
Di Surabaya.
Keluarga kecil bahagia wanita yang memakai gamis merah maroon menuntun anaknya yang baru bisa berjalan dengan perut buncit diperkirakan dia hamil muda membawakan makan siang untuk suaminya.
"Mas, makan siang dulu," teriaknya sambil melambaikan tangannya.
Yang di panggil menoleh dengan seulas senyuman.
Ya, dia Fatah dan Nisa mereka kini menetap di Surabaya demi menghindari teror yang sering pak Darwin lakukan terhadap mereka, Fatah tak mau ambil resiko rumah dan mobilnya ia jual tuk menghilangkan jejaknya. Fatah pergi tanpa pamit pada mamanya maupun adik-adiknya, hampir satu tahun Fatah tak memberi kabar pada keluarganya, demi melindungi anak istrinya Fatah rela berjauhan dengan mereka, terkadang bila malam tiba ia selalu teringat mama juga adik-adiknya hanya buliran bening yang keluar, ingin mengabari bahwa dirinya baik baik saja, seringkali ia urungkan niatnya untuk menelpon atau sms.
Kini Fatah menjadi juragan sayur, disini dia dan keluarganya membeli rumah dan sawah, awalnya ia hanya mempunyai modal sedikit itupun sisa beli rumah, motor juga sawah, tak di sangka nasib seorang bisa berubah. Fatah menjadi orang sukses walaupun bukan di bidang perkantoran.
"Abi" Teriak Kinanti putri pertamanya gadis cantik dan mengemaskan.
"Anak Abi ikut kesawah?" Tanyanya sambil mencium pipi gembilnya bertubi-tubi.
"Kok, dedek bayinya enggak di cium," timpal Nisa yang masih berdiri dengan tangan menenteng rantang berisi makan siang buat Fatah.
"Ada yang cemburu nih," jawab fatah, ia berdiri dan
Cup cup.
Fatah mencium perutnya yang mulai membesar.
"Umi gak di sun," judesnya dengan meletakan rantang di gubuk yang ada di tengah-tengah sawah.
"Ck. Anak sendiri di cemburui."
Cup cup cup cup
Beberapa kali Fatah menciumi pipi nya hingga basah.
"Abi! Ih! Jorok!" Sungutnya kesal karena wajahnya basah karena ulah Fatah.
"Siapa suruh mau di cium. Wleee." Ledeknya membuat Nisa menghentakkan kakinya di rumput.
Fatah tak memperdulikannya ia dan Kinanti asyik membuka rantang berisi nasi juga lauk.
"Wah, ada rendang jengkol!" Serunya matanya binar melihat rendang jengkol.
Hello! Itu bukan rendang sapi, heboh nya liat jengkol.
Fatah membuka rantang satu persatu kini ia mengambil piring lalu menuangkan nasi kedalam piringnya Fatah bahagia dengan menu makan siang yang di bawakan istri tercinta.
"Yang, gak ikut makan," tanyanya tanpa menolehkan wajahnya.
Nisa masih ngambek dia gak mau makan hanya suara hentakan kakinya.
"Yang, kamu kebelet pipis?" Selidik Fatah dengan mulut penuh.
"Umi, lagi senam jumba?" Tanya si cantik biarpun usianya masih terbilang bocil tapi gaya bicaranya kayak orang gede.
"Hahaha!" Fatah tertawa hingga nasi didalam mulutnya muncrat keluar.
"Iya nak, umi lagi senam mangkel." Ia tersenyum kecut.
__ADS_1
"Umi sayangnya Abi, ngapain panasan? Mau senam mah, ntar ashar. Sini berteduh, Abi gak mau liat umi gosong, kebakar sama sun." Farhan menunjuk matahari yang sedang memancarkan sinar panasnya.
Nisa terisak, "huaa...punya suami gak peka. Huaaa...." Tangisnya malah menjadi jadi mau gak mau Fatah menghentikan makan siangnya itu.
Ia melompat dan memutarkan tubuhnya.
"Umi di gigit apa, mana yang sakit! Biar Abi tiupin."
"Nih, disini sakitnya! Huaaa." Nisa menunjuk dadanya.
"Itumah bukan di tiup lagi, tapi di--"
Plakk.
Belum sempat melanjutkan ucapannya keplakan Nisa mendarat duluan di lengannya.
"Umi sama Abi berantem?"
Nisa tersenyum mengeleng mendengar celotehan Kinan.
"Jangan mencontohkan yang gak baik," bisik Fatah di telinganya.
Nisa melotot tak terima dengan ucapan suaminya itu.
Setelah beberapa ada drama queen, akhirnya Nisa luluh juga saat Fatah menggendongnya.
"Ini tempat umum Mas, Mbak, bukan tempat pribadi kalian." Seru wanita yang berparas pas-pasan.
"Emang ini sawah, pasti banyak orang yang kerja di sawah. Aneh kamu!" Ejek fatah.
"Siapa bilang ini kuburan! Saya hanya mengingatkan kalian berdua, mau mesraan jangan disini, gak malu di lihatin anak sendiri!" Ujarnya dengan bibir terangkat ke atas.
