
Suara tangis bayi yang masih merah menggema di ruang bersalin, kebahagiaan terpancar dari wajah Septi dan Fahmi, akhirnya mereka menjadi ayah dan ibu.
Bayi merah itu diserahkan pada Fahmi oleh suster agar di adzani rasa syukur selalu mama Leni panjatkan air mata yang menetes bukanlah air mata kesedihan melainkan kebahagiaan.
Mama Leni teringat dengan Farhan karena mereka belum di kabari nya.
"Fatah, Farhan ,mama hari ini bahagia sekaligus sedih, pertama mama bahagia dengan kedatangan anggota baru, kedua mama sedih harus berpisah dengan kalian. Mama sudah banyak dosa terhadap Rina juga Rifa. Mama ingin kita kumpul kembali bersama-sama." Lirihnya dengan menyusut kedua sudut matanya. Rasa bersalahnya menjalar ke seluruh tubuh nya ,ingin menebus semua kesalahannya pada Rina.
"Ma," Fahmi mengelus bahunya lembut.
"Mi, apa Mama bisa bertemu dengan Fatah dan Farhan? Apakah Mama gak bisa jadi mertua baik dan nenek untuk Rifa? Mama akui semuanya, mama jahat, mama jahat!" Ujarnya dengan memukul-mukul dadanya yang terasa sesak.
"Mama adalah Mama terbaik untuk kami mertua hebat. Yang sayang pada cucu-cucunya." Puji Fahmi.
"Iya, Ma, mama mertuaku yang paling baik." Sahut Septi yang masih terbaring di brankar dengan lemas.
"Terimakasih Nak, tapi, Mama masih belum bisa memastikan apakah Rina akan memaafkan mama?"
"Pasti ma, karena Rina anaknya baik, dia tak pernah menyimpan dendam terhadap siapapun." Sahut Farhan yang di anggukan oleh Septi.
"Iya," jawabnya lirih.
Fahmi mencoba mengabari Farhan atas kelahiran bayi pertama nya yang berjenis kelamin laki-laki. Chat nya terkirim namun belum terbaca oleh Farhan.
Kini Fahmi menelpon Fatah sambungannya tersambung oleh suara anak kecil yang suaranya merdu.
"Halo? Ini siapa?" Ucapnya di sebrang sana.
"Ini Kinan," tanya Fahmi.
"Iya, ini Om siapa?"
"Om Fahmi Sayang?"
"Assalamualaikum? Om Fahmi, mau ngomong sama Abi ya?" Celotehnya bikin gemes.
"Boleh,"
"Abi, ada Om Fahmi mau ngomong sama Abi!" Teriak Kinan sambil berlari dan menyerahkan ponselnya.
Fatah yang duduk di bangku sambil mengendong anak bungsunya, ia menoleh kearah suara kinan.
"Om, Fahmi?" Tanya Fatah setengah berbisik Arjuna anak bungsunya sedang tidur di pangkuannya. Kinan menganggukkan kepalanya dan menyerahkan ponselnya pada Fatah.
Fatah menerima ponsel yang diberikan oleh Kinan.
"Assalamualaikum, mi, apa kabar?" Tanya Fatah pelan agar putranya tak bangun dari tidurnya.
"Waalaikumsalaaam, Mas, kabar kita semua baik, aku menelpon Mas mau memberikan kabar gembira karena aku sudah menjadi ayah, Septi barusan melahirkan anak laki-laki untukku."
"Alhamdulillah akhirnya doa kalian terkabul, mas ucapkan selamat berbahagia, salam buat Septi dan Mama, apa mama ada di situ?"
"Ada. Mas."
Hening.
Tak ada suara diantaranya hanya deru napas panjang yang terdengar dari ponselnya masing-masing.
"Fahmi, mau ngomong apa?" Tanyanya.
"Mama ingin kalian semua pulang ke rumah," jawab Fahmi.
"Tunggu saatnya, Mas pasti pulang dan bertemu kalian terutama ponakan Mas."
"Janji ya Mas, kasian mama, selalu memikirkan kalian, segera pulang apa Mas gak kasian melihat kondisinya yang sudah tua, badannya pun kini kurus, menyedihkan." Tuturnya terdengar suara isakan darinya.
"Iya." Jawab Fatah ia tak sanggup lagi mendengarnya.
"Mi, udah dulu Mas mau menidurkan Arjuna dulu," ucapnya dia sengaja menghindari nya.
