
Sampai juga di mall, akan tetapi aku harus dipertemukan lagi dengan pasangan sejoli itu, bikin mood ancur. Ngapain juga mereka ada di sini? Yang salah diantara kami itu siapa? Aku apa dia?
Disaat hatiku kalut aku melihat mobil warna hitam terparkir di sebelah mobil Farhan.
Mobil itu milik Mas Fatah. Disana juga ada mama, mas Fatah, mas Fahmi dan para istrinya, dugaanku semakin nyakin seratus persen rupanya mereka sengaja mau bertemu di mall ini. Hancur sudah kepercayaan ku pada mas farhan dan keluarga besarnya. Kenapa mama juga menutupi pernikahan mereka? Air mata ini terjun bebas.
Keluarga tersebut saling tatap dan melempar senyum, oh betapa bahagianya menjadi Nisa. Tapi. Tunggu dulu, kenapa mas Fatah pergi? Sedangkan istrinya ikut masuk kedalam bersama mama, mas Fahmi dan mbak Septi.
Ku ikuti langkah mas Fatah yang menuju area parkiran, ah, aku mirip kayak pencuri saja. Mas Fatah berhenti di depan membuat detak jantungku berdegup apa mas Fatah tau bila aku ikuti? Dengan cepat aku sembunyi di balik mobil lainnya.
Hampir saja ketahuan, huh, ku hembuskan napas panjang, selamat, batinku.
"Han, kamu sama Nisa dimana? Hati-hati ada mama juga disana, jangan sampai mereka melihat kamu dan Nisa." Terdengar suara mas Fatah mengingatkan mas Farhan agar hati-hati dengan mama.
Itu artinya mama gak tau tentang pernikahan mas Farhan hanya mas Fatah yang tau, tak ku sangka kamu tega Mas, membohongi ku, hilang sudah rasa hormat dan simpatik padanya.
"Kamu sekarang ada di toko perlengkapan bayi?" Tanyanya.
"Baik. Mas pantau kalian." Jawabnya singkat dan memasukan ponselnya ke saku celana setelah itu mas Fatah masuk kedalam mall.
Jiwa kepo ku meronta-ronta dengan wajah penuh kecewa ku langkahkan kaki yang terasa berat, saat masuk aku jadi pusat perhatian banyak pengunjung ada yang tersenyum mengejek seakan-akan aku ini tak pantas untuk masuk kedalam.
Kareena merasa heran akupun menatap diriku sendiri dan... Pantas saja mereka melihatku seperti itu? Karena penampilan ku seperti gembel hanya mengenakan daster panjang yang sudah usang, jilbab pendek sampai dada dan sendal jepit andalan para emak-emak didapur.
Masabodo! Yang penting aku bisa melihat aktivitas keduanya sedang membeli apa.
Mas Fatah berhenti tepat di toko perlengkapan bayi dari baju dan mainan, kulihat barang belanjaan mereka sangatlah banyak dan yang paling mengelitik mata adalah mas Farhan membelikan kereta dorong bayi sedangkan Rifa tak dibelikan.
Kamu tega mas! Aku tau kalau Rifa bukan darah daging kamu! Mungkin aku harus sadar diri aku dan Rifa tak berarti baginya hanya sekedar kasihan. Sabar Rifa ibu akan membelikan apa yang ayah kamu beli buat anak kandungnya, ibu cukup banyak uang, kita akan membeli mobil juga rumah! Kita akan pergi meninggalkan ayah kamu Nak. Air mataku menghangat lagi. Ah. Cengeng nya aku, mana Rina anak bar-bar absurd yang dulu?
Aku tak mau mereka melihatku ada disini, yang penting aku sudah tau semuanya.
Ku langkahkan kaki dengan tubuh gemetar, lalu tangan kanan ku merogoh saku dasterku untuk mengambil benda pipih, ku kirim pesan singkat pada Yuni agar mentransfer sejumlah uang untuk membeli barang barang yang dibutuhkan aku dan Rifa termasuk mobil.
"Mas Farhan. Aku juga bisa membeli yang kamu beli. Silahkan uangmu kau habiskan bersama dia. Maaf, aku akan mundur alon-alon demi kebahagiaan kamu bersama keluarga kecilmu," lirihku hatiku sakit bila mengingatnya.
Tring sebuah pesan masuk ke ponselku ternyata Yuni, ia mentransfer sejumlah uang kepada ku.
"Terimakasih Yun." Balasku dengan emoticon senyum.
Yuni tak membalasnya mungkin sedang sibuk melayani pembeli. Ah, memang dia bisa diandalkan.
