Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part.38


__ADS_3

"Umi, tolong dong Abi buatkan kopi," teriaknya sambil mengotak ngatik laptop.


"Iya Bi," jawab Nisa dan bergegas menuju dapur.


Gak biasanya malam begini Abi minta kopi, batinnya dengan mengaduk aduk kopi


"Ini kopinya Bi, tumben minta kopi," Nisa meletakan kopi diatas meja kerja Fatah.


Fatah tak mau Nisa tau, jika keuangannya menurun, semenjak Toni bekerja dengan nya keadaan bukan membaik namun semakin buruk, berbagai alasan yang selalu Toni katakan, entah kesengajaan atau benar-benar musibah.


"Abi lagi merincikan keuangan kita, kan harus teliti sebelum membeli barang berapa penghasilan dan pengeluaran kita sehari hari," ujarnya dengan senyum..


"Umi tidur dulu kasian Kinan sama si utun," Fatah mengelus perutnya.


Nisa tersenyum mengangguk dan berjalan menuju kamar nya.


Kenapa aku rasa Toni melakukan kecurangan dalam hal sebesar ini, bukan lalu uang yang ia bawa di rampok, besoknya lagi mobil hilang dan sekarang ini banyak sekali hal-hal menjurus ke Toni, Fatah memijit pelipisnya pusing, seharusnya dia sudah membelikan mobil untuk Nisa, namun apa yang terjadi jangankan beli mobil buat modal pun masih kurang.


Tanaman sayur mayur ya pada rusak padahal sebentar lagi akan panen.


Ya, Allah dosa apa yang sudah hamba lakukan sehingga hamba harus mendapatkan cobaan yang bertubi-tubi, rintihnya dengan menengadah ke langit-langit ruang kerjanya.


Apakah hamba sudah melupakan orang tua ku? Apa aku sudah menyakiti Risa? Air matanya menetes ada rasa kasian terhadap Risa apakah dayanya bila Risa disuruh mengandung anaknya saja gak mau, itu sebabnya ia menduakan cinta Risa.


"Semoga kamu bahagia dengan pendamping batu kamu Ris, dan bisa menerima kamu apa adanya. Aku selalu mendoakan kamu." Lirihnya dengan terisak. Fatah tak mau Nisa mendengar suara tangisan darinya. Ia cepat keluar dari ruangan kerja karena kamarnya bersampingan dengan kamar Nisa.


Fatah memandangi sekeliling pedesaan sepi, hanya lampu penerangan di jalan yang menemaninya dalam keterpurukannya, haruskah dia jujur pada Nisa atau ia simpan rapat-rapat bila dirinya jujur takutnya Nisa shock dan akan mengakibatkan kandungannya kenapa-kenapa.


"Mama, Fahmi , Farhan apa kalian sehat-sehat? Maafkan aku yang belum bisa menengok kalian, aku janji bila situasi sudah aman aku dan Nisa akan ke Bandung."


Tak dipungkiri lagi hatinya sakit sedih bila jauh dari orang-orang yang ia sayangi, namun apa daya ini ia lakukan demi keselamatan Nisa juga anaknya yang selama ini ia nantikan, andaikan Risa mau memberikan dia seorang anak, mungkin Fatah akan bahagia bersamanya dan mama Leni juga. Apakah dihati Fatah masih ada Risa? Seandainya Nisa tau bila Fatah masih cinta sama Risa akankah Nisa yang akan mengalah untuk pergi, hanya mereka yang tau.


Fatah kembali ke kamar di buka pintu kamar dan menatap dua wajah bidadari-bidadari nya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Maafkan Abi," lirihnya seraya mencium kening mereka.

__ADS_1


Fatah membaringkan tubuhnya di samping Kinan, karena posisinya Kinan berada di tengah-tengah keduanya.


Nisa membuka matanya perlahan sebenarnya Nisa tau tentang apa yang terjadi pada keluarga nya.


"Abi, ini cobaan untuk kita, kamu harus sabar ya bi, ini ujian terberat dalam hidup kita. Hamba ikhlas ya rob, Engkau maha segala-galanya." Nisa menutupi mulutnya agar suara tangis nya tak terdengar Fatah.