Dia tak mau kelihatan rapuh Dimata Fahmi pura pura tegar tapi hati hancur berkeping-keping bertahun-tahun lamanya harus berpisah dengan mamanya.
"Tunggu sebentar lagi Ma, sampai kejahatan Risa terbongkar dan aku akan pastikan dia mendekam di penjara selama lamanya, karena dia hidupku sengsara!" Ucapnya dalam hati.
Setelah Toni menceritakannya semuanya atas apa yang menimpa dirinya dan keluarganya, Toni menyerahkan semua uang beserta surat-surat tanah yang ia curi dirumah Fatah, dan satu lagi kedua mobilnya pun Toni kembalikan dirinya berbohong pada Risa bila mobil Fatah ia jual padahal mobil itu Toni titipkan di rumah saudara nya yang di Semarang.
__ADS_1
Fatah sempat marah ia geram pada Toni ingin mencekiknya bila Nisa tak menghalanginya.
Toni menceritakan tentang kejahatan Risa yang sesukanya tanpa belas kasih, Toni menyesal sudah mau bekerjasama dengan Risa sehingga anak sulungnya harus pergi selamanya.
Perkenalkan Toni dengan Risa, adalah awal malapetaka dimulai.
Fatah sempat ingin memenjarakan Toni namun dilarang oleh Nisa, kasian anak istrinya. Mau gak mau Fatah mengalah demi anaknya, yang tak mau nasib anaknya seperti anak Toni.
Nisa memang wanita yang Solehah pemaaf, ia cantik bukan diluar saja tapi hatinya juga.
"Abi, malah ngelamun, umi panggil-panggil gak nyaut! Kenapa sih."tanya nisa.
Fatah tersenyum manis dan berkata.
"Umi, apa umi siap bertemu mama?" Tanyanya hati-hati karena ini oaetamy kalinya Fatah mengajaknya bertemu dengan mamanya.
Satu detik dua detik tak ada jawaban darinya hanya kebisuan.
Entah apa yang dipikirkan oleh Nisa, Fatah yang menunggu jawab darinya dag dig dug tak karuan Fatah akan menerima semua keputusan Nisa dengan lapang walau ia akui dirinya merindukan sosok ibunya yang sayang pada anak-anak nya.
"Kapan kita kesana?" Pertanyaan nya membuat Fatah mengembangkan senyumnya.
"Kamu mau, kamu gak marah?"
Nisa tersenyum dan gelengkan kepala.
"Untuk apa umi marah, ini momen-momen yang umi tunggu-tunggu. Umi gak sabar pengen ketemu mama mertua," senyumnya membuat Fatah ikut tersenyum juga.
"Lusa kita ke Bandung," ucap Fatah.
"Abi mau ke Bandung, untuk apa?" Tanya Kinan.
"Ke rumah nenek." Jawabnya kompak.
"Nenek?" Jawabnya heran, selama ini Kinan menantikan kehadiran seorang nenek yang sayang padanya, namun kini keinginannya terkabul.
"Kita ketemu nenek?" Tanya Kinan memastikannya.
Abi dan uminya mengangguk.
*****
Risa nampak kesal karena papa dan mamanya begitu leletnya, tak henti-hentinya Risa menatap ke arah jam tangan yang melingkar dipergelangan tangannya.
"Mama, papa, buruan kalian tak takut polisi datang ke rumah!" Teriaknya.
Tak lama kemudian om Darwin mendorong koper besar sedangkan mama Sopia berjalan menenteng tas branded miliknya.
"Lama sekali!"
"Sabar Sayang. Taksi yang mama pesan sebentar lagi datang." Ucap mama Sopia.
Mereka tak menyadarinya bahwa para polisi sudah menggerebek rumah nya, kali ini ancaman Toni gak bohong. Risa salah memilih lawan. Toni mantan mafia jadi gak bisa di ragukan kemampuan nya.
"Cemon." Ujar Risa saat taksi yang dipesannya datang.
Om Darwin dan Bu Sopia Duduk di bangku depan sedangkan Risa duduk di belakang, saat mobil taksi mulai keluar dari gerbang tiba tiba.
"Berhenti!" Seorang polisi menghadang laju mobilnya dengan menodongkan pistol.
"Tabrak Pak." Titah Risa.
"Gak mau saya Mbak, saya gak mau mati konyol, dirumah masih ada anak istri saya yang menunggu saya pulang." Jawab sopir taksi.
