Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 23


__ADS_3

Mama menatapku sinis bro! Sedikit saja menyakiti perasaan mantunya maka mama akan pasang badan buat belain si lampir. Udah dikasih apa sama dia, segitunya sayang? Kalau aku ngasih segalanya termasuk mobil, rumah, ATM apa mau berpihak sama aku? Antara ia dan tidak.


"Stttt," mas Farhan menyuruhku diam.


"Mama kesini mau apa, kalau cari ribut, silahkan pulang, malu sama tetangga," terdengar helaan nafasnya.


"Han, Mama kecewa, sangat-sangat kecewa, kenapa kamu harus menikah dengan orang kampung lagi? Cukup satu yang kampungan massa mau ditambahin lagi? Andaikan kamu nikahin Lina dia itu anaknya cantik baik, pintar dan anak orang kaya. Apa benar kamu menikah dengan wanita yang bernama Nisa, kini dia hamil mengandung cucu Mama?" Ujarnya wajahnya terpancar kebahagiaan.


Yaelah! Tadi marah-marah sekarang senyum-senyum dengar Mbak Nisa hamil. Pasti si lampir sudah mengadu sama Mama kalau mas Farhan nikah lagi.


Salah alamat woy! Yang kawin lagi itu laki Elo! Maemunah! Aku tertawa genes di dalam hati ingin sekali aku mengejeknya, tapi aku sudah janji gak akan ember, harus tepati janji.


"Tak apa dia dari kampung yang penting dia hamil, mengandung anak kamu, gak kayak dia berpakaiannya juga kayak orang-orangan sawah, kampungan, miskin, mandul lagi!"


Ma jleb.


Itu ucapan mama Leni top markotop! Sedap bila didengar, ma! Hatiku sakit ma, tak sesakit tertusuk pisau dari pada ucapan mama barusan! Sakitnya tuh disini! Didalam hati ku. Inimah judulnya lagu cita-cita.


Tunggu tanggal mainnya aku kasih mama cucu satu kodi. Biar mama pusing di buatnya. Jengkel aku, harus mendengar sindiran-sindiran pedasnya.


Mas Farhan salah tingkah mau jawab apa.


"Jawab aja Mas." Bisik ku.


"Jawab apa?" Balas berbisik.


Disuruh jawab malah nanya.


"Bilang aja Mbak Nisa istri kamu."


"Kamu gak cemburu."


"Kalian berdua kenapa bisik-bisik." Teriak Mama bikin kaget saja, gimana kalau jantungku tak berdetak.


"Gak." Kompaknya.


"Iya, Nisa istri mas Farhan, sebentar lagi Mama mau punya cucu selamat ya Ma," aku mengulurkan tangan untuk memberi selamat.


Mama tak mengindahkan jawabanku, aku seperti kutil yang tak terlihat mata,mama memeluk mas Farhan sambil tersenyum bahagia terlihat jelas kedua sudut netranya basah.


Salah alamat Mama? Yang seharusnya dikasih selamat itu mas Fatah?


"Kamu pulang bawa Nisa kerumah."


"Aku gimana Mama? Nasib aku dan Rifa?" Aku menyela obrolannya mau tau apa masih perduli sama aku apa nggak.


"Emang kita pikirin." Timpal duo rese.


"Harus dipikirkan dong? Kalau nggak kalian akan menyesal sudah membuang aku anaknya pak Ali dan Bu Siti?"


"Gimana Han, kamu mau kan, pulang?" Mama bertanya lagi.


"Nisa sudah punya rumah sendiri, aku bisa bagi waktu antara Rina dan Nisa." Jawab mas Farhan.


Ih, mendengar jawaban mas Farhan bikin hatiku nyelekit! Gimana kalau nyata, amit-amit deh, aku mengetuk ngetuk jariku di samping kursi plastik.


"Nisa lagi hamil gede, Rina kan gak hamil, dia bisa urus dirinya juga anaknya."


"Belum Ma, belum." Aku menimpali ucapnya.


****


Ah. Akhirnya trio LSR pulang juga plong rasanya tak ada nyiyiran sambalado lagi.


Pasti kalian tau dong artinya LSR? Itu nama mama mertua dan ipar.


Aku duduk santai di tepi ranjang besi, sudah tak tahan lagi harus lama-lama di sini, maunya sekarang kabur ke rumah baru.


Ceklek pintu kamar terbuka nampak mas Farhan membawakan aku susu.

__ADS_1


Mau ngapain dia, pasti ada bakwan dibalik udang eh salah udang dibalik bakwan.


Modus.


"Susu buat siapa," pura pura Ndak tau.


"Buat ayang Rina," ia menyodorkan nampan berisi segelas susu hangat padaku.


"Nyogok, ceritanya, modus kamu mas," kekeh ku sambil mengambil susu.


"Rifa kayaknya anteng boboknya."


Aku hanya mengangguk.


Mas Farhan tersenyum smirk mendadak bulu halus ku meremang saat tangan besarnya mas Farhan menyentuh perutku ada desiran aneh, susah aku jabarkan biarlah kalian yang membayangkan bagaimana sepasang suami-istri yang lama tidak saling ehem-ehem? Ngertikan! Ngerti dong!


"Kita jap jip jup dulu mumpung Rifa tidur," bisiknya tepat di telingaku.


"Mau pus up," tanyaku yang di iyakan olehnya.


Cetek lampu saklar pun mati, pus up sedang berlangsung, hehehe.


*****


"Pagi? Sayang, lelap banget boboknya, sampe keciangan," Farhan mengesek-gesekan hidungnya dengan hidung Rina.


