Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 26


__ADS_3

Rifa sekarang akrab sekali dengan Mama kemanapun mama pergi disitu ada Rifa, aku terharu melihat keakrabannya tak terasa air mataku menghangat.


Usia putri kecilku kini beranjak satu tahun dua bulan, celotehannya membuat aku rindu padanya kadang aku berpikir kenapa Rifa akrab dengan Omanya hati ini mendadak iri, sudah tiga hari Rifa dirumah mama, aku kangen hari ini aku akan menjemput Rifa sebelum kerumah mama aku akan mampir ke rumah sakit dulu tuk menjenguk Mbak Risa, ia kena mental setelah tau mas Fatah menikah lagi dengan Nisa kejiwaannya terguncang.


Entah dimana keberadaan Mbak Nisa dan mas Fatah keduanya menghilang seperti ditelan bumi, orang tua Mbak Risa menyalahkan mama atas perbuatan mas Fatah, menuduh mama bersekongkol atas pernikahan mereka, mama yang tak tau apa apa disalahkan.


Pak Darwin dan Bu Sopia tak mau merawat Risa jadi akulah yang membiayai semua dari biaya rumah sakit dan lainnya, aku ikhlas membantunya aku ingin Mbak Risa sehat seperti dulu. Ternyata Mbak Risa bukan anak kandung pak Darwin dan Bu Sopia, beliau mengadopsi Mbak Risa dari panti.


Apa karena bukan anak kandung lalu diabaikan? Seharusnya sebagai orang tua harus bisa merangkulnya disaat hatinya hancur jiwa raganya rapuh bukannya di diamkan dan di usir. Nauzubillah akupun sama mempunyai anak angkat, insyaallah aku tak akan seperti mereka menyia-nyiakan anak yang sudah kita rawat sejak kecil, dimana hati nuraninya.


"Yang mau kemana?" Tanya mas Farhan saat aku melangkah keluar.


"Mau jemput Rifa, aku kangen." Balasku.


"Mas ikut ya,"


"Tapi aku mau kerumah sakit dulu sudah satu Minggu gak menjenguk mbak Risa."


"Mau ikut?" Tanyaku.


"Kalau mas ikut, bisa ngamuk lagi sama Mas, kamu aja biar mas kerumah mama pake sikuda besi."


"Aku pamit dulu, kita ketemu di rumah Mama," ujarku dengan mencium punggung tangannya.


"Hati-hati jangan kebut bawa mobilnya," serunya mas Farhan mendaratkan ciuman di keningku.


"Iya, assalamu'alaikum."


"Waalaikumsalaaam."


Sebelum kerumah sakit aku mampir di sebuah toko kelontong aku membeli beberapa makanan kesukaannya termasuk es krim rasa coklat dan vanila kurasa cukup akupun melajukan mobil dengan kecepatan sedang mau kebut jalanan licin habis hujan.


Setelah memarkirkan mobil aku berjalan menuju ruangan dimana Mbak Risa di rawat. Tiba tiba dokter Sandi dan tiga orang suster berlari menuju kamar mbak Risa, ada apa? Kenapa semuanya berlari lari? Apa kambuh lagi? Bukankah kata dokter keadaan mbak Risa mulai membaik, ah, beribu ribu pertanyan di benakku.


Aku berlari di belakang dokter dan bertanya tentang Mbak Risa.


"Dok, ada apa dengan mbak Risa?" Tanyaku setengah berlari mensejajarkan diri ku dengan dokter Sandi.


"Risa marah-marah semua barang yang ada didalam ia hancurkan semua," tandasnya.


"Arghhh! Bangs*t kamu Fatah! Bajinga*n, akan ku bunuh kalian berdua!" Maki nya pisau ditangan nya ia tancapkan ke bantal yang berada di ranjangnya.

__ADS_1


Keadaan Risa kacau tak satupun yang berani mendekat, bila mendekat bisa bisa pisau menancap di perut.


Pintu terbuka nampak Mbak Risa menatap ke arah kami dengan tatapan penuh amarah.


"Mau ngapain kalian kesini! Mau mati hah! Hahaha," tawanya yang mengandung kesedihan dihatinya.


"Hiks...hiks...kamu tega Mas membohongi aku, apa salah aku hingga kamu mendua? Apa karena masalah anak, kamu egois, hiks...hiks...."


Aku berjalan pelan agar bisa mengambil pisau ditangan nya.


"Jangan kesana, nanti kamu celaka," cegah dokter Sandi mengingatkan aku agar jangan mendekati Mbak Risa.


