Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part. 7


__ADS_3

Setelah makan malam Farhan langsung menuju kamar perut kenyang kantuk pun datang.


"Yang, Mas kekamar duluan ya, Mas, ngantuk," ucapnya dengan loyo.


Ih. Punya suami loyo amat, gimana kalau kerja macul di sawah bisa-bisa gempor gak bisa jalan.


Aku hanya mengangguk dan terus mencuci piring.


Cucian piring beres kini waktunya aku menyusul suamiku kekamar pastinya mau tidur dong, capek seharian nyari belut seluruh tubuh pegal-pegal butuh istirahat.


"Rin. Gak nonton dulu," tanya Bu Siti.


"Rina ngantuk Bu, mau tidur aja. Rina duluan tidur ya Bu, Pak," pamitnya.


"Iya." Ucapnya serempak dengan senyum.


Ceklek pintu kamar dibuka oleh Rina, ditatap wajah suaminya yang sudah terlelap tidur.


"Perasaan baru masuk udah tidur aja. Katanya mau usaha, eh malah bobok ganteng." Cemberutnya dengan tangannya membelai pipi Farhan.


"Udah deh, kalo tidur aku juga mau nyusul kamu Mas kedalam mimpi," lirihnya lalu merebahkan tubuhnya di samping Farhan.


Suara ngorok membuat Farhan terbangun.


"Siapa sih, yang ngorok? Mana suaranya mirip mesin cuci lagi," Farhan mencari sumber suara tersebut.


Kok suaranya dekat banget? Hah? Matanya terbelalak melihat Rina tidur dengan posisi mangap.


"Ini anak bisa-bisanya tidur kayak gini. Perasaan kalau di rumah dia tidurnya kalem gak acak kadut, apa karena dikandang sendiri jadi bebas mau ngapain aja." Herannya tak habis pikir Rina bisa berubah sewaktu-waktu udah mirip bunglon aja.


Diliriknya jam dinding yang bertengger di tembok masih menunjukan pukul setengah dua malam.


"Yang, bangun kita shalat tahajjud, semoga doa kita dikabulkan." Bisiknya tepat di telinganya.


"Emang jam berapa?" Tanya Rina dengan mata terpejam.


"Setengah dua."


"Masih lama, sejam lagi biasanya juga jam tiga."


"Ihh. Susah banget ya, kalau disuruh bangun."


"Mas duluan aja, ntar aku nyusul." Ucapnya dengan menarik selimutnya lagi.


Farhan hanya tersenyum dan iapun ikut masuk kedalam selimut tebal bisa menghangatkan tubuh keduanya apalagi cuaca di kampung udaranya dingin.


"Pagi Bu, masak apa," tanya Rina.


"Lagi buat bakwan udang kesukaan kamu," sahut Bu Siti.


"Bu."


Bu Siti menatap anaknya heran.

__ADS_1


"Apa Rin."


Rina menarik napas panjang sebelum bertanya.


"Dulu waktu Ibu menikah sama bapak, pas hamil memasuki bulan berapa." Tanyanya dengan senyum kecut. Soalnya dia sudah mau enam bulan gak Tek dung Tek dung.


Bu Siti membelai rambut yang berbalut hijab, beliau tau apa yang dirasakan Rina anaknya.


"Bu, jawab!" Desak Rina yang tak kunjung jua mendapatkan jawaban dari ibunya.


"Ibu hamil di bulan kedua." Jawab Bu Siti.


"Aku sudah enam bulan gak hamil, hamil Bu, apa aku mandul." Jawabannya sungguh menyakitkan tapi itu fakta.


"Sttt. Jaga bicara kamu Rina! Ibu gak suka kamu bicara seperti itu." Marah Bu Siti.


"Pokoknya kamu jangan putus asa terus semangat! Masak mau nyerah sebelum perang? Malu dong."


"Kamu tau uwa kamu Sariah?" Tanya Bu Siti dan di anggukan olehnya.


"Wa Sariah punya anak disaat usianya sudah menginjak kepala tiga, padahal uwa kamu menikah masih berumur sembilan belas tahun. Jadi, kamu harus sabar banyak doa, santuni anak yatim-piatu dan kamu harus lakukan tiga hal penting jangan sampai putus asa."


Rina menatapnya penuh tanda tanya.


"Apa tiga hal itu Bu."


"Ikhtisar, berusaha dan berdoa."


Rina hanya menunjukkan cengiran bahwa dirinya kesiangan tak dapat melakukan shalat malamnya.


"Pasti kecapekan ya, semalam gencar berusaha bercocok tanam lagi," ejeknya padahal Bu Siti selalu mengingatkan dirinya agar jangan meninggalkan shalat malam.


"Ih. Ibu. Semalam aku gak ngapa-ngapain. Jangan souzon dosa jatuhnya fitnah."


"Udah sana buatkan kopi buat suami mu, sekalian bawa bakwannya." Titah Bu Siti.


"Bapak mau kopi juga gak Bu," tanya Rina.


"Bapak sudah ngopi, sekarang bapakmu sudah ke sawah."


"Hah. Pagi sekali sudah ke sawah, nanti rematiknya kumat lagi."


