Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 40


__ADS_3

Setelah mengantarkan jenazah anaknya Toni duduk termenung menatap langit malam yang dingin tak ada lagi yang ia rindukan celotehan Aira yang manja padanya sedangkan Aisya Almira dekat dengan Sumi kurang akrabnya.


Setiap pulang kerja Aira akan menyambutnya dengan senyum dan membawakan segelas air putih untuknya, kini dirinya pulang tak ada lagi yang menyambutnya dengan senyum tawa Aira.


"Ayah, Aira bawakan minum, ayah capek ya, ayah mau Aira pijit?" Sedih bila mengingat Aira yang manja kini hanya tinggal kenangan.


Air matanya enggan menghentikannya. Kini ia menatap Sumi meminta penjelasan apa yang terjadi pada Aira.


"Dek, kenapa ini harus terjadi, bukannya setiap bulan Bu Risa mengirim uang untuk kalian," tanyanya.


Sumi hanya diam tak membalas jawaban darinya.


"Dek, jawab! Abang harus dengar jawabannya," ujarnya dengan nada tinggi karena yang di tanya diam saja.


"Apa Bang, kamu kerja dengan wanita itu? Wanita yang sudah membunuh anak kamu sendiri?" Marahnya dalam menatap tajam kearah Toni.


"Andaikan aku tau kalau kamu kerja dengan dia, pasti aku larang, tapi saat itu kamu bilang kerja ke Surabaya, dan kamu bilang bahwa bos kamu itu baik. Dan kenapa kamu gak pernah mentransfer uang untuk kami, kenapa Bang." Sumi memekik kecil tak mau anaknya terbangun dari tidurnya karena suara ribut.


Apa yang dikatakan Sumi istrinya selama dirinya bekerja di Surabaya ia memang tak pernah memberi uang kepada mereka, karena Toni mengandalkan transferan dari Risa nyatanya Risa berbohong tak sepeserpun ia berikan pada keluarga Toni, sungguh liciknya Risa memanfaatkan Toni.


Sumi menceritakan suka dukanya menghadapi Aira yang sakit-sakitan sehingga ajal menjemputnya. Dimana Sumi harus kerja pontang-panting demi mencari rupiah demi Aira,


Toni mendengar penjelasan dari Sumi membuat dirinya mengepalkan tangan seandainya risa ada di sana mungkin bisa di habisi nyawa oleh Toni.


"Dek, mana ponsel Abang," Toni menanyakan ponselnya yang ia banting saat menelpon Risa namun tak dijawab malah nomor ponselnya di blokir.


"Ini Bang," sahut Sumi memberikan ponselnya yang ia keluarkan dari saku dasternya.


Masih sama, Risa tak mengangkat ponselnya lagi.


"Aku akan bongkar kebusukan kamu Risa! Sialan! Kamu belum tau siapa Toni sebenarnya! Brengsek!" Umpatnya kesal karena panggilannya tak terjawab juga.


"Bang," seru Sumi menatap sendu kearah suaminya.


Toni menatapnya heran.


"Ada apa?"

__ADS_1


"Semenjak Abang kerja Sumi punya hutang sama pak Rusli, itu juga buat berobat Aira," jawabnya terbata bata.


"Berapa hutangnya?"


"Sekitar dua juta."


"Ayah!" Panggil kedua anaknya yang berhambur kepelukan Toni.


Toni memeluk erat tubuh kedua anaknya tak ingin melepaskannya lagi tak mau jauh-jauh dari mereka.


"Lho, anak ayah pada bangun tidurnya? Ada apa?" Toni mengecup kening anaknya satu persatu.


"Kita kangen ayah! Jangan tinggalkan kami ayah? Kemana ayah pergi kita ikut, iyakan ibu?"


Toni tak bisa berkata-kata lagi dia hanya diam air matanya mengalir di pipinya.


"Ayah, jangan nangis?" Pipinya di usap dengan tangan mungilnya Almira.


"Gak, ayah gak nangis kok," Toni menyusut kedua sudut matanya dan tersenyum manis. Mereka pun saling berpelukan erat.


****


Farhan dan Rina tersenyum melihat keakraban nenek dan cucunya.


"Aku senang banget, melihat Rifa tertawa renyah, baru kali ini deh," ucapnya dengan senyum.


"Yang, kita gak pulang ke rumah? Udah lama kita disini."


"Mas, andaikan kamu mau tinggal disini netap gitu. Mau."


Fatah mengerutkan keningnya heran dengan ucapan Rina mendadak ingin pindah.


"Jadi Warga sini?"


Rina anggukan kepala, hatinya was-was takutnya Farhan menolak keinginannya untuk pindah rumah.


"Emm, boleh nggak ya, tapi--"

__ADS_1


"Tapi apa, mas gak mau?" Potongnya dengan cemberut.


"Rin, nak Farhan kita makan siang dulu, udah itu kita ke sawah." Ucap bapak melambaikan tangannya agar kami mendekat dan makan bersama.


"Mas, kamu punya utang sama aku."


"Utang apa."


"Utang jawaban mau pindah apa enggak."


"Oke." Farhan mengacungkan dua jempolnya keatas.


Makan siang terasa nikmat hanya lauk sayur asem sambal terasi ikan goreng dan telur asin. Badan Rina, Rifa dan Farhan mendadak melar akibat makan banyak.


"Rin, badan kamu melar sekarang ya," tanya ibu saat aku mencuci piring.


"Ah, biasa aja. Ibu salah liat kali, badan ku langsing dibilang gendut," Rina tak terima di Katai gendut.


"Iya, nafsu makan kamu aja nambah, gak papa itu tandanya kamu bahagia atau jangan-jangan?"


"Jangan-jangan apa Bu, jangan nakutin aku?"


Bu Siti tersenyum simpul.


"Disini ada cucu ibu, adiknya Rifa," bisik ibu sebelah tangannya mengelus perutku.


"Hah? Gak mungkinlah Bu, ibu kan tau, kalau aku susah hamil."


"Gak percaya sama Ibu, ya sudah. Ibu itu gak asal ngomong lho,"


"Do'akan semoga benar apa yang ibu katakan," saut Farhan.


"Farhan juga curiga sama Rina gak biasanya makan banyak, bentar-bentar makan, bentar-bentar lagi ngemil kamu kan gak suka ngemil, apalagi makan martabak."


Rina mencerna semua perkataan suami dan ibunya.


"Dan satu lagi kalau tidur suka menguasai kasur,"

__ADS_1


"Ihh. itumah jangan dibahas malu tau mas," rajuknya dengan cemberut.


semuanya tertawa menertawakan sikapnya yang marah.


__ADS_2