"Ssttt." Aku menempelkan jariku di bibir agar semuanya tenang.


Ketika aku akan mengambil pisaunya tiba tiba Mbak Risa membalikan badannya dan...pisau itu menggores di pergelangan tangan ku ,untung saja tak parah hanya tergores sedikit.


"Aww!" Jeritku dengan mundur dua langkah kebelakang.


"Kamu mau mati hah! Mau ngapain kamu wanita kampung!" Teriaknya sambil menjambak jilbabku.


"Mbak, tenang aku kesini mau ngasih Mbak es krim coklat!" Aku mengeluarkan kantung plastik es krim yang aku bawa hampir meleleh karena terlalu lama di kantungnya.


Aku anggukan kepala, ada rasa prihatin dengan kondisi Mbak Risa sekarang ini. Sendiri di rumah sakit ini tanpa orang tua hanya aku yang sering menjenguknya mas Farhan tak mau ikut karena trauma, bila Mbak Risa melihat mas Farhan maka ia akan memeluknya dan segan-segan menciumnya didepan ku, kadang juga memukul, meninju dan mencakar wajah mas Farhan. Mbak Risa meluapkan amarahnya terhadap suamiku.


Semenjak kejadian itu aku melarang mas Farhan ikut untuk menjenguknya, mama hanya dua kali saja ,itupun melihatnya dari jauh mama tak berani mendekati Mbak Risa.


Mbak Risa pernah nekat mencekik mama kesalahan mas Fatah ia limpahkan pada mama. Keluarga mas Fatah tak tau menahu tentang pernikahan siri mas Fatah dan Mbak Nisa hanya mas Farhan saja yang tau.


"Mana es krim nya?" Mbak Risa mengulurkan tangannya meminta kantung plastik yang aku bawa.


"Tapi pisaunya bawa sini?"


Mbak Risa mengeleng cepat.


"Gak mau!"


"Kalau gak mau, aku akan berikan es krim nya buat pak dokter," harus ekstra sabar menghadapi orang yang kena mental batin.


Masih saja gak mau menyerahkan pisaunya.


"Kita tukar aja mau? Mbak Risa kasih aku pisau nanti aku kasih es krim sama roti."

__ADS_1


"Ada roti juga."


"Hmmm," aku mengeluarkan kantung plastik lagi.


Prokk...prokk...prokk.


Mbak Risa bertepuk tangan heboh, pisau ditangan nya ia lemparkan ke lantai sembarang arah.


Dikupasnya es krim nya dengan wajah murung pelan tapi pasti, es krim nya meleleh bukan karena dimakan tapi terkena air matanya.


"Rin, apa aku kurang cantik, kurang semok dan montok." Tanyanya dengan menatap lurus kedepan.


"Mbak cantik kok, semok dan montok!" Jawabku dengan mengelus rambut panjangnya yang kusut.


"Bohong!" Teriaknya membuat aku terkejut. Ia mendorong tubuh ku hampir saja jatuh kelantai.


Dokter Sandi mengarahkan pada suster agar cepat menyuntikkan obat bius agar Mbak Risa tenang. Khawatir membahayakan semuanya suster menyuntikkan obat bius padanya beberapa menit kemudian Mbak Risa berlahan bisa di kendalikan lagi.


"Dok, kira-kira kenapa ya mbak Risa bisa histeris saat tadi." Tanyaku pada dokter Sandi.


"Ada kemungkinan besar dia melamun lagi dan mengingatkan lagi pada sosok suaminya itu. Saran saya lebih baik kamu sering jenguk dia seminggu dua atau tiga kali."


"Baik Dok, akan saya usahakan."


Aku gak jadi pulang menjemput Rifa karena saat ini Mbak Risa harus aku temani agar cepat pulih. Ku rogoh tas selempang untuk mengambil ponsel lalu ku kirimkan pesan singkat pada mas farhan agar pulang lebih dulu kerumah jangan menunggu aku.


Pesanku belum dibacanya mungkin repot mengasuh Rifa.


Satu jam menunggu akhirnya Mbak Risa sadar dari pingsannya ia menatapku dengan tatapan kosong.


"Mbak sudah bangun?"


Hening tak ada jawaban darinya.


"Mbak?" Tanyaku lagi.


"Pergi kamu, untuk apa disini, kamu waras jangan dekat-dekat orang gil*!"


"Mbak gak gila, Mbak hanya butuh istirahat saja." Sautku.


Hiks...hiks...hiks hanya tangisan Mbak Risa uang terdengar.

__ADS_1


__ADS_2