
Kita melewati rumah mama aku melihat sekilas anak dan mertua sedang senam pagi di taman depan. So pasti liat kita dong? Tuh kan, benar, Mak lampir melirik ke arah mobil kami.
Pagi pagi sudah ada yang haredang gaes.
"Mas, pelan saja, aku mau nyapa Mbak Risa."
"Bukan nyapa tapi kamu mau pamer, iya kan."
"Hehehe iya."
"Mas fokus menyetir gak usah dibuka jendelanya cukup aku aja."
"Dasar!"
Mobil melintas tepat di depan rumah mama aku sengaja membuka jendela kaca mobil dan aku sapa si lampir cantik itu.
"Pagi menjelang siang semuanya?" Aku tersenyum manis semanis jamu.
Ketiganya nampak shock mata mereka menajam seakan-akan tak percaya bila itu aku yang lewat depan rumahnya.
"Woy! Malu! Bawa mobil orang! Makanya kalau mau kemana-mana pake mobil beli! Kerja! Kerja! Woy! Jangan andalkan suami." Teriaknya sambil mencak-mencak.
Hahaha, dia kepanasan aku beli mobil baru dia mah punya juga mobil tahun lalu jelas kalah lah sama aku. Ck. Sombong.
"Rin, kamu mau kemana?" Tanya Mbak Septi mulai kepo dia hahaha.
"Mau kerumah baru Tante?" Jawabku seolah-olah Rifa yang menjawab pertanyaan darinya.
"Hahaha, rumah baru? Kontrakan baru kali," ejek Mak lampir.
"Ck. Gak percaya udah deh, mau bukti ikut aku." Aku tantang dia berani ikuti tidak, jangan-jangan takut.
"Mbak Septi sama Mama mau ikut?" Ajakku berusaha menjadi menantu baik Dimata mama.
"Mau." Sahut Mbak Septi.
"Tidak mau." Judes mama.
Mbak Septi kesambet dedemit mana, gak biasanya sikapnya baik entah melihat aku mengendarai mobil jazz baru kali ya makanya dia lunak gak judesin aku lagi, beda dari mama dan Mak lampir masih malu mengakuinya.
"Yang mana rumahnya?" Tanya Mas Farhan.
"Emm, bentar aku chat dulu Yuni." Balasku dengan mengetik pesan singkat pada Yuni.
Bukan balasan pesan yang aku dapat melainkan Yuni menelponku.
"Halo Yun, yang mana rumahnya? Aku sudah ada di depan komplek perumahan." Cerocosku.
"Maju lagi ada rumah yang paling gede cat tembok warna putih, aku tunggu kamu di depan gerbang." Ujarnya dengan mematikan ponselnya.
"Kebiasaan belum dijawab udah main matiin hp aja." Gerutuku.
"Mas, maju dikit lagi, kalau ada rumah warna putih yang paling gede di kompleks ini itu rumahnya." Aku mengarahkan pada mas farhan. Ia hanya manggut-manggut saja.
__ADS_1
"Yang ini?" Tanya mas Farhan saat kami berada tepat di pintu gerbang, nampak Yuni membukakan pintu nya.
Dengan pelan mobil pun melaju pelan dan...
Jreng jreng.
Aku gak mimpi kan, tubuhku bergetar jangan mati dulu, belum merasakan jadi nyonya sungguhan, batinku menggap-menggap mirip orang asma.
"Yun. Ini rumah apa Keraton?" Tanyaku setengah limbung, andaikan Rifa ada didalam gendong ku mungkin dia sudah lompat ke bawah.
Jangan tanya lagi keadaan Mbak Septi mata melotot mulut menganga lebar tubuhnya juga bergetar. Jangan pingsan ribet bawa masuknya.
"Farhan, ini nyata kan? Ini rumah kalian, atau hanya ngeprank kita biar kaget ya," masih gak percaya atas apa yang ia lihat.
"Iya Mbak. Ini rumah atas nama Rina Khairina." Sahut Yuni.
"K-kamu punya duit sebanyak itu darimana, Rin. Kamu nuyul? Apa ngepet."
Astaghfirullah! Ente kalau ngomong sekate-kate. Dikira gue mbahnya tuyul apa.
"Mbak, aku gak punya tuyul, yang punya tuyul kan Mbak Yul." Tandas ku.
Mbak Septi mendekat dan menggoyangkan lenganku.
"Kamu milyader Rin?" Kedua sudut bibirnya melengkung.
Hmmm, bila dia sudang tersenyum begitu, perasaan aku mendadak jadi gak enak. Dia kan, pintar sekali carmuk (cari muka) dasar belgedes.
"Rin, masuk yuk, kasian keponakan aku kepanasan," Yuni menyeret ku masuk.
Didalam gak kalah bagusnya furniture jati sangat indah beberapa sofa berjejer rapi di tempatnya ruang tamu yang luas pemilik rumah ini pasti banyak art-nya sedikit pun tak ada noda kinclong semua dirumah ini ada enam kamar kamar utama ada di samping ruang tamu yang dua ada dilantai atas, gak sia-sia aku membeli rumah ini.
Yuni mengatakan padaku harga murah ini gak kaleng-kaleng hingga aku harus mengeluarkan kocek sekitar lima ratus juta.
Tak apa aku puas dengan hasil nya, Yuni memang is the best bisa di andalkan.