Di tempat lain seorang pria sedang menelpon wajahnya begitu bahagia siapa lagi kalau bukan Toni anak buah suruhan Risa.


"Bagaimana Toni, apakah mereka sedih? Aku ingin hidup mereka lebih menderita bila perlu bakar rumah yang ia huni." Ujar Risa.


"Bos, semua uang yang saya rampas sudah saya kirimkan ke rekening bos, untuk membakar rumah saya harus cari kesempatan yang bagus. Bos belum tau bila mobilnya sudah terjual." Jelas Toni membuat Risa tergelak tawa bahagia mendengar kehancuran Fatah.


"Terus cara dia mengantarkan sayuran pake mobil siapa?"


"Pak Fatah menyewa mobil milik tetangganya."


"Dia tak curiga sama kamu kan," tanya Risa memastikan bahwa Toni aman berada di sana jangan sampai Fatah curiga terhadapnya.


"Aman, bos."


Sambungan telpon terputus.


Toni merenungkan semua kejahatannya pada keluarga Fatah yang baik padanya , dirinya lema ingin dia pergi menjauh dari keluarga Fatah namun apa daya bila ia tak menuntaskannya dengan baik maka keluarganya di Bandung akan jadi jaminan nya.


Ada rasa penyesalan mendalam dirinya terlalu ceroboh mengiyakan keinginan Risa wanita cantik namun penuh ambisi. Siapa yang tak tergiur bila di iming-iming uang gepokan saat itu Toni tak punya uang untuk menebus obat anaknya yang mempunyai penyakit asma akut. Jalan satu-satunya adalah menerima tawaran Risa.


"Pak Fatah dan Bu Nisa baik padaku tapi sebaliknya aku sudah mencurangi mereka," Toni menatap langit biru.


Mereka sekarang dalam kesusahan ini semua karena aku, ia membatin.


"Kenapa kamu Ton, kelihatannya sedih banget!" Dodit menepuk pundak nya.


Toni menatap wajah temanya lalu tersenyum. dirinya merasa bersalah, andaikan dia mendengar kata kata Dodit saat dia akan membawa kabur mobil yang ia bawa.


"Cerita aku siap jadi teman curhat mu." lagi lagi dodit memberi kekuatan.

__ADS_1


"Dit, aku harus bagaimana lagi?" lirihnya dengan suara bergetar.


Dodit tau apa yang Toni rasakan rasa bersalahnya terhadap keluarga Fatah sangatlah fatal.


"Saran aku, kembalikan mobil yang kamu curi, mobilnya masih adakan," Tanya Dodit.


Toni mengangguk.


"Kedua mobil itu aku simpan di tempat Bukde aku di Semarang,"


"Kalau uangnya masih ada berapa lagi, kenapa kamu tega sama pak Fatah, beliau baik dan gak pernah memperlakukan kita kasar, mereka baik sama kita, kenapa kamu sebaliknya menikungnya, kamu punya dendam apa ton," terdengar helaan napas panjang dari Dodit tak di sangka Toni tega melakukan hal yang tak terpuji.


"Semua uang sudah aku kirimkan ke bos Risa."


Dodit yang mendengar nama Risa mengeryitkan keningnya.


"Memangnya siapa Risa dan ada hubungan apa antara Risa dan pak Fatah," Dodit merasa ada sesuatu yang di rahasiakan oleh Toni tapi apa.


Toni gelagapan tak bisa menjawab pertanyaan Dodit.


Dodit paham ia hanya lempar senyuman.


"Gak mau cerita juga gak apa-apa, tapi saran aku jangan lakukan itu lagi apa kami gak kasian sama mereka, bagaimana bila kamu yang di begitu kan oleh orang lain."


Toni menunduk bingung haruskah dia bicara semuanya tentang siapa Risa dan Fatah.


"Jangan dipaksakan, aku paham, kamu lakukan semuanya demi keluarga kan?"


Toni mengangguk.


"Tapi bukan begini caranya, dengan cara merusak kebahagiaan orang lain, apalagi orang itu baik sama kita." imbuhnya lagi.


"Aku bingung dit, bila aku tak melakukan perintahnya maka keluargaku yang jadi taruhannya."


"Aku doakan semoga ada jalan keluarnya."

__ADS_1


"Amin."


__ADS_2