Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 27


__ADS_3

Mas Farhan meneleponku karena khawatir sebab aku belum pulang juga.


"Rin, kamu gak pulang? Mas sama Rifa udah dirumah, kapan pulang?" Tanyanya.


"Bentar lagi ya Mas, aku mau membujuk Mbak Risa dulu." Balasku.


"Ya udah, pulangnya jangan larut, kasian Rifa."


"Iya Mas."


"Siapa yang telpon." Suara mbak Risa mengejutkan hampir saja ponselku jatuh.


"Rifa, nangis mau ditemani bobok sama aku." Bohongku agar Mbak Risa mau tidur ini jam istirahat namun ia enggan untuk tidur banyak alasan jawabnya.


"Aku tanya, siapa yang telpon! Aku gak nanya Rifa!" Bentaknya, aku sontak terperanjat melihat ekspresi wajah nya yang marah. Ternyata orang yang tak pernah marah terus tiba tiba marah serem juga ya.


"Emm, mama yang telpon."


"Bohong."


Dibentak lagi bikin aku jantungan deh, kalau aku gak kasian udah aku tinggal daritadi.


"Aku gak bohong Mbak. Sekarang tidur ya, udah malam, kan, mau sembuh terus ketemu mama sama papa emang gak kangen mereka," aku terus membujuk bayi tua yang sukanya marah-marah.


"Mama, papa?" Jawabnya singkat.


Aku anggukan kepala.


Mbak Risa nampak sedih ditatapnya langit-langit kamar rumah sakit, ada rasa kecewa yang tak bisa di ungkapkan disaat dirinya membutuhkan pelukan seorang mama namun kedua nya tak mau menjenguknya lagi jangankan menjenguk mengakui nya lagi sudah tak mau.


"Rin." Lirihnya.


"Iya Mbak."


"Apa aku kan sembuh? Apakah mas Fatah akan kembali padaku? Mama papa akan menerima aku lagi?" Pertanyaan nya membuat aku bingung, keinginan tuk sembuh pasti asalkan dirinya jangan larut dalam kesendirian dan kesedihan. Untuk pertanyaan kedua dan ketiga aku tak bisa menjawabnya.


"Rin." Mbak Risa membalikan badannya menghadap ku ingin meminta jawaban.


"Mbak Risa pasti sembuh, sekarang sudah malam tidur ya," aku berusaha mengalihkan pembicaraan yang tak bisa aku jawab.


"Andaikan mas Fatah gak mau sama aku lagi, bagaimana nasibku selanjutnya, mama maupun papa pastinya malu punya anak gila seperti aku." Tatapannya kosong.


Kupeluk tubuhnya yang kurus, Mbak kenapa kamu kurusan, seandainya posisi aku sama seperti mu pasti aku juga akan merasakan apa yang Mbak Risa rasakan.


Kenapa masalah anak seorang wanita harus di duakan? Andaikan bisa memilih aku juga ingin punya anak namun takdir berkata lain.


Mbak Risa maupun Mbak Septi keduanya subur tak ada masalah kenapa harus menunda kehamilan, para suaminya mengharap mereka hamil. Aku yang agak sulit untuk hamil masih tetap mengharapkan kapan aku hamil.


"Stttt." Aku menempelkan jariku di bibirnya.


"Pasti Mbak, mereka akan senang bila Mbak sembuh, siapa bilang Mbak gila? Mbak hanya--"

__ADS_1


"Hanya apa? Aku memang depresi berat, ketika tau bila cinta pertama aku mendua dan dia kini menjadi seorang ayah, hiks...." Tangisnya pecah lagi, kapan mau tidurnya? Aku juga lelah seharian menemaninya tanpa makan perutku sakit, seperti nya maag ku kambuh.


Ku tekan tombol yang berada dekat ranjang pasien agar dokter datang dan menyuntikan obat penenang. Tak lama dokter Sandi dan suster datang.


"Dok, Mbak Risa nya," tunjukku kearah nya.


Dokter Sandi mengangguk sambil memegang suntikan lalu mendekati Mbak Risa.


"Saya periksa dulu ya?" Mendengar suara lembutnya mbak Risa tersenyum dan mengangguk.


Setelah disuntik Mbak Risa pun tidur, ah lega akhirnya tidur juga. Aku keluar dari kamar mbak Risa menuju parkiran.


Saat berjalan di koridor rumah sakit dokter Sandi memanggil.


"Mbak Rina, bisa kita bicara sebentar?" Tanyanya dengan berlari menghampiri aku.


Ku tatap wajah lelahnya.


"Ini tentang Risa."


"Ada apa dengan mbak Risa?" Aku balik bertanya.


"Kita bicara disana!" Dokter Sandi menunjuk taman yang ditumbuhi bermacam bunga, ku anggukan dan mengekor di belakang.


Dokter Sandi menghela nafas panjang sebelum bicara.


"Emm," nampak bingung dokter Sandi ia menatapku membuat aku bingung dibuatnya.


