
Sumpah demi mie ayam semangkok mau gak pake nolak. Beehh smelebew. Itu bibir?
Sapu, sapu sapu, ucapku dengan senyum nakal.
Jangan, jangan, gengsi dong, nyosor duluan, ingatku pada diri sendiri. Entah set*an mana yang sudah mengoyahkan imanku, hampir saja aku menyapu bersih tu bibir, tapi tiba-tiba Rifa menangis. Huh. Batal sudah. Gak jadi nyapu.
Dengan senyum kecewa karena gak jadi nyapu aku tetap mengajak Rifa bermain.
"Dududu, anak ibu kenapa sih?" Tanyaku.
Aoaoao. Jawabnya dengan senyum manis.
"Rin. Jangan menghindari Mas, ayok, kita bicarakan Mas, tak mau salah paham dan mas gak pernah selingkuh dari kamu." Ucapnya dengan nada lembut.
"Mas? Kamu gak kerja,hanya demi ini, udah aku gak papa kok, aku ngerti, ngerti banget! Dah sekarang kamu kerja." Ku dorong pelan dadanya agar cepat pergi kerja. Ku buat wajah' ini seceria mungkin. Agar dirinya tak terlalu menghawatirkan aku.
"Mas gak akan kerja bila kamu cemberut gini, Mas gak semangat." Pasrahnya dengan duduk di kursi plastik yang ada di ruang tamu.
"Hmmm," aku tersenyum selebar mungkin andaikan bibirku selebar lautan.
"Tuh, kan, jawabnya gitu?" Rajuknya ah, kamu ini Mas sudah mirip anak kecil yang tak mendapat mainan dari ibunya.
"Hahaha," aku tergelak tawa geli melihat wajah mas Farhan terlalu! Pasang wajah mengiba.
"Makanya kalau gak mau aku cemberutin, jangan pernah bohong! Kan aku sudah bilang sama kamu saat kita di kampung, kalau kamu mau menikah lagi dan mau punya anak, boleh-boleh aja asalkan, aku kamu ceraikan dulu, karena aku gak sanggup untuk berbagi suami apalagi yang itu." Tunjukku pada bawah perutnya.
"Makanya mas mau menjelaskan sejelas-jelasnya karena mas mau hidup bahagia selamanya hanya denganmu Rina?"
Preeeeet.
Apa katanya mau hidup bersamaku? Omong kosong. Buktinya dia punya ismud( istri muda) capek deh! Hello! Aku pintar lho Mas, gak oon. Biarpun rada rada centil dan absurd. Cieeee ngaku sendiri.
"Mau menjelaskan semuanya?" Tanyaku dengan menarik ujung bibirku.
"Iya."
"Nanti."
"Gak! Mas maunya sekarang."
"Kamu harus kerja. Kalau gak kerja aku yang akan pergi dari rumah ini! Kamu hanya punya dua pilihan, terserah mau pilih yang mana, keputusan semuanya ada pada kamu." Tegas ku.
Ku tatap wajahnya yang bingung mau membantah aku pastikan aku dan Rifa akan pergi ke kampung kerumah ibu, dengan gontai mas Farhan pamit berangkat kerja juga.
"Ya, udah Mas berangkat kerja dulu," pamitnya.
"Hmmm."
Aku hanya tersenyum sinis dan menatap punggungnya sampai menghilang dari pandangan ku.
Ah. Lebih baik cari angin segar aja.
"Rifa Sayang, kita jalan-jalan yuk. Kita harus berbaur dengan para tetangga okey?" Ku ambil kain jarik tuk mengendong Rifa.
"Sebelum pergi kita kunci pintu dulu," ucapku pada bayi mungil yang menatapku.
Beres. Tak lupa kuncinya aku simpan di bawah pot bunga mawar. Kebiasaan author tuh, kalau mau kemana-mana pasti naruh kunci di bawah pot.
*****
"Mas, aku mau ngomong sesuatu, kita ketemuan di cafe dekat kantormu," Farhan mengetik pesan pada Fatah. Tak lama kemudian sudah centang biru tandanya pesannya sudah dibaca.
Satu menit kemudian balasan chating nya masuk.
__ADS_1
"Boleh." Jawab Fatah singkat.
"Aku berangkat sekarang." Setelah membalasnya Farhan memasukan ponselnya ke saku celananya.
