Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 10


__ADS_3

Tepat pukul setengah empat Rina bangun lebih awal biasanya dia akan bangun bila adzan subuh berkumandang, berhubung mau pulang Rina bangun cepat.


Dengan malas Rina turun dari ranjang dan menuju lemari pakaian lalu membukanya dan memasukan semua pakaian kedalam koper, sebenarnya Rina masih betah ya, namanya sudah punya suami ya harus ikut pulang, Farhan sudah mengizinkan nya untuk beberapa hari lagi, namun ia menolak. Dirinya tak ingin jauh-jauh dari Farhan takut bila ada ulet bulu yang nyasar dan nempel di bada Farhan.


"Subuh-subuh bikin gaduh, siapa sih!" Kesal Farhan yang masih memejamkan mata.


Rina hanya tersenyum melihat wajah suaminya yang kesal dengan kegaduhan yang ia ciptakan.


"Bobok aja sih, Mas, aku lagi beres beres baju. Biar nanti gak repot." Balas Rina.


"Hemm."


Mas Farhan dua Minggu di kampung warna kulitnya pudar agak gelap. Maklum sering ikut ke sawah, ngarit rumput dan mancing belut,ini semua gara gara aku, hehehe. Tak , apa gelap aku malah jatuh cinta berkali-kali lipat siapa tau si keket alias ulet bulu gak mau sama Mas Farhan.


Hampir satu jam aku berkutat di kamar saatnya aku kedapur tuk membuat sarapan pagi bersama, dengan senyum aku bersenandung kecil membaca shalawatan.


"Ehem." Sebuah deheman membuat aku mengatupkan bibir yang masih ingin bersenandung siapa lagi kalau bukan ibu Siti, ibuku yang paling aku sayang.


"Ih. Ibu. Bikin kaget aja."


"Anak ibu pagi-pagi buta gini mau apa? Jadi pulangnya hari ini," tanya ibu dengan raut sedih.


"Iya, Bu. Besok Senin mas Farhan harus masuk kerja, gak enak sama bosnya. Jadi? Hari ini aku mau masak spesial buat Ibu, bapak, dan mas Farhan." Jawabnya.


"Bu, jangan sedih dong, aku jadi gak tega melihat ibu sedih." Sambung Rina dengan memeluk tubuh Bu Siti


"Ibu sedih karena anak ibu harus pergi kerumah suaminya, ibu kangen masa-masa kecil kamu yang manja." Ujarnya dengan pandangan lurus kedepan.


Rina melerai pelukannya dan membingkai wajah Bu Siti.


"Lihat aku Bu, aku Rina gadis kecilnya Bu Siti masih sama seperti dulu. Yang suka ngebolang, tukang manjat pohon dan rada centil." Gelaknya yang mendapatkan sentilan dari Bu Siti.


"Aku suka banget bila aku berbuat ulah pasti ibu menyentil atau memukul kakiku, aku ingin jadi Rina yang dulu, Rina yang sering di omeli ibu sepanjang sejarah."


Bu Siti hanya tersenyum dan menyusut kedua sudut matanya.


"Iya. Terus kamu kabur ke kebun mangga terus manjat pohon yang paling tinggi dan tertidur." Bu Siti tertawa kecil. Keduanya pun tersenyum kala mengingat momen-momen yang indah.


"Udah ah, jangan kebablasan ntar gak masak-masak kasian suami kamu itu." Ingat ibu menyudahi kemelowan kami.


"Oke."


"Kalian berdua sudah shalatnya," tanya pak Ali pada anak istrinya.


"Belum." Ucapnya serempak dengan senyum bersalah.


"Kalian ini!" Marah Pak Ali.


Pak Ali sudah sering mengingatkan pada keduanya, jangan dulu masak sebelum menunaikan shalat subuh. Pak tak suka bila anak istrinya yang menunda-nunda shalat, jalankan kewajiban dulu toh, kalau masak bisa siangan.


"Bentar lagi Pak," jawab Bu Siti tanpa menoleh.


"Kalau aku lagi kedatangan tamu bulanan Pak." Sahut Rina.


"Bu, ibu duluan yang shalat, biarkan Rina yang melanjutkan masak. Toh, dia lagi kedatangan tamu," Kata pak Ali yang di anggukan oleh Bu Siti.


"Yang, gak ada yang ketinggalan," tanya Farhan dengan masukan koper besar kedalam bagasi mobil.


"Udah. Hanya satu yang ketinggalan."


"Apa!" Jawabnya cepat.


"Jejak kaki," jawabnya dengan senyum menahan tawa.

__ADS_1


"Ish. Suami sendiri di kerjain. Pamali." Tukas ibu.


Farhan hanya tersenyum lebar saat dikerjain oleh Rina tak asing lagi bagi Farhan, begitulah sifat aslinya yang absurd gaya bicaranya ceplas-ceplos apa adanya Farhan jatuh cinta pada Rina ya, karena itu gayanya yang khas membuat siapapun tertawa dengan kekonyolannya.


"Bu, Pak, kita pamit pulang dulu, kalau ada apa-apa cepat hubungi saya atau Rina," ujarnya dengan mencium punggung tangannya.


"Iya. Kalian juga hati-hati dijalan, jangan kebut-kebut bawa mobilnya."


"Iya Bu, Pak." Kompaknya.


Setelah pamitan Farhan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang. Tiba tiba seorang anak kecil yang keluar dari kebun berlari menuju ke arah mobil kami uang sedang melaju sedang, untung saja tak menabraknya bikin kaget saja.


"Kak, Kakak!" Teriaknya yang terus mengejar mobil.


"Mas, pelan, mau apa anak itu." Titah ku agar mas Farhan memelankan mobilnya.


Tok tok tok


Kaca mobil diketuknya beberapakali olehnya.


