Aku Bukan Menantu Idaman

Aku Bukan Menantu Idaman
Part 37


__ADS_3

"Nek, Anter Riri Kesawah yuk," Rifa menarik-narik paksa tangan ibu.


"Cucu nenek mau ngapain Kesawah? Panas!" Jawab ibu.


Gadis kecil imut tapi nakal kemauannya harus dituruti ia manja pada ibu dan bapak, Rifa tau mana yang menyayangi dengan tulus dan yang tidak.


"Mau angon bebek, Nek? Nanti sore Riri mau dibuatin ceplok telor buat makan malam." Cerocosnya dengan senyum manis.


"Sayang, jam segini waktunya bebek istirahat, begitu juga Rifa, ibu mau masak Emm Rifa mau ibu masakin apa." Tanyaku memastikan agar Rifa tak memaksa ibu mengantarnya ke sawah.


"Mau mata sapi!" Celetuknya dengan cengengesan.


"Kalau mata sapi di goreng, matanya tinggal satu, kasian dia!" Timpal mas Farhan.


Rifa nampak manyun.


"Bukan Ayah. Maksudnya telor bebek di gorengnya kayak mata sapi." Kesalnya habis mas Farhan suka ledekin anaknya sendiri.


Kami semua tertawa kecil mendengar ayah dan anak adu mulut.


"Assalamualaikum," seseorang mengucapkan salam kayaknya bukan bapak dari suaranya.


"Waalaikumsalaaam," jawab kami serempak.


Aku berjalan dan membukakan pintu.


"Eh ada Rina kapan kesini nya?" Tanya Wa Jujun yang mengulurkan tangannya dan ku cium punggung tangannya.


"Barusan Wa." Balasku.


"Siapa Rin?" Timpal ibu yang sudah di belakang ku.


"Wa Jujun,"


"Masuk kang," ibu menyuruh Wa Jujun masuk.


Setelah Wa Jujun duduk dan saling menanyakan kabar masing-masing kamipun duduk melingkar, Rifa anaknya cepat akrab baru ketemu Wa Jujun sudah main nemplok aja, untungnya beliau gak rosihan dengan anak kecil.


"Ini anak siapa sih, centil banget," ujar Wa Jujun dengan mencapit hidung Rifa.


"Sakit kek," jawab Rifa dengan melepas tangannya.


"Aya naon kang, gak biasanya akang kesini?" Tanya ibu dengan senyum.


"Akang kesini mau ngasih ini," wa Jujun memberikan amplop coklat pada ibu.

__ADS_1


"Ini apa?" Ibu bertanya sambil menatap amplop coklat itu.


"Buka aja." Titah wa Jujun.


Ibu mengambilnya dan membuka amplop tersebut dan ibu terkejut tangannya bergetar, ada apa kenapa ibu gemetar.


"Kang, ini beneran, Siti gak ngigau?" Ucap ibu dengan memegangi dadanya.


"Bener ti, itu hak kamu, akang sudah menjual tanah yang ada di Bogor akang bagi rata."


Ibu mengangguk terharu aku dan mas Farhan saling tatap tak mengerti arah pembicaraannya tapi tunggu dulu barusan aku dengar wa Jujun habis menjual tanah warisan, kira-kira ibu dapat bagian berapa juta.


"Kamu mau usaha apa ti," tanya wa jujun.


Ibu hanya gelengkan kepala, mungkin bingung mau diapakan itu duit segepok itu.


Wa Jujun menatapku dengan senyum.


"Menurut kamu yang cocok di desa ini usaha apa Rin," lah wa Jujun malah nanya aku, aku kan gak tau?


"Gimana kalau ibu bikin usaha telor asin," usul mas Farhan.


Wow, ide mas Farhan cemerlang sekali, kenapa gak kepikiran kesana.


"Iya, masak dihari tua ibu sama Bapak mau jadi tukang rongsok aja. Dengan adanya ia uang ini ibu akan buka usaha telor asin, kira-kira disini ada yang mau kerja sama ibu gak ya." Ibu nampak berpikir memikirkan siapa yang mau jadi karyawannya untuk mengantarkan telor-telor itu ke warung-warung.


