
"Ada tetangga baru, baru pindah kemarin ya Neng." Tanya pedagang sayur dengan senyum.
"Iya, Pak." Jawabku sambil memilah sayuran mana yang akan aku beli.
"Jangan panggil saya Bapak Neng, hidung mamang bisa merekah." Candanya.
"Mang Asep! Ada ayam enggak!" Tanya ibu ibu yang berbadan gembul menghampiri kami berdua karena hanya ada aku dan mamang sayur.
"Ada Ceu Entin. Mau berapa ekor," sahut mang Asep.
"Dua."
"Okeh." Mang Asep mengacungkan jempolnya keatas.
Setelah dekat yang namanya Ceu Entin menatapku dari ujung rambut hingga ujung kaki, dari kaki hingga ujung rambut tatapannya membuat risih dipandang seperti itu.
"Ada yang aneh sama saya Bu?" Aku bertanya pada nya.
"Neng yang namanya Rina, istrinya Mas ganteng itu?" Tanyanya dengan senyum lebar.
What! Dia bilang apa! Mas genteng? Awas aja kalau macam-macam denganku.
Aku mengganguk dengan membalas senyuman.
"Ibu tau suami saya?"
"Jelas dong Neng, kan, mas Farhan suka memborong sayuran saya!" Sahutnya mang Asep mantap.
"Ih. Mang Asep mah, suka nyamber kayak kompor meleduk." Timpal Ceu Entin mencebikan bibirnya kesal karena yang aku tanya dia bukan mang Asep.
Kini aku yang bingung, kenapa mereka kenal dengan mas Farhan? Dan. Untuk apa mas Farhan memborong semua sayuran mang Asep. Ada apa dengan semua ini.
"Maaf. Mang Asep sama Ceu Entin kenal suami saya? Dan, buat apa suami saya memborong semua sayuran mang Asep?" Tanyaku gugup ada rasa yang menyelinap di hati, kenapa mas Farhan tak pernah cerita tentang semuanya kenapa harus bohong, atau jangan-jangan dia...? Ah. Hatiku ingin berteriak sekencang mungkin.
Ceu Entin menyenggol lengan mang Asep dan menatapku penuh tanda tanya.
"Neng. Ngak papa? Neng istrinya Mas Farhan kan."
Lagi lagi aku hanya mengangguk pasrah. Lemas lunglai sudah tubuh ini. Pikiran ku kalut traveling ke mana-mana apakah Mas Farhan membagi cinta dengan wanita lain.
"Yang? Sudah belum belanjanya, Mas mau berangkat kerja. Kasian Rifa ditinggal sendiri di rumah." Suara mas Farhan mengejutkan ku.
"I-iya, eh, apa Mas." Jawabku kikuk.
"Mas, mau kerja. Cepetan belanjanya." Pungkasnya lagi dengan senyum.
"Eh. Ada Ceu Entin juga." Jawabnya gugup , menambah kecurigaan ku semakin kuat.
"Lho. Mas ganteng kok, wajahnya pucat gitu, sakit?" Tanya Ceu Entin.
Mas Farhan menatapku lalu menatap mang Asep dan Ceu Entin bergantian ada apa dengan mereka? Ah. Rasanya ingin aku mengamuk dan menghancurkan semua dagangan mang Asep, tanganku sudah gatal ingin baku hantam.
"Mas. Udah punya anak sama neng Rina. Yang onoh, udah hamil berapa bulan? Punya dua istri pada akur semua, pasti mas Farhan bahagia."
__ADS_1
Deg.
Apa-aapaan. Ini. Pagi-pagi buta sudah membahas poligami. Gila. Bikin mood ancur.
Anjirr! Kukira hatinya hanya untukku seorang ternyata terbagi. Sakit. Sakit. Sudah sakit disiram air garam dan perasan air jeruk pula, sakit, perih, itulah yang saat ini aku rasakan.
Mas Farhan semakin gelisah dan salah tingkah.
