AKU DAN ANAK MAJIKANKU

AKU DAN ANAK MAJIKANKU
bab 15


__ADS_3

Nela yang kini sedang duduk di tepi ranjangnya, menangis meneteskan air matanya tubuhnya gemetaran karena ketakutan.


Bara memang tak sampai mem******a nya tapi tetap saja dirinya merasakan ketakutan yang luar biasa meski sebenarnya dirinya juga sedikit menikmati sentuhan demi sentuhan itu namun dihatinya tetap ada rasa takut, takut akan dosa, takut akan akibat yang harus dirinya terima, takut dirinya mengecewakan kedua orang tuanya jika mereka tahu dirinya melakukan hal yang tidak seharusnya.


Nela menghela nafas panjang lalu membuangnya dengan kasar, dirinya melakukan hal yang sama secara berulang kali, berharap dirinya bisa melupakan apa yang baru saja terjadi padanya.


Di kamar Bara.


Laki-laki itu terbaring dengan posisi terlentang, matanya terpejam namun tidak tertidur.


Mengingat waktu beberapa jam kebelakang membuat laki-laki dewasa itu ingin mengulanginya lagi dan lagi.


"Sepertinya Nela akan menjadi canduku," batin Bara.


Dia terus membayangkan sesuatu yang lebih dari hanya sekedar belaian semata, membayangkannya membuatnya ingin segera menemui asisten rumah tangga di rumahnya itu.


**********


Di kediaman Pasha.


"Mas Pasha, besok saya boleh izin keluar gak ya?" tanya Anang.


"Kamu mau kemana?" tanya Pasha yang merasa penasaran.


Bukannya Pasha ingin tahu urusan pribadi Anang. Ini adalah yang pertama kalinya Anang pergi ke kota tapi dia meminta izin untuk keluar.


Hal itu membuat Pasha khawatir Anang akan tersasar ditengah ramainya perkotaan.


"Saya mau keliling-keliling kota Mas, kebetulan saya udah dapat gaji dari bos saya."


"Memangnya kamu tahu jalanan diperkotaan ini?"


"Nggak Mas, saya mau ditemani oleh teman saya."


"Ya udah, pakai saja motor saya dan ini ada sedikit tambahan buat kamu." Pasha mengambil beberapa lembar uang kertas berwarna merah dari dalam dompetnya lalu memberikannya pada Anang.


"Terimakasih sudah dipinjamkan motor tapi saya gak bisa menerima uang dari Mas Pasha. Diberi tumpangan untuk tinggal di sini saja saya sudah bersyukur Mas."


"Gak apa-apa, ambil saja lagipula kamu kan sudah bantuin saya ngurus rumah ini."


**********


"Kamu sudah mengantuk ya? Masuk kamar sana," ucap Farel pada Kinara.


"Emang kamu masih betah di sini?" tanya Kinara pada kekasihnya.


Saat itu mereka berdua masih asyik menikmati kebersamaan di taman itu hingga tak terasa malam pun semakin larut, Kinara pun mulai mengantuk.

__ADS_1


"Aku juga mau istirahat. Oh ya, besok pagi-pagi sekali aku mau langsung berangkat untuk bertemu klien. Kamu jangan pergi kemana-mana ya jangan sampai hilang."


"Kamu apaan ah, aku gak mungkin hilang."


"Aku tahu, diri kamu gak akan hilang karena kamu sudah tahu dan sudah hapal tempat ini, yang aku takutkan adalah kehilangan hati kamu. Bagaimana kalau tiba-tiba kamu ketemu sama laki-laki lain dan jatuh cinta, aku bisa kelimpungan nanti."


"Haha, nggak lah, aku sayang kok sama kamu. Kita istirahat sekarang ya, besok kamu harus kerja."


**********


Malam ini rasanya waktu berjalan lebih lambat, Nela sudah beberapa kali terbangun dari tidurnya tapi belum juga tiba waktu pagi.


Saat itu, Nela terbangun dari tidurnya. Dia melihat jam masih menunjukkan pukul tiga dinihari.


Karena merasa tidak mengantuk, Nela pun memilih mengerjakan pekerjaan rumah saat itu juga.


