
Rina tak menyahut seruan farhan, ia malah masuk kedalam kamar.
Farhan mengusap wajah frustasi, percuma juga dijelaskan toh, Rina tak akan pernah percaya hanya satu orang yang bisa menjelaskan semuanya yaitu Fatah. Harus menunggu sampai kapan? Fatah akan menjelaskannya, sedangkan dirinya masih sibuk dengan urusan kantor juga urusan kedua istrinya, keduanya sama-sama membutuhkan Fatah dihari yang sama pula.
Rina diam membisu hanya air matanya menetes ada rasa kecewa sakit, dikala suaminya membela wanita lain. Kini jiwanya rapuh tak sanggup lagi, karena lelah pikiran juga badan akhirnya dia tidur di samping Rifa yang terlelap daritadi.
Entah dimana sekarang Farhan berada.
Adzan ashar berkumandang itu menandakan bahwa dirinya tidur sampai ashar, Rina mengerjapkan matanya yang enggan membukanya pertama kali ia lihat adalah wajah cantik bidadari kecilnya. Ada kedamaian di hatinya andaikan Rifa tak ada saat ini apakah Rina akan bertahan dalam situasi begini?
"Sayang, kamu malaikat ibu, sesulit apapun kita akan hadapi bersama, entahlah bila anak ayah mu lahir apa kamu akan dianggap sebagai putri kecilnya? Ibu takut. Hiks..." Rina menangis berulangkali ditatap wajah imutnya, Rifa pun membalas senyuman Rina seakan-akan tau apa yang dirasakan Rina.
Mas, kamu boleh punya anak dari wanita lain, tapi jangan lupakan Rifa dia juga anakku anak kamu, lirihnya tak mampu lagi untuk membayangkan semuanya andaikan itu terjadi.
"Rifa, anak ibu yang cantik! Jangan nangis, ibu mau mandi dulu habis ibu baru Rifa yang di mandikan." Seolah-olah mengerti Rifa pun tersenyum manis.
Ih. Mengemaskan banget! Terima kasih ya Allah engkau sudah mengirimkan bidadari cantik ini padaku. Rina terus bersyukur atas apa yang Allah berikan kepada keluarga kecilnya.
Dalam sujud nya Rina terus berdoa agar rumah tangga nya baik-baik saja, jangan sampai keduanya cerai semakin deras air matanya membayangkan semuanya.
"Astaghfirullah!" Lirihnya dengan gelengkan kepala, dirinya tak sanggup sekedar membayangkan apalagi menjadi nyata.
Euh, au, celoteh Rifa menyadarkan Rina dari lamunannya.
Rina menolehkan kepalanya ke samping terlihat tubuh mungilnya Rifa mengerakkan kedua tangan dan kakinya, Rina tersenyum simpul melihat bidadari nya berceloteh riang. Ia melepaskan mukena lalu melipatnya dengan cepat dan mendekati putrinya.
Diangkat tubuh mungilnya dan melepaskan semua pakaiannya .
"Saatnya mandi? Rifa gerah ya?" Bola matanya bergerak lincah menambah kegemasan Rina padanya.
*****
"Udah mandi, udah wangi, saatnya makan sore," hebohnya dengan senyum tuk sementara rasa kecewa kini tergantikan oleh senyum manis Rifa.
Malam pun tiba, dengan gontai Farhan menuju kamar.
Ceklek.
Suara pintu kamar terbuka sontak Rina menoleh ke sumber suara tersebut.
Nampak mas Farhan masuk dengan keadaan semrawut tak karuan, ia mendekat dan duduk di sampingku.
"Kamu gak makan?" Tanyanya lembut selembut sutra, dahsyat menembus jantungku setiap perkataan yang lembut selalu ingin aku dengar setiap harinya, sayang itu hanya harapan kosong belaka.
Aku menggeleng cepat.
"Aku tidak lapar, bila kamu lapar masak mie instan saja, tadi aku sudah beli. Maaf aku gak bisa memasaknya," sahutku datar tanpa ada senyuman, entahlah rasanya berat sekali bibir ini tuk terangkat.
