Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 31


__ADS_3

"Papa, rencana kita berhasil Toni kan menghancurkan bisnisnya satu persatu, hahaha!" Risa tertawa lepas didalam kamarnya.


"Tunggu pembalasannya Mas, kamu harus merasakan apa yang aku rasa yaitu kehilangan seseorang yang kita cintai pergi mengkhianati kepercayaan cintaku." Desis nya.


Aku ingin anak istrimu mati. Hahaha!


Risa leluasa dirumah ini karena mama Leni sedang menginap di rumah Rina kangen sama cucunya yang sudah lama tak main ke rumahnya, Rina melarang Rifa main atau menginap takutnya Rifa di sakiti Risa.


Rina tak percaya bila Risa sakit jiwa, itu hanya permainan yang harus di awasi.


"Nenek tua itu pergi, aku harus cari surat-surat rumah dan aset yang bisa aku jual nantinya." Senyum picik terbit di sudut bibirnya. Entah dendam apa pada keluarga Fatah, hanya Risa dan orang tuanya yang tau.


Mama Leni orangnya pelupa Farhan sudah mengingatkan dirinya agar selalu mengunci pintu kamar nya disitulah semua berkas penting tersimpan. Dengan leluasa Risa masuk kedalam kamar mama Leni yang tak terkunci.


'Tak di kunci rupanya dasar nenek bod*h! Kamu percaya padaku? Ah. Nasib baik memang selalu memihakku.'


Risa membuka pintu lemari ternyata terkunci.


'Sial. Di kunci, di simpan di mana kuncinya.'


Kedua netranya memindai semua sudut mencari kunci lemari.


Senyum smirk terlukis di wajahnya Risa berjalan menuju tepi ranjang dan ia membuka laci nakas yang berada di samping kamarnya mama Leni.


Ini dia. Risa mengambil kunci dan membukanya, pintu lemari terbuka nampak kedua bola matanya bersinar terang kala melihat isi lemari mama Leni.


Surat rumah, surat mobil dan uang cash sebanyak puluhan juta ia masukan kedalam tas selempang milik mama Leni.


Rina sudah salah membiarkan aku tinggal bersama si nenek tua. Hartanya sudah aku kuras tunggu giliran kamu Rina! Bukan sekedar hartamu tapi...hahaha! Coming Mom. Tunggu hadiah dariku.


Bila nanti ditanya kenapa bisa hilang Risa sudah menyiapkan jawabannya yaitu


Berpura pura kerampokan sungguh liciknya Risa berdrama seolah olah rumah kerampokan. Dia mengikat dirinya sendiri dengan melakban mulutnya Risa memang ratu drama is the best.


Di Rumah Farhan.


"Mama kenapa sih, sedaritadi aku perhatikan kayak orang gelisah kenapa?" Tanya Rina sambil duduk di sampingnya.


"Gak tau daritadi Mama gelisah seperti ada sesuatu tapi apa?" Ujarnya dengan senyum hambar.


"Mungkin Mama kangen mas Fatah," celetuk Farhan yang membawa secangkir kopi lalu ia letakkan di meja.

__ADS_1


"Entahlah, tapi firasat Mama gak enak gini ya, apa Mama pulang saja. Takutnya Risa kenapa-kenapa."


"Biar saja ma, jangan terlalu dimanja, ngelunjak nantinya." Mama mendelikan matanya tak suka bila Farhan menjelekkan menantunya itu sudah tau sifatnya arogan masih saja dibela, entah pelet apa yang Risa berikan kepada mama.


"Kamu itu, kita harus merangkulnya disaat dia depresi. Itu juga gara-gara kamu!" Dengusnya.


"Ma!" Teriaknya .


"Mas!" Rina memekik tak seharusnya Farhan membentak mamanya biarpun mama selalu membela Risa tetap gak baik memarahi orang tua, apalagi membentaknya.


"Jaga emosi, gak baik berkata keras pada Mama." Diusapnya lengan Farhan lembut menenangkan suaminya.


"Mama selalu menyalahkan aku Rin, mas Fatah menikah pun mas gak tau, tau-tau dia sama Mbak Nisa kerumah sakit cek kandungan nya. Yang salah mbak Risa juga coba kalau dia mau hamil, pasti mas Fatah gak kawin lagi, bukanya waktu itu Mama juga bahagia ya, saat tau Nisa hamil cucu Mama, kenapa sekarang gak suka gitu."


