Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 21


__ADS_3

"Oh! Udah ngocehnya? Gak malu sama diri sendiri, gimana andaikan mas Fatah lah sudah menduakan cintamu, apa masih berani berkoar-koar? Kalau aku sih bakalan nangis Bombay deh." Ledek Rina pura pura sedih.


Risa nampak kesal pada Rina dan dia pergi menuju meja yang banyak makanan juga minuman tanpa basa-basi lagi Risa mengambil segelas jus jeruk dan.


Byuurrr.


Jus jeruk mendarat sempurna di kepala dan sebagiannya membasahi wajahnya untung Rifa tak bersama Rina karena di ambil Mbak Dewi.


"Itu pelajaran bagi kamu! Dasar wanita kampung." Tudingnya kedua matanya memerah karena marah.


Rina tak membalas semua perlakuan kakak iparnya ia pergi meninggalkan Risa yang masih misuh-misuh menumpahkan dirinya.


Anggap aja angin lalu Rin, sabar! Aku harus banyak lagi berteman dengan orang yang bernama sabar! Biar stuck kesabaran bertambah.


Rina celingukan mencari tisu untuk mengeringkan hijab dan wajahnya.


Acaranya gede-gedean tapi tisu aja gak ada dasar pelit! Rutuknya.


"Ini tisunya," ucap seorang wanita cantik yang memakai gamis syar'i.


"Kita bukan pelit Mbak, mungkin mbaknya gak lihat."


Kita. Apa dia si Nisa ya.


Rina mendongak ke atas dan kedua netranya bersiborok dengan Nisa.


Nisa nampak tersenyum tulus, sedangkan Rina hanya diam tak membalas senyuman Nisa.


"Ini tisunya," Nisa meletakan tisu di tangan Rina.


"Terimakasih," balas Rina.


"Kamu Rina istrinya Mas Farhan?" Tanyanya lagi. Kenapa sih dia selalu tersenyum murah banget! Pantas saja mas Farhan klepek-klepek sama senyuman dia.


Ternyata dia manis. Puji Rina dalam hati.


"Sudah tau nanya!" Jawabku ketus.


Bukannya marah atau apa gitu! Malah senyum lagi, senyum lagi, kan, bikin aku ahh....


"Cantik." Nisa mengulurkan tangannya Rina hanya menatapnya heran ini orang apa bidadari di jutekin masih aja senyum.


Karena tak ada respon dari Rina membuat Nisa berinisiatif untuk membersihkan wajahnya yang kena tumpahan jus.

__ADS_1


"Lengket kan, susah di bersihkan, kamu ikut saya aja," ajaknya sambil menarik tangan nya.


"Mau kemana?" Tanya Rina heran, bekum dijawab sudah main geret saja, batinnya.


"Ke kamar saya, kamu bisa bersihkan wajah kamu. Sekalian ganti jilbabnya."


Emm, boleh juga tuh, aku mau lihat isi kamarnya pasti lebih mewah so, ini rumah pribadi bukan kontrakan. "Baik." Rina mengekornya di belakang Nisa.


Ceklek.


Kedua netranya terbuka selebar mungkin, ini kamar apa apa? Bagus sekali, pantas aja kamu dimanja disayang, kamu menang segalanya dari aku. Rina menyungging kan senyum hampa, apakah dia juga akan merasakan bagaimana rasanya dimanja dan di nomor satukan oleh suami, andaikan itu dia pasti senangnya bukan main.


"Kok, bengong? Ayok bersihkan dulu, kasian Rifa ntar nyariin kamu. Itu kamar mandi nya." Tunjuk Nisa menunjukan kamar mandi.


Rina hanya tersenyum singkat dan gegas masuk kedalam tuk membersihkan wajahnya.


"Dasar wanita sede*g! Main siram aja. Kalau gak ada mas Fatah udah aku patahkan tangannya Risa, ngaku berpendidikan tinggi nyatanya lebih kampungan dari pada orang kampung." Omelnya dengan mencuci wajahnya.


"Aku doakan semoga kamu bisa merasakan yang aku rasakan sekarang ini, di duakan, dikhianati." Fiuh, Rina menghirup udara sebanyak mungkin.


Nisa yang masih duduk di tepi ranjang terkejut ketika Fatah memeluknya dari belakang.


"Mas!" Pekiknya.


