Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 35


__ADS_3

Kami semua akan kerumah mama karena Mbak Septi akan mengadakan syukuran empat bulanan, gak terasa kehamilan Mbak Septi sudah memasuki empat bulan aja. Aku menolak ajakan mas Farhan, namun mas Farhan masih saja ngotot untuk aku ikut.


Sebenarnya aku malas kerumah mama pasti ujung-ujungnya hatiku akan tersakiti oleh ucapan secara langsung maupun sindiran. Untuk menghargai ajakan suami mau gak mau aku harus ikut dan terutama siapkan mental lahir batin.


"Hore! Riri mau kerumah Oma dan ketemu Tante Septi dan om Fahmi, " ucap Rifa berceloteh riang.


"Riri senang?" Tanya mas Farhan.


Gadis cantik yang memakai gamis warna abu tersenyum bahagia karena akan bertemu dengan Omanya, maklum sudah dua Minggu Rifa tak bertemu mama, semenjak kejadian itu mama tak bersemangat untuk kemana-mana katanya sih, mau jagain rumah, hadeh? Rumah dijagain gak mungkin dong, maling mau pindahin rumah. Mama ada-ada saja.


"Bu! Cepetan! Riri kangen berat sama Oma!" Teriaknya yang sudah duduk di bangku belakang.


Ini anak kalau mau kerumah Oma-nya pasti harus cepat.


"Iya, Nak, Ibu mau kunci rumah dulu," jawabku setengah berteriak.


"Sudah. Yuk, berangkat." Ajakku pada mas farhan ia mengangguk dan melajukan mobilnya dengan kecepatan sedang.


Karena rumah aku dan mama tidak terlalu jauh jadi kami sampai di rumah mama, para tamu sudah ramai saja, keluarga Mbak Septi sudah ada semua termasuk om Darwin dan Bu Sopia mereka juga ada, pasti Mbak Risa yang mengundangnya juga.


"Ibu, gak turun?" Rifa mengagetkan ku yang melamun ragu tuk masuk, apalagi di sana sudah ada orang-orang yang selalu mencibir kekurangan ku.


Mas Farhan membukakan pintu mobil dan menggenggam tanganku erat.


Mas Farhan tersenyum mengangguk. Akupun keluar dari mobil dengan kakiku gemetar padahal ini bukan yang pertama buatku, aku sering mendapatkan jekpot dari keluarga Mbak Risa, Mbak Septi bahkan mertuaku sendiri tapi kali ini hatiku sungguh-sungguh berat seperti kaki ini diikat dengan rantai yang beratnya berton-ton.


"Lama sekali Bu, ayok masuk!" Rifa menggoyangkan tanganku. Anak ini gak sabaran banget, gak tau kalau ibunya grogi kayak mau dilamar pacar saja. Keringat dingin membasahi keningku bukan lagi panas dingin tapi tubuhku juga dingin seperti es yang bersalju.


Dengan gontai aku masuk ke rumah Rifa sudah lebih dulu masuk.


"Oma!" Teriak Rifa dengan merentangkan kedua tangannya minta di gendong.


Mama yang sedang asyik ngobrol bersama ibu-ibu sosialita menolehkan kepalanya dan menatap sinis kearah Rifa.


"Sebentar ya jeng," mama Leni pamit pada geng sosialitanya, mereka mengangguk


"Mana ayah kamu," tanyanya tanpa memeluk tubuh putriku.


"Itu Oma," tunjuknya dengan senyum manis.


Mama meninggalkan Rifa yang masih mematung di tempatnya, belum apa-apa mama sudah menunjukan ketidak sukaanya pada Rifa, beliau pura-pura baik bila ada maunya tapi sekarang saat mama berkumpul dengan kedua besannya seakan-akan tak mau lagi dekat sama Rifa.


Mama menarik mas Farhan entah mau diajak kemana. Aku yang berdiri di samping mas Farhan tak di sapanya, sakit hatiku.


Bila hatiku yang tersakiti tak mengapa asal jangan ambaikan Rifa dia masih kecil belum tau apa-apa, sekarang ini aku ingin membawa Rifa pulang bila tak kasian sama mas Farhan tak dianggap menantu tak apa aku bisa menahannya tapi masalah anak hati ini sakit, sakit. Malam ini aku tau sifat aslinya seakan akan aku tak dibutuhkannya lagi.

__ADS_1


"Rifa Sayang, kok malah berdiri di situ," tanya mas Fahmi dengan membelai lembut pipinya.


Rifa merapatkan bibirnya dengan menggelengkan kepalanya.


Mas Fahmi kini menatap ke arah ku.


"Kalian marahan, jauh-jauhan kita gabung sama mereka," tunjuk mas Fahmi kearah keluarga besar sedangkan bercanda gurau.


Aku hanya mengangguk dan tersenyum lalu berjalan menuju ditempat dimana mereka kumpul.


Kutatap wajah sendu Rifa tak ada keceriaan di wajahnya, biasanya dia akan berceloteh riang tentang apa yang ia katakan namun hari ini Rifa banyak diam, ditawarin makan minum kue dan mainan ia akan menolaknya. Mas Fahmi maupun mas Farhan merasa heran melihat perubahan sikapnya.


Mulai deh.


Para geng sosialitanya mama kasak kusuk saling melirik kearah ku, mulai tak nyaman dengan situasi dan kondisi seperti ini.


"Jeng Leni, ini anaknya Farhan cantik ya, kok, gak mirip dengan Farhan? Apalagi ibunya."