"Mas Farhan, apa ilmunya sih, mamang juga mau nambah lagi, tapi akur tentunya kayak Neng Rina sama Neng Nisa." Ceplosnya dengan menutup mulutnya.
Apa, nama wanita itu Nisa? Dia hamil? Pantas saja mas Farhan tak mempermasalahkan soal momongan denganku ternyata dia sudah punya istri yang sempurna. Tak terasa kedua sudut mataku mengembun.
"Mang, saya gak jadi beli sayuran nya. Saya mendadak kenyang." Ucapnya datar tanpa menatap mereka yang masih mematung.
"Mang Asep, Ceu Entin, saya kejar istri saya dulu."
Mang Asep dan Ceu Entin mengangguk.
Farhan mengejar Rina sampai rumah karena jaraknya dekat.
"Sayang, jangan dengarkan mereka. Ini salah paham." Elaknya dengan napas terengah-engah ngapain lari kayak rumah jauh aja, hanya sepuluh langkah dari rumah menuju tukang sayur mangkal.
"Oh. Jadi? Salah paham?" Jawabku datar setenang mungkin walaupun hati ini panas mendengar kata 'salah paham' ingin aku layangkan tinju mautku di wajahnya yang sok polos. Tapi takut dosa bagaimana juga dia masih sah suamiku dan belum tentu benar mungkin. Ini salah paham. Semoga saja.
"Kamu sering ngeborong sayuran mang Asep buat siapa? Siapa wanita yang bernama Nisa? Dan hamil anak siapa?" Aku berikan serentetan pertanyaan yang membuat dirinya bingung mau jawab yang mana dulu.
"I-itu,"
Oeek oeek.
"Lho, anak ibu sudah bangun? Kenapa? Berisik ya?" Aku bertanya dan menjawabnya sendiri pada bayi yang belum tentu dia menjawabnya.
Ku gendong dan ku kecup keningnya tak terasa air mataku menerobos keluar jalur tanpa aku suruh, andaikan pak polisi ada di dekatku maka aku akan menyuruh pak polisi menilang air mata ini. Dengan cepat aku susut agar mas Farhan tak melihat air mata ini.
"Rin?" Mas Farhan mendekat dan memelukku erat terasa hangat hembusan nafasnya di tekuk leherku.
"Jangan diamkan Mas, seperti ini, Mas lebih senang dengan kamu apa adanya. Pleas. Jangan berubah."
Aku membalikan badan dan menatapnya dengan tatapan biasa aja.
"Siapa yang berubah Mas, aku masih Rina yang dulu, tak berubah dari tubuhku semuanya masih original tak ada yang aku ganti. Bahkan kan rahimku semuanya utuh. Dan satu lagi. Aku tak suka di bohongi! Lebih baik aku gak dikasih THR daripada di bohongi tak dianggap ada."
Mas Farhan diam. Kutatap sekilas dia hanya tersenyum kecut. Tapi tak se kecut hatiku.
Rifa yang berada di perlukan ku tetap menangis, mungkin tau bila kedua orang tuanya sedang ribut.
"Anak Ayah jangan nangis ya, kasian ibu." Di usapnya kepala Rifa penuh kasih sayang.
"Iya. Nak, apalagi selama ini ibu di kibulli. Mendingan enak makan nasi kebuli." Senyumku pada Rifa. Rifa pun balik senyum ada rasa damai bila dekat Rifa.
Rifa bagiku bagaikan malaikat menyejukkan hati menyegarkan jiwa yang hampir layu dan setiap hari disiram oleh kebohongan.
"Mas, ini hampir jam delapan, kamu harus kerja untuk menghidupi dua keluarga. Kalau malas malasan kerja, kedua istrimu mau makan apa? Cinta? Hidup ini butuh uang tak butuh cinta. Cinta no sekian." Judesku dengan berlalu meninggalkan mas Farhan dikamar.
