatan Kak Citra. Dengan perlahan Kak Citra menyajikan di atas meja makan. Mereka menyantap sup jagungnya, memang di akui bahwa sup jagung buatan Kak Citra enak sekali.
“Adam hari ini ke sekolah bareng saya saja Kak,” ucap Annisa.
__ADS_1
“Sekalian mau ke kampus juga,” lanjutnya.
Kak Citra mengangguk.
“Selama saya dan Annisa pergi, tolong Kak Citra jaga rumah ini ya, jangan pergi kemana-mana, kalau butuh sesuatu bilang saja,” ucap Zain.
“Terimakasih Zain, selain tampan, kamu juga baik ternyata,” Kak Citra tersenyum.
Annisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan Kakak Ipar.
Sekitar pukul enam lebih tiga puluh menit, Annisa berangkat untuk terlebih dahulu mengantarkan Adam ke sekolah. Untuk kali ini Zain dan Annisa berangkat bersama dalam satu mobil.
Di perjalanan Adam hanya cemberut tidak bersemangat, Zain dan Annisa berusaha menghibur Adam.
“Apa yang Adam inginkan? Mau jajan dulu?,” tanya Annisa.
“Tidak Kak, Adam hanya sedih,” jawab Adam.
“Adam mengapa sedih?,” tanya Annisa sambil membelai lembut kepala Adam.
“Adam tahu, kalau Ibu dan Ayah akan bercerai,” jawab Adam.
Zain dan Annisa saling bertatapan.
“Tidak Adam, jangan bicara seperti itu ya, tugas Adam sekarang adalah belajar, jangan pikirkan dulu Ibu dan Ayah, mereka akan baik-baik saja,” ucap Zain.
“Adam tahu semuanya, Adam mendengar semuanya Kak,” ucap Adam.
“Sudah ya, jangan di pikirkan, sekarang sudah sampai sekolahmu,” ucap Kak Annisa.
Adam turun dari mobil dengan wajah sedih.
Annisa mengiming-iming setelah pulang sekolah akan pergi ke Mall dan membeli ice cream kesukaan Adam, mendengar itu Adam kembali ceria dan melambaikan tangan kepada Annisa dan Zain.
Zain kembali melajukan mobilnya untuk menuju kampus.
“Lucu sekali ya Adam, aku jadi ingin mempunyai keturunan,” ucap Zain.
Annisa terkejut mendengar ucapan Zain, dia menjadi diam seribu bahasa.
“Kamu maukan menjadi Ibu dari anak-anakku?,” tanya Zain.
Annisa melirik ke arah Zain, dia hanya mengangguk pelan.
“Ah, tapi rasanya akan sangat jauh sekali melangkah pada tahap itu, wajah istriku saja belum pernah aku lihat lagi,” ucap Zain.
“Nanti Mas, kalau sudah waktunya,” Annisa merasa bersalah, karena tidak memberikan Haknya untuk suami.
__ADS_1
“Iya, aku mengerti, ini semua kesalahanku, aku harus menanggungnya,” ucap Zain tersenyum.
Annisa membalas senyumannya.
Sesampainya di kampus, Annisa berpamitan kepada suaminya, dia bersalaman untuk yang pertama kalinya.
Zain hanya tersenyum dengan tingkah istrinya itu.
Annisa bergegas pergi ke kelasnya agar tidak di lihat oleh siapapun bahwa dirinya pergi ke kampus bersama Zain.
Untuk hari ini Annisa tidak membawa cupcake dagangannya, sehingga banyak pelanggan yang kecewa.
***
Saat tiba di sebuah Mall, Adam langsung membeli ice cream kesukaannya, lalu memilih kembali pulang bersama Annisa dan Zain.
Di jalan Adam sangat ceria, dia menceritakan kejadian di sekolahnya sambil memakan ice cream.
“Dulu Ibu juga suka belikan Adam ice cream seperti ini,” ucap Adam sambil terus menjilati ice creamnya.
“Oh iya? Apakah Adam suka beli ice cream ini bersama Ayah juga?,” tanya Zain.
“Tidak Kak, aku selalu membeli ice cream ini bersama seorang laki-laki yang masih muda,” jawab Adam dengan polosnya.
Annisa mengerutkan keningnya, dia mulai mencurigai sesuatu.
“Apakah Adam mengenalnya?,” tanya Annisa.
“Tidak Kak, Adam tidak kenal, mereka sering sekali membawa Adam berjalan-jalan untuk sekedar memakan ice cream,” jawab Adam.
Annisa mempunyai firasat buruk, dia mengeluarkan ponselnya dan mulai merekam semua pembicaraan Adam.
“Selain ke Mall, Adam sering di ajak kemana lagi oleh mereka?,” tanya Annisa memancing.
“Sebuah tempat besar, di sana ada banyak barang-barang, tempatnya kotor juga berdebu, Adam tidak tahu itu tempat apa, karena saat itu Adam memegangi dua ice cream,” jawab Adam yang masih berusaha menghabiskan ice creamnya.
“Adam melihat tidak, apa yang di lakukan oleh Ibu dan lelaki muda itu?,” tanya Zain.
“Tidak, tapi Adam mendengar perkataan mereka Kak,” jawab Adam.
“Apa?,” tanya Annisa semakin geram.
“Mereka membicarakan uang yang banyak, Ibu juga selalu meminta uang kepada lelaki muda itu, lelaki muda selalu memarahi Ibu kalau Ibu sedang bertemu dengan teman kerja Ayah, lelaki muda itu juga pernah mengangkatkan pisau pada leher Ibu,” jawab Adam.
Annisa merasa terkejut mendengar cerita dari Adam, dia merasa iba karena anak sekecil Adam sudah harus menyaksikan perbuatan keji yang di lakukan lelaki muda itu.
Kira-kira lelaki muda itu siapa ya?.
__ADS_1
***
Hallo penggemar novel Aku, Cadarku & Jodohku, maafkan Author yang telah menghilang beberapa hari ini hihihi. Berkat doa dari kalian, akhirnya Author telah menyelesaikan sidang skripsi. Sekarang Author bisa lebih fokus untuk kembali melanjutkan Novel. Terimakasih semuanya 🥰