AKU DAN ANAK MAJIKANKU

AKU DAN ANAK MAJIKANKU
bab 38


__ADS_3

Setelah, Nela membuatkan minuman untuk dua tamunya, dia langsung mengambil Bagas yang terbaring di atas tempat tidurnya lalu duduk di kursi yang berharapan dengan Farel.


"Ada apa ya, Mas kok datang gak kasih kabar dulu?" tanya Nela.


"Nela, perkenalkan, ini Kinara pacar aku," ucap Farel mengenalkan Kinara pada Nela.


"Oh, saya Nela, Mbak," ucap Nela sembari menjabat tangan Kinara.


"Tolong jelaskan pada Kinara kalau kita ini tidak ada hubungan apa-apa," ucap Farel.


"Mbak Kinara, tolong jangan salah sangka pada Mas Farel dan saya, saya tidak ada hubungan apa-apa dengan Mas Farel. Selama ini Mas Farel memang sangat memperdulikan saya tapi semua itu dilakukannya karena adanya Bagas anak saya," jelas Nela.


"Sekarang kamu percaya kan kalau aku gak selingkuh dan aku belum menikah. Bagas ini adalah anaknya Nela dan kak Bara," ucap Farel sembari menggenggam tangan Kinara.


"Tolong tarik ucapan kamu yang ingin membatalkan pernikahan kita, aku tidak ingin hubungan kita berakhir ditengah jalan," sambung Farel.


"Maaf, saya pikir Mbak sudah tahu kalau Mas Farel sering datang ke sini untuk bertemu dengan anak saya kalau saya tahu pacarnya, Mas Farel tidak tahu mungkin saya akan mengingatkan Mas Farel agar bicara jujur pada Mbak," ucap Nela.


"Kamu benar Mbak," ucap Kinara pada Nela.


"Kamu juga, kenapa kamu gak bilang ke aku kalau kamu hanya menolong Mbak ini," ucap Kinara pada Farel.


"Mama gak tahu kalau, Nela hamil anaknya Kak Bara, berkali-kali aku sudah meminta kak Bara untuk mengakui kesalahannya tapi dia tetap tidak melakukannya karena alasan cinta pada kak Sisca," jelas Farel.

__ADS_1


"Jadi, yang kak Bara katakan itu benar? Berarti kak Bara tidak sedang membela kamu atau menutupi kesalahan-kesalahanmu agar pernikahan kita tidak batal?" ucap Kinara.


"Sebenarnya saya sudah melupakan masa lalu kelam itu, saya tidak mau mengungkit masalah itu lagi tapi ternyata kejadiannya seperti ini, mungkin maslah akan datang lagi pada hidup saya," ucap Nela.


"Selama ada saya, saya tidak akan membiarkan kak Bara mengusik kehidupan kamu lagi, Nel lagipula kak Bara tidak tahu kalau kamu tinggal di sini, dia tidak akan datang dan mengancam kamu lagi," ucap Farel.


"Assalamualaikum!" seru Fasha dari luar rumah itu.


Saat hendak ke masjid untuk shalat berjamaah, tanpa sengaja Fasha melihat mobil Farel terparkir didepan rumah Nela.


Tak ingin menimbulkan fitnah, Fasha pun berjalan menuju rumah Nela!


"Pasti cuma ada Nela dan Farel di dalam rumah," pikir Fasha yang akhirnya membawa langkah kakinya menuju rumah kekasihnya itu.


"Waalaikumsalam," ucap semua orang yang ada di dalam rumah.


"Maaf, saya hanya ingin memastikan bahwa di dalam sini tidak ada apa-apa," ucap Fasha.


"Kak Fasha, sini masuk kebetulan sedang ada tamu, Mas Farel membawa pacarnya untuk dikenalkan padaku," ucap Nela.


Kinara tersenyum ramah pada Fasha yang kala itu tengah menatapnya.


"Sudah azan maghrib, aku mau ke masjid," ucap Fasha.

__ADS_1


"Kita bareng aja, Mari Pak," ucap Farel.


"Kinara, kamu di sini aja, dulu ya sama Nela, aku shalat berjamaah di masjid," ucap Farel pada Kinara.


Kinara mengangguk pelan dengan sedikit senyuman yang terukir di bibirnya.


**********


Di kediaman Luci.


"Aku sudah bersalah pada Nela, astaga kenapa aku terlalu percaya pada Bara waktu itu," batin Luci.


Wanita berusia sekitar empat puluh lima tahun itu merasa begitu menyesal karena sudah mengusir Nela dari rumahnya tanpa mencari tahu kebenarannya terlebih dahulu.


"Aku harus minta maaf padanya, biar bagaimanapun, aku juga bersalah pada Nela dan juga anaknya. Ya Allah ternyata aku sudah menelantarkan cucuku sendiri."


Luci begitu merasa bersalah setelah mengetahui apa yang terjadi sebenarnya. Farel sudah sering mengingat kan nya tapi dirinya tak pernah mendengarkan kata-kata Farel bahkan dirinya tak mempercayai bukti hasil tes DNA anak itu yang menyatakan sembilan puluh sembilan persen cocok dengan Bara.


Terlalu sayang dan terlalu percaya pada Bara, membuatnya tak dapat melihat dan menerima kebenaran kebusukan anaknya itu hingga akhirnya terjadi kejadian seperti ini, kejadian yang begitu memalukan bagi dirinya dan keluarganya.


Di kamar Bara.


Sisca hanya menangis dan tak sedikitpun menggubris semua perkataan Bara, meski suaminya itu terus meminta maaf padanya, dirinya tetap terdiam dalam tangis kepiluan.

__ADS_1


Tak ada lagi senda gurau yang mewarnai kamar itu, kemesraan yang selalu ada pada diri mereka hilang seketika setelah Sisca, mengetahui kelakuan suaminya yang begitu membuatnya tersakitkan.


Bersambung


__ADS_2