Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 28


__ADS_3

Pukul setengah sembilan aku berangkat ke rumah sakit, mau jemput Mbak Risa, sengaja gak ngajak mas Farhan takutnya dia marah lagi.


"Anak ibu, di rumah sama Ayah jangan nangis jangan nakal ya?" Ku kecup keningnya dan kedua pipinya.


"Pulangnya jangan lama-lama Bu?" Aku mengangguk sekarang Rifa sudah pintar menjawab.


"Mas, aku berangkat dulu takutnya Mbak Risa lama nunggu."


Ku raih tangannya dan kucium, "ingat, jangan bawa dia kesini, bila perlu ajak kerumah orang tuanya."


"Iya iya, tenang aja sih Mas," entah kenapa mas Farhan jadi benci sama mbak Risa.


Apa karena tempo hari Mbak Risa marah-marah dan meninju wajah mas Farhan hingga lebam-lebam wajahnya, kan, namanya juga orang depresi. Kok, kesannya seperti membela ipar seharusnya suami sendiri.


"Kami segitunya benci dia mas."


Mas Farhan diam tak menjawab pertanyaan ku, tak ku ambil pusing akupun pamit.


"Assalamualaikum ayah dan anak ibu?" Ucapku sebelum masuk kedalam mobil.


"Waalaikumsalaaam," jawab keduanya Rifa melambaikan tangannya.


"Da da da," senyum imutnya sungguh menggemaskan.


****


Aku berjalan tergesa-gesa sehingga aku menabrak seorang wanita yang duduk dilantai tepatnya dia berjongkok mengambil sesuatu yang jatuh.


Brakk.


Akupun hampir terjatuh, terdengar suara jeritannya.


"AW!" Pekiknya tak sengaja aku menginjak tangan kanan nya.


"M-maaf, Bu, lbu gak papa?" Tanyaku memastikan bahwa tangannya gak retak saat aku injak tadi.


"Sakit." Jawabnya dengan mengibas-ngibaskan tangannya dan meniup-niupnya.


Aku jadi gak enak sudah membuat dirinya kesakitan.


"Kita ke dokter ya Bu, saya takut tangan ibu kenapa Napa."


"Gak usah, nanti juga sembuh." Jawabnya singkat.


Ku bantu beliau berdiri dan aku dudukan di ruang tunggu bersalin. Karena posisinya kami berada di depan ruangan bersalin.


"Sekali lagi saya minta maaf atas ke ceroboh saya." Tak ada kemarahan di wajahnya yang cantik beliau tersenyum ramah, beliau meraih tanganku.


"Siapa nama kamu Nak," tanyanya lembut bikin kuping adem.


"Rina."


Ibu ini malah menangis gak aku apa apain kenapa bisa nangis? Beliau nanya siapa namaku, aku jawab malah melow, apakah aku mirip seseorang yang beliau kenal.


"Ibu nangis, kenapa?" Aku balas menggenggam tangan nya.


"Ibu teringat akan anak ibu yang sudah ada di surga," jawabnya dengan menatap langit yang cerah.


Beliau masuk kedalam saat namanya dipanggil suster.


"Ibu Miranda," teriak suster.


Bu Miranda berdiri.

__ADS_1


"Saya Sus," Bu Miranda pun masuk kedalam.


Oh ,namanya Miranda nama yang cantik, secantik orangnya ramah baik dan sopan.


Dari kejauhan aku melihat dokter Sandi sedang berbincang-bincang akrab sekali, siapa wanita itu? Ku langkahkan kakiku tuk menghampiri keduanya.


"Pagi menjelang siang Dok," sapa ku keduanya seperti terkejut saat mendengar sapaan ku.


"Dokter Sandi? Mbak Risa?"


Keduanya saling tatap kulihat raut wajah Mbak Risa murung ini ada apa? Sebelum aku datang mereka begitu asyik ngobrol sesekali tertawa, aneh. Dokter Sandi maupun Mbak Risa mereka tidak seperti dokter dan pasien melainkan sahabat aku mencium bau-bau persengkongkolan antara mereka tapi apa, aku gak mau suuzon sebelum ada bukti.


