Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part. 6


__ADS_3

Di Bandung


"Rina! Kamu punya kuping gak sih!" Teriak Mama Leni semenjak subuh tadi dirinya mencari Farhan maupun Rina tak menemukan keduanya.


"Ada apa sih Ma, sedari pagi ngoceh melulu gak capek apa. Aku dengarnya juga bikin pusing." Sahut Fahmi merasa heran bukannya diam atau apalah.


"Mama nyari si Rina karena Mama laper mau makan. Mana gak ada apa apa di tudung saji," kesalnya.


"Wah, wah, rupanya ada yang kelaparan, ngapain juga nyariin Rina kan, masakannya gak enak rasa comber*n," sindir Fahmi tak habis pikir bukannya gak enak masakan Rina tapi dicariin juga, inimah udah kayak cerita novel yang judulnya Di acuhkan tapi dikangeni, batin Fahmi.


"Y-ya terpaksa daripada gak ada yang masak. Lagian kamu nyuruh istri kamu pergi, coba kalau ada pasti dia yang masak."


"Ma, andaikan mama tau, kalau Septi tak pandai masak. Apakah Mama tetap menyayangi dia atau kan membencinya. Dan kalau mama tau yang pintar masak itu Rina, apa mama akan menyayanginya juga." Batin Fahmi.


"Mama, aku itu gak mau dengar celotehan Septi membuat darah tinggi ku kumat. Tinggal telpon dia minta dibelikan makan apa susahnya." Ujarnya dengan berlalu meninggalkan Mama Leni yang mulutnya komat-kamit sumpah serapah ia lontarkan kepada Rina, orangnya pun tak ada tapi Mama Leni masih ngomel-ngomel, ngedumel hal sepele, apa susahnya masak sendiri.


"Farhan, Farhan. Istri gak ada gunanya masih aja di pertahankan, mana sekarang kamu ikut pergi sama dia." Omel nya dengan berjalan menuju dapur untuk mencari sesuatu yang bisa di makan.


Dibukanya pintu kulkas, matanya terbelalak melihat isi kulkas yang kosong melompong tak ada satupun yang bisa dimakan, hanya air putih saja.


Brakk


Mama Leni membanting pintu kulkas dengan kuat. Marah kesal jadi satu.


"Punya mantu semuanya gak ada pengertian banget, belanja sayuran kek, penuhi kulkas, yang satu kabur sama suaminya, yang satu lagi kerjaannya nyalon meni, pedi, yang satu lagi gak senang ada di rumah. Pusing mikirnya, punya mantu karir yang dipikirin penampilan Mulu, yang biasa aja, bikin malu." Mama Leni menggerutu dan mengusap wajahnya kasar.


Mending yang biasa tapi pintar masak dan urus rumah. Udah mama Leni akui Rina sebagai mantu apa susahnya sih. Hadeehh, ribet kalau sudah berurusan dengan emak-emak sosialita, riweh 😅


"Ah, masak iya aku sendiri yang harus beli makanan yang sudah jadi? Turun derajat deh aku," kesal mama Leni.


Beliau masuk kedalam kamar tuk mengambil uang, dibukanya dompet ternyata yang tersisa hanya dua lembar kertas hijau lagi-lagi mama Leni mendengus sebal.


"Kere! Anak mantu satupun belum ada yang kasih aku duit." Selorohnya dengan mengambil uang tersebut.


"Bu, saya mau beli mie rebus empat, telurnya setengah kilo aja, eh, sekalian sama kerupuk pangsitnya." Pinta mama Leni pada Bu Darmi pemilik toko yang berada di depan rumahnya.


"Eh, kedatangan tamu, ada apa ya Bu?" Tanya Bu Darmi terkejut saat mama Leni belanja ke tokonya gak ada angin gak ada ujan tiba-tiba muncul saja siapa yang gak kaget bin shock tetangga sebelah merupakan perumahan elit b3lanja di toko biasa.


"Ah, Bu Darmi ini ada-ada aja, emang saya gak boleh belanja disini?" Ujarnya dengan malu-malu maklum ini pertama kalinya Mama Leni belanja sendiri biasanya Rina yang beliau suruh-suruh.


"Mau beli apa Bu," tanyanya.


"Indomie rebus empat telurnya setengah kilo aja sama kerupuk pangsitnya satu bungkus."


Bu Darmi menatap heran kearah mama Leni gak biasanya belanja ngirit, apa sudah turun derajat, batin Bu Darmi.

__ADS_1


"Bu, Bu Darmi!" Teriak mama Leni karena Bu Darmi masih bengong.


"Eh,iya Bu, tadi minta mie rebus berapa?" Ulangnya lagi.


"Ibu ini niat jualan ngak sih! Makanya saya ngomong di dengarkan." Ketusnya.


'ih, sayamah gak rugi bila Situ gak jadi beli, masih banyak yang mau beli, emang situ aja pelanggan saya.' dumelnya dalam hati.


Karena malas buat bicara lagi mama Leni menyodorkan ponselnya yang sudah beliau ketik apa yang mau dibeli.


"Sial, sial. Kenapa sih aku harus belanja di warung si Darmi nyebelin banget," gerutuknya sambil memukul-mukul kerupuk pangsitnya.


Bugh


Anak kecil menabrak kerupuknya dan jatuh ketanah. Marah. Jelas marah kerupuknya hancur dan kotor, kedua mata nya melotot tangan kanan melayang keudara dan mendarat di kuping tuh bocah.


"Hua...Hua...Mama! Aku dijewer sama Mak lampir!" Teriaknya membuat mama Leni semakin jengkel.