"Ini sudah siang Putri tidur? Lihat tuh jam, sudah menunjukkan angka setengah sembilan," Bu Siti menunjuk jam yang bertengger manis di ruang tamu.


"Astaghfirullah!" Aku mengusap wajahku kasar kok, bisa bisanya kesiangan kan, jadi malu, dikira ehem-ehem sampai lupa waktu hadeehh? Rina menepuk jidatnya.


"Udah jangan merasa bersalah, emang salah," ledeknya dengan melengos pergi entah kemana.


"Mau kemana Bu," panggilnya.


"Mau ngambil daun singkong mau ibu sayur," jawab ibu setengah berteriak.


"Yang, bapak sama ibu kemana kok, sepi?" Tanya Farhan yang mengagetkan Rina yang sedang mengaduk kopi.

__ADS_1


"MAS. Ngagetin aja!" Serunya dengan mengelus dadanya karena terkejut.


"Maaf."


"Bapak sudah pergi ke sawah kalau ibu kebelakang mau ngambil daun singkong," jawabnya.


"Kita bangunnya kesiangan ya Rin."


"Udah tau, nanya lagi. Nih kopinya kamu suka bakwan udang nggak."


"Semua pasti suka." Dengan senyum lebar Farhan mencolek hidung Rina.


"Sayang, pagi-pagi kok, jawabannya ketus gitu, emang kenapa," tanya Farhan heran.


Tatapannya lurus kedepan kedua bola kristal nya berembun, ada rasa sesak yang tak bisa diungkapkan. Oh. Rasanya sakit.


Farhan satu langkah maju ke depan, dipeluknya erat-erat tubuhnya dan di kecup nya pucuk kepalanya.


"Kenapa murung? Apa perkataan Mas menyakitimu?"


Rina mengeleng cepat.


"Mas, gak salah apa-apa tapi--?"


Lelehan kristal bening semakin meluncur bebas membuat Farhan semakin bingung.


"Aduh, gak aku apa apain tapi malah diam aja, hanya air matanya yang mewakili kesedihannya, perasaan gak salah ngucap." Farhan mengaruk tengkuknya bingung harus ngapain.


"Mas, andaikan aku yang mandul, apa kamu masih mencintai aku? Atau...kamu memilih menikah lagi." Ucapnya dengan suara bergetar.


"Astaghfirullah. Rina, kamu ngomong apa! Kamu gak mandul, kita menikah baru enam bulan belum tahunan, lihatlah orang lain yang sudah tahunan juga masih setia dengan pasangannya, jangan pendek akal. Mas, menerima kamu apa adanya bagaimana pun kondisi kamu. Soal anak kita bisa adopsi." Ucapnya ada rasa kesal atas ucapan Rina yang menyingung tentang anak.


Farhan membingkai wajahnya dengan senyum, senyum yang tulus mencintai dirinya.


"Kamulah satu satunya wanita yang bertahta di hati Mas, posisi kamu yang paling tinggi. Jadi Mas, minta jangan bicara seperti itu lagi ya," ujarnya dengan mengecup kening nya.


"Aku akan berusaha ikhlas bila kamu mau menikah lagi tapi dengan satu syarat. Yaitu ceraikan aku dulu Mas, karena aku gak siap dipoligami."


Ada rasa sesak dan perih saat Rina mengucapkan kata-kata yang menyakiti perasaan nya sendiri, dirinya tak mau egois gimanapun Farhan mengharapkan seorang anak bibir bisa bicara tapi hatinya berkata tidak. Suatu saat nanti bisa saja terjadi karena bosan bersamanya.


"Mas, aku gak mungkin hamil, karena di keluarga bapak ada yang mandul. Salah satunya aku." Ucapnya dengan menahan tangis, dirinya gak mau menjadi wanita lemah apapun kenyataannya dia harus tetap tegar menerima dengan ikhlas bila benar.


"Mas, mohon sama kamu jangan bicara seperti itu, hati Mas sakit mendengarnya." Farhan merengkuh tubuh yang tak berdaya harapan Rina yang ingin menjadi seorang ibu sirna sudah begitu saja.


Tak bisa di pungkiri lagi memang benar Farhan menginginkan seorang anak dalam keluarga kecilnya, bila Yang diatas belum mempercayainya mau gimana lagi. Hanya satu kata. Sabar.


Rina menangis sejadi-jadinya dalam pelukan Farhan.


Dari balik pintu Bu Siti melihat dan mendengar semua apa yang dikatakan oleh Rina anaknya hatinya pun sama sakit dan perih, rasa iba pada anaknya yang tak kunjung hamil juga. Air matanya pun meleleh Bu Siti membekap mulutnya sendiri agar Rina dan Farhan tak mendengarkan beliau menangis.


Kerap sekali Bu Siti jadi bahan ledekan para tetangga. Kenapa Rina gak hamil, hamil sedangkan yang baru nikah satu bulan sudah pada hamil.


Bu Siti lebih sakit hatinya selalu di Katai oleh mereka yang mencibir keluarganya. Namun beliau lebih baik diam, tuk apa harus marah apalagi pake otot, capek kan.

__ADS_1


__ADS_2