Mama yang merasa tersindir diam tak menjawab, mau menjawab takut salah apalagi di situ ada Rina, saat itu mama senang karena mengira Farhan yang menikah bukan Fatah.


Keadaan semakin tegang, Farhan sudah berulangkali mengingatkan mamanya agar jangan terlalu memanjakan Risa farhan mencium gelagat aneh begitupun Rina, keduanya sedang menyelidikinya.


"Mama nginap aja ya, kan, tadi sudah janji mau nemani Rifa tidur," tanya Rina mencairkan suasana tegang.


"Mama pulang aja!" Mama ngotot minta pulang, Rina tak bisa membujuknya lagi bila sudah ngambek.


"Iya iya, aku anterin pulang, tunggu sampai Rifa bangun, Mama harus pamitan dulu kalau gak dia bisa ngambek dan ngak mau ketemu Mama lagi."


Ting tung ting tung. Suara ponsel mama Leni berdering.


Mama Leni yang sedang duduk meraih ponselnya di atas meja, seketika senyum nya melebar setelah tau Risa yang menelpon nya.


"Halo! Ada apa Ris?" Tanya lembut bikin seseorang cemburu sosial melihat mertua dan menantu yang pengertian baik dan ramah.


"Hiks...hiks... Mama pulang? Aku takut dirumah sendiri ma, tadi aku melihat ada yang mencurigakan di rumah, aku takut! Sepertinya perampok." Tangisnya sendu ada rasa takut.


"Kamu diam saja di kamar jangan kemana-mana. Mama sekarang juga pulang, ingat pintu dikunci semua," ucap Mama raut wajahnya yang mengkhawatirkan keadaan mantunya mama gelisah ingin segera pulang.


Klik, mama memutuskan sambungan telepon sepihak karena panik saat mendengar menantunya ketakutan dirumah.


"Rina. Mama pulang sekarang!" Seru mama beliau mengambil tasnya lalu pergi tanpa pamit sama Mas Farhan mungkin marah. Akupun tak bisa mengantarkan mama pulang Rifa tak mau aku tinggal.


Ku bujuk Rifa agar mau sama ayahnya dan aku mengantar mama pulang. Untungnya Rifa anaknya pengertian banget, dia mau aku tinggal.


Aku berlari menuju pintu keluar nampak Mama berdiri menunggu taksi.

__ADS_1


"Ma!" Seruku sambil berlari menghampirinya.


"Aku antar ya?" Tawarku.


"Rifa--"


"Rifa sama mas Farhan. Mama tunggu disini aku ambil mobil dulu." Mama mengangguk setuju.


Aku hanya memakai daster andalan para emak-emak dan memakai jilbab sedada, darurat kalau dandan dulu keburu mama pulang.


"Masuk Ma," titahku saat si merah sudah di depannya.


Ku lirik sekilas, gestur tubuhnya gelisah, segitunya sayang sama mbak Risa, aku hanya tersenyum hambar melihat betapa khawatir nya Mama mertua terhadap Mbak Risa.


"Kebut Rin, jangan lamban gini! Udah kayak siput aja." Desisnya wajahnya jutek. Kambuh lagi kayaknya.


"Ma, ini habis hujan jalannya juga licin." Aku mengingatnya namun apa yang aku dapat, amukan darinya.


"Kalau gak bisa nyetir jangan beli mobil! Sok pintar aja!" Ketusnya sambil buang muka.


Ajegile! Gini-gini juga aku punya perasaan Mama! Jeritku dalam hati.


"Baik Ma, Mama jangan heboh kalau aku kebut!"


"Buktikan!" Tantangnya.


Aku keluarkan jurus jitu ku injak pedal gas dan


Weng.


Mama menjerit histeris namun aku acuhkan seru juga bawa mobil dengan kecepatan super.


"Gila kamu Rina! Berhenti! Dasar mantu gak waras." Teriaknya kedua tangannya memegang sealbet.


"Mama yang nyuruh aku kebut. Jadi nikmati lah! Jangan protes!" Balasku sambil teriak juga.


"Mama gak mau mati sia-sia apalagi mati barengan sama kamu."


"Siapa juga yang mau mati! Aku gak mau mati dulu Ma, sebelum melahirkan cucu-cucu buat Mama."


Kutatap wajah Mama yang shock berat mulutnya tak putus komat Kamit ber doa.

__ADS_1


Aku hanya tertawa terpingkal-pingkal puas juga ngerjainnya. ET. Bukan aku yang ngerjain tapi ini atas perintahnya.


__ADS_2