"Kak, berhenti!" Ucapnya dengan napas terengah-engah.


Setelah mas Farhan menepikan mobilnya ku buka pintu kaca mobil.


"Ada apa Dek," tanyaku.


"Ada bayi, ada bayi." Ucapnya panik.


Aku dan mas Farhan saling tatap lalu kamipun keluar dari mobil.


"Dimana?" Tanya Mas Farhan.


"Disana Om," dia menunjukkan kearah kebun karet.


"I-iya, pelan-pelan."


Anak tersebut terus menarik tangan Mas Farhan dengan kuat, akupun kewalahan untuk mengimbanginya.


Hampir dekat aku mendengar suara tangisan bayi.


Oek, oek, oekk.


Suara bayi semakin kencang, akupun berlari menuju suara tangisan bayi yang memilukan hati. Apalagi dari arah depan aku melihat seekor ular yang mendekati bayi tersebut.


Tanpa ba bi bu, aku berlari sekuat tenaga untuk menyelamatkan bayi itu dan alhamdulilah akhirnya bayi itu selamat.


"Massa Allah! Cantik sekali kamu Nak." Bayi tersebut diam ketika Rina membelai pipi gembilnya.


Ditatapnya wajah bayi imut itu tak terasa kedua sudut matanya basah.


"Siapa yang tega membuang kamu," pungkasnya lagi.


"Yang, kita bawa ke mobil, kasian kayaknya ya dia kedinginan," ujar Farhan dan merangkul pundak nya.


Rina hanya tersenyum dan mengangguk.


"Om, bayinya bawa pulang saja." Timpal anak lelaki itu.


Tangannya mengelus pipinya bayi itu tidur dengan mata sembab akibat terlalu banyak menangis, jelas bayi itu menangis dirinya hanya berbalut kain jarik saja, diperkirakan bayi tersebut lahir satu Minggu lalu, karena tali pusar nya sudah bagus.


"Dek, kamu tau ini bayi siapa?" Tanya Rina.


Anak tersebut hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


"Aku gak tau kak, aku tak sengaja melihat kardus yang berisi bayi. Tadinya aku lewat dekat kardus ini dan aku dengar suara tangisannya, aku nyari bantuan siapa tau ada orang lewat ternyata aku bertemu dengan kakak juga Om."


"Mas, gimana ini, kasian bayinya."


"Kamu anak sini?" Tanya Farhan.


"Bukan, aku tinggal di kampung sebelah." Jawabnya.


Setelah menimang-nimang keputusan apa yang akan mereka ambil.


"Mas, kita bawa pulang, kita rawat bayi ini. Aku sedia menjadi orang tua ini bayi." Ucap Rina mantap.


"Kamu yakin, atau kita serahkan kepada pak RT di sini."


Rina gelengkan kepala cepat.


"Apa kamu keberatan, bila merawatnya?" Rina balik bertanya.


Farhan menatap kearahnya dengan senyum.


"Mari kita rawat bersama-sama." Ujarnya dengan memeluk Rina dan bayinya.


"Dek. Nama kamu siapa?" Tanya Rina.


"Abdul." Jawabnya.


"Kakak mau pulang ke kota, bila ada yang mencari keberadaan dedek bayi kamu bilang saja kalau yang menemukannya anak Pak Ali dan Bu Siti."


"Iya, kak." Abdul mengangguk dan tersenyum.


"Kakak dan Om mau pulang dulu," pamit Farhan dengan menyalakan mesin mobilnya dan melaju sedang.


Terlihat dikaca spion Abdul melambaikan tangannya.


"Mas, bayinya lucu dan cantik. Siapa yang tega membuang bayi cantik ini ya Mas." Mata Rina terus menatap wajah bayi mungil itu.


"Entahlah Mas juga gak tau. Mungkin ini anugerah terindah doa kamu terkabul,kan, kamu minta anak dan kini sudah ada bayi imut di pangkuan kamu Sayang." Farhan menggenggam erat tangan Rina.


"Yang, bagaimana bayi ini Mas kasih nama, Rifa Maulana. Gimana bagus ngak," usul Farhan.


"Hai, Rifa Maulana, anaknya ibu sama ayah. Kamu suka dengan nama ini, kalau gak suka kamu nangis ya'," bayi tersebut hanya tersenyum dalam tidurnya itu tandanya ia menyukai nama yang di berikan Farhan.


"Mas, dia suka. Anak ibu," Rina mencium pipi gembilnya bertubi-tubi.


"Anak Ayah juga." Timpal Farhan dan mengelus pipinya.


*


Tin...tinnnnnn. Suara klakson mobil Farhan terus berbunyi. "Pak Soleh kemana, pintu gerbang gak dibuka." Kesal Farhan.


"Pelan Mas, kasian Rifa ntar bangun." Rina mengingatkan dirinya agar tidak menyalakan klakson lagi. Mau tak mau Farhan harus membuka pintu gerbangnya.


Dari kejauhan tampak pak Soleh tergopoh-gopoh mendekat ke arah mobil Farhan.


"Maaf Mas, tadi Bapak kebelet." Ujarnya dengan senyum kikuk.


Farhan tak menjawabnya dengan pelan ia memarkirkan mobilnya di garasi.


"Mas, dirumah kan, gak ada baju bayi gimana ini. Kenapa tadi kita gak mampir di butik baju anak."


"Ohiya. Kenapa lupa ya, ya udah deh kita masuk dulu, terus kita belanja keperluan si cantik." Dengan senyum Farhan menoel pipi Rifa.


"Aku Nina Bobokkan dulu, ke kamar." Rina melangkahkan kakinya menuju kamar.

__ADS_1


"Bayi siapa yang kamu bawa Rina!"


__ADS_2