Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 18


__ADS_3

Pertemuan yang tak sengaja antara aku dan Rina, saat aku berada diterminal Bandung untuk menghindari desakan mama untuk menikah dengan Lina, aku berdoa semoga mendapat jodoh siapapun itu, itulah nazar ku saat duduk di dalam mobil tiba-tiba muncul gadis cantik berpenampilan urak-urakan ceplas-ceplos membuat aku tertarik untuk lebih mengenalnya.


Aku Farhan Maulana anak bungsunya papa Maulana bernazar! Kalau besok pagi aku tak menemukan jodohku maka aku bersedia menikah dengan Lina! Tapi kalau aku boleh nawar andaikan hari ini aku dipertemukan jodoh dengan siapa saja mau perawan atau janda akan aku nikahin!" Teriakku lantang dan...


Duar


Suara petir terdengar apakah nazar ku di aminkan Allah? Semoga aja. Tapi bagaimana jika jodohku bentuk tubuh nya bulat hitam kulitnya dan hidungnya pesek.


Ya Allah, aku ralat ucapku barusan. Aku minta jodoh yang ideal boleh? Sedikasihnya aja deh. Yang penting punya hidung. Sedang asyik-asyiknya melamun tiba tiba ambyarrr suara tukang asongan bikin kesel aja.


Kurang kerjaan.


"Cang cing men! Cang cing men!" Teriaknya membuat gendang telinga ku retak mendengar suara cemprengnya.


Aku mendengus sebal karena ulahnya aku hampir masuk kedalam mimpi gagal total atas teriakannya, aku sempat marah saat dirinya mendekat ke arah mobilku.


Tok tok tok.


Tak ada sopan-sopannya, dia mengetuk pintu ala-ala preman yang mau malak. Pintu mobil aku buka pelan.


"Apa!" Ketusku tanpa menoleh kearah wajahnya.


"Om, diborong dong dagangan aku sedaritadi gak sepi gak mau beli punya aku. Kalau Om gak mau Cang cing men aku punya peyek belut lho! Rasanya enak banget! Bisa menggoyangkan lidah lho. Beli ya?" Rayunya.


Aku sempat dongkol, ini cowok jadi-jadian kali ya, masa aku dia rayu? Di suruh memborong semua dagangannya, gila! Ini modus, pasti dibalik semua ini pasti dia minta lebih, aku memikirkan jadi merinding takut ngeri-ngeri sedap bila dia seorang waria.


Apalagi dia memanggilku dengan sebutan Om! Menambah kecurigaan yang hakiki.


Mama maafkan anakmu ini. Apakah ini karma karena sudah menolak perjodohan itu, batinku.


"Om!" Serunya lagi membuat aku terkejut setengah mati.


"APA!" Jawabku dengan membentaknya.


Tak ada jawaban darinya hanya suara isakan yang terdengar.


Sebenarnya dia pria apa wanita ku coba memberanikan diri menatapnya.

__ADS_1


"Ngapain nangis! Gak aku apa-apain juga." Kesalku.


"Aku hanya meminta sedikit belas kasihan Om, untuk membeli barang aku? Karena aku sedang taruhan sama teman aku, siapa yang dagangannya habis maka yang menang akan di traktir makan bakso!" Lirih nya.


"Ya udah kalau nggak mau," dia mengusap air matanya seraya membuka topinya sehingga wajah cantiknya terlihat.


Seketika wajah ku terpesona, ini bidadari sungguhan atau bidadari jadi-jadian.


MasyaAllah cantiknya? Apakah dia jodohku? Bila benar aku akan jadikan dia bidadari dihatiku.


Tubuhku bergetar hebat seakan-akan tersengat aliran listrik tegangan tinggi. Aku menyungging kan senyuman seimut mungkin, tapi dia seperti ketakutan melihat senyum menyeringai di wajahku.


"Berapa semuanya." Tegasku tanpa tawar menawar lagi.


"Tiga ratus ribu aja." Ucapnya dengan napas terbata bata.


"Nih, aku menyodorkan uang lima ratus ribu padanya."


Dia mendorong tanganku dan tersenyum tipis.


"Om, kebanyakan aku hanya butuh tiga ratus ribu aja." Jawabnya dengan menyambar uang yang ditangan ku.


"Nona siapa namamu?" Tanyaku saat dia hendak pergi.


Dia hanya tersenyum lalu berlari kecil meninggalkan aku yang masih mematung, duh? Hatiku meleleh dibuatnya senyumnya itu lho, bagaikan candu bagiku.


Besoknya aku datang lagi ke terminal sudah tiga jam lamanya aku menunggu gadis pemikat hati ku namun tak kunjung datang. Lemas sudah tubuhku sengaja hati ini aku aku bolos kerja demi menemui dia.


Terlalu lama menunggu akhirnya aku tertidur di mobil dalam posisi jendela mobil terbuka.


"Om, tutup mulutnya, awas cicak eeeek!" Teriaknya tepat di telingaku sontak saja aku terbangun dari tidur dan menatapnya dengan senyum lebar, aku tak marah padanya saat dia berteriak kencang.


"Gulali! Cowok aneh! Di kagetin bukannya marah malah senyum." Sahut temannya yang lebih urakan penampilannya.


"Terpesona kaleee?" Bisiknya sempat aku mendengar suara nya.


Aku tersenyum.

__ADS_1


"Apakah kamu mau aku pinang dengan basmalah?" Sok pede aku meminangnya di terminal ini.


Dia terkejut saat mendengarkan nya kedua bola beningnya melotot kearah ku.


"Kere dong! Kalau ku pinang dengan basmalah mah." Lagi lagi temannya menimpali ku.


"Kamu iri ya, karena yang aku lamar dia bukan kamu." Tunjukku kearah temannya.


"Ih. Gua mah gak doyan aki-aki! Kalau sugar gula baru mau!" Jawabnya dengan melirikku tak suka.


Pletak.


Dia menjitak jidatnya membuat dirinya meringis kesakitan ternyata sadis juga menjitak jidatnya sampai bunyi.


"Dosa tau, mau-maunya jadi sugar gulali! Mending kawin sama Om-om deh." Dia menatap tajam kearahnya.


Temannya itu hanya cengengesan.


"Emang kamu mau nikah sama aku?" Tanyaku memastikan ucapannya itu.


Dia geleng kepala.


Singkat cerita.


Kita janjian tuk bertemu di terminal ini sebelum pulang aku memintanya besok dengan memakai pakaian yang layaknya seorang wanita.


Aku kira dia akan marah atas saranku tetapi tidak sungguh wanita luar biasa, cocok ku jadikan istri, belum jadi istri aja nurut apalagi bila sudah sah. Hari-hari ku penuh warna, mama bertanya apakah aku sudah mendapatkan calon istri.


"Han. Sudah satu bulan kamu belum juga mengenalkan calon istrimu sama Mama, maka besok kita sekeluarga akan melamar Lina." Ucap mama.


"Ma, gak segampang itu! Aku sudah punya calonnya." Ucapku.


"Anak mana?"


"Anak penjual asongan." Jawabku jujur.


"APA!" Marahnya sambil melotot tajam.

__ADS_1


Aku tau mama akan menentangnya karena Rina bukan tipe mama, untuk apa juga aku harus mengikuti kemauan mama kan, aku yang menjalani hidup, aku terlanjur nyaman bersama dia, menurut mama gak baik, tapi menurutku baik mau gimana dong.


__ADS_2