Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 39


__ADS_3

Pukul 3:00 tepat Toni terbangun dari tidurnya ia bermimpi bahwa anaknya menangis kesakitan entah sakit apa, saat di tinggalkan istri dan ketiga anaknya baik-baik saja, hatinya berdebar kencang tak karuan ada rasa sesak di dadanya.


Toni berulangkali beristigfar mudah-mudahan anak istrinya sehat-sehat semua.


"Ayah, sakit, tolong Aira," jerit tangis anak sulungnya membuat dadanya sesak, seorang Toni berwajah sangar bisa meneteskan air matanya bila mengingat mimpi yang seperti nyata.


"Aira, Aisya, Almira, kalian semua sehat-sehat kan, ayah akan pulang pagi ini." Lirihnya dengan menyibak gorden di kamarnya tuk melihat sang fajar menyingsing menyambut pagi hari.


Toni mantap akan pulang, dengan ragu ia mengetuk pintu Fatah tuk pamit pulang. Tangannya bergetar hebat saat akan mengetuk pintu Toni memberanikan diri untuk mengetuknya.


Tok tok tok pintu dibuka oleh Nisa. "Eh ada mas Toni, masuk Mas," titah Nisa dengan senyum manis.


"Bapaknya ada Bu?" Tanyanya gugup.


"Ada," Nisa mempersilahkan Toni duduk dan ia kedapur memanggil Fatah.


"Abi, ada yang nyariin tuh," ujarnya.


"Siapa pagi-pagi udah ada yang cari Abi."


"Mas Toni."


"Mau apa?"


"Gak tau, tanya sendiri Napa, kayaknya dia mau pulang deh."


"Oh."


Fatah berjalan menuju ruang tamu sedangkan Nisa melanjutkan rutinitasnya mencuci dan memasak.


"Ada apa ton," tanya Fatah.


"Begini pak, saya mau pamit pulang, saya kepikiran anak-anak di rumah, semalam saya mimpikan mereka dalam keadaan sakit." Toni menundukkan kepalanya malu untuk menatapnya.


"Iya gak papa setelah anak kamu sehat kamu kesini lagi kan," tanyanya dengan mengeluarkan uang kertas merah, memang jumlahnya tak banyak sekedar menambah uang makan.


"Ambil," titahnya yang di gelengkan kepala oleh Toni.


Toni mendorong tangan Fatah dirinya tak mau menerima uang yang diberikan oleh nya, ia malu sudah menikungnya dengan cara keji.


"Jangan ditolak ton, saya hanya bisa memberi sedikit gak bisa kasih banyak. Kamu kan tau kalau saya dalam masa sulit." Fatah menatap lurus kedepan.


Biarpun keadaannya dalam kesusahan namun ia tidak mau kelihatan rapuh Dimata Toni.


"Maafkan saya Pak," Toni bersujud di kaki Fatah dengan menangis sesenggukan.


Fatah mundur dua langkah kebelakang, ia heran melihat Toni seperti ini.


"Bangun Toni, kenapa kamu bersikap seperti itu. Bangunlah kamu tak pantas melakukan hal seperti ini, kita sama-sama manusia." Fatah membantu Toni untuk bangun.


Toni terisak.


"Pak, sekali lagi maafkan saya, ampuni segala kesalahan saya."

__ADS_1


Nisa datang dengan membawa nampan berisi dua cangkir kopi dan pisang goreng, ia heran melihat Toni yang selalu mengucapkan kata maaf dan ampuni memangnya dia sudah berbuat salah apa. Nisa meletakan kopi diatas meja lalu duduk di samping Fatah.


"Ada apa dengan mas Toni Abi?" Tanya Nisa lembut.


Fatah mengedikkan bahunya iapun tak tau maksud Toni.


"Bu, saya pamit pulang ke kampung, sebelum saya pulang saya minta maaf sebesar-besarnya kepada ibu dan bapak." Lagi lagi Toni menunduk tak berani menatap majikannya.


"Kok, mendadak pulang? Ada apa? Anaknya sakit?" Ujarnya.


"Maafkan saya Bu." Toni bersimpuh di hadapan Nisa dengan menunduk.


"Sudah ton, bila kamu mau saya maafkan maka kamu harus jujur pada kami, kesalahan apa yang membuat kamu seperti ini." Fatah mengelus bahunya.


"Sekali lagi minta maaf, saya janji bila urusan di kampung selesai saya akan menceritakan semuanya pada bapak dan ibu," ujarnya.


"Ya sudah, minum dulu kopinya, gak baik menolak rejeki." Nisa mempersilahkan Toni untuk meminum kopi.


"Dan ini, tolong di terima atas apa yang mas lakukan terhadap keluarga ini, saya terima kasih sudah mau menjadi karyawan kami. Salam buat keluarga Mas." Imbuhnya dengan senyum manis tak ada kemarahan di wajahnya.


Pantas saja pak Fatah memilih Bu Nisa menjadi istri nya ternyata beliau baik, tidak seperti bos Risa yang sukanya marah dan mengancam, batin Toni, dirinya menyesal sekali sudah mau berkerja sama dengan wanita ular.