*Tabrak atau saya bunuh kamu!" Om Darwin menodongkan pisau di perutnya.
Pilihan sulit, keduanya sama-sama menyulitkan kenapa dirinya harus terjebak dalam situasi begini?
"Tabrak! Bod*h!" Umpat Risa dengan menarik stir mobil dengan asal.
Bum. Suara dentuman keras menghantam dinding gerbang membuat mobil oleng.
Mobil itu terus berputar-putar tanpa arah dan menghantam tiang listrik, akhirnya mobilnya berhenti.
Risa meloloskan diri tanpa memikirkan kedua orang tuanya yang terpenting saat ini ia tak tertangkap.
__ADS_1
"Risa tolong kita!" Teriak Bu Sopia saat polisi memborgol dirinya dan om Darwin.
Risa mengelengkan kepalanya cepat, ia terus berlari tak mau tertangkap polisi.
"Berhenti!" Teriak pak polisi namun Risa tak mengindahkan peringatan pak polisi.
Dor dor dor.
Polisi menembakkan peluru keatas sebagai tanda peringatan agar Risa berhenti, bukanya takut Risa terus berlari dan sebuah timah panas mendarat dikaki kanannya.
"Auw! Sialan!" Umpatnya dengan meringis menahan sakit, tak ada kapoknya Risa terus berlari dengan menyeret kakinya.
"Risa!" Pekik Bu Sopia shock melihat anaknya yang tertembak dikakinya.
Risa tak sanggup lari lagi iapun tumbang.
"Makanya jangan coba-coba bermain dengan seorang Toni, bagaimana bos, enak?" Toni menyerigai senang melihat Risa kesakitan.
"Set*n kamu, awas aku bunuh kamu!" Teriaknya.
"Pak, bawa mereka semua, penjarakan keluarga parasit yang tidak tau malu!"
Polisi memborgol Risa yang memak-maki Toni,
"Awas kamu! Kalau saya bebas yang pertama aku cari itu kamu." Ancam Risa.
"Aku tunggu bos." Kekeh Toni.
*****
Kedatangan Fatah di sambut riang gembira oleh mama Leni, anak cucunya yang ia rindukan sudah ada bersamanya, tinggal satu keluarga lagi yang belum datang.
yaitu Farhan dan Rina.
"Besok kita akan kedatangan tamu spesial." ucap Fahmi di sela-sela kebahagiaan mereka.
"Siapa?" tanya mama Leni.
"Ada deh?" kompak anak cucunya.
Mama Leni mengerucut kan bibirnya ia merajuk seperti anak kecil yang tak pernah mendapat mainan.
"Assalamualaikum," sapa seseorang dari luar sana.
Semua orang menatap ke arah pintu.
"Waalaikumsalaaam," jawabnya serempak.
Nampak Farhan masuk kedalam rumah dengan menggandeng tangan Rifa yang di ikuti oleh Rina.
"Fa-farhan, ri-rina? ini kalian, mama gak mimpikan?" ucapnya terbata bata.
"Iya, ini kami, anak menantu dan cucu Mama," jawab Rina.
mama Leni merengangkan kedua tangannya untuk memeluk anak cucunya yang ia rindukan.
"Maafkan Mama Rina, maafkan Oma juga Rifa?" mama Leni menatap Rina dan Rifa.
"Mama gak salah kenapa harus minta maaf, sebelum mama minta maaf,kami sudah memaafkan mama," Rina memeluk tubuh mama Leni yang mulai kurus.
"Rifa juga sayang? Oma." Rifa mencium pipi mama Leni.
Keluarga besar Farhan begitu bahagia sekali, diantara mereka tak ada lagi yang di bedakan semuanya disayang oleh mama Leni,
Mama Leni sangat bahagia mendengar kabar bahwa Rina saat ini sedang hamil anak kembar.
"Kalau anak kamu lahir, biar mama yang kasih nama buat mereka."
"Gak boleh!" saut Farhan.
"Kenapa?" mama Leni mengeryitkan keningnya.
"Itu anakku, aku yang sudah membuat dia hadir di dunia, massa Mama yang mau memberikan nama buat mereka." tolak farhan.
"Rina!" renggeknya manja.
__ADS_1
"Iya mama ,boleh memberi nama buat anak aku," mendengar jawaban Rina membuat senyumnya mengembang kembali.
Kini mereka berbahagia saling menyayangi satu sama lain