Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 36


__ADS_3

"Jangan pernah sentuh istri saya Om," bentak mas Farhan dengan menghempaskan tangannya.


Om Darwin mundur beberapa langkah beliau memegangi lengannya.


"Kamu gak pernah diajarkan sopan santun hah! Tak pantas kamu membentak orang tua!" Om Darwin tak terima atas perlakuan mas Farhan yang membelaku.


"Om, duluan yang sudah membuat istri saya menangis. Saya sebagai suaminya tak pernah memarahi ataupun membentaknya." Sela mas Farhan.


"Sudah Mas, kita pulang saja. Gak enak sama mas Fahmi dan mbak Septi acaranya jadi berantakan." Ku tarik lengan nya mas Farhan yang masih ingin memukul.


Entah apa maksudnya om Darwin seakan-akan menantangnya.


"Ayah ibu! Pulang, Riri mau pulang!" Seru Rifa dengan suara tangisan.


Aku dan mas Farhan menatap putri kecilku yang duduk di lantai wajahnya basah oleh air matanya. Aku berlari menghampirinya dan mengendong Rifa keluar dari rumah yang penuh hinaan dari penghuninya. Tak ku hiraukan mas Farhan terserah dia mau pulang atau tetap disana.


Tanpa pamit sama mbak Septi aku pulang dengan terisak aku dan Rifa seperti berlomba menangis Rifa semakin kencang menangis nya.


"Ibu, Riri anak siapa? Kenapa Oma tak mau mengakui Riri sebagai cucunya?" Ucapnya sesegukan.


Ku Elus pucuk kepalanya yang berbalut hijab, akupun tak sanggup mengatakan bahwa dirinya telah aku temukan di kebun sawit.


Rifa mengguncang tubuhku sambil menjerit meminta jawaban yang tak aku berikan aku tak sanggup, aku terlalu lemah. Aku terus berjalan menuju mobil kenapa begitu lama sekali terasa jauh, padahal hanya berjarak beberapa meter saja.


Setelah sampai di depan mobil aku buka pintunya dan aku dudukan Rifa di bangku depan. Aku sedih melihat keadaan Rifa yang murung entah kemana keceriaannya, mama dan keluarga Mbak Risa lah, yang sudah menghancurkan kebahagiaan Rifa, dendam dihatiku seakan-akan berkobar tunggu saatnya Mbak Risa aku akan bongkar kebusukan kalian, itu sumpahku dan aku berjanji akan mengembalikan keceriaan Rifa gadis cantik periang dan Solehah.


Mungkin lelah Rifa menangis terus akhirnya tubuh mungilnya meringkuk dalam pelukanku. Tak lama kemudian datang mas Farhan kutatap wajahnya yang memerah menahan marah, ia masuk kedalam mobil.


Arghhh.


Mas Farhan meremas rambutnya kasar rasa frustasinya sudah tidak bisa di pendam.


"Rifa gak apa-apa Rin?" Tanyanya sambil menarik napas.


"Dia menangis terus, menanyakan siapa ayah ibunya, dia terus bertanya tentang jati dirinya. Aku gak jawab pertanyaan nya aku gak kuat." Lirihnya dengan berurai air matanya.


Farhan menggenggam tangan ku sesekali ia kecup.


"Mas, sudah memberikan ultimatum pada keluarga Mbak Risa, sekaki lagi mereka berbuat seperti itu lagi maka Mas akan bongkar kebusukan mereka."


"Maksudnya apa? Mas, dengan membongkar kebusukan mereka." Tanyaku aku ingin tau rahasia apa yang mas Farhan tau, apakah tentang perampokan tempo hari? Hatiku dipenuhi bermacam macam pertanyaan.


"Kita pulang ke rumah, besok aku mau mengajak Rifa kerumah ibu di kampung, siapa tau ia bisa melupakan rasa shock nya."


Mas Farhan tak menjawab hanya anggukan kepala darinya.


Di kampung mungkin ibu bisa menenangkan gadis kecil ini, ibu lebih paham dalam memahami seorang anak kecil, tak hentinya aku menatap wajah yang sembab dan lelah.


"Ibu janji Nak, gak akan membiarkan orang lain menyakiti kamu lagi, cukup mereka yang menorehkan luka di hati kita berdua."

__ADS_1


Aku menangis dengan memeluk Rifa, aku tak sanggup jauh dari Rifa, ya Allah berikan hamba kekuatan dalam menghadapi keluarga yang selalu meremehkan orang lain.


Sampai rumah mas Farhan mengendong Rifa masuk kedalam kamar Rifa aku mengekor di belakang mas Farhan.


"Mas, aku mau nginap beberapa hari disana, sampai hati Rifa tenang dan mau pulang." Ucapku setelah mas Farhan menidurkan Rifa.


"Mas juga ikut, males mas harus bertemu mama dalam dekat ini, mas gak habis pikir dengan pemikiran mama, ternyata hati mana bisa seperti itu," terdengar helaan nafas panjang.


"Seperti itu apa?" Tanyaku.


