Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 11


__ADS_3

"Bayi siapa yang kamu bawa Rina!"


Suara Mama melengking tinggi sehingga Rifa yang tidur di gendongan ku bangun menangis karena mendengar teriakan mama.


"Anak kita Ma, anak aku dan Rina," sahut Farhan cepat.


"Jangan bilang kalau dia anak har*m! Jangan bikin malu keluarga Farhan! Ini semua ulah kamu, pasti kamulah yang membujuk Farhan agar mau membawa anak itu!" Pekik mama dengan menuduhku atas apa yang terjadi.


Aku gak boleh nangis, harus kuat. Kalau nggak, mama lebih menghinaku bahkan merendahkan.


"Ma, anak ini tak berdosa dan belum tentu benar kalau dia anak har*m. Bisa jadi dia korban penculikan yang membenci orang tuanya."


"Jelas kamu membela anak itu, karena kamu menginginkan dia kan? Makanya cepat hamil punya anak sendiri, jangan asal ambil, belum tentu dia anak baik, siapa tau dia jahat bila sudah dewasa nanti." Mama Leni memang keras kepala, siapa yang menentangnya maka dia harus sabar bila menghadapi sindiran pedas untuk orang yang beliau benci termasuk menantunya sendiri.


"Kita sedang berusaha Ma, kenapa Mama gak minta cucu sama Mbak Risa dan Mbak Septi, kenapa aku yang selalu mama tuntut." Jawab Rina enteng.


"Kamu bisa nya menimpali apa yang dikatakan mertua, coba diam, jangan yambung kayak kabel. Liat kakak ipar kamu gak pernah tuh kalau saya bicara mereka tidak menimpali saya. Begini ni cewek urakan gak tau etika sopan santun terhadap orang tua." Dengusnya kedua bola matanya memerah akibat menahan marah.


"Ma. Aku sudah cukup sabar menghadapi sindiran pedas Mama, sampai-sampai kuping aku terasa terbakar, aku masih menjaga sikap baik pada Mama bagaimana pun Mama adalah mertuaku yang harus aku hormati. Apa aku salah bila mengadopsi anak? Letak kesalahannya dimana? Justru bila kita mengurus seorang anak yatim-piatu akan mendatangkan ladang pahala."


"Halah! Sok tau tentang agama." Mama Leni mencebikan bibirnya dengan kesal.


"Mama, mereka baru saja datang, suruh duduk dulu biarkan mereka yang menjelaskan semuanya," Fahmi menimpali nya.


"Pokoknya Mama gak mau ada bayi itu disini! Kalau kalian maksa silahkan angkat kaki dari rumah Mama." Ucap mama Leni seraya membuang muka.


"Ma, setuju gak setuju aku dan Rina akan merawat anak ini, mulai detik ini Rifa adalah anakku siapa yang berani menyakitinya maka harus berurusan dengan aku Ma. Dan. Mama jangan khawatir aku dan Rina akan pergi dari rumah Mama." Tegasnya dengan senyum yang manis.


Farhan mendekati Rina dan menggandengnya masuk kedalam kamar tuk mengemasi barang-barang yang akan mereka bawa.


"Mas, kamu kok, kasar gitu sama Mama?" Tanya Rina.


"Sekali-kali mama harus digituin, biar sadar."


"Bagaimana juga beliau mama kamu, yang harus kita hormati dan hargai semua yang beliau ucapkan."


"Tapi mama keterlaluan, bayi tak berdosa harus dihina juga."


Hening.


"Mas, lebih baik aku yang ngalah, kita serahkan Rifa ke panti, aku gak mau dicap sebagai menantu kurang aj*r." Ucapnya dengan menahan tangis Rina sudah terlanjur mencintai bayi tersebut ada kenyamanan diantara keduanya.


Farhan menatap kearahnya penuh amarah, seharusnya Rina ikut memperjuangkan anak itu, jangan putus asa.


Rina yang tau akan kemarahan suaminya dengan cepat ia menjelaskan semuanya.