"Sebenarnya Risa bisa pulang, percuma juga disini, jalan satu-satunya dia harus tau kenapa suaminya meninggalkan dia dan apa alasannya. Hanya itu jawaban yang bisa Risa pulih kembali."


"Kamu jangan salah paham, bukannya saya gak sanggup merawatnya hanya--"


"Hanya apa Dok,"


"Kemarin dia cerita semuanya sama saya tentang pernikahan siri suaminya, dia hanya ingin tau keberadaan suaminya saja."


Ah. Penjelasan apa gak, masuk akal. Ada apa dengan mbak Risa dan dokter Sandi apakah mereka merencanakan sesuatu untuk membalaskan sakit hatinya Mbak Risa, hanya mereka yang tau.


"Besok saya jemput Mbak Risa pulang, gak ada yang harus dibicarakan lagi, soalnya saya harus pulang."


"Silahkan," jawabnya dengan seulas senyum.


Perjalanan malam ini ramai sekali gak biasanya, decakku dengan menundukkan kepala di atas stir mobil. Rasa kantukku mulai menyerang, keramaian dijalan menambah kemacetan saja.


Ada apa sih, gak biasanya banyak orang berkerumun? Ada polisi juga, pasti ada yang tawuran. Benar saja dari kejauhan para pemuda berlari saling kejar dengan polisi, gak salah lagi dugaan ku benar. Ada yang terluka mungkin sebelum polisi datang kedua gengs itu saling baku hantam saling memukul.


Mau jadi apa negara ini bila pemuda yang seharusnya menjadi penerus bangsa malah tawuran antar pemuda. Tak ada jera-jeranya mereka.


Keadaan rumah sepi, pasti sudah tidur karena waktu sudah menunjukkan pukul setengah dua belas.


Kubuka pintu pelan karena aku membawa kunci serepnya jadi tak perlu membangunkan orang rumah.

__ADS_1


Cetek, lampu aku hidupkan ku tatap sekeliling ruangan. Sepi. Kini aku menuju ke kamar langkahku terhenti saat melihat mas Farhan dan Rifa tidur di ruang tengah dengan TV menyala, keduanya saling peluk senyum manis di bibirku mengembangkan rasa rindu ku pada mereka sudah terbalas, hilang sudah rasa lelahku terbayar lunas saat melihat mereka.


Ku toel pipi mas Farhan agar bangun, kasian Rifa tidur di luar gak baik buat anak sekecil itu.


"Mas, bangun." Bisik ku.


Mas Farhan mengucek matanya dan melepaskan pelukannya.


"Kenapa selarut ini?" Mas Farhan bangun dari tidurnya.


"Seharusnya aku yang nanya, kenapa tidur di sini? Kasian Rifa."


"Tadi Rifa rewel, nangis nanyain kamu terus, kangen kali sama kamu, terus aku bawa nonton film kartun," jawabnya sesekali ia menguap.


"Bukan kalian yang nonton TV tapi TV yang nonton kalian. Pindah ke kamar, biar aku yang gendong Rifa." Pintaku.


"Jangan berat, biar mas aja." Larangnya membuat aku cemberut.


Karena malam aku gak mau berdebat, mas Farhan mengendong Rifa dan aku membawakan boneka Barbie kesayangannya bila tengah malam bangun maka boneka itu harus ada dalam pelukannya.


****


"Mas, kata dokter Sandi Mbak Risa udah bisa pulang," ujarku.


"Lalu?" Jawabnya sambil mengunyah nasi goreng.


"Lho, kok jawabannya begitu?" Cemberutnya dengan kedua tangannya bertumpu di meja.


"Lah, ngambek." Farhan mencolek hidung bangirnya.


"Serius Napa Mas." Tegasnya


"Kamu mau membawa dia kerumah, mas mohon jangan bawa kesini," cegahnya.


Aku jadi bingung sendiri, memang sih, aku tak boleh gegabah memasukan sembarangan orang biarpun Mbak Risa iparku tetap saja gak baik, ada pepatah ipar adalah mautku jadi, aku gak mau ambil resiko besok aku akan membawa Mbak Risa kerumah mama atau kerumah papanya pak Darwin.


"Aku ngerti Mas, lagian aku gak mau terganggu oleh nya."


"Terganggu kenapa?"


"Kita gak bisa jap jip jup bila ada dia, bisiknya tepat di telinganya.


"Hahaha," tawanya pecah membuat Rifa bengong melihat kelakuan ayah ibunya.


"Yayah, Bu?" Panggil Rifa aku dan mas Farhan saling tatap ah anak pintar.


"Iya sayangnya ayah, kenapa? Udah makannya," tanya mas Farhan pada putrinya.


"Dah, mamam mudah," celotehnya yang belepotan bicaranya masih cadel.


"Mengemaskan banget deh, anak ibu, sini gendong ibu." Rina mengendong Rifa membawanya ke teras depan.

__ADS_1


__ADS_2