"Eh, ada Rina?" Jawab dokter Sandi kikuk.


"Mbak udah nunggu lama, maaf tadi ada insiden, yuk kita pulang." Ajakku.


Mbak Risa anggukan kepala.


"Ris, kamu harus jaga kesehatan jangan pernah melamun sendiri banyak-banyaklah ngobrol biar bisa mengusir sepi." Dokter Sandi tersenyum.


Apa, aku gak salah dengar? Saat dokter Sandi menyebut nama Mbak Risa dengan sebutan Ris, biasanya Mbak Risa aneh, rasa curiga ku semakin kuat.


"Iya, San." Jawabnya.


Apa mungkin mbak Risa gak gila? Dan dokter Sandi itu bukan dokter, kemana dokter Amelia yang menangani Mbak Risa saat pertama Mbak Risa dibawa kesini.


Dokter Sandi tak menunjukkan bahwa dirinya dokter, masa iya, dokter begitu? Saling genggam tangan dan cara senyumnya pun beda seperti sepasang kekasih.


Astaghfirullah! Kenapa aku jadi parno gini sih! Rutukku.


Aku dan Mbak Risa berjalan menuju parkiran mobil tiba-tiba dokter Sandi memanggil Mbak Risa.


"Risa tunggu!"


"Ini." Dokter Sandi memberikan sesuatu entah itu apa, dokter Sandi menyelipkan kertas kecil di tangan mbak Risa.


"Apa itu Dok," tanya ku dengan menatap tangan mbak Risa yang mengepal menyembunyikan sesuatu.


"Resep obat yang harus Risa tebus, eh Mbak Risa maksudnya."


"Kenapa gak kasih ke saya? Sebelum pulang saya akan ke apotek buat Nebus obatnya." Ucapku memang ada yang mereka sembunyikan suatu saat nanti pasti akan terungkap kebenaran nya.


"Biar Mbak aja yang pegang resepnya, untuk saat ini masih banyak obatnya kok," jawabnya kikuk.


Tuh kan, benar dari wajahnya aja udah aku liat dia aja gak bisa jawab. Ada udang di balik bakwan.


"Mbak Risa dan Mbak Rina bisa pulang bentar lagi jam dua belas, dan mbak Risa gak boleh telat minum obat juga istirahat." Dokter Sandi mengingatkan aku agar cepat membawa pulang Mbak Risa.


Aku dan Mbak Risa mengangguk dan pergi menuju mobil.


Setelah ku pastikan keadaan mbak Risa aman aku mulai melajukan mobil dengan kecepatan sedang, ku tatap wajahnya dengan ekor mataku nampak Mbak Risa biasa aja seperti orang depresi.


"Mbak, kita pulang kemana? Kerumah mama apa kerumah papanya Mbak." Tanyaku saat mobil sudah jauh dari rumah sakit.


Mbak Risa nampak berpikir jarinya ia ketuk-ketuk di keningnya. Hening sesaat tak ada jawaban darinya aku jadi bingung mau dibawa kemana, huh.


"Mbak?" Tanyaku lagi.


"Emm, Mbak juga bingung Rin, Mbak boleh nginap di rumah kamu, hanya semalam boleh ya ya ya," renggeknya memohon.


Kini aku yang dilema, sedangkan mas Farhan sudah mewanti-wanti agar Mbak Risa jangan kerumah, tapi Mbak Risa memaksa aku harus bagaimana? Haruskah aku membawanya ke rumah mama? Ah iya, kerumah mama.


"Kok, berhenti di rumah mama?" Tanyanya manyun.

__ADS_1


"Aku mau kerumah kamu, kan, dirumah kamu ada Rifa aku bisa bermain sama dia saat kalian pergi." Alasan saja mau main sama Rifa.