Ia beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan menuju sudut ruangan tempat cuci untuk mengambil sapu. Setiap hari sebelum mengerjakan pekerjaan lain, ia akan menyapu lantai terlebih dahulu untuk selanjutnya ia akan mengepel lantainya!


"Mumpung Mas Bara masih tidur, aku bisa kerja dengan tenang," batin Nela.


Nela pun memulai pekerjaannya saat itu juga dimulai dengan menyapu lantai.


Waktu terus berjalan sebagaimana mestinya, tak terasa azan subuh mulai berkumandang, saat itu Nela sudah selesai menyapu dan mengepel lantai rumah mewah dan luas itu.


Dia pun langsung membersihkan diri karena sebentar lagi ia harus menyiapkan makanan untuk Bara sarapan.


Sepuluh menit berlalu, Nela sudah selesai dengan ritual mandinya, dia pun segera keluar dari dari kamar mandi dengan hanya menggunakan handuk yang melilit di tubuhnya!


Betapa terkejutnya ia saat melihat Bara yang sudah berdiri di depan kamar mandi nya.


"Kamu, mandi kok gak ngajak-ngajak?"


"M_mas Bara." Nela membalikkan badannya hendak kembali masuk ke dalam kamar mandi untuk menghindari Bara.


Namun, pergerakan laki-laki itu begitu cepat. Dia melingkarkan tangannya di dadanya hingga membuatnya tak bisa pergi.


"Nela sayang, tubuh kamu wangi sekali membuat saya semangat untuk bermain dengan kamu." Bara mencium pundak Nela yang masih basah karena baru saja selesai mandi.


"Mas, saya harus segera masak untuk Mas Bara sarapan."


"Tapi kamu mau kan bermain dengan saya?"


"Mas, tolong saya tidak bisa sekarang."


"Memangnya nanti kamu mau?"


Nela terdiam, dirinya harus mencari alasan agar bisa lepas dari Bara.

__ADS_1


"Masak yang enak ya, saya mau makan dengan ditemani kamu." Bara melepaskan Nela dan membiarkan gadis itu masuk ke dalam kamarnya.


**********


Di hotel tempat Farel dan Kinara menginap.


"Pasti Farel sudah pergi dari tadi, daripada suntuk mending aku jalan-jalan, cari jajanan," gumam Kinara sembari memilih baju yang akan ia pakai.


Saat asyik memoles pipinya dengan make-up, Kinara mendengar ponselnya berdering tanda ada pesan masuk.


Ia pun langsung membaca pesan itu.


[Aku pergi tapi gak lama. Cuma dua jam aja, kamu jangan keluar sendiri ya, nanti aku akan ajak kamu ke suatu tempat.]


Sebuah senyuman mengembang di bibir Kinara setelah membaca pesan dari Farel.


"Tahu aja aku mau pergi sendiri," gumam Kinara.


Kinara melanjutkan merias wajahnya setelah membalas pesan dari Farel.


**********


Grep!


Bara memeluk Nela yang sedang asyik mengaduk masakannya.


"Mas," ucap Nela yang terkejut.


"Hmm."


"Saya lagi masak."


"Saya tahu tapi saya sudah tidak tahan ingin memeluk kamu." Bara tak melepaskan tangannya dari Nela, dia malah asyik memainkan gunung kembar milik Nela.


Nela memutar tubuhnya menjadi menghadap Bara!


"Aah, Mas hentikan."


"Saya tidak mau. Silahkan kalau kamu mau marah."


Tangan nakal itu terus saja menggerayangi seluruh tubuh Nela hingga membuat gadis itu hanya bisa pasrah dan menikmati setiap sentuhan yang diberikan oleh Bara.


Merasa tak mendapatkan penolakan lagi, Bara nekat memasukkan tangannya ke tempat yang selama ini belum pernah dia jamah dari tubuh siapa pun termasuk Sisca.


"Jangan ke sana Mas." Nela menghentikan tangan Bara lalu mengeluarkannya dari area pangkal paha nya!


Bersambung

__ADS_1


__ADS_2