
"CUKUP HALIMAH. YANG ODGJ ITU JONO. ANAK KAMU. JANGAN MELEMPAR BATU SEMBUNYI TANGAN. KAMU HALIMAH." Teriaknya sambil menjambak rambutnya kasar.
Seketika wajah bu Halimah merah menahan malu, malu yang luar biasa apalagi Bu Halimah di perlakukan seperti itu, rambutnya yang ia Gelung harus terurai tak karuan, seluruh warga kampung jeruk tau bila anaknya Jono sakit jiwa gara gara tak jadi menikah dengan Rina. Dari dulu Rina memang berpenampilan tomboi kenapa dipermasalahkan oleh Bu Halimah? Dirinya juga tau tentang itu, lalu? Masalah buat loh.
"Bu Halimah! Si Rina mah, dari jaman orok dia emang udah tomboi, benar kata teh Siti . Kalau si Joni lah yang stres." sahut Mpok Titin membela Bu Siti.
"Iya, kemarin saya ketemu si Jono ngomong sendiri sambil tertawa ngakak. Pas aku tanya kenapa, dia jawab, katanya si Rina mau punya anak lima gitu jawabnya." Timpal dini anaknya Mpok Titin.
"Yang benar Din." Tanya ibu lainnya.
Dini anaknya Mpok Titin anggukan kepala.
Halimah menyesal beribu-ribu kali menyesal sudah mampir di warungnya Mpok, wajahnya kini merah padam menahan emosi juga amarah tak di sangka kalau cibiran itu akan berbalik arah padanya dan melukai hati nya sendiri, Bu Siti hanya tersenyum melihat wajah Halimah merah padam.
Bu Siti bukan senyum penuh kemenangan tetapi senyum sedih melihatnya yang di pojokan terus oleh mereka. Seandainya Halimah tak memulainya ini semua tidak akan pernah terjadi.
"Ibu-ibu sudah jangan memojokan Bu Halimah gak baik, sudah bubar. Bagi yang sudah belanjanya," ujar Bu Siti.
Tanpa bersuara Halimah pergi dengan tergesa-gesa ada rasa kecewa pada semuanya niat hati ingin menghina Bu Siti dan dibela mereka justru dirinya lah terjebak dalam situasi yang di buatnya, ibarat nasi sudah menjadi bubur tak akan pernah bisa kembali utuh.
Brakk.
Pintu terbuka kasar saat sang empunya membukakan. Pak Ali yang melihatnya pun menghampiri dan bertanya.
"Kenapa Bu, pulang dari warung wajahnya ditekuk gitu," tanya pak Ali.
Huff, terdengar helaan napas berat dari Bu Siti, ditatapnya wajah pak Ali yang tersenyum manis padanya.
"Ini semua gara gara Bapak!" Ketusnya dengan melempar ikan asin jambal roti ke atas meja.
"Loh! Kok, gara gara Bapak, emang Bapak salah apa sama ibu, sampai ibu segitunya dan ikan asin jadi korban kekerasan." Sanggahnya.
"Kalau bukan karena Bapak lalu siapa yang harus ibu salahkan." Sewot nya lagi sampai sampai napasnya engos-engosan.
"Ibu, duduk dulu. Terus cerita sama Bapak," jawab pak Ali dan mendudukkan Bu Siti di bangku kayu yang ada di meja makan.
"Pak! Pak. Kenapa sih! Bapak punya mantan kayak Halimah! Emang disini gak ada wanita yang lebih baik,cantik gitu! Sampai-sampai pilihan bapak jatuh sama dia!"
"Astaghfirullah? Ibu? Ibu marah-marah gara gara ketemu Halimah?"
"Iya!" Judesnya.
"Cieeee, ada yang cemburu."
"Ali Surahman! Ibu gak cemburu sama dia!" Pekiknya dengan berkacak pinggang.
__ADS_1
"Lalu?"
"Huh! Lalu-lalu! Lalu lintas!" Ucapnya tanpa menatap wajah pak Ali.
"Udah sih, Bu jangan diladeninya, sama aja gi*a Bu, yang waras ngalah Napa." Tukasnya yang masih menatap wajah istrinya kalau lagi marah marah kelihatan cantiknya.
Bu Siti mendengus sebal pada suaminya.
"Bapak makin cinta deh, sama Ibu, apalagi di cemburui ternyata ibu paling tinggi dihati Bapak." Dipeluknya erat-erat tubuhnya.
"Cieeee, ada yang lagi peluk peluk cium," suara cempreng milik Rina mengagetkan keduanya.
"Rina!" Jawabnya cepat dan kompak.
"Cieeee, kompakan lagi. Aku yang masih muda gak gitu-gitu amat." Manyunnya.
Pak Ali melerai pelukannya dan menatap ke arah anak menantunya, Bu Siti tersenyum malu ketahuan anaknya.
"Mas, tadi kayaknya ada yang marah-marah gitu," sindirnya membuat ibunya mengerutkan keningnya heran kok, anak menantunya bisa mendengarnya sejak kapan mereka berdua nguping.
"Rin." Panggil Farhan saat keduanya berada di dalam kamar.
Rina pun menolehkan kepalanya ke belakang seraya membuka hijabnya.
"Apa?"
Rina hanya tersenyum di kedua matanya sepertinya dia tidak mau pulang cepat-cepat apalagi di kota Bandung dirumah suaminya pasti ada mama mertuanya. Bikin males pulang namun Rina harus pulang dan ikut suaminya. Maubtak mau harus pulang.
"Kalau kamu masih betah di sini, gak papa kok, biar Mas yang pulang. Gak enak juga sama bos. Udah di kasih cuti dua Minggu masa lusa gak ngantor."
