
"Han," lirihnya dengan tatapan sendu.
Farhan tau akan arti dari tatapannya yang sendu, ujung-ujungnya dia yang akan dimintai untuk menemani Nisa tuk belanja keperluan acara tujuh bulanan nanti.
"Modus LO. Gue tau! Maksud pertinyiin yang barusan lolos dari mulut Lo, basi tau!" Sindirnya membuat Fatah tersenyum tak enak hati, karena Farhan banyak berkorban untuk nya.
"Hanya kamu yang bisa mengerti keadaanku dan paling pengertian banget. Mas janji akan menjelaskan semuanya pada Rina."
"Awas bohong."
Fatah tersenyum dan mengangguk.
"Yang nikah siapa, yang repot siapa!"
"Gak mau nolongin," ujar Fatah dengan menatap jengah.
"Auh ah haredang." Farhan mengipas ngipas tangannya seakan-akan kepanasan.
"Jam istirahat udah habis. Mas mau ke kantor lagi, kamu juga harus ngantor kan," tanya Fatah.
"Aku gak kerja."
"Kenapa?"
"Ish. Ngomong terus, kapan perginya?"
"Oke."
Keduanya pun keluar dari cafe dan menuju ke tempat masing-masing.
****
Rina berjalan dengan pelan senyum manis selalu menghiasi wajah cantiknya. Banyak para ibu-ibu tersenyum saat berpapasan dengannya.
Wah, mereka orangnya ramah baik gak sombong, yang seperti ini adem? Senangnya punya tetangga yang adem ayem gini.
Dari kejauhan Rina melihat seorang wanita yang sedang mengambil mangga namun ia tidak mendapatkan mangga nya hingga dirinya uring-uringan melulu.
Rina mendekati wanita tersebut dan bertanya. Diperkirakan usianya tak beda jauh dengan nya.
"Mbak, lagi apa?" Tanyanya sopan.
"Lagi ngedoger! Udah tau ngambil mangga, pake nanya lagi!" Ketusnya kesal wajahnya berkeringat kena terik matahari satu tangan kanannya memegang bambu tuk mengambil mangga.
"Mau saya ambilkan?" Rina menawarkan pertolongan pada wanita tersebut.
Mendengar itu wanita itu menatap Rina dengan alis bertautan.
"Percaya Mbak, soal manjat memanjat mah, saya ahlinya." Rina berusaha menyakinkan wanita itu.
"Boleh, daritadi gak dapet dapet sampai pegal tengkuk leher saya." Jawabnya dengan mengurut tengkuknya.
"Mbak bisa gendong anak saya."
"Bisa." Jawabnya dan mengulurkan tangannya untuk menggendong Rifa.
Rina memberikan Rifa agar di gendong setelah memastikan Rifa tak bangun, Rina mulai beraksi manjat.
"Hati-hati Mbak. Yakin bisa manjat pohon mangga ini?"
Rina mengangguk dan tersenyum lebar.
"Tapikan pohonnya tinggi," teriaknya saat melihat Rina sudah duduk manis di cabang pohon mangga.
Rina tak mengindahkan teriakan nya, ia justru asyik memilih buah mangga yang matang.
"Mbak, ini pohon mangga punya sendiri?" Teriaknya dari atas.
"Iya, emangnya kenapa?"
"Mangga nya banyak yang matang, aku goyangkan pohonnya ya, biar cepat!"
"Iya, gak apa-apa. Tapi, ada yang mudanya nggak! Soalnya saya mau yang muda!"
__ADS_1
"Ada!"
"Mbak nyidam?" Tanya Rina dengan menggoyangkan pohon mangga.
Plak, pluk, plak, pluk.
Bunyi mangga berjatuhan.
"Mbak! Mangga nya udah banyak," teriaknya membuat Rina menghentikan aksinya.
"Hah? Banyak sekali, ya udah deh aku turun." Balas Rina.
"Mbak, inimah bisa dibagikan satu kampung banyak sekali."
"Mbak mau?" Tawarnya .
"Mau dong. Saya minta yang mentahnya nggak."
Wanita cantik yang memakai daster itu menatap heran.
"Mbak ngidam," tanyanya hanya sekedar untuk memastikan.
Rina mengeleng cepat.
