Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part.32


__ADS_3

"Rina, kenapa rumah gelap? Kemana Risa." Paniknya dengan membuka pintu mobil dan berlari menuju rumahnya.


Aku belum juga mematikan mesin mobil tuh, emak mertua udah main ngacir aja segitunya panik, ckckck.


"Hemmm!" Risa berteriak dari kamarnya dengan mulut dilakban tangan diikat. Satu kata untuknya sempurna.


"Ris, Risa Sayang? Kamu dimana Nak." Mama berseru memanggil namanya.


Tak ada sahutan dari hanya suara yang tertahan.


Cetek.


Aku menghidupkan lampu dan....


Alangkah terkejutnya aku ketika melihat seisi rumah berantakan seperti kapal pecah guci kesayangan Mama hancur berkeping-keping akupun panik, aku berlari mencari sosok wanita yang ada dirumah ini siapa lagi kalau bukan Mbak Risa.


"Oh, tidak!" Mama menjerit histeris saat melihat guci kesayangan hancur.


"Ini ulah siapa? Huaa!" Tangisnya sendu menurutku sih lebai, guci pecah kan, bisa beli yang baru di pasar banyak.


"Emmm." Aku mendengar suara aneh dari kamar mbak Risa tak mau gegabah aku kedapur tuk mencari yang bisa aku pakai untuk menghajar perampok itu, dari panci sapatula juga kuali ah, ada ada saja aku ini.


Mama masih bergeming menatap gucinya yang hancur.


Ku langkahkan kakiku menuju kamar mba Risa.


Ceklek pintu kamar terbuka dan aku terkejut melihat Mbak Risa dalam keadaan mulut dilakban tangan diikat aku berlari ke arahnya dengan meletakkan perabotan dapur yang kubawa tadi.


"Mbak Risa kenapa?" Tanyaku panik.


Melihat isi lemari nya berhamburan keluar berserakan di lantai, firasat Mama ternyata benar. Pantas saja dari tadi ngotot minta pulang ternyata ada hal yang tak diinginkan.


"Emmm!" Bukanya jawab malah emmm, emmm.


Aku buka lakban di mulutnya dengan kasar membuat dia menjerit kesakitan.


"AWWW! Sakit dodol!" Bentaknya.


Bukannya terimakasih sudah aku bukakan lamban nya malah membentak ku akupun sakit hati terbesit ide gilaku.


Grepp.


Aku tutup mulutnya kembali, aku bertanya padanya kenapa bisa begini.


"Mbak, Mbak di rampok!" Seruku.


"Emmm, buka!"


Srekk.


Aku buka lagi lakbannya dengan kasar lagi dan lagi dia menjerit kesakitan.

__ADS_1


"Dasar tolo--"


"Tolong, maksudnya gitu."


Mbak Risa terus meronta-ronta minta di lepas ikatan tangannya.


Aku lepaskan ikatan di tangannya kenapa buka talinya gampang sekali? Bukanya dirampok tangan kita di ikat dengan kuat?


"Mama! Sini ma!" Teriakku sedaritadi tak melihat mama apa beliau menangisi gucinya atau pingsan.


Tak lama kemudian mama datang dengan wajah pucat.


"Rin," lirihnya suaranya bergetar tubuhnya bergetar hebat.


"Mama kenapa?" Tanyaku sambil berdiri memeluknya dari samping.


"Surat rumah, surat mobil Farhan dan uang dari kamu raib, dicuri! Hiks." Tubuhnya merosot ke bawah


"Apa Ma! Barang-barang berharga Mama juga hilang?" Kedua pupil matanya melebar.


Mama mengangguk dengan tatapan kosong.


"Kamu gak papa Sayang," tanya mama pelan.


"Aku gak pa pa Ma, hanya? Barang barang ku juga dicuri ma, tubuhku juga pada sakit, para perampok itu memukul punggung aku ma." Keduanya saling peluk.


Aneh. Massa badan sehat bugar dibilang sakit? Dan, aku curiga kenapa pakaian punya dia yang teronggok di lantai hanya pakaian lama kan, di dalam lemarinya banyak baju baru?


"Ma, uang bisa kita cari, yang penting Mbak Risa selamat gak kurang satupun, coba kalau perampok itu melakukan hal yang aneh sama mbak Risa, contoh. Memotong jarinya atau apalah itu." Ujarku dengan mengusap lembut lengannya.