"Geli Mas, wajar dong aku capek habisnya kamu ngajakin pus up nya lama banget, badanku pegal semua." Manjanya dengan senyum binar.


"Rifa mana? Pasti belum bangun ya?"


"Udah Mas mandiin, sekarang lagi main sendiri di kasur."


"Mana, gak ada," jawab Rina kedua matanya mencari sosok gadis mungilnya.


"Lagi nonton Upin dan Ipin."


"Anak jaman now. Pada pintar."


"Mandi sana bau acem." Ledek Farhan.


"Yang bikin aku acem siapa hayoo!"


"Kamu!"


"Kamu!"


Keduanya saling tuduh, padahal mah keinginan keduanya gengsi mengakuinya.


"Mas, nasi goreng dapet beli?" Tanyanya dengan menyuapkan sesendok nasi kedalam mulutnya.


"Kenapa gak enak?" Jawab Farhan.


"Enak banget, Mas." Pujinya membuat hidung Farhan mengembang dapat pujian dari Rina.


"Kapan-kapan kita beli lagi."


"Ngapain beli, itu Mas yang masak."


"Hah? Sejak kapan kamu pintar masak?"


"Semenjak pagi ini setelah mendapatkan suntikan booster semalam." Farhan menggerlingkan mata nakalnya.


"Hahaha." Rina tertawa lepas kebahagiaan nya sudah kembali normal setelah apa yang terjadi beberapa hari terakhir.


"Mas, kamu jangan marah ya, please." Rina menangkupkan kedua tangannya untuk memohon.


Farhan mendongak menatap wajah cantiknya Rina. "Belum juga omong udah minta maaf duluan ada apa sih,"


"Kita pindah rumah ya? Aku sudah membeli rumah gak jauh dari rumah Mama." Terangnya.

__ADS_1


"Beli rumah?"


"Iya."


"Uang dari mana Rin, kamu belanja banyak mobil sekarang rumah. Mas gak mau pindah rumah sebelum kamu jujur dapat uang dari mana."


Rina hanya garuk-garuk kepala, bingung mau menjelaskan semuanya dari mana.


"Rin." Farhan mengguncangkan bahunya.


"Kamu masih ingat dengan usaha aku? Saat aku masih jadi pedagang asongan di terminal?" Tanya Rina berusaha tenang.


Farhan mengangguk.


"Dagang peyek belut?" Jawabnya.


"Betul! Saat itu dagangan ku sepi tak ada yang mau beli, setelah beberapa tahun terakhir Yuni sahabatku mengelolanya kembali dan akhirnya berbuah manis aku jadi pengusaha yang sukses Mas," ucapnya berkaca-kaca haru.


"Mas gak marah kan."


"Enggak, Mas bangga sama kamu." Farhan memeluk tubuh nya.


Rina tersenyum bahagia dirinya menyangka bahwa Farhan akan marah nyatanya tidak.


"Kapan pindahnya?"


Rina yang akan pergi ke dapur menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang.


"Nunggu kamu libur kerja."


"Oke."


Hari Minggu


Rina sudah mengemas barang barang yang akan mereka bawa, merasa semuanya lengkap saatnya mereka pergi.


"Kita berangkat, ke rumah baru," Rina berceloteh pada anaknya.


Diluar ramai sekali Farhan dan Rina terkejut seperti mau demo aja.


Pintu terbuka nampak Mbak Dewi berlari menghampiri kami berdua. Mbak Dewi menubrukku memeluk erat tubuhku, badannya yang subur membuat aku susah bernapas.


"Mbak ngapain peluk-peluk? Lepas dong, aku engap!" Titahku gak kuat di peluk dia.


"Rin, kamu mau pindah ya, kita semua jadi sedih, Hua...." Yah, malah nangis Bombay


"Mbak Dewi tau dari mana?" Mas Farhan bertanya.


"Gak sengaja dengar kalian ngobrol, hehehe maaf ya,"


"Nguping ya," tudingku.


"Mas Farhan! Kalau pindah gak ada yang borong sayuran mamang lagi?" Mang Asep memasang wajah mengiba.


"Iya, Ceu Entin juga gak bisa liat wajah gantengnya Mas Farhan." Celetuk Ceu Entin.


Ini orang pada edan semua. Isi kepalanya pada geser. Yang satu takut sayurannya gak laku yang atu lagi gak bisa liat orang ganteng, susah ya punya suami ganteng? Kegantengannya mengalahkan opa-opa Korea, dan si subur bilang gak ada teman.


"Mang Asep, tenang aja, soal sayuran mamang langsung ke rumah Mbak Nisa saja." Aku menyahutinya.


"Ceu Entin sama mbak Dewi kangen kita, boleh kerumah nanti aku kasih alamatnya."


"Benar ya?" Jawabnya kompak


Aku anggukan kepala.


Kami pun berpamitan dengan warga sini bagaimana juga mereka baik semua, apalagi Mbak Dewi selalu membantuku untuk momong Rifa. Mas Farhan melajukan mobilnya pelan ku lambaikan tangan pada mereka ada rasa sedih berpisah dengan mereka beberapa Minggu disini mereka bagiku saudara dekat, kami selalu berbagi dari beberapa hal.


Walaupun Ceu Entin keganjenan sama mas Farhan aku anggap sebagai lelucon saja, mana mungkin mas Farhan mau sama Ceu Entin, yang sudah tua giginya pun sudah ompong.

__ADS_1


__ADS_2