
"Mbak Nisa sekali lagi, aku minta maaf atas semua ucapan aku barusan. Maaf." Rina menundukkan kepalanya kedua tangannya saling bertautan dirinya dilema antara menyesal dan tidak.
Dengan senyum lebar Nisa mendekati Rina dan memeluk nya. "Saya yang seharusnya minta maaf sama kamu." Nisa melerai pelukannya dan menatap Rina.
"Kenapa sih harus maaf-maafan kan, lebarannya masih lama."
"Kamu ini ya, benar kata Farhan kamu memang kocak dan lucu."
Rina mengeryitkan keningnya.
"Maksudnya mas Farhan sering ngegosip tentang aku?"
Nisa anggukan kepala.
Nisa maupun Rina kini akur hingga melupakan Fatah suaminya yang masih mematung menatap keduanya saling peluk.
Ehem. Sebuah deheman membuat Nisa dan Rina menengok kebelakang.
Nisa hanya tersenyum saja.
*****
Farhan mengendong Rifa mencari Rina yang menghilang seketika, terakhir dirinya melihat Rina sedang ribut dengan Risa Farhan tak tau kelanjutannya, Mbak Dewi juga ikut mencari kebenaran Rina.
"Mas Farhan, Mbak Rina perginya kemana? Mbak jadi pusing mikirnya kasian Rifa daritadi nyariin ibunya."
"Saya juga gak tau kemana Rina pergi."
Farhan terkejut saat Rina, Nisa dan Fatah keluar dari kamar mereka, perasaannya menjadi gak enak, apakah mereka bertengkar atau apa? Seribu pertanyaan menghiasi isi kepalanya, tak mau berasumsi sendiri ia pun mendekati ketiganya tak lupa ia mengendong gadis cantiknya.
"Kalian?" Tanyanya heran saat Nisa menggenggam erat tangan Rina.
Rina mendekati Farhan dan memeluknya erat.
"Mas, maafkan aku yang sudah menuduh mas berselingkuh sama mbak Nisa, maaf ya?" Rina menangkupkan kedua tangannya.
Farhan mengulas senyum gemas.
"Kamu sih! Orangnya cepat ngambek, kata Mas tunggu waktu yang tepat. Semuanya akan mas jelaskan." Tutur Farhan sambil menyodorkan Rifa padanya.
"Astaghfirullah! Ibu sampai lupa sama kamu Nak." Rina meraih tubuh mungilnya dan mencium pipi gembilnya bertubi-tubi tanda penyesalan sudah mengabaikan Rifa.
"Mbak Dewi kemana?" Tanya Rina dengan menatap Rifa terlelap tidur.
"Rin, Mbak Segede gini kamu gak liat?" Kekehnya membuat semua tertawa menertawakan Rina yang bingung. Habis nangis terus tertawa dan lupa sama badan yang subur didepannya.
"Ais! Mbak, aku kita siapa tadi," jawabnya dengan menunjukkan cengiran.
"Gimana mau keliatan kan, tadi dia misuh-misuh jadi kedua tangannya gelap!" Fatah menimpalinya.
__ADS_1
Hahahaha semuanya tertawa terbahak-bahak melihat wajah Rina yang ngambek.
"Terus aja ledekin aku mas, ingat ya, jangan sampai nih, mulut ember ke mama dan Mbak Risa." Ancamnya. Fatah terdiam seketika ia mengatupkan bibirnya dia gak mau ledekin Rina takutnya ancam Rina jadi nyata bisa-bisa berabe.
Fatah memang akan menceraikan Risa bila Risa tak mau hamil mengandung anaknya. Syukur-syukur mau, punya istri dua tak apa tak ada yang larang. Pikiran picik Fatah memang is the best. Tak memikirkan perasaan seorang wanita yang diduakan serakah.
"Mbak, Mas, kita pamit pulang sudah sore juga." Rina berpamitan pada tuan rumah.
"Cieeee! Mbak, tadi siapa ya, yang misuh-misuh gak jelas. Sekarang panggilnya Mbak gak pake Nisa lagi." Sindir Farhan.
"Cieeee. Yang gak takut dikasih jatah." Balas Rina.
UPS. Farhan mengatupkan bibirnya diam tanpa kata.
"Hahaha! Yang sosis?" Ledek Nisa dengan menahan tawa.
"Apa sosis sayang?" Tanya Fatah pada Nisa.
"Sosis, wowowow sosis, suami Sien istri." Sahut Fatah.
Kedua netranya menatap tajam kearah Fatah ada kilatan marah pada kakak sulungnya itu sukanya memojokan dirinya padahal dirinya juga sosis sama istri tak berani mengakui bila dirinya nikah lagi dasar Cemen.
"Kalau semuanya berdebat mending kita nyalon jadi anggota DPR aja. Kayaknya seru deh, debat dengan suami dan ipar." Usul Rina dengan menaik turunkan alisnya.
"RINA!" Teriak ketiganya.
