
Tak ada angin tak ada hujan pagi buta mama dan mbak Septi datang dengan membawa satu kantung plastik aku tebak itu pasti kue kesukaan aku. Brownis kukus. Ceritanya mau nyogok nih.
"Assalammualaikum?" Ucap Mama lembut selembut kapas, sejak kapan mama baik sama aku? Ah, pastinya semenjak aku kaya.
"Waalaikumsalaaam," jawabku.
Keduanya menatapku penuh kasih, huek, mendadak mual. Aku sedaritadi memperhatikan mereka dari taman depan, mama dan mbak Septi saling dorong untuk masuk, aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka.
"Ada Mama sama mbak Septi, ada apa ya? Gak biasanya," tanyaku sekedar basa-basi.
"Emm." Mama sepertinya ragu mau jawab apa.
"Kenapa," kutatap wajah nya yang mulai ditumbuhi garis halus dibawah kantung matanya tapi tak mengurangi kecantikan mama Leni.
"Ini Rin, mama buat brownis kukus buat Farhan," mama tersenyum canggung.
Sejak kapan mas Farhan suka brownis kukus? Mas Farhan tak suka kue yang terlalu manis.
Aku mengeryitkan keningnya heran. Mbak Septi menyenggol lengan Mama aku dengar Mbak Septi berbisik.
"Farhan gak suka brownis Mama." Nampak Mama salah tingkah.
"M-maksud Mama buat kamu, nih ambil." Sautnya beliau mengulurkan plastik padaku
Demi menjaga perasaan mama ku ambil plastiknya kubuka kantung plastik aroma brownis menyeruak di hidungku, aku memang menyukai kudapan satu ini rasanya manis dan lembut.
"Wah, harum sekali brownis ma, ayok masuk," ajakku berusaha sopan hilang rasa sebalku pada mereka maafkan aku Mama.
Mama masuk kedalam kedua netranya tak berhenti menatap seisi ruangan rumahku. Mama takjub dengan senyum beliau merangkul pundak ku, mama mendudukkan ku di sofa.
Lah, yang punya rumah aku kok, aku kayak tamu begini.
"Rin, maafkan Mama, selama ini sudah menghina kamu," ucapnya dengan terbata bata.
Mama menggenggam erat tangan ku dan mencium nya bertubi-tubi, rasa bencinya padaku hilang seketika melihat aku kaya.
"Cucu Mama mana?" Tanyanya lagi.
"Siapa nama cucu Mama?" Imbuhnya dengan celingukan mencari Rifa.
"Rifa Maulana." Jawabku.
__ADS_1
Mama seperti tak terima bila nama belakang Rifa ada nama suaminya, namun beliau berusaha tenang aku tau hatinya masih menyimpan kebencian terhadap aku dan Rifa.
"Mama Sam mbak Septi mau minum apa," tawar ku.
"Kita ikut kedapur ya ya, boleh," renggek Mbak Septi.
"Boleh." Aku bergegas menuju dapur yang diikuti mereka.
"Eh, ini rumah memang besar sekali, si Rina bisa kayak gitu ya ,gak nyangka bila roda dunia berputar." Terdengar kasak-kusuk dari mama dan mbak Septi.
"Kira-kira mama minta duit dikasih gak ya," jiwa matre mama Leni meronta-ronta.
Aku yang mendengarnya menjadi geli bukan sebal lagi lucu aja gimana kali-kali aku kerjain maafkan Baim ya Allah. Aku cekikikan nahan ketawa pura-pura nelpon Yuni biar shock berat gitu.
"Yun, gimana keuangan kita? Apa! Obset bulan ini naik?" Bohongku.
Tuh kan, benar keduanya saling tatap melempar senyum, aku pura pura tak melihat mereka posisiku masih menerima telpon.
"Apa Yun, kamu udah transfer seratus juta!" Teriakku lantang kutatap wajah mama berbinar.
"Thanks you so much!" Ku akhiri panggilan yang memang tak ada orang yang aku telpon.
Aku menoleh ke belakang dan tersenyum manis.
"Ya Mbak, Alhamdulillah usaha aku lancar." Aku menghempaskan bokongku di sofa.
Mama mendekat dan duduk di sampingku.
"Rin, kamu usaha apa? Farhan juga ikut tanam saham kan, itu modal bukan uang kamu aja, pasti Farhan ikut andil juga."
Tuh kan? Apa aku bilang, pasti dikira mas Farhan kasih modal sama aku.
Aku menggeleng cepat.
"Aku usaha rempeyek belut saat masih gadis Ma, jauh jauhh, sebelum mengenal mas Farhan." Pungkasku senyum manis mama memudar takkala mendengar jawaban aku yang membuat beliau kecewa.
Aku gak mau dicap menantu durhaka aku memberikan sejumlah uang kepada mama tercinta.
"Mama tenang aja, tiap bulan aku akan mentransfer uang buat Mama."
Mama tersenyum binar senyum redupnya kembali bersinar. Begitupun mbak Septi, dia kira aku akan ngasih dia duit! Gak dong. Aku tergiang-ngiang saat dia mencaci maki menghina aku, luka itu masih membekas.
__ADS_1
"Terimakasih Rin, maafkan kesalahan mama yang sering menyakiti kamu, sekali lagi minta maaf." Suara mama bergetar ada ketulusan saat meminta maaf.
Kuraih kedua tangannya ku genggam dan mencium punggung tangannya.
"Ma, seharusnya yang minta maaf itu aku, karena belum bisa membahagiakan mama." Aku berujar dengan senyum.
"Mbak juga minta maaf sama kamu Rin, Mbak belum jadi kakak ipar yang baik buat kamu." Mbak Septi mendekat lalu memelukku.
Huh.
Oeek, Rifa menangis sepertinya dia bangun dari tidurnya.
"Ma, aku ke kamar dulu Rifa bangun tidur," aku berjalan menuju kamar.
"Cucu Oma cantik sekali," mama mengelus pipinya lembut.
"Ponakan Tante, gemes-gemes deh," Mbak Septi mencubit gemas pipi Rifa.
Rifa menangis melihat Mbak Septi.
Aku menjauhkan Rifa darinya takut Rifa menangis lagi.
"Mbak, Rifa menangis mungkin belum kenal sama Mbak."
"Iya, habisnya kamu gak pernah main kerumah mama."
"Rifa sayang sini, Oma mau gendong." Mama merentangkan kedua tangannya untuk mengendong Rifa.
Oeeekkk. Rifa menangis lagi.
"Sayang ini Oma Rifa, jangan nangis ya," aku berusaha menenangkan Rifa juga mengenalkan dirinya dengan Oma dan tantenya.
Tangis Rifa diam saat aku mengenalkan dirinya pada mama.
Haoo, mulut mungilnya membulat lucu, dia tersenyum.
Mama meneteskan air matanya terus menatap wajah mungil Rifa.
"Maaf, Oma baru kesini, Rifa jangan benci Oma."
Aku terharu mendengar pengakuan mama.
__ADS_1