Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 19


__ADS_3

Subuh-subuh aku sudah berada di terminal menunggu Rina datang. Di sini banyak sekali wanita cantik yang menawar obat hangat, pasti kalian tau dong, apa obat hangat?


"Mas, butuh obat?" Tanya seorang wanita cantik menghampiri aku uang duduk di bangku dekat terminal.


Menawarkan obat kok, pake mengedipkan matanya, aneh bukan. Dia menawarkan obat hangat sedangkan dirinya sendiri hanya mengenakan baju minim.


"Mas." Tangannya yang mulus menyapu wajah tampan ku.


Oh wanita ini ternyata si kupu kupu subuh, batinku.


"Saya gak butuh obat hangat, saya lagi menunggu istri saya!" Tegas ku merasa risih karena dia mulai agresif mengelus dadaku, dasar wanita gi*a!


Ternyata dia tak menyerah terus berusaha menggoda iman ku.


"Kan, istri nya datangnya lama! Mending kita main game sebentar aja."


Beginilah begundal tak mengenal agama. Sudah aku tegaskan tak mau masih saja godaiin.


"Saya gak percaya kalau kamu punya istri, masa iya--" ucapnya terhenti saat melihat Rina datang dengan memasang wajah judes.


"Woi. Kalau mau cari mangsa liat-liat dong, masa gak bisa bedakan antara pria alim sama pria keong racun." Judesnya dengan mendorong wanita itu.


Nampak wanita itu kesal karena Rina mendorongnya hampir dia jatuh, untung saja gak sempat jatuh, bila sampai jatuh bahaya, dua buah pepaya yang besar pasti keluar so, wanita itu pake baju belahan rendah hingga menyembul keluar buah pepaya nya.


"Tutup mata kamu Om! Jangan sampai terkontaminasi bakteri!" Teriak Rina.


Aku hampir tertawa saat perkataan Rina yang menurutku lucu masa wanita itu disebut bakteri? Perutku sakit menahan tawa emang sih tak bisa di pungkiri lagi Rina memang kocak abis bikin nguras perut, lho-lho aku jadi ketularan virus nya Rina? Tak apalah aku sudah terlanjur bucin.


"Sialan Lo! Gue bukan bakteri! Oncom!" Wanita itu misuh-misuh dan pergi meninggalkan kami berdua.

__ADS_1


"Om, kamu sudah diapain aja sama dia?" Tanyanya manyun.


Aku menggeleng cepat.


"Rin, bisa gak sih kamu jangan panggil aku dengan sebutan Om? Aku masih muda umur kita gak beda jauh." Protesku entah kenapa setiap dia memanggilku Om kupingku panas, usia kami mungkin selisih dua atau tiga tahun.


Mataku shock berat melihat Rina berpakaian seperti orang-orang sawah, gamis gomrong kerudung besar hanya mata indahnya yang terlihat aku jadi ragu untuk mengenalkan dia sama Mama, bisa jatuh harga diri aku.


"Om, kenapa liatin aku begitu? Aku cantik? Apa mirip alien?" Lagi lagi dia bicara seperti itu.


"Sekali lagi kamu bilang Om, aku cium kamu disini!" Ancamku dengan wajah serius.


Dia menutup mulutnya dengan kedua tangannya dengan mata melotot sempurna, dia pikir aku akan benar-benar mau mencium dia? Yang benar saja bisa-bisa aku di masak para pedagang asongan seantero, membayangkan nya saja sudah ngeri-ngeri sedap apalagi nyata.


"Berani cium! Maka bodem cap lima jari bisa mendarat di wajah mu Om? Eh, aku rakat Mas, maksudku." Dia tersenyum menambahkan keimutannya dududu bikin gemes aja.


"Assalamualaikum!" Ucap Rina anggun.


Ceklek.


Pintu utama rumah terbuka, yang pertama kali aku melihat ekspresi wajah mama yang bingung heran juga.


"Kamu siapa? *******!" Pekiknya hampir saja mama memukul Rina dengan gagang sapu yang tergeletak di pojokan.


"Bu-bukan, Tante? Aku bukan *******!" Elaknya dengan senyum canggung.


"Farhan! Kamu dapat wanita jadi-jadian darimana, jangan bilang kalau dia calon istrimu!" Marah mama dengan melotot.


"Iya. Kenalkan dia namanya Rina Khairina," aku mengenalkan Rina pada mama.

__ADS_1


Dengan senyum Rina mengulurkan tangannya pada mama.


"Aku Rina Tante, calon menantu idaman Tante?" Dengan pedenya rina mengenalkan diri.


Plakk.


Mama menepis tangan Rina membuat tubuh mungilnya berputar begitu kerasnya mama menepis tangan nya.


Aku tetap keuekuh akan menikahi Rina menjadi istri ku, mungkin hari ini mama gak setuju dengan seiring waktu berjalan pasti restu mama akan Rina terima.


Awalnya Rina menolak menikah dengan ku saat mama tak mau memberikan restu.


Aku membujuk Rina setengah mati habisnya alot banget! Lebih alot daripada mama.


Mama aku sogok dengan bunga Bank langsung mengiyakan sedangkan Rina sudah aku sogok dengan bermacam aneka bunga tetap saja ngeyel gak mau nikah.


Hampir frustasi akhirnya dia menerima lamaran ku, tiga bulan kita saling mengenal akhirnya kita jadi manten juga.


Pernikahan kami memasuki bulan keenam belum ada tanda-tanda dia hamil. Aku tetap sabar menunggu kehadiran bayi mungil di tengah-tengah rumah tangga ku, Rina selalu menangis dalam sujud malamnya.


Sampai suatu saat kami berdua menemukan Rifa di kebun karet ketika kami berkunjung ke rumah mertua.


Keadaan mulai damai, namun aku harus berurusan dengan mas Fatah.


Ya mas Fatah menikah siri dengan cinta pertamanya yang kini hamil tujuh bulan dan acaranya berlangsung besok. Rina salah sangka dia mengira aku lah yang menikah, begini nasibku dicuekin bini sendiri akur jelaskan semuanya percuma karena faktanya akulah yang selalu ada buat Nisa, ketika aku minta izin untuk mengantar Nisa belanja ternyata dia membuntutinya.


Dia pulang membawa mobil jazz merah menyala, aku tanya baik-baik dia beli mobil uangnya darimana, bukan dijawab dia malah ngambek, aku sempat marah dan membentaknya.


Dia diam saja ketika aku bentak! Namun aku tau pasti dia menangis ku dengar Isak tangisnya.

__ADS_1


Maafkan aku Rina, andaikan kamu menjawab pertanyaan ku ini tak akan terjadi, lirihku hatiku ikut sedih melihat istri yang kucintai menangis karena aku.


Aku memang salah. Tunggu sebentar lagi Sayang.


__ADS_2