"Aku pulang, ikut kamu lah. Dimana ada Farhan disitu ada Rina." Jawabnya dengan senyum.
"Senyumnya juga gak ikhlas, jangan dipaksakan gak papa kalau mau disini dulu, mas tau kok, bila kamu dirumah pasti di omelin sama mama mbak Septi dan Mbak Risa maaf." Ucapnya dengan menundukkan kepalanya menatap lantai.
"Maaf, untuk apa? Aku bahagia sama kamu, soal hinaan yang selalu mama lemparkan aku anggap hanya angin lalu saja. Dengan seiring waktu insyaallah mama akan menerima aku sebagai menantunya, menantu kesayangan nya." Ucapnya yang penuh harapan semoga terkabul tak akan ada yang tak mungkin bila yang mahakuasa berkehendak pasti terjadi.
"AMIN."
Farhan mengaminkan doa Rina dan kedua tangannya mengusap wajahnya.
"Rin."
"Apa sih Mas, dari tadi ran Rin terus, ada yang mau dibicarakan," Rina menempelkan wajahnya dipundak Farhan.
"Mas, minta maaf belum bisa menjadi suami yang baik buat kamu." Terdengar helaan berat, sebenarnya Farhan tau bila istrinya tertekan dengan sikap mamanya, yang selalu membandingkan Rina dan kedua menantu yang lain. Kerap terdengar kata-kata yang tak pantas dari mulutnya.
__ADS_1
Rina kerap sekali dibilang anak preman, anak tak makan bangku sekolah wanita tak berkarir tak punya kepintaran.
Bila mamanya mengatakan Rina anak tak makan bangku sekolah maka Rina akan menjawabnya yang membuat semua orang tertawa.
"Farhan, Farhan, cari istri yang berpendidikan tinggi berkarier ngapa, lah ini nyari yang model gini, di lihat dari segi manapun tetap saja gak berubah mau kamu pakeiin dia baju brand tetap aja kampungan, gaya berpakaiannya juga kayak preman. Dan satu lagi dia hanya lulusan SMA sama aja gak makan bangku sekolah." Ucap mama saat itu, saat aku dan Rina datang ke rumah.
"Emang Mama dulu makan bangku sekolah?" Tanya Rina.
"Ya, iyalah! Saya sekolah dari TK sampe kuliah." Jawabnya dengan bangga.
"WOW." Kedua bola matanya mbulat sempurna mirip tahu bulat. "Berapa banyak bangku sekolah yang Mama makan," tanyanya lagi.
Mama yang merasa dirinya paling benar dengan jumawa mama menepuk dadanya.
"Saya makan bangku sekolah habis lima." Pungkasnya mengejek Rina hanya tamatan SMA dan tak punya pekerjaan tetap selain pedagang asongan.
Prokk, prokk.
Tepuk tangan Rina menggema di ruangan ini, keempat Kakak ku menatapnya penuh tanda tanya.
"Hebat ya Mas, mama bisa memakan bangku sekolah sebanyak lima kali, patut dicoba dan acungkan jempol." Ucapnya dengan berpikir.
"Jangankan satu bangku aku makan, secuil pun aku sudah nyerah, apalagi kalau bangkunya terbuat dari kayu jati pilihan, bisa rontok gigiku," jawabnya polos. Aku dan kakakku menahan tawa atas jawaban dari Rina kedua kakak ipar ku cekikikan nahan ketawa dengan memegangi perut nya. Sedangkan mama menatap Rina penuh kebencian ada kilatan amarah yang membuncah.
"Ma, jangan tatap aku seperti itu, aku takut?" Jawabnya lebai sumpah demi demi mie ayam semangkok, kalau ketawa takut dosa kalau gak ketawa rugi, menahan tawa membuat perutku sakit seperti ada yang ingin keluar, entah itu apa dan akhirnya.
Brooot.
Suara aneh dan berbau keluar dengan lancar tanpa hambatan, dua insan yang saling menjatuhkan terdiam seketika keduanya sibuk memegangi hidungnya yang kebauan atas gas yang aku keluarkan.
"FARHAN." Maki Mama dengan mata melotot seakan-akan aku mau dimakan hidup-hidup.
"Maaf." Aku menangkupkan kedua tanganku dengan wajah memelas
"Ih. Mas. Bau tau!" Rina tak kalah marahnya sambil menutup hidungnya.
Lagian mereka berdebat masalah bangku segala kan, mama jadi kalah telak, yang malu siapa, mama sendirian? Ingin aku ucapkan pada Mama, sayangnya aku gak berani takut tak mencium surganya Allah.
Sangking asyiknya membayangkan kejadian beberapa bulan lalu, tiba-tiba saja Rina menepuk-nepuk bahuku, ah, jadi ambyar.
"Ngebayangin apa sih, senyum-senyum sendiri," terlihat jelas bahwa dirinya heran merasa aneh melihat aku yang senyum-senyum.
Aku hanya gelengkan kepala.
"Kalau gak dijawab itu artinya Mas sedang membayangkan lagi main sama cewek lain. Bila itu benar aku sumpahin terongnya layu selayu-layunya tak berfungsi," sumpahnya membuat diriku merinding bila sumpah nya nyata aku rugi, gak bisa bercocok tanam lagi.
__ADS_1
"Mas gak mikirin cewek lain."
"Lalu!" Selidiknya dengan menatapaku dari atas sampai bawah, ditatap seperti itu nyaliku menciut juga. Perempuan mah maha benar, mau salah juga tetap benar selalu terdepan, bapak-bapak mah selalu ngalah selalu di nomer duakan. Ceritanya Mas Farhan curhat nih.