Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 34


__ADS_3

Rina pulang ke rumahnya, wajahnya nampak lesu, semalaman ia tak tidur gara-gara mau mencuri hasil curiannya Risa


"Lesu amat, kenapa? Semalam Mas telpon dan chat gak di balas telepon pun gak diangkat." Tanya Farhan dengan menyodorkan secangkir kopi hitam.


Rina heran kenapa Farhan memberikan kopi hitam untuk nya.


"Buat apa?"


"Biar gak ngantuk. Badan kamu itu butuh rileks pasti semalam gak tidur."


Rina mengangguk dan menyeruput kopi dan meletakkannya di meja.


"Ibu?" Rifa berlari mendekat dan memeluknya erat.


"Oma kok, gak jadi bobok sama Rifa?" Tanyanya dengan mengerjapkan matanya yang lentik menambah kecantikan Rifa.


"Oma, semalam pulang karena tanteku Risa sakit." Bohong Rina tak mungkin ia mengatakan semua nya


"Sakit apa? Sekarang udah sembuhkan Bu? Kalau belum sembuh kita bawa kedokter lagi, biar di suntik." Ujarnya sambil mendusel duselkan wajahnya di ceruk leher ku geli.


"Anak pintar, rasa pedulimu sungguh mulia Nak, ibu bangga sama kamu, peduli sesama." Ku cium pipi gembilnya bertubi-tubi gemas anak kecil ini tau tentang rasa peduli, aku bangga, terimakasih Ya Allah Engkau sudah mengirimkan bidadari kecil pada kami. Tak terasa air mata ini mengalir tanpa aku suruh.


"Ayah bangga sama kalian berdua. Hati kalian lembut disakiti berulang kali tapi kalian memaafkan orang yang sudah menyakiti perasaan dan hati." Timpal Farhan dan memeluk anak istrinya.


Hilang seketika lelahku, terbayar sudah kala melihat suami dan anak ku yang selalu memberi kekuatan kepada ku.


"Mas, aku ingin kamu seperti ini dan jangan berubah! Untuk saat ini saat esok saat kita akan menua bersama, tetaplah menjadi Farhan yang masih sama." Ucap Rina sambil tersenyum penuh harapan.


"Dan jangan duakan aku, bila Mas ingin mendua hanya demi anak, aku ikhlas demi kebahagiaan kamu, tapi dengan satu syarat ceraikan aku." Rasanya berat untuk mengucapkan kata-kata yang menyakiti hati. Namun apa daya, aku tak mampu bila harus berpisah dengan mas Farhan lelaki yang sudah mencuri hatiku.


Ku sandarkan kepala di bahunya yang kekar, dielusnya kepalaku yang terbungkus jilbab.


"Mau acem. Pasti belum mandi," ujarnya sambil mencubit daguku.


"Kok tau?" Jawabku dengan gelak tawa.


"Taulah kan, pake baju yang kemarin." Tunjuknya pada daster batik ku yang memang mengeluarkan aroma tak sedap.


Tak sempat mandi, soalnya tadi ngepoin si lemper Risa.


Rina baru ingat kalau dirinya ingin memberitahukan tentang kejahatan yang dilakukan Risa dan mamanya.


"Mas."


"Iya."


"Aku mau tanya sama kamu tentang kekuatan om Darwin."

__ADS_1


Farhan menoleh pada Rina dan menyuruh Rifa main di kamar.


"Sayang mainnya di kamar aja, Ayah sama Ibu mau bicara urusan orang dewasa. Anak kecil gak baik, mendengarkan percakapan orang tua." Titahnya yang di anggukan oleh Rifa.


Rifa pun masuk kedalam dan mengunci pintu kamarnya.


Dirasa aman Rina mulai menceritakan bahwa Risa dalang perampokan di rumah mamanya. Farhan geram mendengarnya.


Ingin sekali ia melaporkan kejahatan Risa namun ia tak punya banyak bukti.


"Mas, aku mau tanya, kenapa Tante Sopia membenci mama, emangnya mama punya salah apa."


"Gak punya masalah apa apa, mama dan Tante Sopia itu teman sejak kecil, sekolah dan kuliah mereka selalu bersama."


"Kok aneh ya," jawab Rina.


"Aneh kenapa," saut Farhan.


"Oh, gak apa-apa sih? Hanya heran aja. Udah ah jangan kebablasan ngegosip. Mas sama Rifa Sudah makan," sengaja Rina mengalihkan pembicaraan biarlah dia yang akan mencari tau kebenarannya.


"Sudah."


Krucuk, krucuk.


Suara perut Rina berdemo, pagi tadi gak sempat sarapan keburu Fahmi dan Septi pulang dan memberikan kabar baik hingga selera makan hilang.