"Apa saya gendong kamu gitu!" Imbuhnya lagi membuat Nisa sebal cubitan kepiting pun mendarat di perutnya yang buncit, dulu saat Nisa hamil anak pertama perutnya masih kotak kotak, lah, sekarang udah udah buncit saja mau saingan kali sama Nisa.
"Mbak Tarti, darimana mau kemana?" Tanya Nisa.
"Kamu nanya, bertanya-tanya. Keppo!" Itu orang benar-benar minta dikuncir itu bibir.
Gak dimana-mana pasti ada aja orang yang nyiyir tak suka sama kita, apa salah Nisa ia tak pernah usil ngurusin hidup orang lah, dia! Aduh? Capek deh, ngadepin manusia macam dia.
"Jangan diladenin ntar anak kita mirip dia, ih, serem Abi gak mau punya anak kayak dia, culametan suka ngurusin orang." Bisik Fatah tepat di telinganya.
"Amit-amit deh," Nisa mengelus perutnya.
***
"Abi, makan malam sudah siap." Teriak Nisa yang sedang menata piring dan gelas.
"Iya umi!" Jawab Fatah sambil menggendong Kinanti.
"Kinan mau makan?" Tanya Nisa lembut menatap wajah Kinan yang seperti nya ngantuk.
Kinan gelengan kepala.
"Mau nemenin Abi sama umi makan," tanya Nisa lagi.
__ADS_1
Kinan menganggukkan kepalanya.
Usai makan Fatah mengajak putrinya nonton film kartun sedangkan Nisa membereskan sisa makanan dan mencuci piring setelah selesai iapun ikut nimbrung nonton film kartun.
Fatah tertawa namun dibalik tawanya tersimpan rasa rindu pada mama Leni, sudah satu tahun ia tak menanyakan kabar masing-masing.
Nisa menatap wajah sendu suaminya, Nisa menyalahjan dirinya lah sudah membuat Fatah menjauh dari mama dan istri pertamanya. Nisa memutuskan untuk masuk ke kamar baru satu langkah Fatah manggilnya.
"Umi, sini, kita temani Kinan nonton, jangan langsung tidur gak baik kan, baru makan." Fatah mengingatkan dirinya.
Nisa hanya mengangguk dan berjalan menghampirinya.
"Duduk dekat Abi, bersandar juga boleh." Fatah menepuk-nepuk karpet permadani di sampingnya.
Nisa pun duduk dekat suaminya di sandarkan kepalanya di bahu Fatah. Terdengar helaan napas panjang dan berat. Fatah membelai pipi Nisa yang ternyata sudah basah.
"Kamu nangis?"
"Aku sedih Abi, sudah menjauhkan kalian semua, aku jahat, seandainya waktu itu aku menolak Abi menjadi suamiku pasti sekarang ini Abi berkumpul bersama keluarga Abi, maafkan Nisa Bi." Air matanya menetes membasahi bahu Fatah.
"Hei hei, ini bukan salah kamu, ini sudah takdir jangan saling menyalahkan." Fatah membingkai wajahnya yang sembab karena menangis.
"Bi, kalau mau ke Bandung, umi gak akan pernah melarang Abi bertemu mama adik-adik Abi dan--"
"Dan apa."
"Istrinya Abi, Mbak Risa."
"Risa bukan lagi istri Abi, karena Abi sudah kirimkan surat cere sebelum kita pindah ke sini."
"Tapi?"
"Tapi apa?" Fatah balik bertanya.
"Gimana kalau Mbak Risa gak mau cere sama Abi." Ada rasa takut menyelimuti hati khawatir suatu saat nanti Fatah kembali lagi pada Risa.
"Itu terserah dia, yang penting Abi sudah gugat dia ke pengadilan agama. Istri Abi hanya satu yaitu umi, cinta pertama dan terakhir. Sudah hapus air matanya kasian dedeknya stres."
Nisa menyusut kedua sudut matanya mendengar dirinya lah istri satu satunya membuat Nisa tersenyum manis. Hatinya berbunga-bunga dipenuhi oleh kupu kupu.
"Mi, Abi boleh nengokin dedek nggak? Boleh ya ya?" Fatah menangkupkan kedua tangannya untuk memohon.
"Boleh, tapi pelan-pelan kasian dedek nya kena guncangan buatan." Nisa tersenyum malu-malu.
"Yes!!"
Fatah heboh jingkrak-jingkrak kayak anak kecil yang mendapatkan mainan senangnya bukan main saat keinginan nya di setujui oleh Nisa, sudah dua purnama dia puasa, kini dia akan jap jip jup senang sudah tak terkira.
"Abi?" Kinanti terbangun dari tidurnya saat mendengar teriakan abinya.
"Hahaha, gak jadi jap jip jup nya dong? Satpamnya sudah bangun." Nisa tertawa lepas membuat Fatah mendengus sebal menatap wajah istrinya yang mengejeknya.
Mana si Udin sudah menegang minta di hangatkan eh, malah satpam bocilnya bangun.
"Umi, gimana sama si Udin? Dia sudah bangun." Fatah menunjuk ke arah bawah perutnya.
__ADS_1
"Di tidurin lagi Bi, tunggu satpamnya tidur lagi."
Fatah garuk-garuk kepala mau marah juga percuma kan, Kinanti anaknya sendiri, lagian teriak-teriak heboh bangunkan dia, sabar Abi, tunggu subuh.