
Fatah sudah siap siap untuk pergi ke sawah karena hati ini akan panen raya.
"Abi!" Seru Nisa berlari menghampiri Fatah yang hendak pergi.
Fatah menghentikan langkahnya dan menoleh kearah suara Nisa.
"Umi mau ikut."
"Iya lah, kan umi mau ambil sayuran buat masak nanti malam."
"Kinan, dirumah sendiri dong," tanya Fatah.
"Mau diajak masih tidur, umi sudah titipkan sama Bukde Wati agar mau jagain Kinan sebentar sampai umi pulang."
"Bukde Wati belum datang, tunggu bentar lagi." Titah Nisa dengan senyum.
"Oke Bu Bos." Fatah memberikan hormat pada Nisa. Nisa hanya tersenyum melihat tingkah suaminya.
"Pagi mas Fatah Mbak Nisa, maaf ibu gak bisa datang jadi saya yang menggantikan posisi ibu tuk menjaga Kinan." Gadis berparas ayu datang tuk menjaga Kinan menggantikan Bukde Wati.
"Kamu Fira? Anaknya Bukde Wati?" Tanya Nisa memastikan bahwa dia benar-benar anak Bukde Wati, ia takut bila terjadi sesuatu pada Kinan apalagi saat ini sedang viral tentang penculikan anak yang organ tubuh nya dijual membuat siapapun juga merasa khawatir.
"Iya, Mbak."
"Umi. Udah siang ini, Abi harus cepat Kesawah."
"Bentar Bi."
"Fir, Mbak minta tolong jagain Kinan sebentar aja, kamu boleh pulang kalau Mbak sudah pulang dari sawah."
"Iya Mbak." Fira gadis pendiam bicara pun irit, bila tak penting-penting amat ia tak kan bicara cukup dengan iya, iya dan iya.
"Jangan bawa Kinan keluar, cukup main di dalam, kamu mau makan apa saja ambil di kulkas." Nisa mengingatkan Fira agar Kinan jangan keluar tanpa Nisa.
"Iya Mbak."
Mendengar jawaban dari Fira, Nisa hanya gelengkan kepala heran gadis cantik tapi irit untung cantik kalau gak, hadeehh.
****
"Abi, panen nya banyak sekali," Nisa merasa senang karena hasil panennya cukup memuaskan.
"Biar cepat beli si merah, kan, umi mau beli si merah biar samaan sama Rina."
"Amin."
__ADS_1
"Juragan!" Panggil Dodit sopir mobil pengantar sayuran keluar kota tergopoh-gopoh mendekat pada Fatah.
"Ada apa Dit, kaya di kejar guguk!" Kekeh Fatah pada karyawannya.
Dodit nampak berpikir bagaimana ia mengatakan semuanya bila temannya yang dari Bandung minta pekerjaan pada dia sedangkan dirinya sendiri pun kerja sama Fatah, ia sudah menjelaskan pada temannya bahwa ditempat ia bekerja sudah tidak ada lagi lowongan pekerjaan karena temannya ngeyel bin ngotot mau gak mau Dodit meminta pekerjaan untuk temannya itu.
"Kok, Mas Dodit bingung? Mau ngomong apa, ngomong aja." Titah Nisa.
"Emm, gini Mbak, temannya dari bandung, gimana ya ngomongnya bingung." Dodit garuk-garuk kepala yang tak gatal.
Nisa seakan tau yang ada dibenak Dodit, ia pun tersenyum.
"Temannya Mas Dodit mau kerja."
Dodit anggukan kepala.
"Dit, bukannya saya gak mau bantu teman kamu, tapi dia mau kerja apa?" Fatah malah balik bertanya bikin Dodit nambah bingung dibuatnya.
"Sopir aja Abi, kan, pak selamat sudah tua kita gantikan beliau saja." Saut Nisa.
Fatah menatap istrinya mana mungkin dia menggantikan posisi pak selamat yang sudah tak diragukan lagi cara kinerjanya, sedangkan temannya Dodit belum tentu seperti pak selamat.