Setelah puas keliling rumah, taman pun tak luput dari perhatian ku. Memang aku mengidamkan memiliki kolam renang didalam dan luar taman yang ditumbuhi tanaman hias sedangkan taman belakang dipenuhi bermacam sayuran dan buah.
Nikmat mana yang sudah kau dusta kan ya Allah. Ku panjatkan puji syukur kepada-nya.
Aku teringat ibu dan bapak, bila aku punya rumah sendiri maka aku akan memboyong mereka tinggal bersama aku, sabar Bu, pak, aku akan menjemput kalian, itu janjiku dulu, kini doaku terkabul.
Mbak Septi enggan pulang aku sudah mengusirnya secara halus, banyak alasan darinya.
"Mbak pulang nya mau diantar aku apa Mas Farhan?" Tanyaku.
"Boleh nginap nggak?"
Lah ini pake drama aku suruh pulang malah nawar mau nginap, nyesel aku ngajak dia. Sebenarnya dia kayak beneran apa bohong sih! Kesalku.
Aku juga butuh istirahat.
Karena Mbak Septi ngeyel, ku tulis pesan singkat kepada mas Fahmi agar istrinya pulang. Dua menit kemudian Mbak Septi mendapatkan telpon dari suaminya, sepertinya dia kesal raut wajahnya gelap gulita mas fahmi menyuruhnya pulang, emang enak.
__ADS_1
"Mbak pulangnya naik apa?"
"Punya kaki kan," sahutku ia anggukan kepala nampak berpikir sejenak.
"Kami nyuruh Mbak jalan kaki?"
"Betul." Cuekku.
Tiba-tiba dia mengulurkan tangannya tepat di depan wajahku.
"Mau cium tangan," tanyaku sok polos aku tau pasti dia minta duit buat ongkos ojek.
"Minta duit! Jalan kaki jauh, Mbak mau naik ojek, kalau gak mau ngasih duit antarkan pulang pake mobil." Udah nawar memerintah yang punya rumah dasar, ipar.
"Mas Farhan capek begitu juga aku Mbak. Nih!" Aku menyodorkan uang lima puluh ribu.
Di ambilnya uang tersebut dan ia angkat keatas. "Duit segini buat apa?" Ia mengibas-ngibaskan tuh duit.
"Buat beli seblak dapet banyak Mbak. Ya buat bayar ojek lah." Sungutku lama-lama aku punya riwayat jantung. Nyesel banget udah ngajakin dia kerumah.
"Mama! Mama!" Teriak Septi dengan napas terengah-engah mencari keberadaan mama Leni.
"Mama aku cariin ternyata disini! Ada kabar baik Ma."
Mama Leni mengerut kening, aneh, pulang dari rumah Rina jadi aneh menurut mama
Mama menempelkan telapak tangannya di kening Septi.
"Gak panas, biasa aja. Kamu waraskan Septi?" Tanya mama Leni dengan wajah datar.
"Ma, ternyata anak kampung itu, benar-benar kaya Ma, dia beli rumah milik pak Hermawan orang yang paling kaya di komplek ini! Dan satu lagi mobil yang dia bawa mobilnya juga, gak nyangka sekarang dia menjadi seorang sultan."
"Hais!" Mama mengibaskan tangannya keatas.
"Mana mungkin dia punya duit sebanyak itu, bisa jadi dia kerja jadi babu di rumahnya pak Hermawan." Mama Leni menyangkalnya bila Rina sekarang orang kaya.
"Coba Mama tadi ikut, pasti percaya, aku liat surat-surat rumah itu atas nama Rina mah. Awalnya juga aku gak percaya sama dia, eh, pas temanya memberikan sertifikat rumah nya atas nama dia aku baru percaya."
"Kamu gak bohong kan," Septi gelengkan kepala cepat
Kedua sudut bibirnya melengkung mama Leni mendekati Septi seraya berkata.
"Kita harus baik-baikin dia, kita kuras habis hartanya, hahaha." Tak disangka mama Leni mempunyai sifat licik, baik karena ada maunya.
Dibalik tembok Risa mengepalkan tangannya marah mendengar perkataan Septi bila saat ini Rina menjadi sultan.
"Gak, gak boleh aku kalah saing dengan wanita buluk. Aku harus menyingkirkan dia." Risa misuh-misuh tak jelas rasa benci dan marah menjadi satu apalagi akhir-akhir ini Fatah jarang pulang menambah kegelisahan dirinya ucapan Rina masih terngiang-ngiang di telinganya.
"Gak mungkin mas Fatah menikah lagi? Mas Fatah mencintai ku seorang, hiks...tapi, bagaimana bila ucapan wanita kampung itu kenyataan." Kedua sudut matanya basah.
"Mas Fatah, kenapa kamu gak pulang, aku telpon gak diangkat juga." Kedua tangannya memukul-mukul tembok tak perduli rasa sakit di kedua tangannya
Semenjak pulang dari acara pengajian tujuh bulanan Risa merasa curiga dengan suaminya, bila Nisa istrinya Farhan kenapa Farhan biasa aja sedangkan Fatah sibuk mengurus ini itu, dan yang paling mengganjal pikirannya kenapa Rina tak menunjukkan ekspresi cemburu biasa-biasa saja, aneh bukan?
__ADS_1
Risa akan mencari bukti tentang perselingkuhan suaminya.