
Mama Leni masih murung wajahnya tak ada kilatan cahaya suram dan gelap, meratapi nasibnya semua harta yang beliau punya raib entah kemana.
Makan pun tak mau, bila disuruh makan maka jawabannya gak selera, membuat Rina pusing mikirnya di bujuk juga percuma , melebihi anak kecil
Rina melihat mama mertua hanya tersenyum andai mama tau pasti wajah yang muram akan bersinar lagi. Beda dengan Risa dia marah-marah tak jelas. Maksud hati ingin menguasai harta mama mertua malah dia gigit jari soalnya tuh, harta udah di amankan sama Rina.
Barang yang ada di kamarnya ia lemparkan ke sembarang arah baju yang memang sedaritadi teronggok ia injak-injak ponselnya pun tak luput dari amukan Risa.
'bangs*t, siapa yang sudah mengambil tas itu? Mana mungkin si miskin! Dia kan, tak tau bila aku menyembunyikan tas itu di samping nakas.' kedua tangannya mengepal kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
Matanya melotot seakan-akan ia akan melahap manusia yang berada di dekatnya.
Rina dari tadi menguping hanya cekikikan nahan tawa, andaikan Risa tau siapa pencurinya pasti ngamuk-ngamuk menghajarnya.
Syukurin. Emang enak gue kerjain? Makanya jangan coba-coba untuk merampok mertua sendiri. Kualat kan. Rina masih betah menguping.
"Mama!" Teriaknya membuat si penerima telpon menjauhkan ponselnya karena pengeng.
"Sayang ada apa? Pagi-pagi sudah bikin heboh, apa kamu sudah menguras harta Leni? Wanita pelakor itu pasti sekarang ini sedang nangis Bombay hahaha!" Jawab wanita itu.
"Uangnya hilang Mama!"
"Kok, bisa. Uangnya kamu sembunyikan di mana? Ceroboh kamu Risa."
Risa mendengus sebal saat dikatai ceroboh oleh mama nya.
"Ini semua pasti ulah si kampungan itu Ma, kenapa juga dia harus nginap di sini." Risa marah memaki Rina.
Lah, malah gue dibawa-bawa dasar Mak lampir si muka ular, oh, rupanya dia sedang menelpon pawangnya, mereka punya dendam apa sama keluarga ini? Rina mulai kepo ingin lebih tau lagi tentang dua keluarga yang satunya mempunyai dendam.
"Kamu harus lebih berhati-hati sama dia, kalau perlu baik-baikin dia! Ingat dia juga target kita selanjutnya." Mama Sopia mengingatkan putrinya agar bersikap manis pada Rina.
"Iya Ma, tapi lama-lama aku enek juga liat wajahnya itu," renggek nya.
"Sabar Sayang, kamu harus tau Mama juga punya kabar gembira kamu akan bahagia dengarnya."
"Apa ma, cepat katakan." Titahnya.
"Baiklah Risa. Toni sudah menjalankan tugasnya kini Fatah merugi hingga puluhan juta, hahaha,"
"Oh My God. Hahaha! Toni memang bisa di andalkan ,good job." Risa merasa puas mendengar semuanya itu.
__ADS_1
"Udah ma, lain kali lagi kita telponan aku takut ada yang nguping pembicaraan kita."
"Iya."
Kini didalam tak terdengar lagi suara amukan hanya suara siulan riang dari Risa.
Sedangkan Rina masih shock mendengar Fatah merugi, Risa tau keberadaan Fatah sedangkan keluarga nya tak tau sama sekali. Pasti mereka sudah menyuruh seseorang untuk mencari Fatah dan keluarganya.
Mas Fatah sekarang kamu dimana, andaikan aku tau keberadaan kalian pasti aku akan memberitahu kalian tentang rencana jahatnya Risa dan orang tuanya.
Rina gelisah ia harus memberi tahukan Farhan agar mencari keberadaan Fatah ini gawat, Rina harus menyelamatkan keluarganya.
"Assalamualaikum." Sapa seseorang dari luar, membuatnya Rina menoleh kearah suara.
"Waalaikumsalaaam," jawab Rina dan membukakan pintu.
Ceklek.
Ternyata Mbak Septi dan mas Fahmi pasangan suami-istri ini sudah lama meninggal rumah ini setelah hampir dua tahun.
Keduanya pergi ke luar negeri untuk memeriksakan kesehatan keduanya Mbak Septi ingin program kehamilan dirinya takut bila Fahmi mendua hanya gara-gara dia gak mau hamil.