"Tapikan uang itu buat Mama umroh," ucapnya sendu.


"Insyaallah Ma kalau ada rejekinya Mama akan berangkat ke Mekkah."


"Beneran gak bohong?"


"Aku gak pernah bohong kan sama Mama, pernah aku membohongi Mama," tanyaku lagi.


Mama mengeleng cepat.


"Kamu tak pernah bohong, janjimu selalu kamu tepati." Mama memelukku erat.


Sumpah ini yang pertama kali mama memelukku. Aku jadi terharu.


"Ma, bagaimana dengan uang dan perhiasan Risa? Siapa yang mau ganti?" Cetusnya dengan memasang wajah mengiba


Idih. Siapa juga yang mau ganti. Situ pikir aku apa.


Tak sengaja aku melihat tas warna hitam teronggok di samping nakas milik Mbak Risa, aku kenal dengan tas itu? Seperti punya mama, ya punya Mama, mas Farhan yang sudah membelikan tas itu! Aku dan mas Farhan membelinya di toko langganan keluarga kami. Atau jangan-jangan tas itu berisi harta Karun mama, batinku.


Ekspresi wajah Mbak Risa biasa aja tuh, tak menunjukkan wajah sedih gitu. Fix. Bila benar didalam tas itu ada barang berharga jadi perampoknya Mbak Risa. Aku memikirkan ide agar Mbak Risa keluar dari kamar ini karena aku akan mengamankan' tas mama.

__ADS_1


"Mbak, bisa bawa Mama ke luar?"


"Kamu mau ngapain? Nyuruh aku, hah!" Dia malah nyolot, kedua matanya melotot.


Rupanya Mbak Risa curiga padaku.


"Ya, udah kalau nggak mau, biar aku yang ajak mama keluar."


Mama kasih shock tak terima barang berharganya hilang, padahal aku sudah janji akan mengganti semuanya.


Aku kirim pesan pada mas farhan bahwa malam ini aku nginap menemani mama yang shock. Awalnya mas Farhan menolak tetap menyuruhku pulang aku menjelaskan semuanya tentang keadaan dirumah mama, aku akan menyelidikinya atas kecurigaan ku terhadap Mbak Risa.


Mas Farhan akhirnya mengerti dan menyuruhku agar hati-hati.


"Rin," panggil Mbak Risa aku yang duduk disofa mendongakkan kepala.


"Iya Mbak." Jawabku.


"Kamu gak pulang? Kasian Rifa ditinggal sama kamu."


Aku gelengkan kepala cepat.


"Mau nginap aja, kasian mama ditinggal sendiri, lagian Rifa ada ayahnya." Jelas ku ingin tahu ekspresi wajah Mbak Risa benar aja dia seperti kesal padaku.


"Mama ada aku. Pulang gih!" Wadidaw. Nih orang main usir aja. Semakin dia mengusirku semakin aku curiga.


"Mbak, kita lapor polisi aja, kasian mama surat rumah surat mobil juga uangnya hilang, aku ingin tau siapa pelakunya?" Ujarku dengan mengembungkan kedua pipiku.


"Ja-jangan gegabah kamu Rin. Kalau kita lapor polisi sama saja kita membuka aib sendiri." Jawabnya gelagapan.


Ini orang ngomong apa sih! Dirampok dibilang membuka aib. Ot*k nya benar benar sudah geser.


"Mbak sepertinya ketakutan gitu?"


"E-enggak Mbak gak ketakutan kok, Mbak masih shock tau!" Juteknya membuat aku menyungging kan senyuman.


"Mbak, biasanya kalau orang merasa ketakutan pasti dia dalangnya dari perampokan ini." Aku sengaja menakutinya puas bisa mengerjai dirinya.


"Gak!" Balasnya sambil membuang muka.


"Kalau gak merasa mah, jangan jeules kali."


"Sudah! jangan ribut! Kalian berdua bukanya akur saling support sudah tau mama kerampokan masih aja ribut."


"Iya Ma, kita gak ribut hanya berantem kecil." kekehku.


Mbak Risa mendelikan matanya lalu tersenyum manis menatap mama.


"Mama, maafkan aku, gak bisa mempertahankan barang berharga Mama," ujarnya dengan wajah palsu.


Mama memeluknya sambil membelai lembut rambutnya.

__ADS_1


__ADS_2