Ya. Farhan sebenarnya tidak berangkat kerja, ia harus meluruskan kesalahpahaman antara dia dan Rina, terpaksa bolos tanpa sepengetahuannya.
Dengan mengendarai motor bututnya Farhan pun sampai di cafe saat waktu isttirahat karyawan.
Fatah sudah sampai duluan, ia yang melihat Farhan melambaikan tangannya.
"Han, Mas disini." Panggilnya dengan senyum.
Farhan membalas senyuman kakak sulungnya.
"Ada apa sih Han, gak biasanya kamu ngajak ketemuan. Bagaimana kabar Mama," tanya fatah dengan senyum.
"Mas, kamu harus menjelaskan semuanya pada Rina istriku dia cemburu marah sampai saat ini dia ngambek." Adunya seperti anak kecil yang sedang berantem dengan teman mainnya.
Fatah tak tau bila Farhan tidak tinggal lagi bersama mama Leni.
"Mama baik." Jawabnya judes.
"Di tanya masnya malah judes, kamu kenapa sih." Tanyanya lagi heran melihat wajah Farhan ditekuk gitu.
"Mbak Nisa."
"Kenapa dengan Nisa? Sakit? Bagaimana kandungannya, sehat-sehat aja kan," serunya panik saat mendengar nama Nisa disebut.
"Ish. Mbak Nisa baik-baik aja, yang gak baik itu aku dan istriku. Bisa-bisa satu bulan aku gak dikasih jatah," rajuknya.
"Hahaha." Tawa Fatah pecah seketika setelah mendengar pengakuan Farhan.
Farhan melotot tajam kearah kakaknya itu yang masih tertawa lepas.
Huff. Fatah membungkam mulutnya sendiri agar farhan tak marah lagi.
"Ketawa satu kali lagi, aku akan adukan sama Mbak Risa kalau kamu nikah lagi!" Bisiknya tepat di telinganya, pelan namun mengena di hati.
Seketika wajah nya pucat pasi saat Farhan mengancamnya dengan kata-kata mutiara nya.
"Iya, Mas, diam. Memangnya istri kamu ngambek kenapa?" Tanyanya serius.
"Dia cemburu dikira Mbak Nisa istri aku. Pokoknya aku gak mau tau kamu harus ke kontrakan aku dan jelaskan semuanya titik! Kalau gak jangan salahkan mulutku bila mendadak ember." Jawab Farhan dengan menaik turunkan alisnya.
"Kontrakan? Sejak kapan seorang Farhan ngontrak, kan, kamu anak Mama." Ejek fatah.
"Udah ah, masalah itumah jangan dibahas gak penting, penting amat. Yang terpenting adalah kamu mengatakan tentang pernikahan siri kamu sama Mbak Nisa."
Huh.
Fatah menghela nafasnya dan mengeluarkan dari mulutnya.
"Tapi Mas, lagi sibuk."
"Terus bisa kapan?" Tanyanya lagi kesal mendapatkan jawaban yang mengecewakan nya.
"Malam Minggu. Jatahnya Mas berkunjung ke rumah Nisa." Jawabnya dengan wajah lesu.
"Kenapa sekarang mukanya lesu gitu."
Tring.
Sebuah pesan singkat masuk, Fatah menatap layar ponselnya disana tertera nama Sayangku.
__ADS_1
Sayangku: "Mas, kapan mau kerumah?" Isi pesannya.
"Siapa," tanya Farhan kepo.
"Sayang." Jawabnya cepat dengan menatap layar ponselnya.
"Panjang umur dia, tau aja kalau dia jadi bahan gosip. Panas kupingnya kale!" Timpal Farhan.
"Ish. Sok tau."
Dengan lincah fatan membalas chat nya.
Farhan:"Malam Minggu." Jawabnya dengan emoticon senyum.
Sayangku:"Kamu lupa ya, kalau malam Jumat kita mau ngadain acara pengajian tujuh bulanan aku mas." Dengan emoticon kecewa.
"Ya, Allah!" Kagetnya ketika sayangku mengingatkan dirinya bahwa malam Jumat akan diadakan pengajian tujuh bulanan.
"Napa Mas. Ada yang gawat." Panik Farhan.