Aku coba untuk menjadi wanita yang paling iyes, wanita tegar menerima apa adanya. Ingin menjadi istri Soleha gak mau dicap istri solehot!
"Besok jam berapa kamu berangkat ke rumah dia?" Tanyaku dengan menahan tangis.
"Habis dhuhur," sahutnya.
"Kamu mengizinkan?"
Aku hanya mengangguk pasrah ditentang juga percuma.
Sebenarnya aku ingin bertanya pada mas Farhan siapa istri pertamanya aku atau dia? Karena pernikahan aku baru berusia enam bulan sedangkan wanita itu sudah hamil tujuh bulan, lalu siapa yang menjadi duri dalam daging? Gue? Namun aku urungkan niat ku.
"Apa dia meminta buah mangga yang masih mengkal," tanyaku sok, perhatian padahal mah gondok bin gedek.
"Iya, kamu tau dari siapa?"
"Aku mendengar dari suara manjanya, yang minta kamu membelikan mangga. Yang ada di dapur bawa semua mangga nya, jangan sampai anak kamu ngeces."
__ADS_1
Farhan lagi-lagi diam pasrah, kenapa sih gak jujur aja, urusan marahnya Rina belakangan.
"Iya. Kalau boleh Mas mau meminta mangga yang ada di dapur," ucapnya pelan.
Rina menyunggingkan senyuman.
"Bawa semuanya, aku memang sengaja membawakan mangga siapa tau ada yang mau, ehh ternyata ada yang ngidam mangga. Salam kenal dari aku buat dia." Ucapnya lirih.
"Terimakasih Rin, Mas, janji akan mengatakan semuanya tapi kamu harus sabar dulu ya," ucapnya lembut.
"Ini, sudah malam. Aku mau tidur." Rina menarik selimut sampai batas leher.
Farhan menatap kedua bidadari nya yang terlelap masuk kedalam mimpi.
"Sabar Sayang." Farhan mencium kening Rina juga Rifa, akhirnya iapun ikut masuk kedalam selimut ingin menyusul bidadari nya ke alam mimpi indah.
***
Seperti biasanya Rina sudah berkutat didapur dengan kuali dan sapatulanya.
"Masak apa Yang, harumnya Samapi kekamar," tanya Farhan dengan memeluknya dari belakang. Rina menggeliat geli saat Farhan mendusel duselkan wajahnya di tengkuknya.
Wajah Rina menghangat, tak terasa kedua sudut bibirnya melengkung, semenjak keributan kecil yang beberapa hari, ini yang pertama kali Farhan memeluknya.
"Mas, Rifa masih tidur?" Tanya Rina dengan tangan membelai pipi Farhan.
"Iya. Emang kenapa? Mau olahraga pagi?" Tanyanya dengan menaik turunkan alisnya.
Rina mencubit tangannya.
"Auw! Atit?" Jawabnya alay dengan memasang wajah mengiba.
"Syukurin! Lagian tu, mulut lemes banget. Aku masih gak mau kamu ajak begituan." Rina melerai pelukannya dan melangkah menuju rak piring, ia mengambil piring tuk menata sarapan pagi.
Farhan mendengus sebal karena keinginan nya di tolak mentah-mentah oleh Rina.
"Mas, sarapan dulu, terus kerja. Ingat! Beban kamu makin banyak." Rina mengingatkan dirinya.
"Kamu mau kemana? Kita sarapan bareng, mumpung Rifa masih tidur."
"Aku mau cuci tangan dulu," jawabnya dengan gegas menuju westafel tuk mencuci tangan.
Keduanya makan tanpa bersuara hanya dentingan sendok dan garpu.
Farhan pamit kerja tak lupa mengecup kening Rina, Rina pun mencium punggung tangannya.
"Hati-hati di rumah."
"Hmm."
Farhan menghela nafasnya lagi, tuk kerja sudah tidak ada semangat. Seperti biasanya rina mengantarkan suaminya sampai pintu.
"Assalamualaikum," ucapnya lemas karena sedaritadi dirinya di cuekin.
"Waalaikumsalam," jawabnya.