"Enggak, ini buat seseorang yang lagi tekdung."
"Oh." Wati sebut aja namanya begitu dia hanya ber 'oh' ria.
"Hmmm," Rina hanya membalas senyuman Wati.
Rina mengumpulkan mangga di wadah yang sudah tersedia, sedangkan Wati masih berdiri dengan menggendong Rifa, rupanya anak ini doyan tidur sedaritadi belum bangun.
Oek, oek, oek, Rifa menangis terbangun dari tidurnya.
"Mbak, susuin anaknya dulu," titah Wati dengan memberikan Rifa pada Rina.
"Saya cuci tangan dulu, dimana kamar mandi nya?" Tanya Rina.
"Kebelakang aja, lurus ke depan terus belok kiri disitu kamar mandinya."
Setelah kembali dari kamar mandi Rina menghampiri wati.
"Mbak, bawa sini Rifa nya, biar aku susui," ujarnya dengan meraba saku gamisnya yang ternyata botol susu tak ada.
Lho kok, gak ada perasaan tadi disaku? Mampir kemana dia, Rina panik saat botol susu tak ada, Wati yang melihat wajah bingungnya Rina membuat ia bertanya pada Rina.
"Ada apa?"
"Susunya hilang," jawabnya cepat.
"Hah? Susunya hilang kok, bisa," jawab wati heran.
"Jangan-jangan ketinggalan di pohon lagi." Rina mendongak ke atas dan benar saja botol susunya ada di dahan pohon mangga.
"Iya, itu Mbak, kok, bisa? Botolnya nangkring di atas?"
Rina hanya tersenyum melihat tingkah lakunya yang konyol kenapa bisa lupa untuk menitipkan susunya pada Wati. Kalau sudah berurusan dengan manjat pohon pasti Rina khilaf lupa segala-galanya untung saja Rifa gak diajaknya manjat.
"Mbak. Sedaritadi kita memanggil nama dengan sebutan Mbak, kenalan dulu siapa namanya gitu, biar enak manggilnya," ucap rina, ia mengulurkan tangannya dan menyebutkan nama.
"Aku Rina." Rina memperkenalkan dirinya.
"Saya Wati," jawab Wati.
Keduanya pun tersenyum penuh arti.
"Saya baru liat kamu ada di sini? Kamu baru pindahan rumah." Wati tersenyum simpul.
"Iya, kontrakan aku ada di ujung sana." Rina menunjukan bahwa dirinya tinggal di ujung gang. Dimana deretan kontrakan yang paling ujung disitu ia tinggal.
"Oh, pantesan baru liat. Eh, ngomong-ngomong anaknya gak dikasih susu?" Wati mengingatkan dirinya agar cepat menyusui Rifa.
Untungnya Rifa tak m3nangis lagi ia tidur kembali saat Wati menidurkannya.
__ADS_1
Rina menepuk jidat nonongnya yang tertutup oleh hijabnya.
"Aku manjat dulu."
"Gak usah manjat! Pake ini aja." Wati menyodorkan bambu panjang pada Rina.
****
Brem, brem, suara motor bututnya Farhan merusak kesehatan indera pendengaran para penghuni kontrakan, termasuk Rifa, ia terbangun saat ayahnya pulang.
"Mas, Mas, kalau masuk gang, motornya di matikan, biar gak ganggu tetangga apalagi anak kamu." Rutuknya dengan membuka pintu. "Bangunkan dia dari tidurnya, mana aku belum masak," kesal Rina dengan cemberut.
"Gak usah masak, Mas bawa nasi Padang buat kamu," Farhan tersenyum dan menyodorkan keresek hitam yang berisi nasi Padang.
"Tumben." Jawabnya singkat dan berjalan menuju dapur.
Rina menyiapkan nasi dan lauk nya diatas piring lalu mengambil dua gelas kosong lalu ia tuangkan air putih setelah selesai menata makan siang ia berteriak memanggil Farhan agar cepat makan.
"Mas, ayok makan!" Teriaknya pelan.
Farhan yang sedang duduk menatap wajah imutnya Rifa sontak menoleh kearah suara Rina.
"Ayah. Makan siang dulu, kamu bobok nya yang anteng," bisiknya dengan menoel pipi gembilnya.