"K-kamu jangan marah dulu, a-aku ngomong kayak gitu karena ada alasannya. Aku gak mau hubungan antara kalian renggang gara gara Rifa," ucapnya gugup dan rasa bersalah karena ingin menyerahkan Rifa ke panti.


Oeek, oeek. Tiba tiba Rifa menangis tanpa sebab mungkin kedua orang tuanya berselisih pendapat.


"Lihat! Rifa pun menangis karena mendengar kamu yang ingin menyerahkan dia ke panti. Rifa sudah nyaman bersama kita. Cepat kemasi semua barang yang kita perlukan."


"Iya, Mas, aku terlanjur cinta sama Rifa aku gak mau kehilangan Rifa." Lirihnya dengan tatapan sendu jujur dirinya tak sanggup bila harus berpisah dengan Rifa.


"Lalu kita mau kemana," imbuhnya lagi.

__ADS_1


"Kita ngontrak rumah, kebetulan dekat kantor Mas ada kontrakan yang kosong. Kamu mau ikut kan?" Tanya Farhan.


Rina hanya tersenyum dan mengangguk.


Mama Leni yang melihat anak dan menantunya membawa koper besar sedangkan Rina mengendong Rifa dan membawa koper berukuran sedang.


Farhan berjalan menuju dimana mama Leni duduk.


"Ma, aku pamit," ucap Farhan dengan mengulurkan tangannya untuk mencium punggung tangannya namun mama Leni menepis kasar tangan Farhan.


"Pergi! Sebelah sana pintunya." Usir mama tanpa menolehkan wajahnya.


Hatiku sakit dan perih saat ini dimana suamiku di usir oleh ibu kandungnya hanya mas Farhan dan aku mengadopsi seorang bayi perempuan yang nasibnya mengenaskan harus dibuang di kebun? Bagaimana nasibnya jika aku dan mas Farhan tak menemukan nya bisa jadi dirinya akan menjadi santapan hewan liar bahkan bisa juga di temukan oleh orang-orang yang berniat jahat.


Tak ada rasa empati terhadap bayi yang tak berdosa? Dimana rasa keibuannya, tak ada kah, entahlah aku pun tak mengerti.


Rifa semakin kencang menangis, Mama semakin tak suka melihat aku, ada kilatan kebencian terhadap ku.


Kaki ini melangkah mendekati mama, biarlah bila beliau tak suka, bagaimana juga aku harus pamit secara baik baik.


"Ma, aku pamit, bila Mama ingin main kerumah dengan senang hati akan menerima kedatangan Mama, kontrakan kami dekat kantor Mas Farhan bekerja." Ucapnya dengan meraih tangannya.


Beberapa kali tangan Rina ditepis kasar, bukan Rina namanya bila tak bisa mencium punggung tangannya.


"Dadah, Nenek, Rifa pamit pulang dulu ya? Nenek baik baik disini." Ucap Rina menirukan suara anak kecil


"Dia bukan! Cucu saya! Camkan itu!" Makinya dengan menunjuk-nunjuk kearah wajahnya.


Tak ada salahnya Rina membalas dengan senyum tulus, dia harus tetap menghormati orang tua siapapun itu.


Kutatap wajah suamiku yang sedih dan juga kecewa atas sikap Mama, kenapa harus kami yang di tuntut untuk punya anak sedangkan kedua iparku tak di tuntutnya aneh bukan. Mungkin ini cobaan untuk kami semoga bisa sabar menghadapi sifat Mama ke depannya.


Tak ada jawaban dari mama hanya Mas Fahmi yang menjawab salam kami.


"Jangan bawa apapun, termasuk mobil, itu Mama yang membelinya!" Seru mama.


Langkah kami terhenti dan menoleh ke belakang.


"Baik Ma," jawab mas Farhan tanpa ada drama seperti di sinetron ah, suamiku terlalu pasrah, mungkin benar mobil itu Mama yang beli.


Mas Farhan menyerahkan kunci mobilnya pada mas Fahmi.