"Kamu tau sendiri kan, bila bersama kita mama baik, bahkan menyayangi Rifa lebih dari cucunya sendiri. Tapi bila sudah kumpul bareng geng sosialitanya mama tak mau mengakui Rifa sebagai cucunya mama mendiamkan anak yang tak atau apa apa. Mas sangat menyayangkan sikap mama."


Aku hanya mengangguk paham, mungkin itu sifat Mama yang sebenarnya.


"Kamu gak mandi," tanya mas Farhan.


Aku gelengkan kepala.


"Enggak. Males, mau tidur aja." Jawabku.


Aku naik ke atas kasur dan menarik selimut, namun mas Farhan menarik selimut itu.


"Aku ngantuk Mas, aku capek, lain waktu aja pus up nya." Jawabku.


Mas Farhan terkekeh mendengar ucapan ku, mas Farhan menyentil' keningku membuat aku mengerutkan kening.


"Pus up, pus up. Mas narik selimut agar kamu jangan dulu tidur cuci muka dulu."


"Muka kamu lucu' mirip kepiting nyemplung minyak." Ledeknya dan keluar kamar.


"Ih, nyebelin banget, cantik gini di samain sama kepiting." Dengus ku sambil masuk kedalam kamar mandi tuk membasuh wajah ku.


Segar sekali membasuh muka dengan air dingin, rasa lelah pikiran juga badan hilang seketika.


Selesai membasuh muka aku kembali ke ranjang Rifa mau tidur ternyata mas Farhan sudah ada di sampingnya Rifa.


"Ikutan tidur sini." Tanyaku sambil menarik selimut sampai batas leher.


"Mana bisa Mas tidur tanpa guling penghangat."


Aku hanya geleng-geleng kepala mendengar pengakuannya, bisa aja. Dasar! Kalau punya istri cantik mah, kemana aja ngikut!


******


"Sayang bangun yuk, kita mau kerumah nenek nanti di sana kita mancing belut, mau?" Ku bangunkan Rifa dari tidurnya semalam ia nyenyak sekali.


Alhamdulillah akhirnya Rifa bisa melupakan kejadian semalam, aku bernapas lega setelah melihat senyum putriku.


"Ke rumah nenek Siti?" Ia girang sekali. "Kita mancing belut? Tapi Riri gak suka belut." Jawabnya dengan mengembungkan kedua pipinya.

__ADS_1


Aku tertawa gemes melihat Rifa yang manyun.


"Kita mancing ikan mas punya pak lurah mau?" Ajak mas Farhan.


"Benar yah, gak boongkan."


Mas Farhan mengeleng cepat.


"Ayah gak pernah bohong sama Riri."


Dengan senyum manis Rifa berlari menuju kamar mandi. Selama Rifa mandi aku dan mas Farhan menyiapkan keperluan yang akan kita bawa ke kampung.


****


Rifa tak henti-hentinya bernyanyi menyayikan lagu anak-anak aku sengaja mengajarkan Rifa lagu yang khusus dirinya agar lagu itu tak hilang maklum lah jaman modern jarang sekali anak-anak menyayikan lagunya kebanyakan lagu dewasa.


"Kakek, nenek, Riri datang mau ajak nenek main petak umpet." Celoteh nya belum juga ketemu mereka, batinku.


"Riri hanya punya nenek sama kakek yang tulus menyayangi Riri, Riri gak mau lainnya lagi. Riri hanya cucu nenek Siti sama kakek Ali."


Aku kira Rifa melupakan kejadian semalam ternyata luka semalam masih membekas di hati dan ingatannya.


Aku dan mas Farhan saling tatap, aku gak mau Rifa menjadi anak pendendam ingin aku menasehatinya saat ini, namun di cegah mas Farhan tunggu sampai benar-benar keadaan nya membaik.


"Sudah sampai?" Ucap Rina membuyarkan lamunannya ia sontak menatap sekeliling rumah Bu Siti.


Bu Siti yang melihat kedatangan anak cucunya menyunginkan senyum manis kedua tangannya ia rentankan tuk memeluk cucunya.


"Nenek!" Teriak Rifa yang keluar dari mobil ia berlari kecil menghampiri Bu Siti.


Srekk.


Bu Siti memutar-mutar tubuhnya Rifa merasa senang karena badannya melayang-layang di udara.


"Lebih kuat Nek, Riri suka." Rifa tertawa lepas aku dan mas Farhan tersenyum.


"Aduh? Pinggang Nenek copot!" Kelakar ibu Siti diturunkan tubuh Rifa Bu Siti meringis menahan encoknya kumat.


Aku dan mas Farhan menyalami ibu bergantian.


"Bapak mana," tanya mas Farhan dengan mencari keberadaan bapak.


"Bapak angon bebek sambil ngarit rumput buat si parida." Ujar ibu dan mempersilahkan kami duduk di teras depan.


"Riri mau naik sapi boleh?" Celetuknya dengan senyum.


"Nanti tunggu kakek, Nenek mah takut diseruduk parida gak berani." Ibu meraih tangan Rifa dan mendudukkan dirinya di pangkuan ibu.


Ibu sangat menyayangi Rifa dipeluk erat tubuhnya ibu mendusel duselkan wajahnya di wajah Rifa.

__ADS_1


"Geli Nek, hahaha, Riri sakit perut ."


__ADS_2