*****
Rina duduk di bangku depan dengan menggendong Rifa Farhan fokus menyetir mobil sedangkan Mbak Dewi duduk di bangku belakang.
"Rin, Mbak mau tiduran boleh?" Tanyanya membuat Farhan dan Rina saling lirik.
"Boleh dong Mbak, emang kenapa harus minta izin segala." Jawab Rina.
"Yeaayy, kita sampai rumah?" Heboh Rina ia menoel-noel pipi Rifa. Rifa mengeliat geli karena ulah ibunya.
Farhan merasa senang melihat wajah cantik Rina kembali berseri setelah beberapa hari gelap.
"Kami diam disini biar Mas yang buka pintu nya." Farhan keluar dari mobil dan memutar tuk membukakan pintu untuk Rina juga Rifa.
Farhan mengendong Rifa dan menuntun tangan kanan Rina, keduanya tak menyadari bila didepan rumahnya sudah ada mama beserta kedua mantu idaman nya.
"WOW. Ada tamu yang terhormat datang ke gubuk derita, gak salah?" Oceh Rina menatap kearah Risa entahlah saat ini Rina seperti menemukan musuh baru.
"Mama, sudah lama menunggu?" Farhan menyambut tangan mamanya dan menciumnya dengan takzim.
"Lumayan. Kamu gak mau menyuruh mama masuk? Pegel kaki mama harus berdiri," kesal mama tangannya memijat betisnya dengan wajah kesal.
Pintu dibuka oleh Rina dan mempersilahkan tamu agungnya masuk.
__ADS_1
"Assalamualaikum," Rina mengucapkan salam bila akan masuk kerumah biarpun tak ada orang Rina selalu mengucapkan salam.
"Kamu ngucapin salam, emangnya ada orang!" Ketua Mama.
"Ma, aku sudah biasa dan kewajiban kita umat muslim harus selalu mengucapkan salam kalau mau masuk rumah." Dengan senyum Rina mempersilahkannya.
"Han? Ini mobil siapa?" Tanya Mbak Septi kedua matanya tak berkedip memandang si merah merona.
Mobil gue! Mau apa Lo, mau minjem, sorry layau! Elo-elo pada gak level naik mobil gue! Sombongku dalam hati.
Bila aku jujur itu punya aku apa mereka akan kejang-kejang terus masuk rumah sakit, kasian deh Lo! Senyum picik terbit di sudut bibirnya.
Mas Farhan menatapku seakan-akan meminta jawaban apa yang harus ia jawab.
"Oh, itu punya pak lurah, aku ngerental." Jawabnya asal nyahut.
"Kenapa? Mau ya? Ngiler ya, itu harganya mehong lho Mbak. Aku gak mampu beli." Sengaja aku mengatakannya biar sadar atas kesombongan yang belum tentu bisa membawa kita ke arah benar.
"Cetek! Jangankan satu, tiga pun aku mampu!" Timpal Mak lemper main nyamber kayak petasan bikin gedek.
"Sombong! Punya duit darimana, suami aja UPS!"
"Kamu ngomong apa hah!" Risa mendekati Rina wajahnya memerah tak terima diaktain bila ia tak mampu untuk membeli mobil.
"Sudah! Jangan ribut, Sayang? Rina! Mobil dapet rental aja belagu setengah mati! Makanya jadi orang kaya biar bisa beli mobil." Mama mertua menimpali ku membela si lampir.
Kesel-kesel! Kapan mertua gue mau nerima gue jadi mantu kesayangan juga, gue juga pengen di sayang, yaelah! Masak gue harus buktikan bahwa gue kaya?
"Emmm! Ma, tenggorokan aku kering, disini gak ada punya air ya?" Sindir Mbak Septi ia memegangi lehernya.
"Ada, mau rasa original apa pake rasa," jawabku. Untung kemarin aku beli beberapa minuman soda maupun tawar beserta teman-temannya.
Mama saling tatap dengan kedua mantunya.
Gak percaya nih, ceritanya kalau aku sekarang sudah kayah!
"Sayang, jangan begitu pamali," mas Farhan mengingatkan aku agar jangan sombong.
Minuman dingin tersaji di meja dan kudapan yang ku beli kemarin ada cake coklat kesukaan mama.
Tanpa permisi Mbak Septi langsung menenggak minuman dingin sampai tandas, haus apa sih! Heran.
"Maaf, Mama dan ipar kesini ada apa ya? Kangen sama kami?"
"Idih. Ogah. Kita kangen sama Farhan doang, bukan sama kamu apalagi dia," Risa menunjuk pada Rifa.
"Idih! Ini namanya Farhan Maulana, bukan Farhan doang? Emangnya sodara dik doank." Nyiyirku dengan menirukan suara mbak Risa.
Aku lihat mbak Septi dan mas Farhan menutup mulutnya menahan tawa. Jangankan mereka akupun ingin ketawa tapi takut kualat. Habisnya lihat wajahnya kusut ditambah semrawut kayak es serut.
__ADS_1