Toni berpamitan pada Fatah dan Nisa, ia tak mau ketinggalan bus antar kota. Setelah menyakinkan dirinya akan datang lagi ia pun pergi di antar Dodit pake motor.


"Abi, menurut Abi mas Toni sudah melakukan kesalahan-kesalahan apa ya?" Tanya Nisa setelah keduanya masuk kedalam.


"Mana Abi tau, kita tunggu dia kembali ke sini, dia sendiri yang akan menceritakan semuanya."


****


Di dalam bus.


Toni gelisah tak tenang ingin sekali sampai rumah, ia rindu anak istrinya namun bus yang ia tumpangi begitu lelet jalanya.


Hatinya gelisah teringat mimpi semalam seakan-akan nyata.


Awas saja bila bos Risa tak menepati janjinya akan aku bongkar kebusukan dia selama ini. Bila bos Risa setiap bulan mengirim mereka uang mana mungkin anakku kesakitan dan kelaparan.


Bus antar kota berhenti di depan halte semua penumpang turun, menuju tujuannya masing masing termasuk Toni.


Toni celingukan mencari tukang ojek.


"Bang ojek!" Teriaknya sambil melambai-lambaikan tangannya.


Tukang ojek menghampirinya dan bertanya mau di antar kemana.


"Kemana Mas," tanyanya sambil memberikan helm pada Toni.


"Ke kampung A."


Tukang ojek mengangguk dan melajukan si kuda besi nya.


"Bang, bisa kebut dikit nggak, saya ingin bertemu anak istri saya." Teriaknya.

__ADS_1


"Udah gak sabar lagi Mas. Iya saya akan ngebut, pegangan ya," pintanya langsung di anggukan oleh Toni.


Saat motor akan melewati gang rumahnya tiba-tiba Toni melihat ibu-ibu dan bapak-bapak memakai pakaian putih menuju rumahnya.


"Berhenti Bang," Toni menepuk pundak abang ojek. Motor pun berhenti.


"Kenapa mereka kerumah saya?" Tanyanya pada abang ojek.


Si Abang ojek malah geleng kepala.


"Mas, kayaknya ada yang meninggal? Lihat deh ada bendera kuning." Abang ojek menunjukan di depan rumah ada bendera kuning.


Lemas lunglai sudah tubuh Toni hampir tubuhnya ambruk bila tak dipegang Abang ojek.


"Siapa yang meninggal? Bang antarkan saya ke sana!" Tunjuk Toni ke arah rumahnya.


"Iya Mas."


Para warga menggotong keranda mayat dengan membaca shalawatan sepertinya hendak di makamkan.


"Ayah!" Teriak dua anaknya yang melihat kedatangan ayahnya.


Aisya dan Almira berlari menubruk Toni dengan terisak.


"Ayah, kak Aira yah, kak Aira." Ucap keduanya tak sanggup mengatakan bahwa kakak sulungnya sudah tiada.


"Ada apa dengan kak Aira?" Tanya Toni menatap wajah sayu mereka.


"Bang, Aira bang!" Sumi istrinya memeluk tubuh Toni yang gemetar.


"Katakan dek, kenapa Aira? Dia bukan Aira kan? Mana Aira. Aira! Aira! Ayah pulang Nak, Aira!" Teriaknya membuat orang-orang menatap iba, terhadap sosok ayah yang pekerja keras.


Sumi istrinya diam seribu bahasa lidahnya kelu untuk mengatakan bahwa di keranda itu adalah Aira anak sulungnya, yang kini harus pergi selamanya.


"Yang sabar ya ton. Kamu harus ikhlas kan anakmu pergi. Ini yang terbaik buat Aira, kasian dia harus menahan sakitnya yang tak kunjung sembuh." Ibu Toni menguatkan anaknya agar ikhlas menerima kepergian Aira.


"Bu katakan bahwa Aira masih hidup! Katakan Bu!" Teriaknya tubuhnya merosot ke bawah.


Para warga hendak mengangkat kerandanya lagi tapi Toni melarangnya.


"Jangan bawa anak SAYA!" Bentakan nya.


Seketika orang orang menghentikan langkahnya dan meletakkannya dibawah.


Dibukanya keranda nampak gadis kecil terbaring kaku berbalut kain putih, dibukanya tutup di wajahnya terlihat wajah Aira yang pucat pasi, di elusnya pipi dinginnya di kecup keningnya berulang kali.


"Ayah pulang Nak. Bangun. Kita main petak umpet lagi." Toni mengguncangkan tubuh yang sudah terbujur kaku.


"Mas Toni harus ikhlas ini sudah siang harus kita makamkan kasian Aira nya." Sahut pak ustadz Rahmat.


Rasanya Toni ingin berteriak mengusir mereka namun ibunya menahannya agar sabar menghadapi ujian terberat nya.


Toni sempat menolak Aira tuk di makamkan dengan sabar ibunya, Sumi dan kedua anaknya membujuk dirinya dan akhirnya toni mengikhlaskan kepergian Aira.

__ADS_1


__ADS_2