AKU DAN ANAK MAJIKANKU

AKU DAN ANAK MAJIKANKU
bab 10


__ADS_3

Satu minggu sudah sejak kepulangan Sisca dari luar negeri, hari ini dia harus kembali lagi ke luar negeri karet masih harus menyelesaikan studinya di sana.


"Sayang, semoga satu minggu kemarin bisa mengobati rasa rindu kamu ya," ucap Sisca pada Bara.


"Sudah terobati kok tapi beberapa hari lagi aku pasti rindu lagi sama kamu."


"Sama, aku juga pasti rindu banget sama kamu."


"Ya udah aku abrar kamu sampai ke Bandara ya."


"Kamu gak sibuk?"


"Nggak, lagian ada Farel di kantor."


Sisca tidak menolak tawaran Bara karena memang sebenarnya dirinya tak ingin jauh-jauh dari kekasihnya itu.


*******


Di rumah.


Nela tersenyum saat melihat foto-foto lama yang ia simpan dalam galeri ponselnya.


Sudah hampir satu bulan dirinya bekerja di rumah itu, ia mulai merasa nyaman dengan lingkungan rumah itu ditambah lagi satu minggu ini Bara tidak ada mengganggunya sedikitpun, hal itu membuatnya semakin nyaman saja bekerja di rumah itu.


"Aku harus betah kerja di sini biar bisa ngumpulin uang buat biaya kuliah aku," gumam Nela.


Saat itu Nela belum tahu pastinya gajinya bekerja sebagai asisten rumah tangga berapa rupiah, Diawal dirinya masuk ke dalam rumah itu, Luci hanya mengatakan bahwa dia akan membayarnya sesuai dengan hasil kerjanya bagus atau tidak. Meski begitu Nela tak terlalu memikirkan itu, selama ini yang dia tahu, Luci adalah majikan yang baik dan tidak mungkin menggaji dirinya semena-mena.


*********


Di kantor.


"Pak Farel ada di tempatnya?" tanya Kinara pada seorang satpam.


"Ada, silahkan masuk saja ke ruangannya," ucap Pak Satpam itu.


Kinara tersenyum lalu berucap, "terimakasih."


Ia pun melanjutkan langkahnya menuju ruangan sang kekasih!


"Maaf Mbak, Pak Farel sedang tidak bisa diganggu," ucap Cindy saat Kinara hendak membuka pintu ruangan pribadi Farel.


"Kenapa? Saya sudah membuat janji dengannya," ucap Kinara.


"Iya saya mengerti tapi tolong tunggu sebentar saja. Pak Farel sedang ada urusan penting."


Kinara menatap Cindy dan memperhatikan Cindy dari atas sampai bawah.

__ADS_1


"Kamu karyawan di sini?"


"Saya Sekretaris nya Pak Bara tapi saya juga kekasihnya Pak Farel."


Mendengar pernyataan Cindy, Kinara merasa kesal dan marah. Dia begitu cemburu saat tahu ternyata Farel berpacaran dengan wanita yang kini berdiri didepannya itu.


"Kenapa menatap saya seperti itu? Kamu marah? Kamu gak usah temui Pak Farel lagi karena dia sudah menjadi milik aku."


Cindy yang tak tahu siapa sebenarnya Kinara dengan tanpa rasa ragu dirinya berbohong kalau dirinya adalah kekasihnya Farel.


Tanpa berkata-kata lagi, Kinara berlari keluar dari kantornya Farel dengan membawa kekecewaan di hatinya


Seolah tak merasa berdosa, Cindy tersenyum penuh kemenangan sembari menatap Kinara yang semakin menjauh darinya.


**********


"Kebetulan kita ketemu di sini," ucap Alea pada Deon.


"Kenapa, ada hal penting apa sehingga kamu jauh-jauh datang ke tempat kerja aku?"


"Gak ada hal penting apa-apa, aku cuma lagi bosan aja. Pengen jalan-jalan."


"Dasar dodol, aku lagi kerja. Emang kamu gak kerja?"


"Ya kerja lah, ini aku lagi ada tugas menemani Bos keluar."