"Pak selamat kita kerjakan di rumah saja sebagai tukang kebun." Usulnya.
"Mana temanku bawa ke sini, saya mau lihat cara kinerjanya."
Dodit berlari menuju mobilnya dan menghampiri Fatah bersama temannya.
"Ini teman saya juragan namanya Toni."
Toni mengulurkan tangannya untuk bersalaman dengan Fatah.
"Kamu paham dengan jalan menuju kota-kota yang akan di suplai sayur mayur?" Tanya Fatah.
"Saya paham juragan karena saya juga sopir angkot. Dulunya."
"Oke. Mulai sekarang kamu antarkan sayuran sayuran ini ke Semarang bareng Dodit."
"Baik juragan." Jawab keduanya serempak.
Toni tersenyum smirk, tak sia-sia dia memohon pada Dodit.
Sebelum berangkat mengantarkan sayuran Toni menelpon seseorang.
"Halo, Bu, saya berhasil bekerja di sini menjadi sopir, saya akan melaksanakan tugas yang pertama."
__ADS_1
"Bagus! Kamu bisa diandalkan. Pantau terus jangan ada yang terlewat, bila kerja kamu bagus saya akan memberikan kamu bonus." Jawab seseorang dari sebrang sana.
Toni tersenyum lalu ia masukan ponselnya ke saku celananya.
"Ton, ayok, berangkat jangan mengecewakan juragan Fatah dan jangan bikin malu saya." Ujar Dodit.
Toni mengacungkan jempolnya keatas.
Toni masuk kedalam mobil namun dari kejauhan pak selamat berlari dengan napas terengah-engah.
"Kamu siapa, main masuk mobil saya, kamu mau mencuri mobil juragan Fatah? Hah!" Geram pak selamat melihat penampilan Toni kayak preman.
Toni cuek tak mengindahkan peringatan pak selamat, dia masuk duduk sambil melirik sinis kearah pak selamat
"Dasar pencuri!"
Pak selamat meninjukannya dengan keras sehingga hidung Toni berdarah.
"Si*lan, Lo! Aki-aki tua!" Toni hendak membalas tinjauannya namun dari kejauhan Dodit berlari sambil berteriak
"Ton, jangan!" Bogem yang hampir mendarat di wajah pak selamat bisa Dodit tahan
"Dit, kamu kenal dengan dia?" Pak selamat menunjuk ke arah Toni.
"Iya Pak, dia Toni teman saya, sopir baru yang menggantikan pak selamat."
Pak selamat memicingkan matanya apa salahnya hingga Fatah memberhentikan dirinya secara sepihak tanpa memberitahu lebih dulu agar tak salah paham seperti sekarang ini.
"Kenapa saya di pecat, apa salah saya Dit." Pak selamat merasa kecewa terhadap Fatah yang seenaknya saja mengambil keputusan tanpa kejelasan yang pasti
"Emm, saya kurang tau Pak, coba bapak tanyakan saja sama juragan Fatah beliau ada di sawah."
Dengan gontai pak selamat pergi meninggalkan Dodit dan Toni.
Setelah kepergian pak selamat Toni bertanya pada Dodit.
"Dit, gimana kalau saya yang membawa mobil kamu untuk mengantar sayuran ke swalayan. Kamu bawa mobil aku dan mengantarkan sayuran ke pasar tradisional." Usulnya
Dodit berpikir sejenak, kenapa Toni baru mulai kerja sudah berani mengaturnya, bukannya bersyukur bisa kerja atas rekomendasi Dodit.
"Gimana? Mau."
"Maaf Ton, saya gak berani. Kalau mau tukaran sama saya silahkan kamu ngomong sendiri sama juragan." Tutur Dodit, dirinya merasa bersalah sudah membawa Toni pada juragan Fatah.
"Oh, gak pa pa!" Jawabnya Toni kecewa dengan ucapan Dodit ia tak bisa melakukan rencana nya.
__ADS_1
Siapakah Toni sebenarnya? Dan mau apa pada keluarga Fatah?
Jangan lupa ikuti ceritanya besok.