
Suara itu. Mengingatkan aku pada seseorang yang pernah singgah di hatiku, apakah dia, mas Jono? Ah, gak mungkin bukankah dia di RSJ.
"Rin. Ini aku, apa kamu gak kangen aku? Lelaki yang pernah singgah di hatimu, lelaki yang sudah memutuskan hubungan sepihak itu semua karena ibu aku." Lah, malah curhat. Tunggu! Kok, dia tau aku disini? Apa dia jadi detektif. Atau penguntit, membingungkan.
Aku membalikan badan dan menatapnya dengan mengerutkan kening, sungguh di luar nalar pemuda yang sudah mencampakkan aku datang secara tiba-tiba dengan berpenampilan yang... entahlah aku bingung tuk menjabarkan nya.
Membuat mataku mendadak sepet!
"Siapa ya?" Jawabku terkejut.
Dia tersenyum simpul lalu ia mengulurkan tangannya dan menyebutkan nama nya.
"Jono, mantan terindah kamu." Jawabnya cepat.
Preeeeet. Mantan pacar yang terindah katanya? Bikin kebelet aja aku yang dengarnya.
Dulu aku kesambet dedemit mana ya, bisa-bisanya jatuh cinta sama dia, bila mengingat momen-momen tersebut bikin malu.
"Rin." Dia menepuk pundak ku bikin terkejut setengah mati sumpah demi Alek aku tak sanggup dekat dia mana mas Farhan tak ada di rumah lagi.
Sampai kapan aku akan menahan napas, badan si Jono behhh! Ajijay sedap betul, bikin mual! Apa dia gak mandi selama setahun kali ya?
"Jangan mendekat, kamu bau," jawabku dengan menutup hidung.
Jono mengendus aroma yang khas keluar dari tubuhnya.
"Bau got ya? Maaf. Aku lupa mandi susu?" Jawabnya.
Lah, ini bocah otaknya eror. Udah tau bau nanya. Bikin pusing kepala Barbie. Hallo! Kemana aja kami Rina? Sedari dulu kalee, si Jono jarang mandi, karena dibutakan cinta bau juga terasa wangi, sekarang mah, ogah!
"Mau ngapain kamu kesini, terus tau darimana aku disini?" Tanyaku tanganku masih setia mencapit hidung.
"Gak sengaja lewat terus liat kamu, tuk memastikannya aku datangi kamu kesini dan benar saja ini kamu." Senyuman nya bikin Gedeg.
"Jon, kamu pulang aja ya, aku gak mau jadi sasaran Mama kamu! Cukup satu kali aku dihina dan dicaci-maki!"
"Mama aku gak bakalan tau kok, mama taunya aku di rumah sakit! Hehehe."
Hah! Jadi dia buronan RSJ. Hih, tiba-tiba bulu halus ku berdiri semua, jangan sampai dia menerkam aku. Amit-amit jabang kodok.
Cengiran nya serem banget. Kemungkinan besar dia lagi kumat.
"Kamu salah orang! Saya bukan Rina! Hus, hus pergi!" Usirku jahat mengusirnya seperti ayam.
"Jangan bohong! Aku tau itu kamu!" Jawabnya dengan mata melotot.
Tubuhku bergetar rasa takut menyelimuti seluruh jiwa raga, sangking takutnya aku hampir pipis di celana.
"A-aku, bukan Rina!" Sanggah ku ingin aku kabur masuk kedalam namun daun pintunya ia tahan dengan sebelah kakinya.
Suara tangisan Rifa membuat aku terkejut mendengar tangisan Rifa, akupun menoleh kearah kamar.
"Siapa anak itu?" Tanyanya pelan tak segarang tadi.
"Anak aku."
__ADS_1
Kutatap wajah Jono yang menyendu ada guratan kesedihan yang mendalam.
"Rina! Aku tau pernikahan kamu dengan pria lain hanya untuk kamu jadikan pelampiasan saja. Sebenarnya cinta kamu hanya untuk ku." Jono mengulas senyum.
Anjirr, sok, tahu dia!
Kubalas senyuman dengan ucapan yang bisa mematahkan semangat nya.
"Maaf Jon, kamu salah, aku sangat-sangat mencintai suamiku itu dan alhamdulilah kami dikaruniai seorang anak yang cantik."
"Jadi kamu sudah move on dari mantan mu ini?"
Aku mengangguk cepat.
"Terlalu!" Ucapnya dengan berlalu pergi.
Alhamdulillah akhirnya dia minggat juga, batinku.
Rifa tersenyum dengan mata berkaca-kaca, ku kecup keningnya.
"Maafin ibu ya Nak, nunggunya lama ibu janji gak akan mengulangi lagi." Rifa menatapku dengan tertawa.
Ku tepuk tepuk paga kecilnya agar tertidur kembali, jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas saatnya aku beraksi mengikuti mas Farhan pergi, bibir boleh bicara iya, namun hati terasa lebih sakit.
Tok tok tok tok.
Suara pintu diketuk seseorang dari luar, pasti itu Mbak Dewi tadi aku sudah mengirimkan pesan bahwa aku akan pergi ada urusan dan menitipkan Rifa padanya untung saja Mbak Dewi mau.
Ceklek pintu aku buka lebar Mbak Dewi tersenyum saat melihat ku.
"Rifa nya mana? Masih tidur," tanyanya celingukan kearah kamar, aku hanya mengangguk dan tersenyum.