"Mas, kamu ini, diluar masih ada Mbak Risa istrimu bila dia tau bagaimana?" Ada rasa takut menyelimuti wajah ayunya Nisa, tidak dipungkiri lagi bahwa dirinya pun menginginkan belaiannya Fatah hampir satu bulan Fatah tak mengunjunginya.


"Dia sudah pulang saat ribut dengan Rina." Terdengar helaan nafas panjang dari Fatah.


"Gak Mas antar."


Fatah gelengkan kepala.


"Biarlah dia pulang sendiri, Mas kangen." Farhan mendekap tubuhnya Nisa dan mendusel duselkan wajahnya di ceruk leher Nisa.


Keduanya tak menyadari bahwa disana anak sepasang mata dan sepasang telinga yang berada di kamar mandi.


Rina yang mendengarnya menjadi risih.


"Woy. Kalau mau bermesraan liat tempat, udah tau aku disini woi." Jeritnya dalam hati.


Tapi suaranya bukan suara Mas Farhan seperti suara? Karena penasaran akhirnya Rina keluar dari kamar mandi dan... Ia terkejut saat melihat sepasang sejoli sedang bermesraan.


"Astaghfirullah!" Pekiknya dengan membalikan badan.

__ADS_1


Nisa maupun Fatah sama-sama terkejut melihat Rina ada di kamarnya.


""Rina!" Kedua netranya membulat mulut menganga lebar.


Ih. Lucu liat mas Fatah kelagapan kayak maling ketangkap basah. Wajahnya tegang .


Aku yang paling shock berat melihat mas Fatah ada di kamar Nisa? Masak si Nisa poliandri? Sebenarnya dia istri siapa Farhan atau fatah, argh, kenapa jadi begini.


Kalau bukan suami istri ngapain juga mereka saling mematuk, Rina mematung tak sepatah kata pun, entah shock atau apa.


"I-itu Mas, Rina numpang kekamar mandi," sela Nisa dengan senyum canggung.


"Kenapa gak ngomong daritadi, kalau ada orang."


"Aku lupa Mas, maaf." Jawabnya dengan mata menyendu.


Rina melangkahkan satu langkah maju dan menatap keduanya.


"Kalian?" Tanya Rina bingung.


Karena sudah ketahuan Rina akhirnya Fatah jujur mengatakan semuanya dengan satu syarat yaitu jangan sampai Rina membocorkan rahasia besar ini, cukup dia dan Farhan yang tau tentang pernikahan siri nya Fatah dan Nisa.


"Aku akan tutup mulut asal mas Fatah jangan melibatkan terus mas Farhan, kami juga butuh perhatian mas Farhan, jangan dikit-dikit harus mas Farhan, mas Fatah harus tau! Ipar itu maut." Ucapannya sakmat penuh makna.


"Dan aku gak mau dinomor duakan oleh suamiku sendiri sedangkan iparnya selalu ia prioritaskan."


Kedua netra Nisa mengembun saat ucapan demi ucapan yang keluar dari mulut Rina.


Kejujuran Rina memang menyakitkan hati ya, tapi itu lebih baik daripada menyesal nantinya.


Fatah menatap tak suka atas ucapan Rina yang seolah-olah memojokan dirinya apalagi istrinya merasa bersalah atas semuanya, jujur bila harus memilih Nisa pun ingin selalu dekat suaminya apalagi dalam keadaan perut besar butuh suami siaga.


"Mas gak suka ucapan saya, gak papa kok,itu hak kalian. Tapi ingat bila seorang pria dan wanita lain selalu bersama maka tak mungkin bila cinta akan tumbuh dengan sendirinya. Apa mas Fatah gak takut kehilangan Mbak Nisa. Maaf Mbak Nisa bila ucapan saya menyingung atau menyakiti hati disini juga saya yang menderita diduakan suami sakit hati saya apalagi sampai kenyataan." Rina menatap Fatah dan Nisa berganti.


"Saya paham dengan apa yang kamu katakan, saya juga sedih punya suami tapi apa-apa harus orang lain apalagi suami orang." Nisa menatap sendu kearah Fatah.


"Saya paham begini nasib seorang istri kedua dan di tuntut melahirkan anak-anak untuk suaminya." Derai air matanya menetes semakin deras.


Farhan memeluknya erat iya pun ikut menangis.


"Maafkan Mas Nisa."


Rina hanyut dalam suasana yang menyedihkan dirinya merasakan apa yang nisa rasakan keduanya sama-sama tersakiti.

__ADS_1


__ADS_2