__ADS_1
Aku bingung harus beli yang mana dulu mobil atau perlengkapan Rifa, aku seperti orang tulalit saja kalau beli mobil harus pergi dari mall ini daripada bolak-balik mending aku beli kebutuhan Rifa sekalian mau beli baju aku dan cosmetics biar cantik.
Hmm, apalagi ya? Semua komplit. Aku harus memastikan bahwa yang aku beli sudah semuanya, kini aku harus ke kasir tuk membayarnya.
"Mbak aku mau bayar," ucapku dengan senyum dan mengeluarkan kartu berwarna gold.
Mbak kasir menatapku dengan senyum.
"Gak biasanya toko kami di datangi sultan, tadi pasangan'suami istri memborong perlengkapan bayi yang menghabiskan biaya sekitar sepuluh juta. sekarang ada mbaknya, hehehe," cetusnya sembari menatap kearah Rina.
What! Sepuluh juta! Gak salah dengarkan aku, untuk aku dan Rifa hanya separuhnya saja. UPS, aku kan siapa, dan dia siapa?
"Wah, Mbak ini lebih banyak dari mereka, gak yangka ya, berpenampilan kaya gak punya duit ternyata tajir melintir sultan yang sesungguhnya." Mbak kasir memujiku dengan mata melotot.
"Iya Mbak, apa sih yang tidak buat anak." Jawabku dengan seulas senyum.
Aku akan membuktikan bahwa aku mampu membelikan semuanya untuk Rifa. Aku sadar diri! Aku wanita tak sempurna, jadi jangan mengharap cinta mas Farhan seutuhnya mungkin cintanya pada ku hanya seperempat saja.
"Sering-sering belanja di toko kami Mbak," serunya saat aku melangkah dengan mendorong troli belanja.
Aku hanya mengangguk dan mengacungkan jempol keatas.
****
Aku sengaja menjemput Rifa dirumahnya Mbak Dewi sekalian mau memberikan hadiah atas apa yang Mbak Dewi lakukan buat mengasuh anak ku.
Tin. Tin. Tin.
Ku klakson mobil didepan rumah Mbak Dewi, tak lama Mbak Dewi keluar dengan mengendong Rifa putri kecilku.
"Rin, ini mobil siapa?" Tanyanya heran kedua netranya menatap kearah mobil jazz warna merah merona.
"Punya aku dong Mbak, masa punya pak lurah?"
"Baru." Mbak Dewi mengusap bemper depan.
"Siapa tau Mbak juga bisa membeli nya." Sahutnya.
"AMIN." Jawbaku dengan senyum.
Ku ambil alih Rifa dari gendongan Mbak Dewi.
__ADS_1
"Mbak makasih lho, udah jagain Rifa, ini ada sedikit oleh-oleh buat Mbak, semoga suka." Aku menyodorkan tiga buah baper peg pada nya.
"Jangan repot-repot Rin," sahutnya sambil tersenyum dan mengambil baper peg dari tanganku.
****
Sesampainya di rumah ternyata suamiku sudah stanbay di teras ia menatapku heran tentunya penuh tanda tanya dong? Darimana aku bisa beli mobil dan bisa nyetir. Mumet-mumet tuh kepala.
Aku keluar dengan senyum selebar mungkin andaikan bibirku selebar jalan raya.
"Rin? Ini mobil siapa?" Pertanyaan yang membagongkan.
"Punya Pak gubernur!" Judesku dengan berlalu masuk kedalam.
Langkahku tertahan saat tangan kananku dicekal oleh mas Farhan.
"Jujur sama Mas, itu mobil siapa?" Tanyanya masih lembut.
"Menurut Mas."
"Ini mobil kamu?"
Aku hanya tersenyum melihat wajah bingungnya.
"Kamu punya uang darimana!"
"Apa harus tau?" Jawabku datar.
"Aku ini suami kamu, aku tanya sekali lagi kamu dapat uang dari mana!" Bentaknya.
"Dari nuyul! Puas kamu! Kamu kira aku gak mampu membelikan sebuah mobil untuk Rifa? Aku sanggup, walaupun kamu tak memberikannya kepada kami. Bukan saja mobil yang aku beli, aku juga membeli perlengkapan Rifa juga rumah yang lebih besar daripada milik Nisa?" Sungutku.
"Kamu cemburu pada Nisa?"
"Itu bukan mas yang membelikannya, Sayang? Itu--"
"Basi."
"Rina, tunggu!" panggil mas Farhan.
Aku capek harus beradu otot.
__ADS_1