
Pagi itu sekitar pukul sembilan tiga puluh, setelah melaksanakan akad pernikahan di kediaman Sisca, kini mereka sudah bersiap untuk pergi ke gedung tempat diadakannya resepsi pernikahan mereka.
Bara dan Sisca naik ke mobil pengantin yang sudah disediakan oleh pihak keluarga sedangkan Luci dan kedua orang tuanya Sisca naik mobil lain dan berkendara mengikuti mobil pengantin yang sudah melaju lebih dahulu.
Didalam mobil pengantin.
Sisca dan Bara terlihat sangat berbahagia dengan pernikahannya, mereka berdua terus berpegangan tangan seolah tak mau terpisah meski nyatanya kini mereka sedang berada di dalam mobil.
Bara mencium tangan Sisca dengan begitu mesra, senyum di bibirnya tak pernah pudar mengekspresikan kebahagiaan yang tengah melanda hatinya.
"Aku cinta banget sama kamu," ucap Bara sambil terus menatap Sisca.
"Aku juga cinta sama kamu Mas. Aku bahagia karena akhirnya kita menikah juga," sahut Sisca deng senyum yang tak pernah pudar dari bibirnya.
Sopir yang mengemudikan mobil mereka terus melihat Bara dan Sisca dari kaca spion dalam mobilnya, dia ikut merasa bahagia dengan pernikahan anak majikannya itu.
Di dalam mobil Farel.
"Semoga kita cepat nyusul mereka ya," ucap Farel pada Kinara.
"Ya, semoga saja. Aku selalu berdoa semoga kita ditakdirkan berjodoh. Kita hidup bahagia dengan keluarga yang kita bangun dari nol."
"Aku juga selalu berdoa agar kita selalu bersama, aku berharap tidak ada suatu apapun yang dapat memisahkan kita."
"Semoga cita-cita cinta kita ini dapat tercapai seperti kak Bara dan kak Sisca."
"Amin." Farel menatap Kinara dengan senyuman yang terus mengembang di bibirnya.
"Jangan ngeliatin aku terus, perhatikan jalan tuh," ucap Kinara sembari menepuk lengan Farel.
Farel langsung mengalihkan pandangannya ke jalan yang sedang mereka lalui.
"Iya, aku fokus kok."
__ADS_1
Di dalam mobil Bara.
Fokus Bara teralihkan kala melihat Nela berjalan dipinggir jalan yang sedang mereka lalui, dia terus melihat Nela meski mobilnya sudah melaju jauh dari Nela.
"Nela, tinggal dimana dia? Kenapa dia ada di sini? Aku bisa terancam kalau dia masih keluyuran di daerah sekitaran aku tinggal. Ini gak bisa dibiarkan, secepatnya aku harus menyuruh Nela pergi dari kota ini. Aku gak mau Sisca tahu aku pernah menghamili perempuan lain apalagi perempuan itu adalah seorang pembantu," batin Bara.
"Ada apa? Kok kamu seperti sedang memikirkan sesuatu, ada apa? Siapa yang kamu lihat?" tanya Sisca.
"Emm, nggak. Aku cuma lagi mikirin kerjaan, kamu tahu lah menjadi CEO itu pekerjaannya gak sedikit dan aku menanggung tanggungjawab yang besar atas perusahaan yang aku kelola," ucap Bara berbohong.
"Sayang, ini hari bahagia kita. Kamu jangan mikirin kerjaan dulu lagipula kamu gak sendiri, ada Farel kan yang bantuin kamu?"
"Iya. Iya, perkataan kamu benar. Farel bisa diandalkan, dia tahu harus apa saat aku gak masuk kantor."
Karena sopir yang terus menatap Bara dan Sisca yang duduk di bangku belakang, ia tak melihat ada truk besar yang melintas dengan kecepatan tinggi dari persimpangan yang hendak mereka lewati.
Mobilnya yang juga tengah melaju dengan kecepatan lumayan tinggi tak sempat mengerem dan akhirnya tabrakan pun tak dapat terhindarkan.
Mobil yang ditumpangi Bara dan Sisca tertabrak truk besar itu hingga berguling-guling di jalanan.
Tubuh gadis cantik itu berguling di atas aspal hingga sampai perutnya membentur tiang pembatas jalan barulah ia berhenti berguling.
Dengan tubuh yang penuh luka dan darah yang mengalir di sekujur tubuhnya. Sisca, masih mempunyai kesadaran walau hanya sedikit. Dia melihat ada kobaran api dari mobil yang ditumpanginya.
"Bara," Gumamnya dengan suara yang hampir tidak terdengar lalu sedetik kemudian pandangannya berubah hitam pekat dan ia pun tak tahu apa-apa lagi.
Sementara itu, orang-orang sudah berkumpul mengerumuni mobil yang didalamnya masih ada Bara dan sang sopir.
Orang-orang itu bekerjasama memadamkan api dengan alat seadanya dan berusaha menyelamatkan Bara dan sopirnya yang masih berada di dalam mobil.
"Bara! Bara!" teriak Luci sambil meronta ingin menghampiri Bara yang masih berada di dalam mobil.
Dengan sekuat tenaganya, Farel berusaha mencegah Luci. Dia memegangi Mamanya itu agar tak mendekati mobil Bara.
__ADS_1
"Ma, tenang Ma. Mereka sedang berusaha menyelamatkan kakak. Mama gak usah khawatir, mereka akan menyelamatkan kakak."
"Farel, itu kakak kamu dalam bahaya. Mama mau menolong kakak kamu, Mama gak mau dia kenapa-kenapa." Luci menangis histeris karena takut putra pertamanya menghembuskan nafas terakhirnya di sana.
"Mama, jangan khawatir. Mama tunggu di sini biar aku yang ke sana ya."
"Bara! Bara cepat keluar dari sana, Nak."
"Kinara, aku titip Mama ya, tolong jangan biarkan Mama mendekati api itu," ucap Farel pada Kinara.
Kinara mengangguk pelan lalu merangkul Luci yang terus menangis!
"Kamu hati-hati," ucapnya.
Farel langsung berlari menghampiri kerumun orang-orang itu! Saat itu mobil penadam kebakaran sudah tiba di lokasi dan langsung memadamkan api yang sudah meluap di mobil itu.
Untunglah sebelum mobil itu terbakar seluruhnya, para warga yang berada di tempat kejadian sudah lebih dahulu mengeluarkan Bara dan sopirnya dari mobil itu.
**********
Diperjalanan menuju rumah sakit.
Sisca sudah lebih dahulu dibawa ke rumah sakit oleh kedua orang tuanya, dengan mobil pribadinya mereka langsung membawa Sisca ke rumah sakit.
"Sayang bertahanlah, kami akan membawamu ke rumah sakit," ucap Nicole ~ Mamanya Sisca.
Wanita paruh baya itu terus memeluk tubuh Sisca dengan erat, ia sudah tak perduli lagi meski darah mengotori pakaian mewahnya.
"Pa, cepat sedikit. Anak kita sudah kehabisan banyak darah," ucap Nicole dengan air matanya yang sudah menganak sungai di pipinya.
"Iya, Ma. Ini juga udah ngebut, sebentar lagi kita sampai di rumah sakit," ucap Jeremy ~ Papanya Sisca.
Jeremy terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, ia tak perduli dengan pengendara lain yang merasa terganggu dengan perbuatannya. Tak sedikit pula pengendara yang mengomel memaki dirinya. Ia terus melajukan mobilnya secepat yang ia bisa.
__ADS_1
Bersambung