Ah, anak pintar dalam posisi tidurpun ia anteng, setelah keluar kamar aku menyerahkan Rifa pada Mbak Dewi beserta perlengkapannya.
"Mbak, sore aku jemput ya," ujarku senyum.
"Iya Rin, dijemput besok pagi juga gak nolak."
"Jangan Mbak, aku bisa mewek semalaman kalau gak meluk dia."
Mbak Dewi senang bila aku titipkan Rifa padanya maklum Mbak Dewi tak punya anak, Mbak Dewi janda yang ditinggal pergi oleh suaminya, masalahnya hanya satu.
Gak punya keturunan dan suaminya menikah lagi sedangkan statusnya masih digantung gak jelas. Apakah akhir rumah tangga ku akan seperti Mbak Dewi? Ih. Amit-amit, aku membatin berusaha menolaknya agar pergi jauh sejauh-jauhnya.
Mbak Dewi membawa Rifa ke rumah tak jauh dari kontrakan hanya terhalang oleh lima rumah.
"Rin, Mbak pulang dulu," ucapnya dengan mengendong Rifa.
Aku anggukan kepala,"iya Mbak." Sahutku.
Mbak Dewi pergi baru aku pesan ojek online, lima belas menit kemudian ojek pun datang.
"Dengan Mbak Rina?" Tanyanya.
"Betul." Sahutku sambil mengambil helm.
__ADS_1
"Kita mau kemana?" Tanyanya lagi.
Ini tukang ojek, nanya Mulu cocoknya jadi reporter aja, tinggal melajukan motornya nanti akan aku arahkan ke arah mana? Nyebelin banget.
"Antar saya ke gang ujung sana!" Tunjukku kearah jalan lurus.
Kutatap layar ponselku masih menunjukan pukul setengah dua belas oke! Saatnya beraksi.
Tukang ojek melajukan kuda besinya menuju arah yang sudah aku tunjukkan. Aku duduk di belakang dengan hati gelisah tak karuan hati bertanya tanya apakah dia cantik pintar dan kaya. Bila itu semua benar aku kalah dari segi kekayaan.
"Mbak kita udah sampai!" Tukang ojek memberitahukan padaku bahwa sudah sampai tujuan.
"Hah? Oh, iya." Jawabku ambigu.
Kedua bola mataku hampir lompat dari cangkangnya apa aku gak salah lihat, rumahnya besar berlantai dua, didepan tetas terdapat tanaman hias pot-pot bunga berjejer dan? Yang paling bikin sport jantung adalah di halaman rumah yang luar terdapat sebuah mobil jazz warna putih.
WOW. Begitu spesial nya Nisa dimata suamiku, aku mah apa hanya remehan rempeyek yang tak terlihat.
Dia calon ibu dari suamiku tentunya akan diberikan yang terbaik seperti rumah, mobil dan lainnya. Sedangkan aku hanya diberi motor butut, rumah pun bukan milik sendiri melainkan ngontrak. Nasib-nasib! Ku Elus dada ini yang mulai bergemuruh amarah tak terasa kedua tanganku mengepal kuat.
Tukang ojek menatapku dengan mengerutkan keningnya.
"Mbak! Gak papa kan," tanyanya dengan mengguncang lenganku.
Pertanyaan nya tak aku jawab, netraku masih fokus pada rumah mewah milik Nisa. Tak lama keluar pasangan suami istri yang romantis siapa lagi kalau bukan mas Farhan dan Nisa.
"Mas, kita sembunyi di situ!" Aku menunjuk pohon besar di samping rumah Nisa. Tukang ojek mengangguk dan melakukannya kearah pohon tersebut, an tak akan terlihat oleh mereka.
Keduanya saling melempar senyum manis, hatiku lagi dan lagi berdenyut perih, saat melihat mas Farhan memperlakukannya begitu spesial aku juga ingin diperlakukan seperti itu, andaikan aku bisa hamil, ku Elus perut rataku.
Kapan kami hadir di sini Nak, tangisku dalam hati.
Mobil putih melaju sedang melintas di depan ku.
"Mas, ikuti mobil itu!" Titahku dengan senyum hambar.
Tukang ojek tak menjawabnya dia tau kalau aku tak baik-baik saja. Ia melakukannya terlalu dekat sehingga mas Farhan menolehkan kepalanya ke belakang.
"Mas, duluan kita hampir ketahuan!" Teriakku yang di anggukan oleh nya.
Ku rasa aman, aku perintahkan padanya agar jangan terlalu dekat bisa bahaya.
Untuk mengindari kecurigaan kami berhenti di sebuah warung.
Saat kami duduk mobil mas Farhan lewat tepat di depanku begitu mesranya bahkan mas Farhan tersenyum menatap Nisa.
Aku tak sanggup lagi melihat kemesraan keduanya aku mutuskan tidak mengikutinya takut aku khilaf bisa-bisa wajah si Nisa jadi babak belur atas sikap kekonyolan ku.
"Mas, antar aku ke mall!"
"Gak jadi ngikutin mobil itu?"
"Gak!"
"Jadi kita ngemol, terus bayaran saya gimana?" Tanyanya takut kali gak aku bayar gak tau aku itu milyarder tau.
__ADS_1
"Tenang Mas, pasti aku bayar dan aku lebihin." Jawabku kesal.
"Asiaaap!" Jawabnya dengan cengengesan.