Keduanya senyum manis kedua tangannya saling bertautan duh? Romantis banget. Apa usaha mereka membuahkan hasil.
"Mama mana," Mbak Septi menyenggol lengan ku aku masih tak percaya dengan kabar gembira itu entah kenapa hatiku tercubit saat mendengar kabar bahagia mereka, ya Allah kapan dia ada disini, ku Elus perut rataku berulangkali.
"Halo!" Mas Fahmi mengibas-ngibaskan tangannya di wajahku.
"Eh, anu, ada di kamarnya, mama lagi berduka," ujarku gugup.
"Berduka kenapa?" Tanya mas Fahmi dengan melenggang masuk kedalam mencari mama.
Aku dan Mbak Septi mengekor di belakang.
"Ih, mama kita pulang mau kasih kabar gembira malah sedih," gerutuknya sambil berjalan menuju kamar mama.
Mas Fahmi membuka pintu kamar mama nampak Mama duduk di tepi ranjang tatapannya kosong dan tak menyadari bahwa kami didepannya .
"Ma," mas Fahmi mengelus bahunya lembut.
Mama masih bergeming tak menggubris panggilan anaknya.
__ADS_1
"Mama, aku dan mas Fahmi pulang membawa kabar gembira aku hamil Ma?" Mbak Septi memeluk Mama dari belakang.
Mama membalikan badannya dan menatap kedua anak mantunya.
"Kamu hamil? Selamat ya, mama ikut bahagia," ucapnya sendu.
"Mama kayaknya gak bahagia aku hamil." Jawab Mbak Septi menunduk.
"Mama bahagia sekali mendengarnya nak, kenapa disaat kalian membawa kabar gembira, Mama justru berduka." Mama menitikan air mata.
"Rin, ada apa? Duka apa, Farhan celaka, atau apa." Pertiyiin yang membagongkan punya kakak ipar satu ini nyumpahin suami gue celaka, bahlul ente.
"Mama kerampokan semua batang berharganya raib, termasuk surat rumah dan surat mobil."
"Hah! Kok bisa!" Sahutnya kompak.
"Ya, bisa lah, kan, Mama gak ada dirumah mama nginap di rumah ku," tandasku dengan menutupi kedua telingaku. Akibat teriakkan mereka.
Mas Fahmi menghela nafas berat andaikan seminggu lalu dia pulang maka kejadian ini tak akan terjadi.
"Maafkan aku Ma, bila aku disini Mama gak akan kehilangan semuanya." Jawabnya lesu merasa bersalah.
"Gak apa-apa, Mama sudah dapat gantinya, iyakan Rin." Lah mama malah nanya akukan bingung jawabnya.
"Eh...iya," jawabku ragu.
"Maksudnya Mama?" Mas Fahmi heran.
"Uang Mama akan diganti sama Rina," pungkasnya tersenyum simpul.
Apa-apaan ini, kenapa aku jadi kena mental, ah, gara-gara mulut lemesku keceplosan ngomong mau ganti nagihkan, ingatan mama tajam sekali setajam silet. Spektakuler.
Mas Fahmi mengeryitkan keningnya.
Bingung kali ya, sama aku juga bingung menghadapi mamamu mas.
"Kenapa jadi Rina yang menggantinya?" timpal Mbak Septi.
"Kalian tau gak, Rina itu orang kaya, milyarder yang sebenarnya, uangnya banyak. Mama bangga sama dia," pujian mama membuat aku melayang tinggi dan hidungku yang setengah mancung jadi mengembang sempurna bisa aja ya, mama mertua pujiannya bikin meleleh, itumah bukan pujian tapi todongan buat aku.
"Hah. Jangan ngaco Mama," mas Fahmi menempelkan punggung tangannya di kening mama.
__ADS_1
"Benar Mas, Rina adik ipar kita kaya raya. Aku minta duit lima ratus ribu malah di transfer satu juta. Hebat kan dia. Aku juga mau minta dibelikan perlengkapan bayi kita sama dia, iyakan Rin kamu mau membelikannya buat keponakan kamu?" ini minta apa nodong, aku dikeroyok begini penyesalanku yang paling dalam adalah kebaikan ku dibalas air tuba di manfaatkan oleh kakak ipar buat Mama mertua gak masalah.
Lemas sudah seluruh tubuh ku, ku tepuk-tepuk jidatku.