"Mbak, di rumah mama lebih aman, gak ada yang ganggu saat Mbak tidur, kalau di rumah aku pasti di ganggu Rifa apalagi dia dalam masa-masa aktif." Cerocosku menasehatinya.


Dia cemberut lalu keluar dari mobil dengan membanting pintu mobilku. Gila. Bisa penyok mobil gue marpuah! Kesalku.


Bak Risa berjalan dengan langkah lebar di depan pintu ia menekan tombol yang ada di samping pintu, aku hanya tersenyum melihat kelakuan wanita depresi.


"Mama!" Jeritnya dengan menggedor pintu kasar, entah kemana mama tak kunjung membukakan pintu.


Aku mendekat pada Mbak Risa dan menekan handel pintu.


Kreekkk.


Pintu terbuka tandanya gak di kunci kebiasaan mama pelupa.


"Hah, gak dikunci! Kalau tau gak dikunci gak usah aku jerit jerit kayak orang gila." Omelnya sambil masuk kedalam.


Aku hanya geleng geleng kepala.


"Risa? Kamu sudah pulang?" Tanya mama dan memeluknya. "Sama siapa pulangnya," mama celingukan mencari orang yang telah mengantarkan Mbak Risa pulang.


"Assalamualaikum," sapaku.


"Waalaikumsalaaam," mama menjawab salam ku.


"Rin, kamu yang jemput Risa."


"Iya Ma."


"Mbak Ris--" saat akan mengingatkan dirinya untuk minum obat tapi orangnya sudah menghilang kemana dia?


"Mbak Risa kemana Ma," tanyaku pada Mama.


"Tadi Mama lihat dia masuk ke kamarnya tergesa gesa. Rin, apa benar dia sudah sembuh? Gimana kalau dia kumat lagi dan ngamuk-ngamuk menghancurkan isi rumah." Ada ketakutan diwajah mama.


"Insyaallah Ma, kata dokternya bilang gitu, pokoknya aman."


"Syukurlah." Mama mengelus dadanya.


"Ma, aku mau ke kamar mbak Risa dulu, waktunya minum obat."


"Iya."


Sebelum ke kamar mbak Risa aku kedapur lebih dulu untuk mengambil segelas air putih. Lalu membawanya ke kamar sampai di depan pintu aku mendengar suara mbak Risa yang tertawa.


"Rencana kita berhasil papa, tak apa aku di rumah nenek tua ini, aku kan berusaha merayu wanita kampung agar mengizinkan aku tinggal bersama keluarganya, satu persatu aku akan menyakiti mereka terutama Farhan. Dia sasaran utama kita pa! Hahaha!"


Lemas sudah kedua lutut ku tak mampu untuk menopang bobot tubuhku. Kamu tega Mbak, aku menolong mu ikhlas sampai melupakan kewajiban ku sebagai istri dan ibu. Apa salah ku Mbak, jadi, pak Darwin dan Bu Sopia pura-pura tak mengakui Mbak Risa sebagai anaknya?


Fik. Benar dugaan ku, dokter Sandi pun ikut andil dalam hal sebesar ini. Atau jangan-jangan. Mulutku menganga lebar jika tuduhanku benar maka keluarga ku dan mama terancam, ya Allah lindungi kami semua dari orang-orang yang berniat jahat pada keluarga kami, amin.


Takut ketahuan aku lari menuju dapur lagi, setelah suasana aman aku berteriak memanggil Mbak Risa agar rencana ku berhasil kamu jual aku beli Mbak, ternyata kamu wanita ular, beracun. Wanita bermuka dua.


"Mbak Risa, minum obat nya dulu." Aku berteriak dan berjalan menuju kamar nya.


Ceklek.


Pintu kamarnya terbuka Mbak Risa menyembulkan kepalanya ke luar.


"Bentar Rin, Mbak lagi ganti baju." Jawabnya pasti bohong.


"Oh iya." Aku menunggunya di depan pintu kamar.

__ADS_1


__ADS_2