
"Loh, loh, kok, pada nangis, ada apa?" Tanya pak Ali yang pulang dari sawah dengan membawa satu karung rumput buat sapi. Ditatapnya satu persatu wajah anak, istrinya dan mantu.
Sampai rumah pak Ali di suguhkan pemandangan yang melow.
"Bu, ngapain yumput di balik pintu, bukannya di tanya sama anaknya kenapa nangis, malah ikutan nangis lagi." Herannya lagi.
Bu Siti yang merasa namanya di panggil terpaksa deh keluar dari persembunyian dasar pak Ali kan, Bu Siti nya jadi malu ketahuan ngintip.
"Nak Farhan, ada apa?" Kini bapak Ali bertanya pada mantunya siapa tau dijawab.
"Enggak ada apa apa kok, Pak. Hanya... Emm...." Farhan bingung mau menjelaskannya.
"Ya, sudah kalau kalian gak mau jawab. Bagaimana siang ini kita nyari belut lagi," ajak Pak Ali mencairkan suasana tegang.
"Bapak mah aya-aya wae (Bapak ini ada-ada saja) udah tau suasana hati anaknya lagi sedih, diajak mancing belut lagi." Bu Siti geleng geleng kepala melihat kekonyolan suaminya.
"Pak, Bu, Rina mau keluar mau cari udara segar," pamit Rina yang diikuti oleh Farhan.
"Cari udaranya ke sawah apa ke kali biar tenang pikirannya Rin," Bu Siti memberitahu dimana tempat tuk menyendiri, eh, tunggu bukan menyendiri tapi berdua, soalnya Mas Farhan ikut.
Rina hanya tersenyum lalu mengangguk.
Farhan sengaja mengikutinya takut kalau Rina berbuat nekat.
"Mas, aku mau menyendiri tapi kamu ikut. Ini mah udah kayak truk gandeng," kekehnya membuat Farhan tersenyum tipis ada kelegaan melihat istrinya tersenyum lagi.
"Alhamdulillah ya Allah, istri hamba sudah kembali menjadi istri yang barbar kembali, hamba gak mau istri hamba menjadi istri yang kalem," ucapnya lebay bikin geli bila mendengarnya.
Rina mencubit perutnya, Farhan pun menjerit kecil ketika mendapatkan cubitan cap kepiting.
"Sayang sakit?" Ucapnya alay tapi kangenin.
Keduanya pun tertawa lepas seakan-akan beban yang berat hilang seketika,semoga penderitaan akan berakhir dan tak ada lagi yang mencemoohnya dengan kata-kata ajaib.
"Eh, ada Rina, mau kemana dua-duaan udah kayak truk gandeng," sapa Bu Wati dengan senyum lebar.
"Bu Wati bisa aja. Aku sama suamiku mau keliling di desa masih banyak kenangan indah yang belum dikunjungi sekalian biar suami tau," jawabnya bohong.
"Rina, Rina, ini beneran suami kamu," tanya Bu leha tetangga yang paling reseh suka ikut campur urusan orang lain. Mendingan es campur enak bikin adem lah ini, bikin gerah beasti.
"Iya Bu leha," jawabku dengan senyum yang aku paksakan ogah banget ladeni dirinya rasanya ingin aku tinggalkan kalau gak ingat dosa, untung aku orangnya baik hati dan pintar menghabiskan isi dompet. Hehehe.
"Masih berdua aja, masih betah," ucapnya dengan menyunggingkan senyum mengejek.
Maksudnya apa coba ngomong kayak gitu, masak bodi mau ngomong apa emang gue pikirin.
"Emm, kalau gak salah kalian nikah udah enam bulan ya, kalau gak salah tapi--"
Perkataan Bu leha menjurus ke sana aku paham apa yang beliau tuduhkan.
"Kamu tau Erna kan," ulangnya lagi.
"Tau, dia sudah nikahkan." Jawabku datar.
"Wah, suaminya si Erna hebat, nikah baru satu bulan bisa ngebuntingin, keren!" Puji Bu leha dengan mengacungkan jempolnya keatas.
Kenapa semua orang selalu memojokan dirinya yang belum hamil, kan aneh.