**********


"Nela, tolong buatkan saya teh tawar hangat ya terus antarkan ke kamar," ucap Bara yang baru tiba di rumahnya.


"Iya Mas, saya buatkan dulu ya." Nela pun langsung membuat teh tawar seperti yang diinginkan oleh anak majikannya itu.


Tanpa rasa takut dan curiga, Nela pun langsung membawa teh itu dan mengantarkannya ke kamar Bara.


Satu minggu Bara bersikap biasa saja padanya, membuat rasa takutnya hilang dan mulai berganti dengan rasa nyaman.


"Mas, ini teh nya mau ditaruh dimana?" tanya Nela saat sudah masuk ke dalam kamar Bara.


"Taruh di atas meja saja Nel, saya mau mandi dulu."


Nela membungkukkan badannya untuk meletakkan teh yang ia bawa di atas meja. Hal itu membuat Bara dapat melihat belahan dada Nela.


Pemuda dewasa itu pun mulai merasakan hal aneh lagi tapi dirinya mencoba untuk menahannya karena takut Nela pergi dan tak ingin bekerja lagi di rumahnya.


Bara pun langsung masuk ke dalam kamar mandi!


"Nela emang selalu menggoda, body tubuhnya yang bagus dan berisi membuat aku selalu ingin menikmatinya," gumam Bara.

__ADS_1


Bara pun mulai mengingat bahwa sekarang ini Nela tidak menghindarinya lagi meski dirinya meminta Nela masuk ke dalam kamarnya dan rencana gila pun mulai melintas dalam pikiran Bara.


Dia mulai membayangkan dirinya bersama Nela sembari memegang benda pusaka miliknya dan mencoba menuntaskan hasrat terpendam nya.


Di dapur.


"Hai Nel," ucap Farel yang datang ke dapur untuk mengambil air minum.


"Mas Farel udah pulang juga?"


"Seperti yang kamu lihat."


"Mau kopi atau teh?"


"Tidak. Gimana Nel, setelah hampir satu bulan kerja di sini betah gak?"


"Saya mulai betah Mas."


"Tuh kan aku bilang juga apa. Mungkin waktu itu kamu gak betah karena masih terus teringat kampung."


"Sebenarnya aku gak betah karena Mas Bara tapi sekarang Mas Bara udah gak melakukan hal gila lagi padaku jadinya aku betah dan ingin bertahan bekerja di sini," ucap Nela didalam hatinya.


"Masak apa hari ini Nel?" tanya Luci.


"Masak semur daging dan tumis kangkung," sahut Nela.


"Ada sambal tidak? Sambal buatan kamu enak, saya suka."


"Tidak ada Bu tapi kalau Ibu mau, saya akan membuat sambalnya sekarang."


"Aku juga suka sambal buatan kamu. Bikin yang banyak Nel," ucap Farel lalu berlalu dari tempat itu!


**********


Di rumah Kinara.


Kinara menangis, dia kecewa bahkan menjadi benci terhadap Farel.


"Dasar laki-laki munafik, bilangnya gak mau merusak orang yang dia cintai padahal dia punya pacar yang bisa setiap saat ditemuinya," ucap Kinara dengan nada kesal.


Dia menghempaskan tubuhnya ke atas tempat tidurnya dan menyembunyikan kepalanya dibawah bantal. Ia menangis menjerit histeris. Tak ingin ada yang mendengarnya, ia pun sengaja menutupi kepalanya dengan bantal agar suara teriakannya tidak dapat didengar oleh orang rumahnya.


"Awas aja kalau besok ketemu, akan aku pukul, akan aku cakar kamu Farel, dasar laki-laki munafik, tukang selingkuh. Jahat! Kamu laki-laki jahat."


"Aku begitu mencintai kamu tapi kamu malah punya perempuan idaman lain. Aku benci sama kamu, aku benci, benci, benci." Kinara terus mengucapkan kalimat-kalimat umpatan didalam hatinya. Dalam keadaan sedih seperti ini pun dirinya masih mempunyai kesadaran untuk tidak membuat keributan di rumahnya sendiri.


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2