
"Rin! Buka pintu nya? Mas mohon." Mohon Farhan Rina terisak dengan menundukkan kepalanya sakit! Sudah dikhianati dan kini Farhan membentaknya dia yang salah kenapa harus semarah itu? Harusnya aku yang marah bila perlu aku hancurkan rumah ini, batin Rina.
Sok terzolimi.
Oeeekkk. Suara tangis Rifa membuat Rina mengangkat kepalanya, Rifa tau bila ibu nya bersedih diantara keduanya seperti ada ikatan batin yang kuat.
"Cup, cup, bobok ya Sayang, ibu gak apa-apa," Rina mengelus kepalanya dan tersenyum seakan mengerti Rifa pun tersenyum manis.
Brakk.
Pintu terbuka membuat Rina heran.
"Bisa pelan nggak, pintu gak dikunci juga." Dinginnya.
"Maaf."
Hanya kata 'maaf' yang keluar dari mulut Farhan.
"Biar mas yang gendong Rifa," pintanya sambil mengulurkan tangannya.
Rina tak menjawab iapun menyerahkan Rifa padanya.
Rifa memang anak yang baik gak rewel anaknya penurut selalu mengerti keadaan.
"Kamu sudah makan," tanya Rina tanpa menatap suaminya.
"Ohiya pasti sudah dong, kalian berdua habis belanja cantik dan? Tentunya makan romantis juga." Imbuhnya lagi.
Farhan gelengkan kepala cepat.
"Kami gak sempat makan. Karena keadaannya darurat."
Rina menoleh apakah suaminya itu jujur atau bohong ada rahasia apa yang disembunyikan.
Ah, ingin ngambek lama, tapi mendengar perkataannya membuat jiwa kepo ku meronta-ronta lagi dasar! Kepo! Kok, dipelihara.
"Darurat kenapa? Takut ketahuan aku? Gitu. Jangan khawatir kamu Mas, aku tak akan menghajar kalian di tempat umum, aku masih punya malu."
"Bukan kamu Sayang, tapi--"
"Tapi apa! Sudahlah, aku akan menyiapkan makan malam, tadi aku beli ayam teriyaki kesukaan kamu. Aku gak sempat masak." Rina berlalu meninggalkan Farhan yang sedang mengendong Rifa.
Setiap langkahnya Rina selalu menangis meratapi nasibnya.
Ih. Ngapain juga aku harus nangis Bombay, aku banyak duit, gak butuh cinta yang mendu, hidup berdua dengan Rifa sudah lebih cukup. Itu katanya tapi hatinya berkata lain berat bila harus berpisah dengan suaminya.
Makan malam sudah tertata rapi dengan senyum hampa Rina berjalan menuju kamar tuk mengajak suaminya makan.
"Makan malam sudah siap, mau makan sekarang atau nanti?" Tanya Rina berusaha tersenyum.
"Sekarang aja, mumpung Rifa tidur."
Rina hanya anggukan kepala dan berjalan lebih dulu tuk menghindari Farhan.
Suasana di meja makan hening diantara keduanya tak ada yang mau membuka obrolan sekedar memuji masakan istri seperti biasa yang di lakukan Farhan.
Malam ini mereka makan berteman sepi.
Rina hendak pergi namun tangannya dicekal Farhan.
"Apa?" Tanya Rina.
"Kamu beli mobil baru dan perlengkapan Rifa uang dari mana," Farhan bertanya pada Rina.
"Uang ku lah, aku tak mau merepotkan orang lain, selagi aku mampu membeli semua yang aku mau, kenapa tidak! Aku tak mau merepotkan suami, apalagi suami bininya dua." Sindirnya pedas.
"Kalau mau mobil kenapa gak ngomong sama Mas." Sahut Farhan.
__ADS_1
"Emang kamu mau belikan aku mobil." Ejeknya.
"Untuk membeli kontan Mas gak mampu, karena gaji Mas gak besar."
"Yang disono mobilnya cas yang disini kredit! Untuk apa kredit akukan kayah! Aku wanita mandiri anak pengepul barang bekas, tapi dulu sekarang mah gak tuh."
"Ngomong sama kamu capek aku tanya serius tapi kamu jawabnya asal gak searah."
"Makanya jangan banyak tanya cukup diam toh aku beli pake uangku sendiri besok aku dan Rifa akan menjenguk mama ."
Debat terus bikin tenaga habis lebih baik diam.
Di kamar.
Farhan nampak gelisah tubuhnya bolak balik mirip ayam bakar yang diolesi bumbu sedangkan Rina anteng aja, seperti tak ada beban. Padahal mah hatinya gondok setengah mati.
"Yang?" Panggil nya.
Beberapa kali memanggilnya namun Rina Tak ada tanda-tanda dia mau menjawabnya.
"Rin, Mas tau kamu gak tidur, mas hanya mau mengajak kamu dan Rifa keacara tujuh bulanan Nisa."
Mendengar nama Nisa membuat mata Rina terbuka nampak kilatan cahaya amarah, kenapa setiap detik, tiap menit selalu nama Nisa yang ada di setiap obrolan. Kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Bisa gak! Sedetik saja? Gak bahas dia!" Ketusnya.
"Kenapa sih! Kamu hobi sekali membahas tentang Nisa! Nisa! Dan Nisa! Apa aku sudah tak ada lagi dihatimu? Walaupun secuil!" Tak terasa air matanya mengalir.
Farhan yang melihat nya menjadi salah, dia mendekat dan memeluknya erat. Rina berusaha berontak namun apa daya tenaganya tak mampu mengalahkan besar tenaganya Farhan, Rina pasrah dalam pelukan Farhan.
"Menangis lah, bila itu bisa membuat kamu tenang," ujarnya dengan mengecup pucuk kepalanya.