"Ini Mas, kuncinya, jaga Mama jangan sampai telat makan jangan sampai maag nya kambuh," sebelum keluar mas Farhan menepuk pundak nya dan mengingatkan dirinya agar selalu menjaga kesehatan Mama sedangkan mas Fatah jarang dirumah mas Fatah sering tinggal bersama istrinya di rumah orang tua Mbak Risa.


"Kamu hati-hati. Sering kabari Mas," keduanya saling peluk.


"Rin. Jaga keponakan Mas," ucapnya dengan senyum tulus.


"Iya."


****


"Sudah sampai Sayang," mas Farhan menepuk-nepuk pipi, Rina mengerjapkan matanya, perlahan-lahan Rina membuat matanya.


"Kok, aku gak dibangunkan dari tadi Mas," protesnya.

__ADS_1


"Kalian berdua tidurnya begitu nyenyak, Mas gak tega membangunkannya." Senyum manis terukir indah di bibirnya.


"Yuk, kita masuk. Rifa biar mas yang gendong." Farhan mengambil alih Rifa yang di gendong Rina.


"Emang udah ada kuncinya?" Tanya Rina bingung tau-tau Farhan sudah menegang kunci kontrakan.


"Mas, tadi di mobil sudah menelpon pemiliknya dan Mas juga sudah belanja kebutuhan kita juga Rifa."


"Hah?" Wajahnya melongo mendengar ucapan suaminya.


"Awas lalat masuk mulut."


"Ish. Aku gak dibangunkan," kesalnya dengan manyun.


Setelah pintu terbuka Rina menatap ruangan kontrakan yang sederhana terdapat kamar satu dan dapur yang menyatu dengan ruang tamu.


"Kamu suka," tanya Farhan dengan senyum kecut.


"Suka, kok, kita bisa memulai hidup baru bersama anak kita." Senyum tulus terukir di bibir tipisnya.


"Ini hampir sore, kita minta tetangga buat mandiin dedeknya," usul Farhan.


Rina mengeryit heran.


"Mandi?"


"Iya."


"Ngapain minta tolong tetangga, aku juga bisa kok, lagian dulu di kampung aku sering mandiin anaknya bibi apalagi Rifa badannya gemuk."


"Ya, udah kalau kamu bisa Mas, mau siapkan perlengkapan Rifa."


"Emang tau," ejeknya.


"Taulah. Kan, nanya sama pemilik toko nya." Farhan menggerlingkan mata nakalnya.


"Ih. Mata nakalnya mulai kumat." Kekeh Rina.


"Anak Ayah, jangan rewel ya," Farhan mengecup kening Rifa.


Rifa tersenyum imut saat diperlakukan seperti itu, usianya mungkin masih dua mingguan.


Dengan lihai Rina memandikan putri kecilnya dengan bercanda tangannya menggelitik telapak kaki Rifa membuat Rifa kegelian. "Anak ibu geli ya, kamu anak siapa sih, cantik banget." Lalu Rina membawa Rifa ke atas kasur yang dimana semua perlengkapannya sudah disiapkan oleh Farhan.


"Wah, ayah pintar sekali, Emm, baju gurita dan popok semua ada bedak juga minyak kayu putih." Cerocosnya.


"Mas, kamu pintar sekali menyiapkan semuanya ini, kayak pernah pernah ngurus anak aja."


Mas Farhan menatapku dengan mengeryitkan keningnya.


"Mas Taulah, kan, ada Mbah google." Jawabnya cepat dan tersenyum lebar.


"Oh."


Aku terus membaluri tubuh Rifa dengan minyak telon. Kutatap bayi mungil itu siapa yang tega membuang bayi secantik Rifa atau memang Rifa ditakdirkan untukku? Semoga saja benar, andaikan suatu saat nanti tiba tiba ada yang mengakui Rifa sebagai anaknya aku harus bagaimana? Jujur hatiku sangat sangat resah takut bila orang tuanya merebut Rifa dariku.

__ADS_1


"Astaghfirullah! Seharusnya aku bahagia bila kedua orang tua Rifa masih hidup dan beretika baik, ah setakut ini kah aku?" Ucapku pada diriku sendiri.


__ADS_2