"Hai bocah kamu yang sudah hancurin kerupuk saya, malah ngatain saya Mak lampir, kamu gak didik sama orang tua kami hah!" Wajahnya merah padam menahan emosi, sudah mah, perut lapar ditambah lagi kekacauan.


Untung aja keadaan sepi jadi, mama Leni gak takut ketahuan warga lainnya.


Anak tersebut masih menangis lama-lama mama Leni takut juga bila warga datang dan membawanya ke kantor polisi.


Anak itu terdiam seketika dan menatap wajah mama Leni.


"Ceritanya nenek nyogok aku, gitu. Tambah dong aku minta mienya dan telur juga." Usulnya.


"Gimana mau nggak Nek, kalau gak mau teriak biar para warga bawa nenek ke kantor polisi." Lah, ini bocah pintar sekali main ancam orang tua.


Daripada ancamannya benar lebih baik aku kasih dia mie sama telur nya, batin mama Leni yang menyerahkan satu mie dan telur satu. Lebih cepat lebih baik, lagian aku lapar banget! Ngurusin bocah ini terus kapan aku makanya? Lebaran monyet.


"Ini aku kasih mau gak, kalau gak mau aku bawa pulang!"


"Iya nenek lemper!" Sahutnya dengan merebut mie dan telurnya yang ada ditangannya.


Mama Leni meringis akibat tarikan tangan bocah itu yang kasar.


"Dasar anak gendeng!"


"Wleee." Anak tersebut menjulurkan lidahnya sengaja menguji kesabarannya.


Kesal, marah, jelas apalagi saat perut keroncongan cacing-cacing berontak minta jatah yang belum sampai.


Andaikan anaknya sendiri sudah mama Leni jewer sambil di nasehati.

__ADS_1


"Punya mantu tiga semuanya gak bisa di andalkan. Sebel-sebel." Marahnya sambil mengaduk-aduk mie instan yang beliau rebus di panci.


Fahmi menatap ke arah dapur dimana suara mamanya terdengar nyaring mengerutu tak karuan, dengan malas Fahmi beranjak dari duduknya menuju dapur.


Fahmi geleng-geleng kepala melihat mie instan yang dimasak mamanya hampir tumpah. Tergesa-gesa Fahmi berjalan menuju kompor yang masih menyala.


"Astaghfirullah! Mama!" Pekiknya dengan cepat mati kan kompor.


Mama Leni yang mendengarnya pun tersentak kaget.


"Makanya Mama kalau masak jangan ngedumel ngomongin menantu, gini kan, hampir aja kebakaran ni rumah." Fahmi tak habis pikir kok, bisa ya orang kelaparan marah-marah gitu.


Mama Leni berkaca-kaca saat kuah mie mengenai api ada rasa takut bila benar-benar terjadi kebakaran bagaimana nasibnya.


"Maaf, habis Mama kesal dengan apa yang terjadi hari ini. Si Rina masih belum pulang juga," tanyanya dengan lembut.


"Rina sama Farhan ke kampung kerumah ibunya dan kata Farhan mereka akan nginap dua Minggu." Terang Fahmi.


"Dua Minggu!" Pekiknya


"Mau ngapain lama-lama di sana. Terus bagaimana Farhan gak masuk kerja?" Sambungnya lagi.


"Farhan cuti Ma, dia sama Rina kerumah mertuanya sambil bulan madu, siapa tau pulang dari kampung Rina hamil."


Mama Leni hanya memutar bola mata malas nya, tak ada jawaban darinya.


"Bukannya selama ini Mama menginginkan cucu? Siapa tau diantara kita bertiga ada yang ngasih cucu buat Mama. Kalau Septi jangan diharapkan dia sudah bilang gak mau buru buru punya anak, Mbak Risa juga gak mau punya anak dulu, harapan Mama hanya satu yaitu cucu dari anaknya Rina." Ada rasa kecewa saat Fahmi mengucapkan semuanya, dirinya berkali-kali mohon pada Septi agar cepat hamil namun jawaban Septi sungguh menyakitkan hati, kata-kata indahnya membuat Fahmi sakit, rasa sakitnya masih ia rasakan saat ini.


"Hamil. Anak. Aku kan, udah bilang sama kamu Mas, aku gak mau punya anak. Bisa-bisa tubuh aku gak seksi lagi, apa lagi aku harus menyusuinya. No! Buat apa sih punya anak, ribet tau, aku gak mau karirku hancur gara-gara punya anak."


Tak terasa kedua maniknya meneteskan kristal bening, dengan cepat Fahmi mengusapnya. Mama Leni tau akan kesedihan putranya yang menginginkan seorang anak, tapi mau gimana lagi pabriknya tak menerima saham darinya.


Mama Leni mengelus pundak nya memberi kekuatan kepada Fahmi agar sabar mungkin suatu saat nanti septi berubah pikiran dan mau hamil mengandung anaknya.


"Kamu yang sabar ya Nak, kamu harus bisa membujuknya lagi." Mama Leni memberi semangat pada anaknya.


"Iya Ma, udah ah, jangan mellow bukanya mama mau makan tuh mie? Lihatlah mienya pun sudah bengkak." Tunjuk Fahmi kearah mie yang masih betah nangkring di panci.


"Hahaha, Mama kira masak mie gampang, ternyata gampang-gampang susah," kekehnya dengan menuangkan mie kedalam mangkuk, benar saja mie tersebut hampir penuh.


"Makanya jangan sepelekan, mau berbagi sama aku, kebetulan aku juga lapar."


"Kita makan berdua, lagian gak bakalan habis bila dimakan sendiri."


Mama Leni mengambil satu mangkuk lagi untuk Fahmi, setelah dibagi rata keduanya pun makan siang hanya mie saja.

__ADS_1


__ADS_2