"Aku gak nangis! Aku Rina Khairina bukan wanita cengeng!" Jawabnya sambil menyusut kedua sudut matanya.
"Mas mengerti maka dari itu besok kamu ikut mas dan kamu akan tau yang sebenarnya siapa Nisa dan ada hubungan apa antara kita."
"Kita?" Jawab Rina.
"Kamu cemburu tak beralasan." Farhan mengecup bibir Rina lembut.
Saat Farhan aka menciumnya lagi tangan Rina menahannya agar menjauh tangan kirinya menutupi mulutnya.
"Kenapa?"
"Cuci dulu bibir kamu Mas! Aku gak mau terkena virusnya dia."
"Di bibirku hanya ada virus Rina yaitu kamu istri yang paling cantik dan baik."
Rina hanya mendelik kesal.
"Untuk apa kamu mengajak aku kerumah dia?"
"Nisa namanya Rin, bukan dia." Tegasnya.
"Kamu marah, kamu kesal, kamu kecewa dengan ucapan aku? Is okey. Aku ngerti dan kamu juga harus tau kalau aku enggan menyebutkan nama dia." Jelasnya.
Akhirnya Farhan mengalah saja demi kedamaian rumah tangga nya.
"Kamu mau aku datang baik, aku akan datang acaranya dimulai jam berapa."
"Jam sepuluh pagi, tapi Nisa meminta kita datang lebih awal."
"Kita." Farhan mengangguk.
"Kamu saja, aku akan datang setelah acaranya hampir selesai."
"Dan satu lagi jangan paksa aku datang lebih awal faham." Imbuhnya dengan membuang muka.
__ADS_1
Farhan mengerti dengan sikap Rina, ia pun tak mempermasalahkannya baginya Rina mau datang saja Alhamdulillah.
"Aku mau tidur."
Farhan mengangguk dan tersenyum lebar. Biarpun Rina merajuk Farhan akan selalu tersenyum manis padanya.
*****
Farhan sudah rapi dia keluar dari kamar mencari sosok wanita yang ia cintai.
"Yang!" Teriaknya.
"Yang, yang kepalanya peyang!" Rutuknya.
Dari arah samping terlihat jelas wajah tampan Farhan yang menawan, senyuman ia suguhkan pada istrinya.
"Pagi Sayang," sapanya yang mencium pipi kanannya.
"Hmmm."
"Beneran gak aku bareng Mas." Tanyanya tuk memastikan siapa tau Rina berubah pikiran.
"Hmmm." Lagi lagi jawabnya hmmm.
"Emang kamu tau dimana rumahnya?"
"Bawel banget sih kamu itu mas. Aku punya mulut! Gunanya mulut itu untuk bertanya? Udah deh, berangkat sana!"
"Mas tunggu kedatangan kamu dan putri kita Rifa."
"Iya cerewet!"
*****
Rina berpenampilan kece badai pasti para buaya buntung akan terpesona padanya. Rina benar-benar cantik, dia memoles wajahnya tipis tak ketebalan simpel tapi kelihatannya cuantik ruarbiasa ia memakai gamis yang simpel namun harganya gak kaleng-kaleng semua yang ada di tubuhnya barang branded semua sempurna sudah.
"Anak ibu sudah cantik, kita akan menghadiri acara pengajian. Rifa mau ikut?" Tanya Rina dengan menatap wajah imutnya Rifa.
Rina mengendarai mobil jazz merah nya dengan kecepatan sedang takutnya berbahaya bagi Rifa.
"Aku akan datang dan membuktikan siapa yang pantas untuk menjadi istri mas Farhan." Batinnya ,ia sudah bertekad akan mempertahankan rumah tangga nya.
"Sampai!" Lirihnya dengan menatap ke arah rumah Nisa.
Para tamu undangan sudah berdatangan Rina keluar dari mobilnya dan mengendong Rifa. Semua mata tertuju pada Rina.
Rina terkejut saat melihat Risa ada di sana juga, apakah mamanya juga ikut?
Risa tersenyum manis padanya.
"Kenapa kaget! Liat aku disini, menghadiri acara tujuh bulanan istrinya Farhan." Tanyanya sinis.
"Gak kaget tuh, biasa aja!" Kilahnya sok santai.
Risa nampak kesal atas jawabannya.
"Kamu gak cemburu gitu! Kamu liat sendiri Farhan begitu bahagia dengan Nisa apalagi mereka akan punya anak, gak kaya kamu! Punya anak juga dapat mulung."
"Jaga bicara kamu! Aku tak akan menghormati orang yang lebih dewasa bila ucapnya tak berpendidikan."
"Dan bila Nisa bukan istrinya mas Farhan dan dia istrinya mas Fatah apakah kamu akan ikhlas atau malah akan membunuhnya."
"Diam kamu anak pengepul!" Teriaknya membuat orang-orang menatap mereka termasuk Farhan dan Fatah.
"Iya, aku anak pengepul emangnya kenapa? Aku anak pengepul yang sukses. Mau bukti." Tantangannya dengan senyum mengejek.
"Hai semua nya kalian tau siapa laki-laki itu." Risa menunjuk ke arah Farhan.
__ADS_1
"Ya, dia Farhan dan wanita yang hamil itu istrinya, dan wanita miskin ini istrinya juga! Tapi dia mandul, makanya suaminya kawin lagi." Cibirnya.
Dari kejauhan tampak Farhan mengepalkan tangannya tak terima bila dirinya dituduh melakukan poligami padahal suaminya sendiri. Yang paling menyakitkan hati saat kata-katanya mengatai Rina mandul, dengan napas memburu Farhan ingin menampar pipi Risa namun dicegah oleh Fatah.