"Bu, diskusikan bersama bapak, bagaimana juga bapak harus tau? Soal siapa yang akan mengantar telor-telornya nanti Rina Carikan orangnya. Siapa tau anak wa Sariah mau, daripada Anton nganggur mending bantuin ibu."


"Iya, ti, kamu bisa ajak Anton kerja sama kan, usaha telor asin itu menjanjikan." Wa Jujun menyemangatinya agar ibu semangat.


"Assalamualaikum," sapa bapak dengan baju basah oleh keringat, bapak baru pulang ngarit rupanya.


"Waalaikumsalaaam," jawab kami semua.


"Kakek, capek ya, Riri ambilkan minum ya kek," dengan semangat Rifa berlari menuju dapur.


Tak lama kemudian Rifa datang membawa segelas air putih dan ia sodorkan pada kakeknya.


Bapak meraihnya dan menenggak air minumnya sampai tandas tak tersisa.


"Kakek haus, Riri ambilkan lagi ya?"


"Gak usah, kakek mau mandi dulu."


"Pak, masih banyak keringat jangan dulu mandi gak baik," ujarku.

__ADS_1


Aku gak mau kejadian pada istri wa Jujun beliau meninggal saat pulang dari sawah, ya seperti bapak gini badan masih basah oleh keringat malah mandi, akhirnya wa asih meninggal.


Bapak nurut sama ucapan ku, sebelum mandi bapak bermain sama Rifa.


Lima belas menit kemudian bapak sudah bergabung bersama kami dan berdiskusi tentang keinginan ibu untuk usaha telor asin, bapak setuju karena itu uang milik ibu.


****


Lima tepat Rifa sudah bangun dan minta diantar ke kandang bebek.


"Nenek, ayok katanya mau ambil telurnya," Rifa menarik tangan ibu.


"Iya iya, Nenek mau matikan kompor dulu." Rifa patuh menunggu ibu mematikan kompor.


Terdengar suara jeritannya merasa senang melihat begitu banyak telur bebek berserakan dimana-mana.


Bebek bapak banyak sekitar dua ratus ekor , bebek lakinya ada empat jadi bebek petelur nya sekitar 164 ekor.


Mulai hari ini, pagi ini, rutinitas sehari-hari akan di mulai ke empat tetangga ibu datang untuk mulai menyortir telur bagus untuk dijadikan bahan berkualitas.


Bapak dan mas Farhan sibuk menyiapkan abu gosok untuk membungkus telur bebek hari ini kita bekerja sama, setelah telur bebek di amplas dan di baluri abu gosok yang sudah di campur garam. Hampir setengah hari pekerjaan yang ku kira ringan ternyata berat juga. Sudah selesai.


Kini aku bisa bersantai di ruang TV bapak asyik bermain Lego bersama Rifa sesekali pipi bapak di olesi bedak oleh rifa itu hukuman bagi yang kalah.


"Ikutan main yuk," ajak mas Farhan padaku ah, kayak bocil aja.


"Gak ah, aku mau nonton berita terkini, mas aja yang main sama bapak dan Rifa."


"Ibu mana? gak ikut gabung," mas Farhan celingukan mencari ibu, tak lama ibu datang dengan membawa nampan sedang berisi teh hangat dan rebus singkong yang ditaburi parutan kelapa, wah sedap sekali, makan yang aku rindukan. Di Bandung agak susah mencarinya kalau disini banyak, apalagi bapak menanam sendiri.


"Itu apa Nek," Rifa menunjuk singkong rebus di piring.


"Singkong." jawab ibu.


"Apa enak Nek," tanyanya maklumlah Rifa belum makan yang namanya singkong.


"Enak!" Ibu mengambilnya dan menyuapkan kemulut Rifa, sedetik kemudian ia nampak diam dengan mulut mengunyah merasakan rasanya bagaimana.


"Enak, mau lagi, suapi lagi Nek," pintanya manja ibu tersenyum lalu mengangguk.


karena asyik makan singkong bapak bersorak gembira karena beliau menang bermain Lego.


Sepertinya bapak balas dendam sama Rifa wajah Rifa di pakaian bedak sampai putih mirip hantu saja.


Rifa tertawa lepas sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


__ADS_2