Farhan bahagia dengan kehadiran bayi mungil di tengah-tengah keduanya, Farhan terus berdoa dan berharap agar dapat diberikan momongan, senyum hambar pun tersungging di wajahnya.
Dengan gontai Farhan menuju meja makan disana sudah ada Rina yang menatapnya heran.
"Kenapa lesu, kamu sakit, jam segini sudah pulang kerja."
"Mas, hanya kerja setengah hari aja." Bohong Farhan tak mungkin dong dia jujur kalau hari ini dia tak kerja melainkan bertemu dengan Fatah
"Oh." Jawabnya.
Hening sejenak hanya suara dentingan sendok dan garpu, keduanya tak ada yang bersuara hanyut dalam pikiran masing-masing.
Farhan gelisah haruskah jujur atau tetap menyimpan rahasia besar yang suatu saat akan memperkeruh keadaan.
Rina menatap gestur tubuh Farhan yang gelisah, namun Rina cuek saja, bahkan Rina sendiri pun hanyut dalam pikiran nya, memikirkan bagaimana caranya merebut kembali hati Farhan haruskah dia merubah tampilan? Berdandan ala-ala black pink. Ah. Lucu sekali bila Rina gadis tomboi harus berpenampilan ala Korea? Apa kata dunia, bisa-bisa semua orang mendadak struk, kala melihat perubahan pada Rina, apakah akan menjadi power rangger atau Rainbow.
Farhan mengumpulkan keberaniannya untuk minta izin untuk mengantarkan Nisa berbelanja untuk acara pengajian nanti. Berulang kali Farhan menarik nafas panjang sepanjang sejarah, ditatapnya wajah Rina yang meneduhkan hatinya ada rasa takut bila Rina akan marah dan mendiamkan dirinya. Namun Farhan tak ada pilihan lain selain menuruti perintah kakaknya.
"Yang." Ucapnya tersendat seperti ada batu kerikil yang menghalangi tenggorokannya.
Rina menatap kearah Farhan, ada raut wajah cemas yang menyelimuti hati nya.
"Apa? Mau ngomong apa sih, jangan bertele-tele ntar di gondol Kelong Wewe." Ucapnya dingin dalam keadaaan suasana genting masih aja bercanda.
Farhan tersenyum hambar mendengar jawaban Rina yang menohok.
Farhan mengaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ngapain garuk-garuk kepala, ketombean, makanya tadi pagi sampoan. " Rina masih fokus pada nasi Padang yang menggoyang lidah nya. Suapan demi suapan Rina menikmatinya walaupun hati masih kesal pada suami.
"Jangan bercanda Mas, serius mau minta izin," Farhan menyambar tangannya dan menggenggam erat.
"Apaan sih." Datarnya dengan menarik tangan nya kembali.
"Besok Mas, mau menemani Nisa tuk membeli keperluan acara tujuh bulanan dia." Ujarnya hati-hati takutnya Rina mengamuk
"Kenapa minta izin, nikah sama dia aja gak, pake izin, masa mau anterin dia belanja harus minta izin sama aku? Aku ini siapa? Bukan siapa-siapa dia. Udah ah! Mau ngapain juga terserah!" Ketusnya dengan senyum mengejek.
Hening seketika.
"Kamu mau antar dia jam berapa? Gak masuk kerja. Kan, hari libur masih beberapa hari lagi, ohiya lupa, demi istri tercinta mah, apa pun dijabanin, mau sibuk apa enggak pasti akan dituruti apalagi wanita itu mengandung benihnya." Cibirnya dengan mencebikan bibirnya.
"Rin, Mas sudah katakan berapa kali biar kamu nggak salah paham, kalau Nisa itu--"
"Nisa apa, gak bisa jawabkan. Udah aku gak mau debat parpol sama kamu capek! Capek pikiran, perasaan dan badan. Kalau belanja ke mall aku titip belikan sabun mandi anti cemburu! Siapa tau pake sabun itu badan aku dingin, gak panas." Sindirnya pedas.
"A-aku harus dilakukan apa biar kamu percaya bahwa diriku tak serendah yang kau tuduhkan."
"Bunuh dia, baru aku percaya!"
__ADS_1
"Rina!"