Farhan melajukan kuda besinya yang sudah berumur, Rina menatapnya sampai menghilang tak terlihat lagi.
Mas, mas, aku ingin tau istri kamu secantik apakah dia, dan kamu umpetin dia dimana, maaf. Aku akan mengikuti kamu nanti siang. Gumamnya sambil menutup pintu.
Tring.
Sebuah pesan singkat masuk ke ponselku.
Siapa sih, gerutuk ku lagi dengan malas ku raih ponsel yang tergeletak di meja makan.
__ADS_1
Yuni? Tumben sepagi ini ngecat, ada yang penting?
Yuni: "Rin, usaha keripik belutnya melonjak naik! Kesabaran kamu berbuah manis. Anjirr, kamu jadi juragan keripik belut."
Hah. Hatiku ingin menangis dan berteriak setelah apa yang aku lihat. Yuni mengabariku bahwa usaha yang hampir gulung tikar karena sepi saat itu harapanku pupus sudah dan hari ini tiba-tiba aku dikejutkan dengan berita bahwa keripik belut yang aku rintis laku di pasaran.
Dengan cepat aku balas chatnya.
Rina: "Beneran kamu Yun?" Balas ku dengan jantung berdebar.
Yuni: "Gak percaya, nih, aku kirim kan saldo rekening."
Kedua bola mataku membulat sempurna ketika melihat deretan angka yang sangat fantasi.
Rina: "Yun. Angka segitu bisa beli sawah dan rumah, malah masih sisa banyak." Aku mengetik pesan pada Yuni dengan tangan gemetar.
Ini rejeki yang tak aku sangka. Disaat aku terpuruk aku dikejutkan dengan berita ini, terbit senyuman bahagia dihatiku.
Setidaknya suatu saat nanti Mas Farhan tak sanggup menafkahi aku dan Rifa, aku masih punya tabungan yaitu mengelola bisnis keripik belut awalnya hanya iseng jualan keripik belut sepi tak ada yang membeli dengan kesabaran dan ketekunan akhirnya cita cita ku ingin menjadi orang sukses menjadi nyata. Terimakasih ya Rob. Aku bersujud bersyukur atas apa yang aku miliki sekarang.
"Neng Rina, mau beli sayurannya nggak!" Teriak mang Asep pastinya kan, tukang sayur yang kenal sama aku hanya dia. Dia mang Asep, tukang sayur plus tukang gosip.
Cleek. Pintu aku buka dan nampak mang Asep sedang berunjuk gigi.
"Mang ada sayuran apa?" Tanyaku dengan membalas senyuman nya.
"Masih lengkap. Mau beli apa, sok wae atuh di beli, bentar lagi mamang mau kerumah Mbak Nisa, dia pesan mangga mangkel tapi nggak ada."
"Kalau gak ada terus dibawakan apa?"
Bukannya menjawab malah nyengir kuda.
"Mamang bawakan mangga matang."
Aku hanya mengangguk paham.
"Mang?" Panggil ku membuat dirinya menoleh.
"Iya Neng. Kenapa?" Jawabnya.
"Mau nanya, tapi mamang harus jujur menjawabnya kalau enggak, aku akan--" gertakku dengan wajah datar.
"I-iya Neng, pasti mamang jawab."
"Dimana rumah Nisa berada." Tanyaku penuh tanda tanya membuat mang Asep merinding.
"I-itu...Emm, gak jauh dari kontrakan Neng Rina."
"Depan apa belakang."
"Paling ujung disitu rumahnya. Pokoknya rumahnya yang paling gede."
"Oh."
Mang Asep menatapku dengan gemetar. Apakah aku begitu menakutkan baginya?
Mang Asep buru-buru pamit pergi padahal aku belum beli apa-apa, kenapa sih dia.
"Neng, gak jadi beli sayuran nya, ya udah kalau nggak, mamang permisi atuh." Nanya sendiri di jawab sendiri pula.
Aku hanya tersenyum smirk.
Mang Asep aneh. Belum juga aku sentuh. Omelku dengan masuk kedalam namun langkahku terhenti saat seorang pria memanggil namaku.
"Rina!"
__ADS_1
Deg.
Suara itu.