"Bu leha! Jangan suka ngurusin hidup orang mending tuh, urus anak perawan nya yang suka ganti ganti laki dan urus yang benar suaminya, tiap pagi sama malam selalu ada di rumah si Tati, kan Bu leha tau siapa Tati? Kalau gak tau saya kasih tau kalau si Tati janda kembang tanpa anak." Perkataan Bu Wati bisa membungkam mulutnya.
"Halah! Belain si Rina emangnya kamu dikasih apa sama dia." Marahnya sambil menunjuk ke wajah Rina.
Farhan yang melihat istrinya diperlukan seperti itu iapun memasang badan tuk membela istrinya.
"Bu, jangan suka mencela orang gak baik. Apalagi membanding-bandingkan dosa Bu, gak takut masuk kekubangan api?" Timpal Farhan kata-katanya yang mengandung makna seketika Bu leha diam tanpa sepatah katapun.
__ADS_1
"Rin, kalian lanjutkan pertualangannya, jangan pikirin orang yang kerjaannya nyiyirin orang, biarin bibirnya keseleo biar nyaho." Ujar Bu Wati dengan wajah judes menatap Bu leha.
"Wati! Awas ya kalau kamu kerumah minjam beras gak bakalan aku kasih."
"Hei, leha kebalik kali, yang tukang ngutang beras itu siapa? Yaitu kamu!" Balas Bu Wati.
"DIAM." Teriak Rina.
Keduanya pun menoleh kearah Rina dan menutup mulutnya rapat-rapat.
"Sudah tua, bukannya memberikan contoh yang baik. Malah ribut." Ketus Rina.
Rina menarik lengan Farhan dan pergi meninggalkan keduanya yang masih mematung udah kayak robot dipencet tombolnya langsung diam.
"Mereka aneh ya, Yang."
"Jangan di contoh."
"Siap bos." Farhan memberi hormat pada Rina.
"Ajudan gendong?" Renggeknya manja.
"Baiklah Tuanku, mau gendong depan, samping belakang atau atas." Farhan mengedipkan mata genitnya.
"Aku mau gendong depan boleh?" Ujarnya dengan cekikikan nahan ketawa, ternyata suaminya bisa ngelawak juga.
Grepp
Farhan menggendongnya di depan sudah kayak anak koala nemplok. Batang hidungnya ia gesek-gesekan di lehernya.
"Kecil-kecil cabe rawit juga ya? Lama-lama pegel juga ditangan," canda Farhan yang langsung mendapatkan jekpot cubit kepiting.
"Nakal juga ya?" Balas Farhan dirinya pun tak mau kalah dengan istrinya.
Farhan mengesek-gesekan hidungnya dengan hidung Rina. Keduanya tertawa lepas.
Bu Siti menatap ke arah samping di lihatnya Bu Leha tersenyum sinis.
"Ada apa Leha?" Tanya Bu Siti ramah.
"Teh, apa teteh gak malu sama warga sini," tanyanya membuat Bu Siti mengeryitkan keningnya.
Wah ini mah alamat palsu tanda-tandanya si Leha mau nyiyir lebih baik kabur daripada ngeladenin dia bisa-bisa stres, batin Bu Siti dengan cepat menghindari Bu Leha.
"Mau kemana, jawab dulu pertanyaan saya." Cetusnya sembari mengangkat dasternya yang hampir menyapu debu jalanan.
"Leha, Juleha, teteh mau kewarung mau beli sayuran jangan sampai suami teteh marah dan bawa golok kerumah teteh." Bohongnya.
"M-mau ngapain kerumah saya teh?" Jawabnya gugup. Wajahnya pucat pasi ada rasa takut, sebelumnya ia tak pernah melihat pak Ali marah bila itu terjadi gawat bisa-bisa tuh golok mendarat sempurna di lehernya, kan jadi serem.
"Ya, mau...."
"Mau apa Teh." Tangannya yang gemetar memegangi tangan Bu Siti.
Bu Siti menahan tawa, hatinya puas bisa mengerjai Bu Leha kapan lagi bisa ngerjainnya biar kapok dan mulutnya bisa mingkem.
"Teh."
"Mau, mau apa ya, udah ah teteh mau ke warung."
"Teh. Jawab dulu!" Teriaknya.
Bu Siti tak mengindahkan teriakan Bu Leha beliau terus berjalan menuju warung Mpok Titin.
Di warung Mpok Titin rame ibu-ibu berbelanja tumben sekali sudah siang masih rame biasanya juga sepi.