__ADS_1
"Keluarga ku hanya kamu dan Rifa tak ada yang lain." Bantah mas Farhan tak terima atas tuduhanku.
Lah, ngapain marah! Yang seharusnya marah itu aku bukan dia. Lucu deh. Sudah ketahuan ngeles lagi, kayak bajaj aja.
"Ada." Protesku.
"Siapa!" Mas Farhan meninggikan suaranya.
WOW. Suaranya indah sekali, hingga menerobos gendang telinga ku.
"Mama kamu, dan wanita itu."
"Rin. Kamu jangan pergi kita harus luruskan kesalah pahaman ini. Aku mohon." Mas Farhan Menganti panggilannya dari mas menjadi aku, kalau lagi marah mah suka khilaf.
Langkahku terhenti saat teriakan mas Farhan menggelitik telingaku, bikin gatal!
"Mas, apa yang harus diluruskan? Bukankah Mas sendiri yang sudah membelokan jalan lurus jadi bengkok, makanya jangan suka membengkokkan hati." Aku tak peduli mas Farhan mau marah mau apa suka-suka dia.
Aku keluar dengan mengendong Rifa.
"Sayang, waktunya kita berjemur," teriakku sambil tersenyum.
"Neng." Panggil mang Asep.
Aku mengeryitkan dahiku kenapa mereka masih disini, keppo apa gimana sih. Makin dongkol hatiku.
"Maafkan kita ya, Neng, bukan maksud kita untuk--"
"Gak papa, emangnya mamang gak keliling menjajakan dagangannya dan Ceu Entin juga gak masak buat anak suami. Kasian lho ayamnya kedinginan minta diselimuti kabut sama tepung." Sindirku tak lupa dengan senyum, senyum itu ibadah.
"Eh, iya Neng, kalau begitu kita pamit ya Neng." Ucap keduanya kompak.
Aku hanya mengangguk.
Ah. Segar sekali menghirup udara bebas setelah kedua orang itu pergi.
Rifa tersenyum sesekali ia menggeliat merengangkan kedua tangannya.
"Silau ya, hanya sepuluh menit aja kita berjemur nya, udah itu kita masuk terus minum susu," ucapku dengan memainkan jari-jari imutnya.
Semoga saja aku bisa cepat hamil, aku gak mau kalah dengan istrinya mas Farhan yang baru, apakah aku tak cantik lagi dimatanya, atau karena aku tak kunjung hamil juga, apakah itu bisa dijadikan alasan sedangkan di luar sana banyak orang orang yang menikmati hidupnya tanpa ada anak. Pantas saja aku ajak ke dokter Mas Farhan selalu menolaknya ternyata dia sudah punya istri yang lebih sempurna dari ku, lagi dan lagi air mata ini terjun bebas.
"Jangan cengeng dong, masa segitunya kamu mewek, aku harus tegar dan kuat." Ucapnya dalam hati.
Entah berapa lama aku dan Rifa berjemur hingga mas Farhan datang memayungi kami.
"Kok, gak panas, mendung apa," tanyaku pada Rifa posisi ku menunduk menatap wajah imutnya Rifa tak ada bosannya menatap Rifa seperti magnet yang menarik ku agar fokus pada Rifa.
Aku mendongakkan kepala keatas. Ternyata suamiku yang memayungi kami.
"Kita masuk, kasian Rifa kepanasan," ucapnya dengan senyum manis gak biasanya dia senyum seindah ini, apa mataku rabun kali ya, karena kejemur kelamaan.
Ih. Kalau aku gak ngambek tuh bibir udah aku sapu, huh, kesal tuh, bibirnya selalu mengejekku dengan senyum imutnya, hadeehh mendadak haredang gaes.
__ADS_1
Ck. Ogah banget, kan, bibirnya juga pasti udah di sapu sama si Nisa, ihhhh. Jadi kepingin nampol bibirnya mas Farhan.
Sapu apa tinju, argh! Galau dah! Kalau gak disapu rugi kalau disapu jijay.