"Hampir lupa, mas dan mbak mu mau mengadakan acara pengajian tujuh bulanan dia, mana waktunya mepet lagi, dua hari lagi mana minta diadakan qasidahan lagi." Fatah menepuk jidat nya, pusing mikirnya mana pekerjaan kantor menumpuk, mana istri pertamanya minta di temani kondangan dan yang satunya lagi mau mengadakan acara pengajian tujuh bulanan, hemm, puyeng-puyeng deh! Hobi kok, bikin masalah sendiri, bingung kan mau pilih yang mana? Yang tua atau yang muda.
Satu kata untuknya. CAPEK DEH.
"Han! Mas, harus gimana?" Tanyanya.
"Mana aku tau?" Jawabnya dengan mengangkat kedua bahunya.
"Huh! Punya adek gak bisa di andelin!" Sungutnya kesal karena ia minta pendapat malah Diacuhkan.
Argh! Fatah meremas rambutnya kasar ia bingung dalam kondisi seperti ini. Kedua istrinya membutuhkan dirinya di waktu bersamaan.
Fatah menikah lagi karena satu alasan yaitu menginginkan seorang anak, sedangkan Risa tak mau menginginkan seorang anak katanya sih kalau punya anak akan membuat tubuhnya tak seksi lagi dan tak sedap dipandang mata. Risa terlalu egois tak memikirkan dirinya dimasa tua tak selamanya cantik, tak selamanya tubuh kita indah dan seksi seiring waktu berjalan yang kita miliki pelan-pelan akan menjadi keriput, tak akan seindah saat kita masih muda kan, datang masa-masa tua.
Andaikan Risa dan mama Leni tau bila Fatah menikah lagi pasti akan marah besar. Hanya Farhan lah yang tau. Itu mereka rahasiakan agar Risa tak mengusik ketenangan sayangnya.
Fatah menikahi Nisa karena Nisa cinta pertamanya wanita yang Solehah, sayangnya mama Leni menentangnya ya karena derajatnya berbeda yaitu berasal dari kalangan bawah.
Saat Fatah melamar Nisa tuk ia nikahi, gadis berjilbab itu menolaknya ia tak mau menjadi wanita perusak rumah tangga orang lain apalagi Farhan lelaki yang sudah mematahkan cintanya.
Fatah terus memohon kepada nisa agar mau menikah dan memiliki anak. Beribu-ribu kali nisa pun menolaknya. Pada esok harinya Nisa mendapat pesan singkat bahwa Fatah akan bunuh diri dengan melompat dari ketinggian sekitar tujuh lantai.
Nisa yang menerima pesan dari fatah pun Shok. Dirinya bingung harus bagaimana mau gak mau ia harus mengalah demi keselamatan orang yang ia cintai biarlah dirinya menjadi istri kedua asalkan bahagia. Walaupun kesan jahat. Daripada dia dinikahi pria botak beristri lima mending sama Fatah sudah tampan muda lagi.
Fatah tersenyum puas saat melihat nisa datang ke gedung itu dengan keadaan semrawut aca kadut, mata sembab.
"Mas Fatah jangan lakukan itu Mas, ayok turun!" Teriaknya dengan berlari menuju Fatah yang sedang berdiri, jujur diapun takut dengan ketinggian demi melancarkan rencananya maka harus akting sempurna.
"Untuk apa aku hidup Nisa, sedangkan rumah tangga ku sedang dilanda kehancuran. Harapan aku satu yaitu menikah dengan kamu dan punya anak." Teriaknya membuat orang-orang berdatangan ingin menyaksikan orang mau bunuh diri.
"Terima aja lamarannya Mbak. Daripada dia benar-benar lompat dan metong, emang Mbak mau jadi tersangka," bisik seorang wanita membuat Nisa bergidik ngeri.
"Kenapa diam Nis. Kamu menolaknya? Baik aku akan lompat dalam hitungan ketiga." Teriaknya.
"Satu, dua, ti--"
"Iya! Aku mau menikah sama kamu Mas!" Potong Nisa dengan berteriak.
Fatah pun tersenyum penuh kemenangan.
"Ya, malah melamun! Woy!" Teriak Farhan tepat di telinganya.
"Sompret!" Marahnya sambil meninju pelan lengan Farhan.
__ADS_1
"Jadi pilih yang mana? Yang tua atau yang muda?" Ejek Farhan.