Mama tersenyum hambar lalu mengalihkan pembicaraan dengan menawari makanan yang tersedia di meja.


"Jeng Ambar, di makan dulu kuenya di icip-icip gitu."


Mama berjalan menuju meja besar yang berisi beraneka macam makanan.


"Eh, ada si cantik, sini ponakan Tante," mabuk Septi melambaikan tangannya dan senyum lebar.


"Tante, kapan dedeknya lahir," tanya Rifa kedua tangannya mengelus perutnya yang mulai membesar.


"Jeng Leni, selamat ya, udah mau punya cucu lagi, cucu yang ini cucu ketiga ya?" Tanya seorang wanita berpenampilan modis.


"Cucu kedua saya jeng, yang pertama anak Fatah yang kedua anak Fahmi."


Jleb. Bagaikan pisau belati yang menancap di ulu hati sakitnya tak akan pernah sembuh sampai mati. Kata-kata mama sungguh kejam menyakitkan hati, Rifa wajahnya murung kembali setelah apa yang ia dengar, tak di akui sebagai cucunya.


"Ibu!" Rifa berlari menuju ke arahku sambil menangis.


Aku tersenyum pura-pura tak mendengar ucapan mama pada temannya.


"Anak Ibu kenapa nangis? Bukannya senang ya bisa ketemu Tante sama Oma."


"Pulang!" Ia sesegukan dengan memelukku.


Ku usap punggung nya aku merasakan apa yang Rifa rasakan. Anak kecil pun tau bila di abaikan begitu saja oleh neneknya.


"Bentar lagi ya, ayah juga belum keliatan," bujuk ku.

__ADS_1


Ia menggeleng cepat.


"Riri gak mau disini, mau pulang!"


Kupeluk tubuhnya yang mungil ku kecup keningnya berulang kali, berusaha menenangkannya. Rifa terus saja berontak, mas Farhan kemana saja dari pertama datang sampai saat ini gak kelihatan.


Karena Rifa berontak aku gendong agar diam, Rifa menangis tanpa suara.


"Ibu, Rifa bukan anak ibu sama ayah?" Pertanyaan nya membuat kedua sudut mataku mengembun, ya Allah aku harus jawab apa, dadaku sesak tubuh lemas tak sanggup untuk menopang bobot tubuhku.


"Siapa bilang Nak, kamu anak ibu dan ayah selamanya," jawabku dengan suara terbata-bata.


"Kamu itu memang bukan anaknya ayah Farhan dan Rina, kamu itu anak har*m, anak pungut! Yang di pungut dijalanan." Timpal Bu Sopia mamanya Mbak Risa.


Orang tua macam apa yang berani menyakiti perasaan seorang anak balita dengan ucapan yang tak pantas beliau lontarkan.


"Cukup Bu Sopia. Tak pantas Anda bicara seperti itu pada anak saya?" Pekik ku membuat semua orang menatap kami.


Aku masih bisa diam, kenapa Bu Sopia tega berkata seperti itu, kalau bukan orang tua sudah aku cakar-cakar wajahnya, aku masih ingat dosa. Berulangkali aku mengucapkan istighfar kunci meredam emosi.


"Heh! Beraninya kamu berkata kasar pada mama ku hah!" Mbak Risa menjorokanku kebelakang hingga aku mundur dua langkah.


"Aku takkan berkata kasar bila mama kamu tak menghina anakku. Siapapun itu pasti tak terima bila anaknya di katakan seperti itu, biarpun Rifa tak terlahir dari rahim ku apa harus di caci maki dihina! Andaikan Rifa bisa memilih dia juga tak mau terlahir sebagai anak yang terbuang! Dan satu lagi, apa aku salah bila mengadopsi Rifa sebagai anak? Pantas saja mas Fatah meninggalkan kamu, wanita culas berhati ibl*s!" Aku memekik tak tahan dengan semua hinaan dari mereka.


"Set*n! Kamu Rina!" Bentaknya dengan maju satu langkah dan.


Srekk.


Mbak Risa menarik kerudung ku hingga rambut panjang ku terlepas dari ikatannya. Untung saja Rifa yang masih aku gendong tak jatuh ke lantai.


Semua orang memandang kami layaknya sebuah tontonan gratis yang patut di tonton.


Aku tak terima, ku turunkan Rifa agar menjauh, ku keluarkan jurus jitu, kutarik tangannya dan ku pelintir kan kebelakang hingga dia mengaduh kesakitan.


"Elo, ngatain gue set*n, elo biangnya set*n! Ibunya demit. Ini rasakan," aku cakar-cakar wajahnya hingga meninggalkan bekas cakaran yang memerah.


Bugh.


Punggungku di pukul dari belakang, ku menolehkan kepala kebelakang , ternyata om Darwin memukul ku begitu keras sehingga aku susah bernapas.


"Beraninya kamu bicara seperti itu. Dasar anak kampungan miskin mandul lagi! Tak pantas untuk Farhan enyah dari sini." Om darwin menampar pipi kananku.


Kenapa semua orang hanya diam saja menyaksikan orang yang disakiti di depan mata tapi tak seorang pun yang melerai.


Mbak Risa menyunggingkan senyum piciknya.

__ADS_1


Tangan besar om Darwin melayang keudara ingin menamparku lagi tapi tiba-tiba sebuah tangan menahan tangannya yang terayun kearah wajahku.


"Hentikan Om, jangan pernah menyakiti anak istri saya!"


__ADS_2