__ADS_1
"Teh Siti, baru belanja." Sapa Bu esih.
"Iya." Jawabnya cepat seraya kedua tangannya memilah mana yang mau di beli.
"Nah, ini yang dicari," sambungnya dengan mengangkat sebungkus ikan asin jambal roti.
Mpok Titin menautkan kedua alisnya, heran melihat Bu Siti membeli ikan asin, biasanya kalau belanja pasti yang di beli sayur asem, tumben sekali beli ikan asin.
"Teh, buat siapa?" Pertanyaan Mpok Titin mengundang perhatian para emak emak berdaster.
"Rina pulang sama suaminya, dia minta ikan asin jambal roti, tadi saya dari kebun belakang memetik daun singkong kata Rina gak lengkap kalau tebus daun singkong tanpa temannya." Jelas Bu Siti dengan senyum.
"Wah, pasti bawa oleh-oleh banyak dong, kira-kira kita kecipratan gak ya," goda ibu-ibu yang pake daster batik.
"Ah, bisa aja ibu-ibu ini, emang minyak nyiprat." Sahut Mpok Titin.
"Kalau mau oleh-oleh boleh mampir ke rumah." Sahut Bu Siti.
"Kemarin saya liat suaminya Rina, behhh meni kasep pisan. Saya juga sudah tua terpesona padanya," gelak tawa Bu Wiwin pecah.
"Teh, bilang sama mantunya ya, masih punya sodara cowok enggak. Kalau ada minta satu buat si Rosa." Celetuknya lagi mengundang tawa para emak emak.
"Minta, emang permen." Timpal ibu lainnya.
Seketika itu si warung Mpok Titin heboh gara gara kedatangan mantu Bu Siti yang ketampanannya mengalahkan opa-opa Korea.
Bu Siti hanya gelengkan kepala melihat kekonyolan para ibu-ibu berdaster.
"Ibu-ibu pada ngetawain apa? Kayaknya seru," timpal seorang wanita berpenampilan nyentrik bibir merah merona aduh, kayaknya habis makan darah ayam kali ya.
"Keppo." Sahut mereka kompak.
Ibu Tersebut menghentak-hentakan kakinya di lantai.
"Mau tau apa mau banget." Ledek Bu esih.
Ibu tersebut semakin geram dengan ledekan Bu esih.
"Mpok Titin, harga ikan asinnya masih harga lama, apa sudah harga baru," teriak Bu Siti.
"Masih yang lama." Sahut Mpok Titin.
Bu Siti memberikan uang kertas merah pada nya. Setelah transaksi selesai Bu Siti pun pamit pulang pada ibu-ibu disana termasuk wanita berpenampilan nyentrik ini.
Baru melangkah beberapa langkah tiba-tiba ibu tersebut berteriak memanggil namanya.
"Siti! Emang si Rina sudah nikah ya' kasian suaminya kalau istrinya mantan ODGJ." Teriaknya dengan setengah tertawa.
Deg
Bu Siti menoleh ke belakang dadanya bergemuruh amarah yang membuncah setelah apa yang beliau dengar apa katanya ODGJ?
Bu Siti berjalan dengan langkah lebar membuat semuanya menatap takut. Bu Siti kalau sudah marah serem juga.
"Halimah! Jaga mulutmu! Kamu boleh hina saya tapi jangan bawa-bawa anak SAYA." Ujarnya dengan napas terengah-engah enak saja mengatai Rina ODGJ. Dasar sableng.
"Emang iya nyata. Mau ngeles." Ucapnya tanpa dosa tak memikirkan hati orang tersebut berpikirlah sebelum mengucap
Apakah akan menyakiti orang tersebut atau tidak.
"Ih, Bu Halimah kalau ngomong jangan asal. Rina sekarang cantik banget apalagi pake hijab, pasti Bu Halimah menyesal sudah menolaknya jadi menantu." Bela Bu esih.
"Hei. Esih. Jangan ikut campur kamu ya," tunjuknya dengan geram.
"Kalian semua pada Taukan ,si Rina pas putus sama anak saya Jono. Dia berpenampilan kayak preman pake baju sama celana robek-robek apa itu bukan gejala ODGJ."
__ADS_1
"CUKUP HALIMAH. YANG ODGJ ITU JONO. ANAK KAMU. JANGAN MELEMPAR BATU SEMBUNYI TANGAN."