"Cacing kamu demo, lapar?" Tanyanya.


"Mbak Yul mana?"


"Sudah pulang lah, kan tugasnya hanya cuci piring baju ngepel dan masak. Beres ya pulang."


Rina merasa tidak nyaman dengan perut nya ia pun bergegas menuju meja makan. Tudung saji ia buka, nampak bebek goreng sedang melambai-lambai minta di eksekusi. Bibirnya melengkung dengan cepat ia mengambil piring di rak lalu menuangkan nasi tak lupa bebek goreng plus sambel hijau menambah ke lezatan daging bebek itu sendiri.


Merasa cukup ia menghentikan makannya gak baik bila kekenyangan. Lalu membereskan sisa makanan dan mencuci piring.


Rina mencari keberadaan Farhan yang Ternyata ada di taman dekat kolam ikan.


"Mas, mana Rifa," ucapnya sambil duduk di bangku panjang yang memang tersedia di sana.


"Lagi mainan sama rabbit kesayangannya."


Rina hanya membulatkan mulutnya. "Oh."


"Mas, tau gak!"


"Gak lah, kan kamu belum ngomong."

__ADS_1


"Ih. Mas Farhan! Aku belum selesai ngomong udah main potong aja." Kesalnya dengan menghentak-hentakan kakinya di rumput.


"Liat aku disini! Jangan ikan aja yang di pantengin. Gak kangen gitu sama aku semalam gak ketemu," pungkasnya lagi.


Farhan menyimpan pakan ikan di atas meja, dan duduk di sampingnya lalu membingkai wajahnya yang masih cemberut namun tak mengurangi kecantikan seorang Rina.


Rina menepis tangan Farhan.


"Tangan Mas bau pelet tau??"


Farhan tergelak tawa gak dilihat marah, di tatap salah maunya apa sih, mau dikarungin kali.


"Mau ngomong apa?"


Terdengar helaan nafas berat dari Rina.


"Mas, Mbak Septi sama mas Fahmi akan menjadi seorang ibu dan ayah. Liburan mereka membuahkan hasil kita kapan?" Di Sandarkan kepalanya di bahu Farhan air matanya menetes membasahi bahu Farhan.


Di elus pipinya, Farhan pun merasa sedih kedua kakaknya sudah menjadi seorang ayah sedangkan dirinya belum juga dikaruniai keturunan.


Sempat terlintas dipikiran nya , ia juga iri terhadap kakak-kakaknya, haruskah aku juga mendua menyakiti hati Rina? Apakah dia mau aku madu? Atau? Astaghfirullah Farhan mengusap wajah nya, ia tak mau rumah tangganya hancur karena masalah anak.


Dalam kehidupannya sudah ada Rifa tetap saja ada yang kurang, pikiran Farhan melayang entah kemana.


Rina menatap kearah suaminya yang menatap lurus kedepan entah melihat apa, Rina tau bila Farhan mendambakan memiliki anak dalam rumah tangganya.


"Mas," Rina menyentuh pundaknya dan menatap wajah tampan Farhan.


"Mas, mau punya anak sendiri, anak kandung," tanya Rina yang di anggukan oleh Farhan.


Rina mencoba untuk tidak menangis dia ingin terlihat kuat Dimata Farhan.


Diraih tangan Farhan dan menciumnya berulangkali.


"Mas," lirihnya.


"Aku juga ingin menjadi seorang ibu ingin merasakan dia hadir di perutku," ucapnya sambil mengelus perutnya yang rata.


Ingin terlihat kuat di mata Farhan namun tak ia harapkan luruh air matanya ia menangis sesenggukan.


"Ceraikan aku Mas, kamu boleh menikah lagi dengan wanita manapun asal kamu bahagia, bahagia kamu bahagia aku juga. Satu pintaku bila kamu menikah dengan orang lain, jangan lupakan kami berdua." Ucapnya dengan membuang muka ke samping.


Farhan yang mendengarnya menjadi geram, bisa-bisanya dia berkata seperti itu, ucapannya sungguh melukai hatinya juga.


"Rina. Kamu gak boleh ngomong seperti itu! Mau gimana pun kondisi kamu aku tetap mencintaimu tak terbesit sedikitpun untuk menceraikan kamu. Kita jalani saja dengan ikhlas, semoga Allah SWT mengabulkan doa kita." Serunya dengan napas memburu ingin marah percuma saja, Farhan kecewa dengan ucapannya.


"Bukankah kamu mau punya anak?"

__ADS_1


Stttt, Farhan menempelkan jari telunjuknya di bibirnya.


"Mas gak mau apa-apa lagi hanya mau kamu!" Farhan memeluknya erat.


__ADS_2